Alas Kaki

Alas Kaki
Episode 6 Alas Kaki


__ADS_3

12 Bulan kemudian


Gerimis hujan menyapa pagi Renata yang duduk melamun di teras rumah Nenek dengan segelas teh hangat dan Roti kacang merah, Renata yang berjuang dengan rasa mual dan sakit kepalanya karena mabuk darat yang dia derita bersyukurnya dapat bangun dalam keadaan baik-baik saja pagi ini setelah tidur semalaman saat tiba di kampung.


" heiiiii... bagaiman keadaanmu " tanya Nenek yang membangunkan Re dari lamunannya


" Aku baik-baik saja Nek " Ucap Re


" Masih sakit kepala , masih merasa mual ?" tanya Nenek kembali


" Sudah tidak terasa lagi nek, setelah makan roti dan minum teh " Jelas Re


" Baguslah, " ucap Nenek lembut pada Cucu Perempuannya ini


" jadi mulai bulan depan sudah mulai persiapan untuk ujian Nasional ya ?" tanya Nenek


" Iya , mulai Januari ada Les tambahan setelah pulang sekolah untuk persiapan ujian Nasional " jawab Re dengan geleng-geleng


" Rajin belajar, jangan berhenti di tengah jalan seperti abang mu " Nasehat Nenek


" Iya " Ucapnya dan memeluk lengan neneknya serta bermain dengan kulit Nenek yang memang sudah melar


" Nanti kau juga akan tua dan kulitmu akan seperti ini " jelas Nenek menggoda Renata


" Iya " Jawab Re dengan tertawa riang


****


Renata duduk manis di gubuk sawah saat menemani Nenek, Artia dan Ibu ke Sawah, Renata yang takut akan Pacet dan Lintah memberanikan diri ke Sawah namun dengan syarat hanya melihat-lihat dan menjadi mandor di gubuk sawah, namun Re menikmati proses tersebut, Renata menyukai suara kicauan burung di sawah seperti memohon untuk dibiarkan memakan semua padi yang ada, Re juga menyukai suara aliran sungai yang mengalir ke perairan sawah, selesai dari sawah mereka akan berendam sebentar di sungai untuk membersihkan diri dan sejenak bersantai, sehingga siang dan sore hari mereka tidak terasa berlalu.


Malam menghampiri mereka, Nenek yang sudah lelah  hanya akan menonton telivisi setelah selesai dengan makan malam hingga tertidur, Ibu akan pergi menemui teman-temannya dan menghabiskan malam, Rich sedari sore sudah sibuk dengan dunianya sendiri, maka Artia dan Renata hanya akan mengobrol di teras rumah dengan ditemani jangkrik.


" Jadi siapa yang akan kau pilih jika Bang Tison dan Bang Pitra menyatakan perasaan samamu ? " tanya Artia

__ADS_1


" Bang Tison udah bilang tahun lalu " ucap Re


" Apa, kapan ? " tanya Tia terkejut


" Waktu kami beli gula ke warung jawa tahun lalu " Jelas Re


" terusss...terusss.... kau bilang apa ? dia bilangnya gimana ? " tanya Artia,


" Apa ? nggak tau , aku nggak suka sama dia " jelas Re


"Apa ! kau nggak suka sama Bang Tison, gitu gantengnya dia, lembut, rajin, tinggi, hidung mancung ! "


" ohhh... kau mengenalnya dengan baik " ucap Re terkejut


" Tentu saja kami tumbuh bersama di kampung ini " jelas Tia


dan hanya dibalas dengan anggukan oleh Renata


" nggak tau, aku nggak merasa ada sesuatu .... " Pernyataan Renata terhenti karena mendengar segerombolan suara anak laki-laki mendekat ke arah mereka


" Re..., Tia... ikut ayok lihat kuda lumping di kampung jawa " ucap Petrus yang diikuti dengan anggukan dari yang lainnya,


" Kami boleh ikut ? " ucap Tia


"Ayoklah ..." ucap Rich seperti memaksa ,


Melihat Rich, Renata dan Artia menurut saja, Mereka bergerombol berbarengan menuju Kampung Jawa, Di tengah menunju kampung Jawa mereka juga menjemput Putri teman mereka yang lainnya, Rich berjalan di depan berbarengan dengan Putri dan Tison, Artia berjalan berbarengan dengan Petrus dan Andrew,Renata berjalan bersama dengan Pitra di baris belakang dengan Ringgo juga.


Jalanan masih basah karena hujan tadi pagi, karena jalanan masih tanah, beberapa bagian begitu becek dan basah, untuk jalan setapak itu sangat tidak nyaman, Renata hanya memakai Sendal Jepit saat itu dan karena jalanan demikian Sendal Jepit Re putus di tengah jalan, Rich sudah cukup jauh di depan sehingga Renata Tak bisa meminta pertolongan Rich, Artia kebingungan apa yang harus di perbuat, sedangkan Ringgo,Andrew dan Petrus hanya menertawakannya.


" Ini pakai punya ku saja " Ucap Pitra memberikan sendalnya


" Abang ?" tanya Re

__ADS_1


" Aku bisa kaki ayam, anak laki-laki koq " jawab Pitra


   Renata hanya terdiam, merasa tidak enak untuk Pitra, ingin kembali pulang namun Renata tidak berani sendirian, dan Renata juga penasaran dengan Kuda Lumping, raut wajahnya bimbang, bolak-balik melihat Pitra dan kakinya yang sudah terbenam lumpur,


"Ayokk pakai saja " ucap Pitra


Dan Re masih bimbang


" Atau mau sebelah-sebelah, supaya nggak kotor semua " ucap Pitra memberi Sebelah


" Iya sebelah saja " Terima Renata


Artia menertawakan mereka, begitu juga dengan Petrus, Andrew dan Ringgo, mereka meninggalkan Pitra dan Re dan menyusul barisan depan,


" Makasih loh bang"  ucap Re dengan menggunakan hanya sebelah sendal Pitra dan menenteng sendalnya


" Iya" ucap Pitra lembut, dengan sibuk menggulung celana panjangnya agar tidak kotor,


" Sendalnya masih mau dibawa, nggak dibuang aja ? " tanya Pitra


" Ahhh iya... ini ... " melempar sendalnya


" Ayokkk !, kita sudah tertinggal " Perintah Pitra


" Abang nggak apa-apa seperti itu kesana ? " tanya Re


" Kau gimana ? kau nggak apa-apa seperti itu kesana ?" balas Pitra


" Aku udah sering kaki ayam , nggak ada pengaruhnya " ucap Re


" Ya udah aku nggak apa-apa " Ucap pitra santai dan di balas anggukan oleh Renata,


mereka berjalan berdua dengan hanya menggunakan sebelah alas kaki di tengah jalan yang becek dan kotor. dalam pikiran Renata ini adalah sesuatu yang unik, mengingat bagi Renata sebenarnya tidak masalah bahwa dia harus bertelanjang kaki menonton kuda lumping, tapi ntah mengapa pada saat itu dia malu menunjukkan sisi dirinya yang seperti itu, Renata berjalan dengan membawa kembang api di kepalanya, Anak laki-laki ini begitu manis batinnya, Mereka berjalan berdampingan dan Renata hanya melihat bayangan Pitra dari setiap sinar lampu yang memancar.

__ADS_1


__ADS_2