Alas Kaki

Alas Kaki
Episode 9 Kau Menyukaiku Juga


__ADS_3

    Di dalam gereja terlihat banyak kegiatan, karena akan mendekati malam natal, semua anak remaja dan anak-anak terlihat berlatih untuk penampilan mereka nantinya dimalam natal. Pitra mengiring gitar untuk paduan suara anak-anak perempuan, terlihat begitu serius dalam berlatih, sedangkan Tison mengiring Orgen untuk paduan suara anak-anak laki-laki, Artia juga sibuk latihan untuk penampilannya, Renata yang hanya ada saat liburan tidak akan menampilkan apapun, maka Renata hanya akan melihat mereka dari sesi latihan hingga tampil nanti.


" Dek... ayok kawani abang beli minuman sama jajanan ke warung si jawa " ucap Tison yang memang sudah selesai latihannya


" Ayok " ucap Re..


    Mereka berjalan berdua keluar gereja, Pitra hanya melirik dan kembali Fokus dalam latihan, sepanjang perjalanan mereka tidak banyak berbincang, karena pertanyaan Tison hanya hal biasa, sekitar sekolah Renata dan lainnya, Renata tidak bersemangat menjawab semua pertanyaan itu dan hanya menjawab seadanya, membuat Tison kebingungan harus bagaimana mencairkan suasana, mereka banyak diam dan sampai di warung Wak jawa.


    Tison menyampaikan semua pesanan mereka, dan perlu waktu untuk menunggu, Renata memutuskan untuk duduk disudut kursi yang disediakan wak Jawa, Re menyandarkan kepalanya ke dinding, Tison menyusul dengan duduk di samping Renata, begitu dekat tidak ada jarak antara mereka, Renata tidak peduli dengan hal itu,


" Plakkkk.... " Bunyi tangan Tison saat memukul semut yang berjalan di dinding dekat dengan wajah Renata,


Dalam keadaan tersebut Renata terkejut, terkejut bukan karena suara dari dinding yang dianiaya oleh Tison, namun karena wajah Tison begitu dekat dengan Renata, Ujung Hidung mereka bersentuhan, mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain,Membuat Re terperanjat diam dalam keadaan itu, Re begitu terkejut sampai tidak bisa bergerak,


" ehm.. ehmm.." ucap Ringgo yang berjalan mendekati mereka


    Otomatis Tison berdiri, sedangkan Re masih diam dalam bentuk duduknya menarik nafas panjang, Amarahnya memuncak, Renata begitu kesal.


" Ngapain kalian ? " tanya Ringgo


" nggak ada, kau ngapain datang ? " tanya Tison


" Mau beli Rokok," Ucap Ringgo dengan santai sambil meledek menaikkan alisnya naik turun memandang Tison


"Wak Rokok A-mild satu wak " ucap Ringgo menjerit ke wak Jawa


" Ini pesanan mu Tison " ucap Wak jawa lalu mengambil Rokok untuk Ringgo


" ini Rokok mu " ucapnya menyerahkan pada Ringgo


" ayok pulang Re" ajak Tison


" iya " Ucapnya dengan dingin


 Mereka bertiga berjalan secara bersamaan pulang ke gereja, sepanjang jalan hanya Ringgo dan Tison yang banyak mengobrol, Renata hanya diam mengatur emosinya, Gereja semakin dekat, Tison melangkah masuk ke Gereja namun Renata memutuskan tidak ingin bergabung dan pulang saja.


Beberapa Jam berlalu, Rich pulang ke rumah dengan Artia,


" kau... koq murah kali jadi perempuan Re.. ?" tanya Rich penuh kemarahan, membentak Renata dengan amarah, yang sontak membuat Re kebingungan karena Re hanya diam saja dengan tenang menonton Tv disamping Nenek mereka yang tertidur,


" kenapa kau ? datang-datang marah ?" tanya Re


" kau ngapain sama Tison tadi hah... ?" tanya Rich, menyeret adiknya ke dapur agar tidak menganggu Neneknya


" nggak ada..." ucap Re...amarahnya kembali memuncak saat mengingat hal tersebut


" nggak ada... nggak ada...,pantas kau langsung pulang ya, nggak beresnya rupanya kerjaanmu, " ucap Rich kembali


" enggak ada.. kau itu... nggak ada... nggak ada apapun terjadi..." ucap Re dengan suara tinggi

__ADS_1


" sstttt pelan-pelan Nenek bangun nanti" ucap Artia menenangkan mereka berdua


" Pintar di sekolah tapi bodoh kali sama laki-laki " ucap Rich kesal akan Re


" isss kau ini, ku siram air panas juga nanti, nggak ada... nggak ada apa-apa " ucap Re kembali meninggi


" jadi perempuan nggak usah murah kali ya, segampang itu si Tison nyium kau hah " tanya Rich memuncak,


"baru berapa hari kita di kampung udah jauh aja tingkah mu" ucap Rich pada adik perempuannya


" Ya Tuhan... nggak ada... nggak sampai situ... , siapa yang bilang ?" ucap Re


" ku bakar juga itu orangnya nanti... nggak ada..." teriak Re kembali...


Amarahnya memuncak, terlihat kristal bening di matanya, Re akan menangis bila Rich membentaknya lagi, menyadari bahwa adiknya hampir menangis, Rich menurunkan nada suaranya


" Jadi nggak ada ?... nggak sampai situ..? " tanya Rich


" Enggak !" ucap Re tenang


" Ehmmm udah mau ku pukul tadi si Tison, yang cerita si Ringgo sama kami semua waktu di gereja" ucap Rich menerangkan pada adiknya


" kenapa nggak kau pukul ? pukul aja ! hantam kepalanya " ucap Re


" ya Karena ku pikir kau juga mau, lagipula urusan mu, kan kisah mu " ucap Rich meledek adiknya, hanya di respon tatapan kesal oleh Re


" iya, nah ituloh si Pitra baik, kenapa nggak sama si Pitra kau sukanya hah? " tanya Rich


    Mendengar bahwa Pitra mengetahui hal tersebut, Re kebingungan,


" Bang Pitra dimana ? " tanya Re kembali


" Nggak tau udah pulang mungkin" Respon Rich


" isss...." ucap Re dan bergegas ingin keluar


" kenapa ?... kenapa ?... " tanya Rich bingung melihat tingkah Adiknya


    Di luar ternyata hujan gerimis , Re ingin bergegas menemui Pitra, selalu sendalnya menjadi masalah dalam gelap malam tidak terlihat, Renata tidak punya waktu untuk mencari sendal saat kemungkinan Pitra makin menjauh dengan bertelanjang kaki Renata berjalan cepat menuju rumah Ringgo, berharap Pitra singgah disana seperti biasanya sebelum pulang, jarak beberapa meter saat Re dapat melihat Teras rumah Ringgo, Bersyukur Pitra masih ada disana namun sudah bersiap untuk bergerak pulang.


    Re memutuskan mengambil jalan pintas menembus Pepohonan kelapa Sawit yang berada diantara rumah Ringgo dan Tison, agar tidak terlihat oleh yang lainnya saat Re berjalan mengejar Pitra.


" Bang ... " ucapnya sesak karena berlari


" lohhh... kau...? ... darimana ? " tanya Pitra saat berbalik melihat sosok Renata tak jauh dari hadapannya


Re menghela nafas dengan kencang karena sesak, dan mendekati Pitra,


" Dari rumah " ucapnya

__ADS_1


" Ya ampun , kenapa...? kenapa ?... "


" Itu nggak benar... apapun itu yang abang dengar itu nggak benar " Ucap Re menerangkan


" Apa ?" tanya Pitra menyentuh lembut lengan Re, membawanya berteduh di bawah Pohon kelapa sawit walaupun tidak membantu


" Apapun itu yang abang dengar tentang aku sama Bang Tison " ucap Renata


" ohhhh itu ..." ucap Pitra


" Iya..." ucapnya masih dalam sesak karena berlari


    Hujan semakin deras, Renata dan Pitra secara bersamaan duduk berjongkok di bawah Pohon Kelapa sawit, Pitra melihat kaki Re yang tidak beralaskan sendal,


" Kau datang di tengah hujan, cuma mau bilang itu ? " tanya Pitra


" iya " ucapnya dalam dingin sekarang, karena Re hanya memakai celana pendek untuk tidur dan kaos tipisnya untuk tidur juga, saat hujan semakin deras dan anginnya cukup membuat Re merasa dingin


    Melihat hal tersebut Pitra merangkul bahu Renata berharap Re dapat merasa hangat sedikit, Pitra merangkulnya dan menggosok-gosok punggung Re, mengetahui hal tersebut Re tersenyum bahagia, karena suasana gelap Re yakin Pitra tidak dapat melihat raut wajahnya, Re tersenyum memandang anak laki-laki itu, melihat lekat wajahnya yang putih, Re begitu senang, walau jantungnya terasa akan meledak, Re ingin mengingat momen itu dan menikmati sentuhan penuh kasih sayang dari Pitra.


" Kau datang nggak pake sendal hanya untuk itu " ucap Pitra kembali


" iya " Respon Re


" Itu saja " Timpal Pitra


" Iya " ucap Re kembali


" Aku pikir... kan abang ... bilang... abang suka sama ku... jadi aku kira mungkin akan lebih baik kalau... aku ... menjelaskan...sebelum abang..." ucap Re terbata-bata karena malu akan sikapnya


" Kau juga menyukai ku " Ucap Pitra


" Sepertinya ... iya " Ucap Re malu dan menunduk


    Pitra tersenyum, perasaannya berbalas, Renata menyukainya, berlari mengejarnya dalam hujan, tidak memakai sendal, kedinginan, dan sangat lucu, benaknya, senyum tidak kunjung pergi dari wajah Pitra, membentuk indah dalam raut wajahnya. 


" Kau menyukaiku juga" ucap pitra kembali dengan berhenti menggosok-gosok punggung Renata, turun menyentuh punggung kakinya yang basah dan dingin, membelai kaki Renata, mengangkat wajahnya memandang Re dalam kegelapan dan mereka berdua tersenyum


" Mari aku antar Pulang, sebelum hujan semakin deras " ucap Pitra berdiri dan menarik tangan Re untuk berdiri


    Pitra memberanikan diri menggenggam tangan Renata, selama jalan pulang menghantarkan Renata mereka hanya larut dalam perasaan mereka, genggaman tangannya terpaut, hujan turun hawa dingin tidak menghampiri mereka, rasa hangat yang hanya tersampaikan, saat mata mereka berpadu hanya senyum malu-malu yang mereka berikan satu sama lain, Debaran jantung mereka berirama secara bersamaan, menghantarkan alunan kisah manis diantara hujan yang turun.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2