Alas Kaki

Alas Kaki
Episode 12 Pil Pahit


__ADS_3

Renata berangkat sekolah dengan suasana hati yang suram, keadaan rumah sedang tidak baik-baik saja, namun Dia harus bertindak seolah semua baik-baik saja, Renata berpikir di rumah tidak lebih baik, mungkin akan lebih baik berangkat sekolah saja.


Yuni sudah menunggu dengan senyum yang lebar di dalam kelas, Renata bersyukur dia punya teman yang cukup periang, sehingga Renata juga banyak tertawa di sampingnya.


" Bagaimana...bagaimana pulang kampungmu kali ini ? cerita.. cerita... " ucap Yuni dengan jingkrak-jingkrak kesenangan


" sabar bu... aku duduk dulu " ucap Re


Yuni hanya menyeringai menunggu temannya untuk duduk dan siap mendengarkan dongeng.


" ahhhh... Dia semanis itu " Ucap Yuni menggambarkan Pitra setelah mendengar cerita Renata


" Ehmmm aku juga mau punya pacar yang begitu " Ucap Yuni iri


" Ha ha ha ha"  Balas Renata tertawa kencang


Bel berbunyi tanda masuk kelas.


****


    Dalam benak Re dia ingin Abangnya datang menemuinya segera, dia ingin bercerita bagaimana sikap perubahan Bapak mereka. Namun seminggu ini Richo tidak ada kabar, Richo tidak lagi memiliki Handphone, Rich menjualnya dengan alasan untuk menyambung hidupnya.


Bapak dan Ibunya seminggu ini tidak berbicara satu sama lain, diam dan tidak seperti orang yang saling mengenal, Pak Sao berangkat kerja dengan diam dan pulang tengah malam juga dengan diam.


Sebulan berlalu keadaan masih sama saja. Renata pulang sekolah dalam keadaan gelap karena ada tambahan les untuk persiapan ujian Nasional SMP, Renata menemui Rumahnya gelap, warung tidak berbuka,


Renata mencoba masuk ke rumah, ternyata pintu tidak terkunci, Renata melanjutkan langkah kakinya, menyusuri setiap ruangan rumah, menyalakan lampu rumah satu demi satu, menuju kamarnya, mengganti pakaian, menuju dapur, namun masih tidak menemukan Mamanya.


Renata melangkah masuk ke kamar orang tuanya, masih dalam keadaan gelap juga, Renata dapat melihat banyangan Mamanya yang terduduk lemas berteman dengan gelap dan sepi, menunduk terisak.


" Ma..." ucapnya, melangkah masuk


" iya " ucap Mama dengan suara serak dan lirih melambangkan kesedihannya


" Kenapa berkurung di kamar ?" tanyanya mendekati Mamanya duduk bersebelahan dengan Mamanya


Ibu Rosita yang matanya sembab, hidungnya berair, menatap anak gadisnya dengan pilu, dalam benak Ibu Rosita bahwa Dia tidak ingin menunjukkan sisi tidak bahagia ini saat menjadi Mamanya, Ibu Rosita ingin hanya menunjukkan sisi bahagia dari pernikahan agar anak gadisnya yang masih muda ini tidak memiliki rasa takut kedepannya akan pernikahan.


" Kenapa Bapak mu berubah seperti itu ?" Tanya Ibu Rosita sesak dalam tangisnya,


Dia tidak ingin bertanya hal itu, namun rasa sakit hatinya tidak kunjung memudar, suaminya yang pulang tengah malam selalu dalam keadaan mabuk, marah dengan alasan tidak jelas, selalu bersikap kasar, saat anaknya berangkat sekolah, mereka selalu bertengkar, Ibu Rosita mencurigai bahwa Pak Sao memilki perempuan lain di kota ini.


" Enggak tau..., mungkin dia mengalami hari yang buruk di luar " Ucap Re menanggapi Mamanya

__ADS_1


" Bapak mu tidak lagi memberi gajinya pada Mama" Lanjut Ibu Rosita,


" Jika dia hanya bermain perempuan, Mama mungkin bisa melupakannya, mengingat ini bukan kali pertama Bapakmu berselingkuh " Timpal Mamanya semakin hancur hatinya


" Bapak Selingkuh ?" Tanya Renata


" Iya... apa kau pikir Bapak mu Pria baik-baik ?" lepas Ibu Rosita dari kemarahannya, Ibu Rosita tidak sadar bahwa pernyataan itu merusak kepercayaan seorang gadis perempuan yang menganggap Bapaknya adalah Pahlawan dalam Hidupnya


" Bapakmu itu sedari kalian kecil suka berselingkuh, main perempuan disana, main perempuan disini " tambah Ibu Rosita kembali


" Bapakmu itu selalu marah, menyiksa Mama setiap malam" Ucap Ibu Rosita kembali


Air mata Renata mengalir membanjiri wajahnya, Hancur bukan hanya kenyataan bahwa Bapaknya suka berselingkuh tetapi juga kenyataan bahwa Bapaknya juga selalu bersikap kasar pada Mamanya.


Namun bukan saatnya berfokus pada apa yang Bapaknya sudah perbuat, tapi mendengar semua keluh kesah Mamanya,


" Tapi sekarang Bapakmu tukang pukul, Minum, selingkuh, aku sudah tidak kuat lagi, " Ucap Ibu Rosita dengan kembali wajahnya dibanjiri airmata,


Renata tidak tahu harus bersikap seperti apa, Renata bingung apakah dengan menepuk punggung Mamanya akan berpengaruh, Renata menangis tidak tahu harus berbuat apa, Renata dan Mamanya menangis bersama menghabiskan senja dengan air mata.


 


****


Akhirnya Richo datang berkunjung ke sekolah Renata, mereka makan siang bersama kembali. dengan tidak mengajak Yuni bersama


" Kenapa ?" Tanya Rich kembali


" Pulanglah bantu mama aja di warung! jadi tukang antar gas atau air galon mungkin" jelas Re kembali


" Kenapa kau ? biasanya juga pembeli jemput sendiri " ucap Rich kembali


" Kasihan Mama sendirian" Ucap Re menunduk, sedangkan dimatanya sudah membendung airmata


" Kenapa ?" tanya Rich kembali


" Sekarang Bapak Jahat, Bapak suka mukul, pulang juga dalam keadaan mabok, aku takut " ucap Re akhinya menangis, terlihat jelas bibir dan dagunya gemetaran karena menahan emosinya


Rich hanya diam memandang adiknya menangis, memberi tisu dan membiarkannya menangis.


Karena hal tersebut Rich memutuskan untuk tinggal di rumah dan membantu Mamanya saja, ini sudah setahun berlalu sejak Dia dan Bapaknya bertengkar, mungkin masalah sekolah bukan lagi masalah di Rumahnya. Mengetahui Rich kembali ke Rumah, Pak Sao tidak memberi Respon apapun, Pak Sao tetap dingin dan tidak mengindahkan apapun yang terjadi di Rumah, Pak Sao seperti punya dunianya sendiri, atau Pak Sao berperan seperti Anak kost di Rumah,


Jika berkata seharusnya anak juga harus ramah kepada orang-tuanya, tapi bagaimana anak akan ramah kepada orang-tuanya jika sang orang tua tidak memberi balasan yang baik, Renata mencoba menyapa Bapaknya namun hanya dapat anggukan dan sikap dingin.

__ADS_1


****


Suatu minggu Pagi. Ibu Rosita tidak berhenti mengomel sedari bangun mempermasalahkan masalah kecil, seperti Renata yang bangun begitu siang, dan Rich yang belum membuka warung, Ibu Rosita marah dengan membuat suara-suara kencang saat dia mencuci piring atau sedang memasak sarapan pagi.


Kemarahannya semakin menjadi melihat Renata yang bangun lalu mandi bersiap untuk Ibadah, tidak membantu Mamanya terlebih dahulu.


" Oala... punya anak gadis, tapi Mamanya yang masak kan sarapan paginya, bangun langsung mandi siap-siap Ibadah " celoteh Ibu Rosita dengan suara kencang


" Dikira kita pembantunya, dikira Tuhan suka sama sikapnya " Ucap Ibu Rosita


" Ngapain rajin ibadah tapi nggak berbakti sama orang tua " celotehnya kembali


Renata hanya diam dan tetap bersiap Ibadah, Renata bukan anak yang pemalas, Biasanya juga Renata bangun pagi dan mempersiapkan hal tersebut sebelum Ibadah, namun malam kemaren Renata kembali menyaksikan orang tuanya bertengkar lagi, membuat Renata tidak dapat tidur dengan nyenyak. sehingga Re bangun kesiangan, namun Mamanya yang sudah terakumulasi dengan kemarahan akan suaminya melampiaskan kepada Anak-anaknya.


" Enaknya tinggal makan" Ucap Ibu Rosita saat melihat Re menyiapkan sarapanya


" Bagus... Begitu saja kalian semua, nggak Anak, nggak Bapak sama saja" celoteh Ibu Rosita kembali


" Makan saja enak-enak, nggak ngasih uang belanja, kau pikir uang jatuh dari pohon " Ucapnya kembali dalam kemarahannya


" Pulang... tidur... bangun... makan..., pakaian kotor ada yang cucikan, bersih rapi disetrika, pulang marah-marah, bau alkohol... ehhhhh nasibku yang jadi Istri sama Mama orang-orang ini semua" Ucapnya menjerit Pagi-pagi


Rich sudah gerah, bangun dan segera membuka warung, Renata menahan air matanya sambil makan sarapannya, namun Mamanya tak kunjung berhenti


" Kau nanti minta uang persembahan sama ku , sama ongkosmu mau ke Gereja ?" tanya Ibu Rosita


" nggak ada... nggak ada uangku ... udah makan aja udah syukur " sambungnya di kemarahannya


Pak Sao bangun dari tidurnya, mengatupkan giginya, mendekati Ibu Rosita, Menarik tangan Ibu Rosita, menyeretnya keras ke ruang tengah, melemparnya ke lantai , karena terhempas kepala Ibu Rosita membentur lantai, Renata berlari mengejar mereka.


Melihat Mamanya sudah bersimpuh tertunduk di lantai, Renata mendekatinya mengangkat wajah Ibunya, ada darah keluar dari mulut Ibu Rosita, sepertinya giginya juga terbentur lantai, dan kening Ibu Rosita mengalami benjolan sedikit.


" kau... dari bangun sampai sekarang merepet saja seperti radio rusak " bentak Pak Sao


" Ribut , berisik," tambahnya dengan bentakan


" Orang lagi tidur..., Ribut kali muncung kau " Bentaknya pada Ibu Rosita


Renata menangis, memeluk mamanya,


Rich datang dari depan dengan menyeret kapak di tangannya, sudah bersiap akan mengayunkan kapak ke arah Bapaknya, Renata kembali berlari dengan segenap tenaga dan upayanya menghentikan Abangnya, Memeluk Abangnya dari belakang, menarik sisi badan Abangnya ke sebelah kiri agar arah jatuh kapak tidak mengenai Bapak atau Mamanya. Pak Sao hanya berbalik kembali masuk ke dalam kamar.


Renata menangis sejadi-jadinya, menjerit, terkulai, melihat bagaimana keluarganya begitu berantakan, Renata menangis dalam balutan gaun untuk Ibadah minggu, Rich terdiam memperbaiki posisi dirinya, melihat Adiknya menangis kencang, memeluk adiknya, dalam pelukannya Rich berbisik meminta maaf dan berterima kasih, membuat Renata semakin kencang dalam tangisnya

__ADS_1


 


 


__ADS_2