
Maka Tahun baru berlalu dengan kenangan demikian buat Renata. Re banyak pertanyaan dalam benaknya, benarkah dia memang tidur seperti itu tidak sadar, walaupun di luar begitu berisik dengan suara petasan, benarkah dia memang tidak sengaja atau bagaimana? Selama beberapa hari Re melewati Tahun baru dengan sejuta pertanyaan muncul di kepalanya, cukup menganggu hari Re, Renata bukanlah gadis remaja seperti kebanyakan yang di usia 14 tahun mereka sudah mulai tertarik dengan lawan jenis, Re gadis remaja yang penuh semangat dan selalu ceria, Re banyak menghabiskan waktunya bermain bersama dengan Abangnya Richo mereka menghabiskan waktu dengan memanjat pohon, berenang di sungai, dan kegiatan aktif anak remaja laki-laki lakukan, sehingga Re tidak terbiasa dengan perasaan penasaran akan seseorang,
Namun Aidul Pitra Laki-laki ini sedikit menganggu pikiran Renata, Aidul Pitra anak remaja yang seusia dengan Richo, 17 Tahun sedang duduk di kelas 2 STM, Pitra adalah sepupu jauh Artia namun sering berkunjung main ke kampung halaman Artia karena Neneknya juga menetap di sini, Pitra selama liburan sekolah banyak meluangkan waktunya bermain dengan Artia dan anak-anak kampung laiinya karena Pitra anak semata wayang sehingga Pitra merasa begitu senang saat pulang kampung dan sudah menganggap Artia seperti adiknya sendiri.
Siang hari yang tidak begitu terik dan keadaan di kampung yang begitu tenang membuat Re ingin makan es lilin kacang hijau khas kampungnya tersebut, Re harus berjalan sekitar 500 meter dari rumahnya ke warung, Re bersiap untuk pergi namun Re tidak menemui sendal jepitnya, Maka Re memutuskan bertelanjang kaki ke warung, perjalanan ke warung Re akan melewati Gereja dan selepas itu hanya akan ada kebun Kelapa sawit membentang hingga ke warung,
"Woii... " kaget pitra pada Re yang entah berlari dari arah mana sehingga Re tidak menyadari kedatangannya
"is apalah abang ini buat terkejut aja" jawab Re dengan nada kesal
"ha ha,kau mau kemana tidak pakai sendal ? " tanya Pitra
"beli es lilin di warung si Jawa" kenapa ? jawab Re kembali ketus
"Ya ampun dan sejauh itu kau tidak pakai sendal, kotor kaki mu Re" timpal Pitra lagi dengan menyelaraskan langkah kakinya bersamaan dengan Renata
"ya ampun kalau perkara kaki kotor nanti sampai rumah aku tinggal cuci kaki loh, apa susahnya "
"iya iya, kau hanya mau beli es lilin aja ? timpal pitra lagi
"iya " jawab Re ketus , abang baru darimana ? sambung Re
"ohh dari gereja tadi bantu bersihin gereja, ibu pendeta minta tolong tadi " Jawab Pitra
"tapi tadi waktu aku lewati gereja aku tidak melihat ada orang, gereja tertutup, rumah ibu pendeta juga tertutup" timpal Re bingung
" iya memang, sudah selesai,aku melihatmu dari belakang gereja saat aku buang sampah, kau tidak melihat ku " penjelasan dari Pitra
dan hanya dapat anggukan dari Re, dan keadaan tetap diam dan canggung sampai mereka mendekati warung jawa,
"wak aku mau beli es lilin kacang ijo satu ya wak, " jerit Re ke uwak warung tersebut,
"sama rokok A-mild sama permen mint ya wak " sambut Pitra juga dengan kencang dan menoleh ke Re yang sibuk mengusir kucing dari kakinya
Pesanan mereka terima dan Pitra membayar semua pesanan sebelum Re berhasil mengeluarkan uangnya dari kantong celana jeans yang Re kenakan saat itu,
"Terimakasih traktirannya " ucap Re cuek dan berjalan pulang,
"begitu saja ucapan terima kasih mu , tanpa perasaan ?" timpal Pitra
"Terima kasih traktirannya " ucap Re dengan lantang sambil mengangkat kepalanya dan menyipitkan matanya tersenyum lebar ke arah Pitra, namun sedetik setelah itu raut wajah Re berubah kesal membuat Pitra tertawa kencang melihat tingkah Re yang dengan cuek pergi lagi begitu saja tak menghiraukan langkah kaki Pitra.
__ADS_1
"Rokoknya untuk siapa" ? tanya Re
" untuk ku , setelah itu permen mint nya agar aku tidak ketahaun merokok" ucap pitra
"ohhh bangga merokok dan berbohong " ucap Re sinis
"Apa "? tanya Pitra tidak menyangka respon itu yang dia dapati dari Re
"Tidak ada " saut Re dan mempercepat langkahnya
"jangan bilang siapa-siapa ya aku merokok" jerit Pitra dengan menyusul langkah Re
yang dibalas hanya anggukan dari Re dengan tidak berhenti makan es lilinnya.
Pitra tidak merasa puas dengan respon Re, sehingga Pitra meraih lengan Renata menariknya ke arah Pitra yang sontak saja membuat Re terkejut,
"apa itu iya atau tidak ? " tanya pitra namun tidak dengan suara tinggi
"iya , kan aku sudah bilang iya " jawab Re spontan karena kesal akan tindakan Pitra dengan menarik lengannya dari Pitra dan kembali berjalan pulang meninggalkan Pitra dengan tidak peduli
******
Matahari pergi dengan enggan dari angkasa biru meninggalkan angkasa dengan raut kemerahan hingga sang rembulan datang menghiburnya dengan cahaya bintang yang berkilauan, Malam yang begitu indah menemani malam Keluarga Re, Ayah Re Pak Sao adalah pria dewasa dengan perawakan yang tinggi dan berwajah tampan, namun wajah tampannya memudar tertutupi keriput, Saat di kampung Pak Sao banyak menghabiskan waktunya minum-minum dengan kawan-kawan lamanya saat malam datang meninggalkan Re dan Richo pada kegiatan mereka masing-masing begitu juga dengan Ibu Rosita banyak bercengkrama dengan teman-teman lamanya, Sehingga saat malam datang Re dan Richo banyak menghabiskan waktu pada teman-temannya juga, Namun pada saat itu Re hanya duduk di teras depan rumah Neneknya sambil memandang langit yang penuh bintang karena Richo abangnya meninggalkan Re dan bermain dengan teman-temannya yang lain, Artia sepupu Re juga bersamanya di teras dengan memandang langit dan sedikit bercerita tentang apa yang mereka banyak lewati selama masa sekolah.
" bang Pitraaaa..." timpal Tia panggilan Artia , dan mendekat pada sepupunya dan menyalaminya
" aku bawa cemilan untuk mu dan Re serta Nenek mu " ucapnya ceria dan meninggalkan beberapa di depan lalu masuk ke rumah menyapa Nenek serta meninggalkan bingkisan untuk nenek,
"Hai Re, " sapa Pitra lembut pada Renata
"iya " jawan Re
"loh koq , kayak nggak suka gitu lihat aku " timpal Pitra " iyakan Tia" mencari alibi dari Artia
"ha ha ha ha , iya memang dia gitu bang, agak aneh sedikit " jawab Tia dan mengemil coklat Tango yang dibawakan Pitra
"dek ambil gitar dek " perintah Pitra pada Artia
"abang bisa nyanyi ? tanya Re
" iya , kenapa? Kau nggak tau , abang sering bawa gitar untuk muda-mudi gereja kalau ada acara." jelas Pitra
__ADS_1
"ohhhh keren , abangku juga bisa " ucapnya membanggakan abangnya
Pitra mulai bernyanyi saat mendapat gitar dari Artia, kebanyakan yang Pitra nyanyikan adalah lagu milik Peterpan dan Kangen Band yang pada saat ini sedang begitu terkenalnya, melihat Pitra bernyanyi Re menyadari bahwa Pitra ternyata begitu keren, Pitra di usianya 17 Tahun tinggi tubuhnya sudah melampaui tinggi teman lainnya, Pitra memiliki kulit yang putih dan beberapa tahi lalat di wajahnya, dan suaranya cukup berat, membuat terlihat begitu mempesona saat bernyanyi.sesekali Pitra berhenti bernyanyi dan memandang Re serta Artia lalu menganggu Re dengan memintanya mengambilkan air untuknya .
"Disini rupanya ! " potong Rich panggilan Richo abang Re, mengatakan hal demikian pada Pitra
Sontak Pitra berhenti bermain gitar, dan menyalami Rich dengan keren dan meletakkan gitar,
" iya, daritadi aku disini " kenapa ? tanya Pitra yang datang berbarengan dengan Tison, Petrus dan Ringgo dan Andrew anak remaja lainnya
" iya dari tadi kami nyariin kau mau ngajak main ke kampung jawa ada kuda lumping disana" timppal Ringgo dan menyelinap duduk di teras dengan mengembat coklat tango yang ada diikuti Tison dan melirik ke arah Re
" ohhh iya kah ,tapi aku lagi malas kesana, udah sering lihat kuda lumping, capek lagi jalan kaki, malam kali lagi pulang nya " balas Pitra
Rich menghampiri adiknya dan memukul pelan kepala adeknya dengan gemas lalu menarik rambutnya sebelum akhirnya makan coklat Tango lalu membersihkan tanganya dengan baju Re, melihat tingkah Rich, Re hanya kesal dan pasrah karena memang abangnya sering demikian
" ohh main PS lah kita yuk " jawab Andrew dengan lantang " di rumahmu ada kan Pit?" tanya Andrew
" iya iya " di sambut bersamaan oleh Ringgo Petrus dan Rich
" Ohhh PS nya ada di rumah ku, di Kisaran, bulan 6 waktu libur sekolah aku bawa kesana , Nggak ada di kampung lagi" ucap Pitra dengan wajah bersalah
" ya sudahlah " jawab Tison dengan mengambil gitar " kita nyanyi aja malam ini disini ". besok kita coba main yang lain, balas Tison
" iya itu juga boleh " ucap Rich dan mengusir adiknya serta Artia dari kursinya agar Rich dan temannya bisa duduk
Re dan Artia menurut dengan masuk ke rumah, Rich dan teman lainnya mulai bernyanyi hingga larut sampai Pak Sao dan Ibu Rosita pulang dari perkumpulan mereka dan meminta mereka untuk pulang ke rumah masing-masing karena sudah larut malam, Tison dan yang lainnya menurut dan pulang, sedangkan Pitra menyempatkan untuk masuk ke dalam rumah untuk pamit pada Nenek dan yang lainnya, serta izin ke toilet sebelum pulang, di dapur Pitra bertemu dengan Re yang belum tidur sedang minum air, melihat Pitra Re hanya mengangkat alis matanya menyapa Pitra karena mulutnya penuh dengan air, Pitra tersenyum sambil berjalan ke toilet, Keluar dari Toilet Pitra masih mendapati Re di dapur sedang mencuci gelas bekas minumnya
" Kau belum tidur ? " tanya Pitra
" ini mau tidur setelah ini " ucapnya setelah cuci gelas dan ke toilet, Re meninggalkan Pitra yang sedang minum segelas air juga,
Keluar dari toilet Re masih mendapati Pitra di dapur
" loh belum pulang ?" tanya Re
" ini mau pulang " timpal Pitra
" ohh ok, ucap Re cuek sibuk dengan menyeka kakinya agar kering karena baru selesai dari Toilet
" Aku pulang ya , selamat tidur Re " ucap Pitra sambil mengucap lembut ubun-ubun kepala Re yang sedang tertunduk menyeka kakinya, lalu pergi begitu saja melangkah dengan ringan, menyapa orang tua dan Rich serta Nenek yang masih menonton di ruang tengah izin pulang, lalu hilang dari pandangan Re yang beku karena perlakuan Pitra yang mendadak seperti itu.
__ADS_1
Debar jantung pertama Re, ada yang menggelitik dalam perutnya, rasa kantuk tidak kunjung menghampiri Renata, Re menggenggam erat selimutnya, bolak-balik memperbaiki posisi tidurnya, bayangan tangan Pitra tertinggal di kepala Re, perasaan lembut itu dan suara lembut itu berulang-ulang di pikiran Re, membuat gadis remaja ini bingung, sebenarnya apa yang terjadi, ini bagian kisah darimana dalam benak Re, tidak tau berapa lama hingga akhirnya Re terlelap dalam senyum.