
Malam Renata tidak sama lagi, jika biasanya Renata dan Artia akan bersantai berdua di depan teras rumah, kini tidak sama lagi. Renata hanya duduk seorang diri berkutat dengan telepon genggamnya.
Semenjak malam kemaren Pitra tidak membalas pesan dan panggilan Renata. Renata bertanya-tanya ada apa dengan sikap Pitra yang terlihat begitu aneh. Saat mereka akhirnya tidak terpisah jarak, namun masih tidak bisa bertemu.
Ribuan kali pemikiran untuk menemui Pitra di rumah Neneknya datang menghampiri Renata, namun Renata menahan dirinya.
"Kau sendirian dek ?" Tanya Tison menghampiri Renata
Renata tersentak kaget melihat Tison.
"Nggak, ada Nenek sama Mama di dalam" Jawab Re
"Maksud abang di luar ini?" Tanya Tison dengan santai sembari berjalan mendekat duduk bersebelahan dengan Renata
Renata yang sedang dalam keadaan hati yang tidak baik, tidak merespon dengan benar ucapan Tison, karena basa-basi Tison sangat tidak enak di dengar.
Jelas terlihat bahwa Renata duduk hanya seorang diri namun Tison masih bertanya
"Loh tanganmu kenapa?" tanya Tison karena memang lengan kiri Renata dalam keadaan di perban
" Oh ini, tadi siang main ke sungai sama Mama, aku terpeleset, tangannya lecet terbentur batu" Jelas Re
"kenapa kau tidak hati-hati?" tanya Tison dengan perlahan menyentuh bagian lengan Renata.
Renata tidak nyaman dengan sikap Tison, tetapi berpikir bahwa itu mungkin bentuk perhatiannya, Renata hanya memandang Tison dengan alis yang terpaut dan raut wajah yang tidak mengerti arti dari sikapnya tersebut.
"Biasa saja bang,tidak separah itu" Ucap Re menarik lengannya dari genggaman Tison
"Iya tetap saja Re, kau ini perempuan kan nggak bagus kalau banyak lecetnya" Jelas Tison
Renata kembali terkejut dengan cara berpikir Tison. Re hanya mengangkat alisnya dan membiarkan Tison bertingkah semaunya. Tison masih sibuk dengan memperhatikan lengan Re dan terlihat begitu khawatir.
"Jadi Re kau sudah SMA ?" tanya Tison
"Iya " Jawab Re
"Sudah besar" Ucap Tison kembali
"Iya" Jawab Re datar
"Bagaimana jadi anak SMA seru kan ?"tanya Tison memecah rasa canggung di antara mereka
"Iya" Jawab Re kembali datar
"Apa kau sedang menunggu seseorang?" Tanya Tison, karena melihat Re tidak tertarik dengan percakapan mereka
"Ha ?, Tidak, dia tidak ada kabar, tidak tahu dia akan datang atau tidak."Jelas Re
"Kenapa ?, kalian bertengkar?" Tanya Tison
"Tidak" Jawab Re
"Ada gitarkan di sini" Tanya Tison dengan bergerak dari duduknya berjalan masuk kerumah meminta gitar. Kembali duduk di samping Renata.
"Kau suka lagu apa ?"Tanya Tison
"Apa saja boleh bang" Jawab Re
Tison hanya mengangguk dan mulai menyanyikan lagu "Pelangi di Mata mu" dari Jamrud. Lagu yang seperti menggambarkan bagaimana canggungnya mereka berdua.
Beberapa lagu terlewati dibanding dengan berbincang-bincang, Tison lebih banyak bernyayi dan Re mendengarkan dengan tenang walau pikirannya bercabang.
Pitra datang menghampiri mereka dengan tangan membawa sebuah kantong berisikan hadiah. Pitra menghampiri mereka dengan pandangan tidak nyaman. Pitra duduk berhadapan dengan Tison. Tison segera menghentikan tangannya dari gitar dan menyapa Pitra hanya dengan mengangkat kedua alisnya dan tersenyum.
"Sudah lama kau di sini son ?"Tanya Pitra
__ADS_1
"Iya, lumayan " Ucap Tison
Pitra menyerahkan kantong yang dia tenteng kepada Renata dengan tanpa sepatah kata. Renata hanya menerima dengan raut wajah penuh tanya. Pitra tidak tersenyum atau menyapa Renata dengan ramah.
"Ayok main di tempat si Ringgo aja kita, lagi ngumpul di sana mereka" Ajak Pitra pada Tison
"Ohhh, Iya" Ucap Tison dengan segera berdiri
"Kami pergi ya dek" Ucap Tison dengan menyentuh bahu Re
"Iya" Jawab Re dalam bingung
Pitra dan Tison pergi begitu saja. Pitra bahkan tidak menoleh sebentar untuk melihat Re yang dalam keadaan membisu tenggelam dalam bingungnya.
Renata tenggelam dalam rasa tidak tahunya. Re menyimpan bingkisan yang Pitra berikan. Masuk di dalam kamar. Pikirannya bercabang, Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Pria itu, kenapa dia hanya diam saja tidak mengucapkan apapun? raut wajahnya tidak enak di pandang. Benak Re bergejolak.
Pitra dan Tison bergabung dengan anak-anak lain. Mereka hanya berkumpul dan bernyanyi bersama di rumah Ringgo. Pitra tidak banyak bercerita seperti yang lainnya.
Pukul 23.00 WIB setelah beberapa jam berlalu, dengan Pitra yang masih tidak menjawab Telepon dan pesan Re. Akhirnya Re memutuskan untuk menemuinya saja, dengan harapan mereka mungkin masih berkumpul di rumah Ringgo.
Renata berjalan menghampiri rumah Ringgo dan segera menuju tempat dimana mereka masih berkumpul. Namun Re tidak menemukan Pitra di antara mereka.
"Bang Pitra dimana ?" tanya Re
"Di sana" Jawab Ringgo dengan menunjuk Pitra yang sedang uring-uringan
Re segera berjalan menjauh dari kelompok mereka untuk mendekat ke arah Pitra
"Bang Pit" Panggil Re
Pitra menoleh arah panggilan dan terlihat sedikit terkejut
"Kenapa kau di sini " Tanya Pitra
"Karena abang nggak balas pesan ku!" Jawab Re
"Kenapa ?" Apa masalahnya ?" Tanya Re
"Nggak ada" Ucap Pitra
"Ohhh, Ayolah, kalau tidak ada kenapa pesan dan telepon tidak ada balasannya semua?" Tanya Re
"Mari aku antar pulang" Balas Pitra dengan lembut
"Enggak" Jawab Re mundur menjauh dari Lengan Pitra
"Re nggak mau pulang kalau ini belum jelas" Teriak Re
"Iya, aku jelaskan sembari berjalan" Jelas Pitra
Awalnya Re ragu dan mulai menurut.
"Aku benar-benar tidak nyaman melihat interaksimu dengan Tison"Jelas Pitra di perjalanan menuju rumah Nenek Re
"Lalu?" tanya Re kembali
"Iya, Aku tidak suka begitu" Jawab Pitra kembali
"Tanya aku bang, jangan diam begini, seharian aku bingung apa masalahnya"jelas Re
"Iya, Maafkan aku" Ucap Pitra
"Tidak ada apa-apa antara kami, itu hanya percakapan biasa" jelas Re
Pitra hanya mengangguk
__ADS_1
Mereka di tiba di rumah Nenek, kembali duduk di kursi teras
"Mana bingkisan yang tadi abang kasih?" tanya Pitra
" di dalam, mau aku ambilin?" Jawab Re
Yang di balas hanya anggukan oleh Pitra.
"Ini" Ucap Re memberi bingkisan tersebut
Pitra membuka bingkisannya, dan di dalam ada sebuah sepatu dengan warna merah maron yang terlihat begitu cantik
"Ini hadiah untuk mu, di pakai ya" Ucap Pitra memberikan sepatu tersebut pada Re
Re kembali terkesima dengan sifat Pitra, semua amarah yang telah Re pendam rasanya luluh dan hanya tersisa alasan kenapa Re begitu menyukai Pria ini
"Ayok coba dulu, aku kurang yakin ukurannya pas atau tidak" ucap Pitra
"iya" Ucap Re dan mencoba sepatu yang ternyata ukurannya sempurna di kaki Re
Pitra tersenyum bahagia melihat sepatu itu sempurna untuk Re. Pitra yang manis kembali benak Re melihat senyum yang terukir di wajah Pitra.
Pitra menggapai lengan Re, mengelus bagian yang diperban, menatap Re dengan lembut dan tersenyum.
"Sepatu yang indah akan membawamu ke tempat yang indah" Ucap Pitra
"jadi kemanapun kau pergi melangkah nanti, gunakan sepatu terbaik mu, agar kau bisa melangkah dengan percaya diri dan akan pergi menuju tempat yang indah dan bagus juga" Jelas Pitra kembali
"Iya, aku akan selalu melangkah dengan sepatu terbaik ini" Ucap Re yang kegirangan dengan sepatu barunya
Mereka saling beradu tatap dan tertawa bersama
" Boleh aku menciummu ?" tanya Pitra tiba-tiba
"Apa?" Tanya Renata tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar
" Boleh aku menciummu ?" tanya Pitra kembali
Renata yang perasaannya masih begitu penuh dengan bunga karena sepatu baru kini berganti dengan badai. Untuk Renata semua masih hal pertama dalam dirinya. Pacaran pertama kali, dapat hadiah sepatu dari pria pertama kali, dan juga pertama kali dapat pertanyaan tentang izin akan ciuman.
"Apa yang harus aku jawab ?"Benak Re
Re hanya terdiam dan mengedip-kedipkan matanya memandang Pitra. Re yakin Pitra mungkin sekarang tertawa dalam pikirannya melihat tingkah Re.
Pitra mendekati Re, wajahnya semakin dekat dengan Renata, Wajah Pitra perlahan mendekati Renata, Renata yang tidak yakin dengan pikirannya menjauh dari arah datangnya wajah Pitra
" Aku tidak boleh melakukannya ?" tanya Pitra karena melihat tingkah Re
Wajah mereka begitu dekat sehingga hembusan nafas Pitra dapat Renata rasakan, Renata hanya diam lalu memejamkan kedua matanya dengan kencang dan menahan otot wajahnya. Melihat tingkah tersebut Pitra tersenyum lembut lalu mengecup dengan lembut kening Renata.
"Sebuah kecupan di kening, di kening , di kening" Benak Re bergejolak karena bahagia
"Sudah malam, masuklah dan tidur" Ucap Pitra Pada Re
" Iya" Ucap Re, yang segera masuk karena malu, meninggalkan Pitra di depan.
Re masuk ke dalam kamarnya, melewati Mama dan Nenek yang sudah tertidur di ruang tengah dengan TV masih menyala.
Di dalam kamar Re loncat-loncat kegirangan dengan sepatu baru sambil memegang dahinya. Re menahan tawanya agar tidak terdengar oleh Mama dan Neneknya. Melihat ke kaca memandang keningnya yang baru saja mendapat sebuah kecupan lembut. Kembali loncat-loncat kecil penuh bahagia. Re tertidur dengan sepatu di kakinya dan senyum yang merekah.
__ADS_1