Alas Kaki

Alas Kaki
Episode 15 Sebuah Pernikahan dan Pertanyaan


__ADS_3

Renata sudah memasuki bangku SMA, namun tetap saja Renata tidak bisa berpisah dari Yuni karena mereka masih masuk dalam sekolah yang sama dan kelas yang sama.


" Kau...tidak ada rencana menjauh dariku" Ucap Renata pada Yuni


" Ha...ha..ha...tidak sama sekali " ucap Yuni yang semakin menempel pada Renata


" Bagaimana hubungan jarak jauh mu dengan Pitra ?" tanya Yuni


" Baik dan lancar, Dia pacar yang manis" jelas Re dengan senyum yang lebar dan tersipu


" DIA PACAR YANG MANIS " ulang Yuni meledek Sahabatnya


" ha...ha..." tawa Re


" Bagaimana dengan mu ? apa kau sudah mempertimbangkan Lamhot ?" tanya Re, karena seperti cerita Yuni bahwa ada seorang anak SMP yang menyukai Yuni


" Kau ini...!" balas Yuni melotot karena dapat ledekan dari Renata


Mereka bersahabat dengan baik, sudah mengenal satu sama lain dengan baik.


****


    Ibu Rosita menerima kabar dari kampung bahwa Artia akan menikah karna dalam keadaan Hamil, Ibu Rosita tentu terkejut mendengar hal tersebut, karena memang seharusnya keponakannya tersebut masih harus menyelesaikan masa SMA-nya namun berakhir menikah dalam keadaan demikian.


" Re...kau ikut mama ya pulang kampung, nanti izin saja dari sekolah " Pinta Ibu Rosita


" Iya.." Ucap Re


" Abang ?" tanya Re memastikan abangnya Rich


" Rich tidak ikut, malu katanya. " Ucap Ibu Rosita


Renata sedih mendengar hal tersebut. Memang benar Teman-temannya yang lain sudah lulus SMA, dan pasti sedang berkumpul di kampung sekarang, dan Rich abangnya tidak memilki status tersebut tentu dia malu.


" Bapak ?" tanya Re kembali


" Bapak mu. Urusan dia mau datang atau enggak. Terserah, Mama nggak mau tau" Ucap Ibu Rosita.


Pak Sao sudah jarang terlihat di rumah, lebih banyak menghabiskan waktu dengan simpanannya, Ibu Rosita sudah tidak mau tahu lagi dengan sikap Pak Sao, dan membiarkan Pak Sao bertingkah semaunya.


" Kakak Artia nikah sama Andrew ma ?" tanya Renata


" Bukan... Orang lain, dari kampung seberang ". Jelas Mamanya


 " hahhh... kenal dimana?" tanya Re bingung


" Di pasar malam kata Nenek " jelas Ibu Rosita


Renata terdiam tidak paham kehabisan kata. Bagaimana kakaknya bisa berakhir demikian? Renata cukup terkejut dan sedih tentunya, karena yang Re bayangkan adalah masa muda yang bahagia sedangkan Kakaknya harus berakhir dengan menikah diusia muda. Apakah Artia cukup mengenal calon suaminya ? Apakah suaminya orang baik ? Apakah dia akan bahagia ?. Pertanyaan demikian menghantui Renata, setelah melihat orang tuanya, Renata tidak percaya ada pernikahan yang akan berhasil.

__ADS_1


****


    Mereka tiba di kampung saat langit sudah gelap, Renata segera menuju toilet untuk mandi dan bersiap istirahat karena rasa sakit kepalanya dan perut yang mual.


" lohhh..,Bapak Rich tidak ikut ? " tanya para tetangga yang sedang ngumpul di rumah untuk mempersiapkan segala persiapan yang akan di bawa ke kampung seberang.


" Ohhh iya kebetulan banyak kerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. " Ucap Ibu Renata berbohong,


" Waduhhh, kalian pasti capek menempuh perjalanan jauh." Ucap Ibu Ringgo


" Iya... Renata yang kasihan muntah-muntah terus" Ucap Ibu Rosita


" Iya ya... besok kita berangkat pagi lagi dari sini, Pukul 04.30 WIB, karena perjalanan tiga jam di jalan, kita harus tiba sebelum Pukul 08.00 WIB untuk ibadah pemberkatan pernikahan Pukul 10.00, Renata harus kuat loh". Jelas Ibu Ringgo


" Iya..karena itu Dia langsung tidur " Ucap Ibu Rosita


****


    Pagi Hari di rumah Nenek sudah penuh dengan kegiatan. Renata yang setengah sadar dipaksa mandi oleh Ibu Rosita untuk bersiap-siap berangkat, Renata hanya menurut dan mandi.


Renata masuk lebih dahulu ke dalam Bus, Re menutup kepalanya dengan tudung jaket yang dia kenakan, menggunakan rambut panjangnya sebagai masker untuk wajahnya dan kembali tertidur.


Bus berangkat tepat Pukul 04.30 WIB dari rumah Nenek, dengan rombongan penuh dari kampung, Andrew juga ikut dalam rombongan, semua Teman kecil Artia duduk di kursi belakang, mereka bertugas sebagai penghibur. Dengan Pitra yang memainkan gitar para gadis yang bernyanyi memeriahkan suanana bus agar tetap ramai dan aktiv.


Renata duduk bersebelahan dengan Neneknya. Karena kondisi jalan yang belum rapi dan masih tanah berbatu Bus berjalan dalam keadaan yang banyak bergoncang membuat mabuk Renata semakin parah. Renata banyak muntah sepanjang perjalanan yang hanya tiga jam tersebut, ini adalah Tiga jam yang sangat menyiksa untuk Renata.


Pitra melihat dengan khawatir dari belakang, namun tidak dapat melakukan apapun karena banyak orang dan memang tidak seharusnya, karena ada Nenek dan Mamanya di samping Renata, namun tetap saja Pitra terlihat begitu khawatir.


Renata turun dengan berantakan, wajah pucat dan mual, Renata masih harus mencari toilet terlebih dahulu untuk melepas semua rasa mualnya.


" Ini minum ini". Ibu Rosita memberi obat dan sebuah pisang untuk Putrinya


" Ahhhh... nggak mau, nanti kalau makan muntah lagi ". Ucap Re menolak


" Jadi mau gimana, kau belum ada makan dari malam kemaren !" Jerit Ibu Rosita geram pada Putrinya


" Aku tidur yaaa" Pintanya memelas


" Udah Gila ?" tanya Ibu Rosita


" Sana...sana... temui kak Artia" Perintah Ibu Rosita


" Iya..iya.." Ucap Re berjalan lemas dan mengambil pisang dari tangan Mamanya


Renata berjalan menuju Artia yang sedang dipakaikan riasan di wajahnya.  Pitra menyusul dari belakang dan menepuk bahu Re. Re secara otomatis berbalik dan segera menutup wajahnya dengan malu.


" Kenapa ?" tanya Pitra karena terkejut dengan tingkah Re


Renata yang sadar Dia dalam keadaan yang berantakan, dengan mata sembab, rambut terurai berantakan, baru saja muntah-muntah dan mulutnya masih asam. Dengan malu menatap Pitra dan geleng-geleng meresponi pertanyaan Pitra.

__ADS_1


" Kau mau melihat Artia juga kan. Ayok kita berdua melihatnya " Ucap Pitra


Renata hanya merespon dengan anggukan saja.


" Artiaaaaaa" Ucap Pitra dengan ramah


" kak Artiaaaa" yang diikuti oleh Renata Juga.


Artia tersenyum bahagia melihat mereka, karena pewarna bibir sedang diriaskan di bibirnya Artia belum bisa membalas sapaan mereka.


" Haiii.... kalian sudah sampai ?." Tanya Artia


" Yupppp... dan adekmu ini muntah terus sepanjang jalan " Jawab Pitra dengan meledek Renata


Sontak Renata membuka matanya lebar terkejut mendengar hal tersebut melihat Pitra yang sedang tersenyum Jahil.


" Ha... ha... kasihan... " Ucap Artia


" Kau baik-baik saja ?" tanya Artia


" Iya... aku hampir mati menuju pernikahan mu " Jawab Renata


Dan mereka tertawa bersama mendengar hal tersebut.


" Kau cantik sekali dalam gaun putih ini, juga lipstik merah itu " Ucap Renata juga menunjuk bibir Artia


" Terima Kasih " Ucap Artia tersenyum, walau bukan senyum terbaiknya


" Bagaimana perasaanmu " tanya Renata


" Ehmmm cukup deg...degan..." Ucapnya


" Haiiii" Ucap Bobby Calon Suami Artia yang datang mendekati mereka


" Haiii" Ucap Pitra dan Renata bersamaan


" Ini Adik sepupuku dari Ayah" menunjuk Renata


" dan Ini abang Sepupuku dari Mama " Ucap Artia Menunjuk Pitra


" Ohhh Saya Bobby Suami Artia " Ucapnya tegas dan menyalami Pitra dan Renata


" Ohhhh.ok baiklah sampai jumpa di Gereja, jangan gugup, kau cantik sekali " Ucap Re memberi penghiburan dan semangat, karena terlihat jelas Artia begitu gugup


" Iya..baiklah" Ucap Artia melepas mereka


Di dalam gereja.


Gereja terlihat begitu indah, di luar gereja sudah berdiri tenda berwarna biru yang setiap tiangnya dihiasi berbagai macam bunga. Di dalam gereja bahkan jauh lebih indah, setiap bunga mawar putih ada di sudut kursi gereja. dan Altar pernikahan dihiasi dengan bunga melati yang menyerupai merpati.

__ADS_1


Gereja  memiliki wangi yang begitu lembut,jalan untuk menuju altar diberikan karpet merah untuk menghantar mereka mengucapkan janji suci sehidup semati. Janji yang hanya diucapkan cukup sekali kepada satu orang untuk  selamanya.


Renata kembali menatap Ibunya saat berjalan mengiring Kakaknya menuju Altar. Mamanya dahulu juga pasti memilki pernikahan yang sedemikian mewah dan indahnya, namun bagaimana sekarang benak Re. Begitu juga dengan orang tua Artia yang keduanya tidak datang hadir di pernikahan Artia. Mereka juga pasti mempunyai kenangan yang demikian. Kemana perginya perasaan mereka saat itu hingga memutuskan untuk berpisah, benak Re. Re menangis berpikir bagaimana jika Kakaknya juga mengalami hal yang sama.


__ADS_2