Alas Kaki

Alas Kaki
Episode 19 Sebuah Hukuman


__ADS_3

Renata dengan semangat dan penuh tawa di wajahnya saat akan kembali pulang kembali ke kota. Renata mengenakan sepatu yang dia terima dari Pitra dengan masih jelas mengingat kalimat yang Pitra tuturkan "Bahwa sepatu yang bagus akan membawanya ke tempat yang bagus juga". Senyum tak beranjak dari wajahnya, Renata tersenyum merekah. Renata dan Pitra hanya berpamitan melalui pesan singkat, karena Ibu Rosita dan Renata berangkat cukup subuh dari desa agar tiba siang hari di kota.


Siang harinya Ibu Rosita dan Renata tiba di rumah dengan keadaan lesu.  Rasa bahagia Renata ternyata tidak dapat menekan mabuk daratnya. Mereka tiba di rumah dengan hanya menemui Richo yang sedang menjaga warung dengan bermain Teka-teki silang.


"Mana Bapak Bang ?"Tanya Renata


"Nggak tahu, jarang pulang juga" Jawab Rich


"Re...buatkan Mama air panas ya, mama mau mandi, pegal ini rasanya semua badan"Perintah Ibu Rosita


Renata hanya menurut dan segera melakukan permintaan Mamanya


"Woii, sepatu baru kau ?"Tanya Rich menyadari Bahwa Re menggunakan sepatu yang berbeda


"Iya, dari Bang Pitra" Pamer Re dengan mengangkat sepatunya


"ohhh, katanya tidak bagus ngasih hadiah sepatu, nanti kau kabur"ledek Rich


"Iya, kabur ke Bang Pitra" Jawab Re dengan senyum lebar


Richo yang terganggu dengan senyum merekah dari Re melempar Re dengan tisu. Renata hanya tertawa bahagia karena berhasil meledek Abangnya.

__ADS_1


****


Besok paginya


Terlihat Pak Sao sudah berpakaian rapi dengan nuansa serba hitam. Pak Sao baru saja pulang dari tempat selingkuhannya, tanpa menunggu waktu segera bergegas mandi dan berpakaian rapi.


Seisi rumah sudah terbiasa dengan sikap Pak Sao yang hanya pulang untuk berganti pakaian atau sekedar meluapkan amarahnya. Namun saat itu berbeda terlihat mendung di wajah Pak Sao.


"Ayok ikut kau" Ajak Pak Sao pada Ibu Rosita


"Kemana ?" Tanya Ibu Rosita Sinis


"Meninggal anaknya si Heti, ayok ikut melayat, kasihan nggak ada yang menghibur nanti" Ucap Pak Sao. Heti adalah nama wanita simpanan Pak Sao, yang juga memiliki seorang anak laki-laki yang berusia sama dengan Renata.


"Kenapa bukan dia yang meninggal ?"tanya Ibu Rosita


"Ketawa kencang aku nanti di sana, itu hasil dari menjadi selingkuhan dan merusak rumah tangga orang lain"Ucap Ibu Rosita


"kalau mauku dia yang meninggal, kenapa anaknya"sambungnya kembali


Pak Sao yang menyadari bahwa tidak akan mendapat hasil  walau berusaha seperti apapun membujuk Ibu Rosita, pergi begitu saja dengan wajah yang begitu muram dan gelap.

__ADS_1


"Siapa meninggal ma ?"tanya Re yang hanya mendengar samar-samar dari balik kamarnya


"Anak selingkuhan Bapakmu" Jawab Ibu Rosita


"Kasihan"Ucap Re


"Koq kasihan ? seharusnya dia yang meninggal bukan anaknya, yang buat salah dia, kenapa anaknya yang diambil Tuhan " Ucap Ibu Rosita dengan nada emosi


"Kalau Dia yang meninggal, anaknya yang menderita, hidup sendiri, nanti dibawa Bapak kemari jadi anak mama, mama mau ?"


"Mulutmu" Sentak Ibu Rosita


"Ini hukuman paling benar buat dia."Jelas Re


"Hidupnya pasti akan sangat kesepian setelah ini,kasihan"sambung Re


"Kasihan, biarin saja, dosanya itu"Ucap Ibu Rosita


Renata menyadari bahwa Mamanya sedang dalam keadaan marah, pergi meninggalkan Mamanya kembali masuk ke kamarnya.


Tuhan punya rencana yang manusia tidak dapat mengerti arti dari setiap kejadian. Bagaimana cara Tuhan menghukum ciptaannya ? Bahkan para pemuka agama juga tidak dapat mengartikannya.

__ADS_1


Tentu saja keinginan manusiawi atas kemarahannya Ibu Rosita ingin wanita itu saja yang Tuhan panggil, agar kemarahan dan semua rasa bencinya dapat terbalaskan. Namun Tuhan mengambil satu-satunya miliknya di muka bumi ini. Bila itu memang hukuman karena telah merusak rumah tangga orang lain, tapi mengapa hukuman itu begitu kejam ?


Dari setiap kejadian akan ada sebuah hikmah tersembunyi. Harapannya pasti semua mengarah ke arah yang lebih baik, maupun itu hubungan Ibu Rosita dengan Pak Sao. Pak Sao dengan anak-anaknya.


__ADS_2