Alas Kaki

Alas Kaki
Episode 3 Pengakuan Pertama


__ADS_3

    Pagi yang cerah menyapa dengan lembut, matahari tampak bekerja dengan begitu giat menyinari hari, Begitu juga dengan Renata dan Artia yang begitu giat sedang mencuci kain dan piring di sungai dekat ladang padi,


" sepertinya bang Pitra suka samamu " .timpal Artia pada Re


     mendengar hal tersebut untuk beberapa saat Re terdiam dari kegiatannya


" kenapa kakak bilang begitu ?" tanya Re


" cara dia memandangmu dan sikap bang pitra lainnya " jawab Artia kembali


" entahlah " balas Re, yang memang tidak yakin akan hal itu


" Dia itu baikloh, rajin lagi, suka dia bantu Neneknya ke sawah, nyari kayu bakar, ngerawat **** di belakang rumah itu , baiklah pokoknya " Penjelasan dari Artia, dan hanya dapat anggukan dari Renata,


" huuuuiiiiii " terdengar jeritan Petrus dari jauh, berjalan mendekati Artia dan Renata, mendenagr hal tersebut Mereka berdua menengadah mencari sumber suara dan mendapati Petrus berjalan mendekati mereka dengan membawa cangkul dan tampak berantakan karena baru selesai membajak sawah milik keluarganya.


" udah lama kalian di sini ? " tanya Petrus dengan riang lalu masuk kedalam sungai membersihkan dirinya dari tanah bekas sawah tidak juga lupa dengan cangkulnya,


" iya, ini sudah selesai dan akan mau pulang" timpal Artia, dan sudah naik ke hulu sungai untuk Pulang, demikian juga dengan Re,


" Re ada pacet itu di kaki mu " ucap Petrus menunjuk kaki Renata,


      Mendengar hal tersebut , Renata yang takut akan Pacet sontak bereaksi dengan lompat-lompat kecil mendekati kakak sepupunya Artia, meminta pertolongan dengan menjerit ketakutan,


" Berhenti melompat aku nggak bisa lihat , tenang " kata Artia sambil mencari sosok pacet diantara kaki Re, namun tidak menemukannya


 Renata yang menurut terdiam seperti patung mengangkat tangan ke atas seperti ada yang menodong pistol akan dia, berharap diselamatkan dari binatang penghisap darah tersebut,


"Bohong akunya " ucap Petrus sambil tertawa kencang, menyusul keluar dari sungai dan mendekati mereka berdua


" kau nggak usah pura-pura takut seperti itu " ucap petrus pada Re


" dia memang takut binatang kecil, seperti pacet, lintah, cacing, keluwing, kecoa, belatung dll. karena mungkin di kotanya dia tidak menemui itu " penjelasan Artia pada Petrus, Renata yang masih parno akan Pacet tidak dapat berjalan dengan fokus , Re bahkan tidak bisa marah karena dikerjai oleh Petrus karena terlalu takut, Re hanya berjalan pulang membawa piring bersihnya dengan perasaan takut dan geli yang menjalar dari kakinya, seolah Re percaya bahwa memang sebelumnya ada Pacet nempel di kakinya.


    " Sepertinya tidak ada orang di rumah " ucap Artia pada Re,


karena mereja mendapati rumah dalam keadaan kosong,


" Pergi kemana semua orang ? " Tanya Re, berjalan ke arah dapur dan menyusun piring ke rak piring, dengan meninggalkan Artia di depan yang juga melakukan aktivitasnya


" Hai Re " Ucap Tison dari Pintu belakang yang membuat Renata sontak terkejut kembali, perasaan akan pacet masih menghantui Re, dan kini kakinya lemas karena terkejut kembali


" Ya Tuhan, ucapnya lemas melihat Tison yang berdiri di pintu belakang


" Kenapa? aku mengejutkan mu ? " tanya Tison


" iya " jawab Re lemas


" maaf, Ngomong-ngomong dimana Mama dan Rich ? tanya Tison setelah minta maaf


" enggak tau, rumah kosong tadi waktu kami sampai , kenapa ?" tanya Re


" ini, aku sudah bawakan batang pisang untuk masak dodol, tadi Mama minta tolong diambilkan, aku udah taruh belakang ya " penjelasan Tison


" oh ok , mungkin mereka pergi nyari kelapa atau beli tepung nya " jawab Re yang dibales anggukan oleh Tison


" jadi tinggal 2 hari lagi liburanmu di sini ya ?" tanya Tison


" iya, bentar lagi masuk sekolah " jawab Re


" kau ada nomor HP yang bisa ditelpon nggak ?" tanya Tison


" Nomor mama lah atau nomor abang Rich, kenapa ? kata mama aku boleh pake HP kalau udah SMA, kenapa bang ? " tanya Re


" iya supaya bisa nelpon kau gitu kapan-kapan, mau tahu kabarmu juga, kan lama lagi datang kesininya bulan 12 lagi kan " tanya Tison


" iya masih lama, aku enggak ada nomor, tanya abang Rich aja kalau mau tau kabar ku, " Jawab Re


" enggak seruloh nanya mereka " jawab Tison


" yah enggak ada mau gimana ? " jawab Re kembali ketus


" yah nggak usah marah , atau kapan kau bisa pegang HP , kita smsan gitu waktu kau bisa pegang HP" tanya Tison lagi ,


" waktu pulang sekolah, malam selesai belajar, gitu " jawab dia


" nih simpan nomor aku aja, sms aku kalau kau udah bisa pegang HP " pinta Tison


" ehm iya kalau enggak lupa " jawab Re , menerima kertas dari Tison

__ADS_1


"ngapain kalian berdua-dua di belakang ?" tanya Artia yang sudah selesai menjemur kain saat mendapati Re sedang berdua dengan Tison


" Nggak ada, cuma ngobrol" jawab Re


"Itu di depan ada Tante sama Bang Rich baru sampai dari pasar, tadi kau nyari Tante, Tison " timpal Artia


" iya " ucapnya lalu berjalan ke depan menemui Ibu Rosita dan Rich


    Karena liburan keluarga Ibu Rosita akan segera berakhir, Ibu Rosita ingin membuat dodol untuk oleh-oleh di bawa ke kota dan dibagikan pada tetangga dan teman bu Rosita , maka malam ini mereka ada mempersiapkan dodol tersebut, sudah menjadi tradisi bahwa saat ada yang membuat dodol maka para Anak Laki-laki akan berkumpul dan membantu untuk hal tersebut , sehingga Rich dan kawan-kawan sudah siap dengan segala persiapan mereka, Tison yang mengumpulkan batang pisang yang akan menjadi kaki untuk tungku Api nantinya, Andrew dan Ringgo sudah siap dengan perkumpulan kayu bakar dan sendok besar untuk mengayuh santan sampai mengental nantinya, tidak lupa juga dengan Petrus yang sudah siap dengan tenaganya, Karena proses membuat dodol memakan waktu dan tenaga yang cukup lama , mereka akan membuat dodol di depan Rumah Nenek Re, yang di mulai dari Jam 17.00 Wib yang mungkin akan selesai ditengah malam, maka bagian dari Renata dan Artia adalah menyediakan konsumsi untuk mereka yang bekerja keras.


    Acarapun dimulai, Api sudah dihidupkan, Ibu Rosita sudah mulai dengan menyaring kelapa dan menghasilkan santan kental, mempersiapkan Gula merah dan tepung serta durian untuk perisai rasanya, kegiatan terus berlanjut, Rich, Tison, Andrew dan Ringgo, mereka bergantian mengayuh santan,


" Si Pitra nggak ikut ya" tanya ibu Rosita pada mereka


" oh iya Tante, dia pergi sebentar ke kota ngawani Neneknya Check up, nanti malam baru sampai sini, mungkin malam dia ke sini Tante" penjelasan dari Andrew karena memang mereka bertetangga sehingga dia mengetahui jelas hal itu


" iya nya , ku pikirpun koq nggak kesini dia " timpal Bu Rosita


" teringatnyakan Tison , kau kemaren itu ngirim surat kan sama anak ku si Renata " tanya bu Rosita


 Sontak membuat mereka semua kaget, begitu juga dengan Rich, menoleh ke arah Re dengan tajam,


" Re kita jumpa di Pohon rambutan ada yang mau ku bilang. Seperti itu kau bilang Tison " ledek Ibu Rosita,


mereka semua tertawa mendegar hal tersebut, begitu juga dengan Tison , Tison tidak dapat menanggapi hal tersebut, Tison hanya tertawa dan sibuk mengadon Santan di atas wajan,


" Jangan gitu , masih kecil anak Tante itu , belum boleh pacaran," timpal Tante lagi


" iya tante " jawab Tison malu-malu


" Ma... Gula habis. " Teriak Re


" nggak bisa buat Teh ini " sambung Re lagi


" yah udah belilah sana ke warung jawa " sambung Ibu Rosita


    Re menanggapi mamanya dengan meminta uang,


" Siapa kawan ku, nggak berani aku malam kesana, gelap di tengah sawit" ucap Re


" lah si Artia ngapain, dia kawan mu " bales Rich ,


" lihat air, itu lagi ngerebus air untuk teh, abanglah yok kawan ku " ajak Re ke Rich


" pergi sendirilah belum terlalu gelap masih 18.30 ini " bales Rich cuek


" Enggak maulah , nggak berani aku , takut ular lewat, " jawab Re kembali


" sama si Tison aja sana" ucap ibu Rosita


" kawani ya Tison dia, sekalian perjelas surat mu " ucap ibu Rosita kembali meledek Tison


Tison dan Re pergi menuju warung wak jawa, mereka melewati gereja dan memasuki kebun kelapa sawit yang gelap dan sunyi tersebut , tidak ada kalimat di antara mereka untuk beberapa saat,


" Tadi dengar enggak mama bilang apa tentang surat ku ?" tanya Tison pada Re


" enggak, aku di dapur , enggak dengar, emang apa? " tanya Re


" Kalau aku suka sama mu " jawab Tison dengan jujur dan frontal,


Yang hanya dibalas dengan tatapan dari Re dan terus berjalan menyusuri jalan sempit di tengah kebun tersebut


" Re " panggail Tison


" iya " ucapnya dan menoleh ke arah Tison


" dengar enggak ? " tanya Tison lagi


" iya " Jawab Re


" apa ?" tanya Tison kembali menyakinkan


" iya itu, abang suka aku " jawab Re dengan malu dan suara pelan


" Lah terus apa ? aku harus gimana naggapin ini? " tanya Re kembali pada Tison


" Kau gimana suka enggak sama aku " tanya Tison


" enggak tau , aku nggak pernah suka sama orang lain sebelumnya " timpal  Re

__ADS_1


" samaku gimana ? " tanya Tison Lagi


" enggak tau " Jawab Re kembali


" kog nggak tau , ada apa sekarang di pikiran mu ?" tanya Tison


" Enggak Tau, kosong, nggak ngerti, aku harus gimana bingung " jawab Re


" Kita Pacaran ya ? " tanya Tison


" Enggak mau" jawab Re dengan lantang


" loh kenapa ? di tanya suka sama aku nggak tau , di ajak pacaran nggak mau itu gimana ?


" yah nggak tau , tapi aku nggak mau pacaran ?" balas Re


" kenapa ? suka sama orang lain ? " tanya Tison


" enggak, aku belum pernah suka sama orang lain " jawab Re kembali


" berarti kamu nggak suka aku juga " balas Tison


" bukan " timpal Re merasa bersalah


" itu jawabannya nggak usah banyak alasan " jawab Tison


dan Re hanya diam saja, memesan gula pada wak jawa dan berbalik pulang,


" Mungkin sekarang belum ada, tapi nanti pasti bisa " pecah Tison di tengah kesunyian mereka


" apa ?" tanya Re


" perasaan suka mu akan aku " timpal Tison


    Re kembali diam, dalam benak Re entahlah akupun tidak yakin , untuk beberapa saat Re begitu tenggelam dalam balutan lembut sikap Pitra namun Re kembali tidak yakin karena Pitra begitu santai seperti hanya bersikap pada adik perempuannya, lalu Re dapat pengakuan langsung seperti ini Re kembali tidak mengerti pada perasaannya, perasaan yang Re terima berbeda, berbeda dengan saat Re menerima usapan lembut di kepalanya dari Pitra, perasaan itu , detak jantung itu masih menghantui Re, Perasaan yang berkecamuk Re menyadari ada perasaan suka disitu namun tertutup dengan kesan seorang Abang pada adiknya, lalu pengakuan perasaan ini jantung Re juga berdegup kencang mendengarnya namun Re tidak penasaran akan perasaan Tison, Re senang mengetahui bahwa ada seseorang yang menyukainya namun tidak sesenang saat Re mendapat ucapan selamat tidur dan belaian lembut di kepala.


    Mereka sampai di rumah dan mendapati ada Pitra disana, Re melihat Pitra dan tersenyum, Tison kembali bergabung dengan mereka dan Re ke belakang untuk menyediakan Teh


" kekmana nenekmu Pit, ? " tanya Tison pada Pitra


" baik , hanya check lututnya saja, jadi sudah biasa, dan baik-baik saja " balas Pitra


" baguslah " ucap Tison kembali , dan di balas anggukan oleh Pitra


Mereka kembali sibuk dengan aktivitas membuat dodol,


    Beberapa jam berlalu akhirnya santan dan tepung ketan mulai mengental menandakan sebentar lagi dodol akan jadi dan selesai, namun pada saat mengental demikian mereka harus terus mengayuh hingga benar-benar kental, Pukul 21.00 akhirnya dodol sudah mateng, mereka mendinginkan Dodol di daun pisang sebelum akhirnya disusun dalam plastik gula 1kg untuk dikemas pulang, Tison dan teman-temanya mulai merapika perapian dan lainnya,


" Terimakasih ya semuanya " ucap ibu Rosita,nanti saat dingin kalian boleh ambil untuk di bawa ke rumah , ya " ucap bu Rosita


" iya " di jawab serentak oleh mereka ,


Rich dan lainnya mulai bernyanyi sambil bermain gitar menyelesaikan hari mereka yang melelahkan dan menghabiskan waktu bersama karena Rich akan berangkat kembali ke kota, di tengah kegiatan Pitra masuk ke dalam rumah dengan sebuah kantong kecil, Pitra menemui Re yang ada di dapur sedang merapikan semua gelas dan peralatan lainnya, Pitra menarik tangan Re lembut ke arah Pintu belakang, Re mengikuti dengan bingung


" kenapa , kenapa ?" tanya Re


" nggak ada apa-apa, ini untuk mu " balas Pitra dengan memberikannya sebuah buku Diary


" untuk ku , buku diary siapa ini ?" tanya Re


" Bukumu , untuk mu , tulis kegiatanmu selama disana nanti, ntar waktu kau balik kesini lagi aku akan baca itu " jawab Pitra menjelaskan , dan Re hanya bingung mendengarnya, Re hanya terdiam dan mengedip-ngedipkan matanya menatap Pitra , melihat hal itu Pitra hanya dapat tertawa kecil gemas melihat Re


" Buku ini kau bawa ke Kotamu , tulis apapun yang kau alami di sana, nanti bulan 12 pulang kampung kemari baru aku baca, begitu ok " penjelasan dari Pitra lagi


" buat apa, kenapa abang baca buku diary ku coba ? terus kenapa abang ngasih aku buku diary coba ? aku aja nggak pernah nulis diary " timpal Re


" iya supaya pernah , dan aku pengen tahu apapun kegiatan mu, tapi kau nggak punya HP jadi tulis di sini nanti balik kesini aku baca, gituloh " ucap Pitra kali ini dengan geram


" why ?" ucap Re kembali tegas


" Ya ampun apa susahnya kau cuma nulis Re, aku bukan ngajak berantem " timpal Pitra kembali


tawa kecil Re berikan untuk menanggapi perkataan Pitra


" ehm baiklah terserah , kalau aku ingat aku tulis " ucap Re lalu berjalan kembali ke dapur


" Re " panggil Pitra kembali denga lembut


" iya " ucap re menoleh kebelakang melihat Pitra

__ADS_1


" bukan kalau kau ingat, apapun boleh, kalau kau ingin marah , puisi, corat-coret, lagu kesukaanmu , nama teman-temanmu, apapun , APAPUN , " ucap pitra sambil memandang lekat di wajah Renata,


    Re yang malu dipandang begitu dengan hanya menanggapi dengan iya lalu pergi berlalu menuju kamar untuk menyimpan Diary di dalam Tasnya. kembali lagi detak jantung itu menghampiri Re, detak jantung yang membuat Re bingung artinya, Jantung Re berdegup kencang hanya dengan Pitra memanggil lembut namanya, Jantung Re kembali berdegup kencang saat Pitra hanya menerangkan fungsi sebuah buku Diary.


__ADS_2