
" Re... bagaimana kau masih ragu kalau bang Pitra suka sama mu ?" Tanya Artia disela kesibukan mereka menyiapkan makanan untuk malam,
" Ehmmm nggak tau.., " Ucap Re
" kalau kau nggak yakin coba terima aja bang Tison, mungkin setelah itu kau bisa banding perasaan mu ? " saran Artia
" nggak ah ... nggak mau dia genit " jawab Re
" bang tison ? " timpal Artia yang dibalas anggukan oleh Re
" bukan genit, dia memang baik sama semua cewek " jelas Artia
" sama aja " timpal Re
" kau nggak suka sama Tison tapi nggak suka dia genit sama cewek lain " tanya Re
" siapa-siapa yang genit " Sahut Pitra yang datang ntah darimana masuk dalam percakapan mereka,
" ini bang si Renata, nggak suka katanya sama Bang Tison tapi nggak suka lihat si Tison sama Cewek lain " cerocos Artia
" aku nggak bilang suka sama dia " ucap Re membantah
" Iya tapi bang Tison suka sama mu " Ucap Artia
" Tison suka sama Renata ? " tanya Pitra saat mendengar itu
" Iya, udah bilang lagi kalau dia suka, waktu mereka beli gula katanya, " timpalArtia kembali
" ahhh abang udah tau belum kalau dia juga ngirim surat ngajak ketemuan di Pohon rambutan " perpanjang Artia dengan tertawa kencang meledek sepupunya
" ohhh iyaa, terus kau jawab apa Re ? "tanya Pitra
" nggak ada, aku nggak tau" ucap Re
" ohhh " ucap Pitra mengambil gelas dan meminum air
" Abang ada apa kemari ?" Tanya Artia
" ohhh sebenarnya mau ke warung jawa, tapi mau mampir sebentar minum, dan ternyata dapat cerita seru " ucap Pitra
" ohhh iyakah" respon Artia
" iya, aku jalan ya " ucap Pitra dan pergi setelah tersenyum kepada Artia dan Renata
Setelah makan malam selesai Artia mengajak Renata untuk ngumpul di Rumah Ringgo karena saat itu anak-anak yang lain juga ngumpul di sana, Renata hanya ikut saja dengan Artia, Artia masuk dengan santai ke rumah Andrew menyapa Ibu dan Bapak dengan ramah,
" Woiii Re sini... " Jerit Ringgo dari samping rumah mereka , yang mana ada Pohon Mangga rindang dan mereka sedang ramai berkumpul di bawah pohon tersebut,
" iya " ucapnya mendekat
" lah mana kakakmu" tanya Ringgo
" di dalam " jawab Re dengan duduk di samping Tison, karena hanya itu bagian yang kosong
" TIAAAAAAA kami di samping " Jerit Ringgo
dan disusul dengan langkah seribu oleh Artia menuju Pohon mangga,menghampiri mereka,
" Abang mana " tanya Re , penasaran akan abangnya
" ohhh sama Putri katanya ke warung si Horas, beli jajanan, sekalian manggil Pitra sama Andrew " jawab Ringgo, yang memang Warung horas bertetangga dengan Rumah Pitra dan Andrew
Beberapa menit berlalu awalnya mereka berempat, namun akhirnya tinggal Re dan Tison, Ringgo pergi dengan alasan sakit perut, sedangkan Artia pergi dengan alasan ingin segelas air.
" Mana dek no Handphone mu ? tanya Tison dengan mengeluarkan HPnya
" ahh iya, " Ucap Re dan menyebutkan nomornya, setelah itu Tison membuat panggilan untuk Re
" simpan dek itu nomor abang" ucapnya
" iya " jawab Re
" Sekarang apa kau sudah menyukai ku? " tanya Tison kembali Frontal
" ehmm, aku belum tau " ucap Re mengangkat alis matanya
" Kenapa sudah setahun berlalu padahal, kau tidak pernah mikirin aku ?" tanya Tison
Yang benar saja batin Re, apa yang sudah terjadi antara kita, kenapa aku harus memikirkanmu batin Re bergejolak,
" nggak " jawabnya
" aku sedih" ucap Tison dengan membenamkan wajahnya di pundak Renata, yang membuat Re terkejut dengan hal itu, dan tidak tau harus berbuat apa, Tison mengangkat wajahnya dan menatap dekat Renata, wajah mereka begitu dekat hingga Re sedikit mundur menghindar karena terkejut, lalu Tison mulai menjauh
" Iya memang belum suka ternyata " Ucap Tison
Apa-apaan Bapak ini, batin Re, sebenarnya dia ini serius apa engak sih, orang gila, buat aku bingung aja,
Dari kejauhan Re bisa melihat sosok Pitra dan Andrew mendekat ke arah Rumah Ringgo namun tidak melihat sosok abangnya dibelakang mereka, Namun Pitra tidak dapat melihat jelas mereka yang ada di Pohon mangga karena memang tidak ada lampu disini, Pitra hanya tau ada orang disana namun tidak tau itu siapa saja, senyum terukir jelas di wajah Pitra sambil berjalan membawa gitar dengan langkah santai, duduk di Teras rumah Ringgo dan mulai bernyanyi, Renata ingin mendekat ke arah sana, Namun ditahan Tison,
__ADS_1
" Sini aja, masa aku sendirian di sini, nanti kita panggil mereka kemari " ucap Tison, Re hanya menurut saja
" mana yang lain " tanya Pitra pada Ringgo saat melihat Ringgo
" Artia di dalam, Tison sama Re itu di samping lagi berdua " jawab Ringgo
" Tiakuu" sapa Andrew dan masuk ke dalam rumah menemui Tia
" Ku dengar mereka udah jadian ya , si Tia sama si Andrew " tanya Ringgo pada Pitra yang memang dekat dengan Andrew
" Iya katanya kemaren malam waktu pulang dari Kuda lumping " jelas Pitra
" Wuahhh , si andrew kampret juga, " ucap Ringgo yang hanya dibalas tawa oleh Pitra
" Mereka berdua bagaimana udah jadian juga ?" tanya Pitra bertanya tentang Renata dan Tison
" Enggak tau, si Renata masih anak-anak, polos, susah di ajak pacaran,jawabannya asik nggak tau, bingung si Tison" jelas Ringgo yang juga memang dekat dengan Tison
" iyalah masih SMP koq, mana tau " ucap Pitra
" kita lihat aja," Ucap Ringgo
Yang hanya di balas dengan petikan gitar oleh Pitra, Pitra dan Ringgo memutuskan bernyanyi bersama, menghabiskan malam mereka yang tanpa pasangan, beberapa lagu berlalu, Artia keluar dan mengajak Re pulang karena memang sudah jam pulang mengingat mereka yang masih remaja, Re menurut saja, berjalan pulang melewati Pitra yang masih bernyanyi dengan penuh penghayatan, disusul Tison juga yang mendekati mereka bergabung bernyanyi bersama.
" Gimana...Gimana ? udah ada hasilnya ?" tanya Ringgo Penasaran pada Tison
" Susah, jawabnya masih nggak tau aja, dari tadi diam aja, aku udah ngasih banyak pertanyaan,di jawab udah gitu aja, pening aku mau lanjut ngobrol apa lagi, Syukur si Artia manggil, kalau nggak diam-diaman aja kami " jelas Tison
" Ya... diakan masih SMP, masih polos, sabar tunggu seusia Artia udah bisa diajak ngobrol banyak " Ucap Andrew
" Cieee... yang sudah ada pacar ini, " Ledek Tison yang tanggapi dengan tawa girang oleh Andrew
" Mau lagu apa ini terakhir, aku juga mau pulang ini" ucap Pitra memecah Tawa mereka
dan mereka memutuskan menyanyikan lagu Peterpan Mungkin nanti, dengan Vokal oleh Mereka berempat, Gitar oleh Pitra dan tim rusuh oleh Andrew dan Ringgo.
****
MInggu siang setelah ibadah, setelah selesai membersihkan Gereja atas permintaan Ibu pendeta, Renata dan Artia menghibur diri mereka dengan Sirup markisa dingin.
" Tok tok tok ... ada orang " ucap Pitra melihat rumah yang kosong saat Pitra datang ingin bertamu
" Ahhh bang Pitra... " Ucap Artia riang menyusul dari dapur yang juga di ikuti oleh Re
" Dimana semua orang kenapa sepi kali rumah ini " tanya Pitra
" ahh iya, tadi orang itu ngajak aku sih memang, tapi rumah Si Ringgo sepi tadi waktu aku lewati" ucap Pitra
" di belakang mereka, di dekat kebun buatnya " jelas Artia , dan di balas anggukan oleh Pitra
" Ahhh ini, uang dari Mamamu, untuk uang jajan kata Mama" ucap Pitra dengan memberinya pada Artia
" iya bang, Mama ada titip uang " Tanya Artia kegirangan dan menghitung jumlah uang yang dia Terima, Pitra melihat Artia ikut tersenyum karena rasa senangnya
" Pinjam HP abanglah aku mau telpon mama bilang Terima kasih " Pinta Artia, dan di sambut dengan segera memberi Handphonenya, Artia pergi ke kamar dan mulai berbincang dengan Mamanya
" Re... mana buku diary aku mau baca " pinta Pitra
" sekarang ? " tanya Re
" iya sekarang" Timpal Pitra
" ok wait " ucapnya dan pergi mengambil Buku Diary nya
Di dalam buku Diary tersebut tidak banyak kisah Renata, bahkan tidak ada, Di dalam buku hanya 1 Puisi lalu diisi dengan biodata teman satu kelas Renata lalu beberapa lagu kesukaan Re.
" Apa ini ?" tanya Pitra Tertawa,
" kenapa tidak ada kisah mu ?" tanyanya lagi
" lohhh abang bilang boleh apapun, lagu, Puisi, apapun, jadi ya itu, seperti itu, aku juga nggak tau mau nulis apa " Ucap Re
Pitra tertawa begitu kencang,
" Ok baiklah, dari semua nama ini siapa teman dekat mu ?" tanya Pitra
" Ohhh Yuni, Yuni Kartika, ini yang paling pertama nulis " dengan menunjukkan jejak tulisan Yuni
" Abang tau,.. dia nggak pernah pulang kampung, karena orang tuanya asli daerah tersebut jadi dia nggak tau rasanya pulang kampung, dan nanti kalau kami udah masuk sekolah, dia akan nanya banyak hal tentang kampung kita ini, lucukan dia " jelas Renata bercerita
" Teruss" tanya Pitra lagi
" Aku sama dia satu sekolah terus bahkan dari TK dan anehnya satu kelas juga, TK, SD, SMP, ha ha ha , nanti SMA aku mau menjauh dari dia, supaya ada kawan baru " ucap Renata kembali sambil tertawa
" Cantik dia ?" tanya Pitra
" Cantik ... Matanya besar, tapi tidak terlalu tinggi, aku lebih tinggi" jelas Re lagi, membuat Pitra tertawa
" Pintar di sekolah ?" tanya Pitra kembali
__ADS_1
" Ehmmm... lumayan Dia selalu masuk sepuluh besar " jelas Renata
" Terus kau ? kau pintar di sekolah ?" tanya Pitra
" Aku pintar, aku selalu masuk Tiga besar, Abang nggak tau ya " ucap Re
" nggak, semester ini kau peringkat berapa ?" tanya Pitra dengan sambil tertawa kecil
" Peringkat 1 kelas dan 2 Umum, Aku pintar tau... " ucapnya membanggakan diri
" ha ha ha . iya iya kau Pintar " Ucap Pitra
" bukunya abang bawa bentar ya, nanti aku balikin lagi " ucap Pitra
" ohh ok " jawab Re
" Jadi bagaimana si Tison ? suka sama dia ?" tanya Pitra
" nggak, dia aneh itu" jawab Renata
" Kenapa ?" tanya Pitra
" entahlahh, aku hanya merasa dia aneh, dia itu seperti orang yang suka berbohong " ucap Artia
" ohhhh...." ucap Pitra
" kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya sepertinya bohong semua!, tapi anehnya itu terlihat baik, apa karena dia punya suara lembut ya ? " jelas Re dengan ekspresi bingung
" ohhh suara Tison lembut?" tanya Pitra kembali
" lembut bang, untuk cowok itu lembut, apa yah dibilang enak didengar " jelas Re dengan antusias
" ohhhh, terus aku , aku bagaimana ?" tanya Pitra
" apanya yang bagaimana ?" Tanya Re kembali, karena bingung dengan pertanyaan tersebut
" Aku... apa aku juga terlihat seperti pembohong, atau apa suaraku juga lembut" tanya Pitra
Dek... Renata terdiam, apa yang harus Re jawab, dapat pertanyaan seperti itu tentang Pitra, Renata bingung, pikirannya menjadi rumit,
apa yang harus kukatakan, Dia terlihat seperti Power rangers buatku, boleh aku mengatakan itu, dia memang tidak memiliki suara selembut Tison namun sikapnya begitu lembut, kalimat yang keluar dari mulutnya seperti mengandung gula semuanya, perlakuannya penuh kasih sayang, belum jika dia tersenyum dengan manis, aku pikir semua monster yang menyerang kota akan kalah saat melihat itu, boleh aku berkata demikian, Batin Re dalam diam
" Hei... aku ? aku bagaimana ?" tanya Pitra kembali, karena Re tidak kunjung menjawab pertanyaanya
" suara abang bagus, apalagi kalau lagi nyanyi , keren sekali " ucap Re menjawab dengan jempolnya
" itu saja ?" tanya Pitra dengan terkejut
" iya " ucap Re tertawa kecil
" Bagaimana dengan ini ," ucap Pitra dengan menggenggam kedua tangan Re,
" aku juga menyukai mu " sambung Pitra dengan lembut menatap lurus wajah Renata
Seketika dunia Renata senyap dan sepi hanya suara debaran jantung yang terdengar, tidak pasti itu debaran jantung Renata atau debaran jantung Pitra, tangan mereka masih terpaut untuk beberapa saat Pitra masih memandang lekat wajah Renata, Di mata Renata Pitra terlihat begitu bersinar untuk saat ini, wajahnya begitu berkilau, apa ini ? kenapa wajahnya berubah begitu ? ada apa dengan ku ? batin Renata,
" Apa aku terdengar seperti pembohong juga ?. " tanya Pitra, karena tak kunjung dapat jawaban dari Renata
" heh ... " ucap Re canggung, melepas tangannya dari genggaman Pitra,
" Enggak ... tidak begitu " Ucap Re
" Jadi kau percaya ? " tanya Pitra
Renata terkejut, matanya melotot besar, dia menelan ludah dengan gemetar, membuat Pitra Tertawa melihat respon dirinya
" Itu benar " ucap Pitra
" aku menyukaimu " sambung Pitra dengan mengetuk hidung Renata yang tidak mancung dengan jari telunjuknya
Renata kembali terkejut seperti mendapat bantuan alat pacu jantung, Renata hanya diam bermain dengan kukunya, mengedip-kedipkan matanya, tidak dapat memandang Pitra, membuat Pitra kembali tertawa dengan apa yang dia lihat
" Kau lucu sekali sekarang, seperti orang yang dapat kabar duka" ucap Pitra dan berdiri dari kursi
Renata menghela nafas panjang dan membuangnya dengan keras dengan tidak sadar, membuat Pitra tertawa kembali
" Baiklah aku pulang sekarang... bukunya aku bawa dulu " ucapnya
" Aku pulang ya " ucap Pitra kembali dengan Kebiasaan mengelus lembut kepala Renata
Renata masih membisu
" Artia Handphone ku , aku mau pulang ini " jerit Pitra
" ohh iya..." ucap Artia mengakhiri telpon dengan Mamanya dan memberi Telp pada Pitra
" Makasih ya bang " Ucap Tia
" ok.. aku balik " ucap Pitra dengan melambai Cuek dan pergi menghilang dari balik pintu Rumah mereka
__ADS_1