
"Hey, mau kemana?! bentar lagi latihan! jangan bolos lagi ya kamu!!!" Ucap seorang Wanita yang memiliki paras cantik menawan, berambut sebahu, dan memakai pakaian biru gelap, dengan nada tinggi.
" Iya, iya. Berisik amat sih." Balas sang anak yang memiliki rupa mirip seperti ibunya, memilki rambut yang panjang, dan mengenakan pakaian yang mirip seperti ibunya, sambil berlari meninggalkan rumahnya dengan wajah yang kesal. Walaupun dengan perkataan sang anak yang cukup kasar, sebenarnya tidak ada maksud untuk menyakiti ibunya sama sekali. Hanya saja, akhir-akhir ini sang ibu mulai kesal dengan perilaku sang anak, yang mulai membolos pelatihan.
" Awas saja kalau kamu Bolos lagi, Dea!!!!" Ucap kembali sang ibu memperingatkan sang anak.
Dea dan Ibunya (Nata) hidup disebuah desa kecil yang bernama watah. Desa ini hanyalah desa yang hidup dengan bertani dan mengambil ikan. Desa ini berada diantara 2 negara besar, walaupun begitu, Desa ini bukan milik kedua negara, dan hanya sebuah desa yang mandiri. Desa adalah satu-satunya peninggalan dari sang Dewa Air.
Kembali ke Dea, walaupun ia sudah meng'iya'kan perintah ibunya, sore itu, ia tetap saja membolos pelatihan dengan pergi menyendiri ke sebuah hutan lebat, hutan tersebut merupakan hutan yang dilarang untuk dimasuki oleh orang yang berusia dibawah 18 tahun. Kebetulan Dea saat ini hanyalah gadis berumur 14 tahun yang masih berada pada pelatihan. Walaupun begitu, Dea sudah berulang kali memasuki hutan tersebut ketika jadwal pelatihan.
"Latihan, Latihan, Latihan. Percuma latihan kalau tidak punya bakat!!!!" Teriak Dea dalam kesunyian hutan terlarang tersebut. Sekeras apapun Dea berteriak, suaranya tidak akan terdengar sampai ke desa. Karena alasan inilah, Dea sering datang ke Hutan terlarang untuk membuang unek-uneknya.
" Sebanyak apapun aku berlatih, aku tidak akan pernah menjadi kuat." Pikir Dea dalam diam. Dan dari matanya mulai keluar sedikit air mata yang mengalir pada mukanya.
"Kapan aku bisa seperti temen yang lain?" Dea mengeluh dalam suara yang kecil. Lalu Dea pun kembali mengingat perkataan ayahnya yang pergi berpetualang keluar desa. Ketika itu, saat ayahnya mengucapkan beberapa patah kata.....
"Hey, walaupun ayah bakal ga pulang untuk waktu yang lama, tapi hmmphh (Berlinang air mata), Ayah janji bakal pulang kerumah. Dan bisakah Dea janji sama ayah?? Ketika ayah kembali kerumah, ayah pengen Dea jauh lebih kuat dari ayah dan bisa melindungi orang banyak?" Ucap sang ayah dengan nada bicara yang kurang dimengerti Dea kecil.
Dea hanya mengganguk kepalanya dengan polos. Dea hanya melihat wajah ayahnya yang berlinang air mata. Saat itu, Dea hanyalah anak kecil berumur 4 tahun yang masih belum mengerti apa-apa. Tapi, perkataan ayahnya itulah yang membuat Dea selalu bertekad untuk menjadi lebih kuat.
Disaat perasaan Dea yang masih belum jernih tersebut, Dea sempat memalingkan wajahnya kedepan dan melihat monster yang berbadan ular besar dengan wajah banteng. Monster tersebut belum menyadari kehadiran Dea disana. Dea pun kaget, dan wajahnya pun berubah menjadi pucat dan berusaha untuk tidak membuat suara. Dengan adrenalin yang tinggi, Dea mengingat pelatihannya yang membahas tentang macam macam monster. Salah satunya adalah monster yang memiliki badan ular dan kepala berbentuk banteng. Disebutkan pula, monster tersebut tidak dapat melihat dan mengandalkan insting dan indra pendengaran dalam mencari mangsanya.
__ADS_1
Dalam keadaan yang terdesak, Dea berusaha mungkin untuk tidak membuat suara selagi dapat kabur dengan pelan-pelan. Namun, ketika Dea berusaha untuk kabur, secara tidak sengaja Dea menginjak ranting kayu, sehingga menimbulkan suara. Seketika, Monster tersebut menyadari kehadiran Dea dan langsung bergerak dengan cepat menuju Dea.
Dea panik dan langsung berlari sekencang mungkin tanpa memperhatikan arah. Dea berlari ke semak-semak yang lebat berharap monter tersebut kehilangan dirinya. Namun usahanya sia-sia, Monster tersebut dapat dengan mudah melewati semak semak tersebut. Dea kembali berlari sekuat tenaganya. Jarak antara dirinya dengan Monster tersebut sangat dekat. Walaupun saat pertama kali monster tersebut menyadari Dea, karena gerakan monster tersebut cukup cepat. Dalam belasan detik saja sudah memotong jarak antara dia dan mangsanya sangat signifikan.
"Ha, ha, ha, ha, SIAL SIAL SIAL, Apakah aku akan mati sekarang?" Ujar Dea berbicara dalam dirinya sendiri dalam keadaan yang sudah lelah. Dan tepat setelah itu, Monter tersebut menyerang dengan kepalanya kepada Dea. Seperti banteng yang sedang menyeruduk target. Disaat momen tersebut, secara kebetulan Dea terjatuh dan dapat terhindar dari serangan monter tersebut. Namun, karena jatuh tersebut, membuat Kaki Dea terluka dan sulit baginya untuk menggerakkan kakinya. Dea pun menyadari hal tersebut dan melihat monter tersebut sudah siap untuk menyerang kembali.
Disaat itu lah, Dea menyadari bahwa inilah akhir dari hidupnya. Dea menyesal untuk tidak menjalani perintah dari ibunya untuk menghadiri pelatihan. Dea menyadari bahwa saat ini, ia tidak dapat memenuhi janjinya kepada ayahnya. Karena ia sadar bakal mati, ia setidaknya ingin kematian yang tidak menyakitkan. Sehingga ia menutup mata dengan cepat.
...
...
...
..
Dea melihat pemandangan persis seperti ia akan diserang monster tersebut. Namun yang membedakan hanyalah monter tersebut sudah mati dengan kepala yang terpisah dengan badannya. Dan juga, ia melihat seorang Pria yang berbadan tinggi, memakai baju warna abu-abu ,memakai topi yang berbentuk kerucut yang terbuat dari anyaman bambu, dan terlihat sambil membawa pedang (terlihat seperti katana dalam dunia nyata).
Pria tersebut mendekati Dea sambil mengatakan...
"Hey bocah, kenapa lu bisa ada disini!!? disini bukan tempat bermain untuk anak kecil sepertimu." Ucap pria tersebut dengan nada yang agak kesal.
__ADS_1
Dea terheran heran, kenapa pria tersebut membawa sebilah pedang yang padahal didesanya tidak ada seorang pandai besi dan berpakaian yang tidak normal.
"Apakah kau membunuh monster tersebut?"
"Ahh, iya, memangnya kenapa?"
"Ta, ta, tapi??"
"Apa?"
"Bagaimana mungkin kau bisa membunuh monster tersebut hanya menggunakan pedang?"
"Haaaah?, maksudmu apa?"
"Maksudku, bagaimana mungkin kau dapat membunuh monster yang begitu besar tanpa 'LIFE'?
"Haaah, pertanyaan yang membosan. Sudah sudah balik lagi ke desa. Bentar lagi juga malam. Gua yang antarkan. Dasar bikin capek saja"
Dea pun mengganguk kepalanya dan selama perjalanan hanya diam saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dalam perjalanan tersebut, Dea sesekali melirik kepada Pria tersebut. Dea penasaran bagaimana pria tersebut dapat mendapatkan pedang dan alasan kenapa pria tersebut dapat mengalahkan Monster tersebut.
To be Continued...
__ADS_1