Alpha : The Elemental Guide

Alpha : The Elemental Guide
Chapter 4 : Sebuah Dilema


__ADS_3

Note :


PATAW (Pelatihan Air Tingkat Awal)


PATM (Pelatihan Air Tingkat Menengah)


PATAK (Pelatihan Air Tingkat Akhir)


PATL (Pelatihan Air Tingkat Lanjut)


Setelah melalui pelatihan pertama Dea setelah lama membolos, beban pikiran Dea semakin berat. Dea tau jika ingin menjadi kuat, maka ia perlu untuk menang dalam latih tanding minggu depan. Dea sebelumnya mengira bahwa lawan yang akan ia hadapi adalah tidak akan diundi seperti tadi. Namun, dinilai secara pencapaian. Dea mengira setidaknya ia akan melawan 2 orang diatas dirinya dalam hal kekuatan.


Setelah berpisah dengan Resa setelah pelatihan, Dea dengan postur yang terlihat lesu berjalan menuju rumah, Dea dengan sengaja pulang kerumah dengan rute terjauh, dengan Dea berharap ia dapat menyiapkan diri untuk tidak menunjukan beban dirinya pada Ibunya. Setelah setengah jalan, Dea melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia melihat Paman Raiden yang sedang menuju hutan terlarang. Dea dengan rasa penasaran yang tinggi, Dea ingin mengikuti Paman Raiden secara diam-diam, Walaupun Dea tau kalau kembali ke hutan tersebut merupakan sebuah kesalahan. Tetapi, rasa penasaran Dea mengalahkan pikirannya. Dengan begitu, Dea mengikuti Paman Raiden secara diam-diam.


Sekitar 45 menit berlalu, Paman Raiden tetap saja berjalan menyusuri hutan. Dea kebingungan, untuk apa Paman Raiden malam-malam begini masuk kedalam hutan ini.


"Tsk, sampai kapan paman Raiden berjalan terus." Pikir Dea.


Beberapa saat kemudian, Paman Raiden akhirnya berhenti. Paman Raiden berhenti tepat didepan sebuah pohon yang sangat besar yang memiliki sebuah lubang yang besar pada batangnya. Dea yang melihat tersebut semakin penasaran.


"Woaahhhh, Pohonnya gede banget gila, tingginya bisa puluhan meter kalau besarnya seperti ini." Dea yang terkesima dengan ukuran pohon dilihatnya.


Dibalik pohon yang besar tersebut, ternyata dihuni oleh belasan monster yang menyerang Dea kemarin, yaitu Monster ular berkepala banteng. Dea pun terkejut sekaligus ketakutan oleh kehadiran monster-monster tersebut. Dea berusaha sekuat mungkin untuk tidak bersuara.


Dea semakin penasaran kenapa Paman Raiden terlihat biasa saja. Satu Monster tersebut dikatakan sulit dikalahkan bahkan dengan seseorang yang menguasai PATAK. Bagaimana mungkin dengan jumlah monster tersebut yang begitu banyak tidak membuat paman Raiden ketakutan, pikir Dea.


Paman Raiden terlihat melakukan kuda-kuda, memegang pedangnya yang dengan erat. Lalu, 3 Monster tersebut menyerang Raiden secara bersamaan. Dea berpikir bahwa paman Raiden akan tewas apabila dihadapkan dengan ketiga serangan tersebut. Namun...


"A....Apa??!!" Dea dalam pikirannya


Dea tidak bisa percaya bahwa yang ia berpikir bahwa paman Raiden akan tewas ternyata mengatakan sebaliknya. Ketiga monter tersebut lah yang tewas dengan kepala terpenggal. Dea bahkan tidak sempat melihat serangan paman Raiden kepada monster tersebut. Paman Raiden dengan cepat bergerak menuju monster monster yang lainnya. Mengambil ancang-ancang yang berbeda dari yang tadi, dan booommmm. 1 Monster dapat dikalahkannya dengan mudah.


Monster yang lainnya pun merespon dengan menyerang dengan ekornya. Namun, paman Raiden dapat menghindarinya dengan mudah. Raiden menganalisis keberadaan monster yang lainnya dengan cepat. Bergerak mengandalkan kakinya yang bergerak dengan cepat, mendatangi monster nomor 4. "4..." Raiden bergumam setelah mengalahkan monster nomor 4. Monster yang lain pun semakin panik dengan memberikan serangan secara membabi buta kepada Raiden. Raiden dengan tenang menghindari semua serangan monster tersebut dan secara satu persatu membunuh mereka semua.


"Lima..."


"Enam..."


"Tujuh..." Raiden bergumam ketika ia selesai membunuh satu monter tersebut.

__ADS_1


dan akhirnya ....


" Tujuh belas...." Monster yang terakhir yang terlihat dalam medan pertempuran. Raiden telah membunuh mereka semua dalam jangka waktu yang sangat singkat. Dea yang menyaksikan pertarungan tersebut merasa sangat antusias dengan apa yang ditampilkan oleh Raiden. Seni bertarung yang indah dan mematikan. Dan juga Raiden tidak menggunakan sedikitpun 'Life' nya. Dea sekaligus takjub dan bingung, bagaimana Raiden dapat melakukan hal tersebut.


Namun, Dea melihat Raiden yang kebingungan. Dea berpikir kenapa Raiden terlihat sangat kebingungan padahal pertarungan sudah berakhir. Ternyata, saat Dea melihat Raiden, Monster tersebut dari arah kanan Dea mendekati Dea dengan kecepatan penuh. Monster tersebut ternyata menyadari keberadaan Dea saat berada di pertarungan dengan Raiden. Dea secara tidak sadar telah membuat suara yang cukup menyita perhatian salah satu monster tersebut ketika Dea melihat Raiden dengan antusias.


Dea menjadi panik dan segera berlari menjauhi monster tersebut. Namun, karena kecepatan monster tersebut jauh diatas manusia, monster tersebut dapat mengejar Dea dengan mudah. Ketika sudah dekat, Monster tersebut dengan cepat menyerang Dea dengan kepala bantengnya. Dea yang tidak sadar akan serangan monster tersebut, hanya dapat terus berlari. Dan ketika kepala banteng beberapa m sudah akan mengenai Dea, ternyata Raiden datang dan mendekap Dea untuk menghindari serangan tersebut. Dea yang menyadari sudah terhindar dari serangan itu, tidak dapat berpikir apa-apa lagi karena ia sudah merasa ketakutan setengah mati. Raiden melepaskan Dea ketempat lain berbicara..


"Hey bocah tengik, sudah kuingatkan kalau jangan masuki hutan ini tanpa persetujuan kepala desa dan orang tuamu. Lu mau mati atau apa hah?!!" Raiden yang marah pada Dea.


Dea hanya bisa terdiam..


"Ya sudah, lu diam dulu disini, jangan buat hal yang aneh aneh."


Monster tersebut sudah bangkit dan kembali menyerang kepada Raiden yang telah menyelamatkan Dea. Raiden dengan cepat menghabisi mosnter tersebut dengan memenggalnya.


Setelah pertarungan tersebut, Raiden segera untuk duduk untuk beristirahat. Raiden melihat kearah Dea dan menyuruhnya untuk mendekat.


" Hey bocah, kesini sebentar."


"Ahhh, iya."


Dea hanya terdiam mendengarkan perkataan paman Raiden. Beberapa saat ketika sudah lebih tenang, Raiden pun berdiri sambil memegangi tangan Dea untuk cepat berdiri.


"Hey dengar bocah tengik, kuingatkan lagi untuk sekarang, jangan masuki hutan ini lagi."


" Maaf paman. Bikin repot lagi."


"Hmmmmmm, ya sudah, balik ke desa lagi saja. Sudah malam sekarang."


"Hmm, paman...."


"Apa?"


" Bagaimana cara menjadi kuat seperti paman?"


" HAAAHHH?"


" Maksudku, paman dapat sekuat ini bahkan tanpa menggunakan 'Life'."

__ADS_1


"Ahh itu..."


"Beritahu saya paman.. bagaimana cara menjadi kuat seperti paman."


"Tidak semudah itu bocah. Diperlukan banyak tahap untuk menjadi kuat."


"Tahap yang seperti apa?"


"Bocah seperti lu juga pasti kalau untuk menjadi kuat saat ini diperlukan kekuatan dalam pengendalian 'Life'."


"Ahhh, aku sudah tau tentang itu paman, tapi bakat 'Life' saya sangat rendah."


"Lalu, kau hanya perlu memindahkan prioritasmu."


"Caranya?"


"Cukup fokuskan dirimu pada fisik."


"Ehhhh?"


"Kenapa?"


"Maksudku, kukira 'Life' power adalah segalanya."


"Lu itu bodoh atau bagaimana, kalau jalan pikir seperti itu, bagaimana mungkin gua ngalahin itu banyak monster."


....


"Haahhhh, jika lu beneran sebodoh itu, gua ngerasa kasian sama lu. Besok siang lu datang ke bawah jembatan dekat pasar. Ga tahan gua kalau ada orang sebodoh lu."


"Ehhh? Emangnya mau ngapain paman?"


"Sudah jelas bukan? Akan kuajarkan beberapa hal untukmu."


"Ta..ta..tapi... besok siang saya ada pelatihan paman."


" Okeeee, lu besok siang boleh pilih ikut pelatihan yang tidak akan membuatmu berkembang atau ikut ama gua. Pikirkan baik-baik."


Dea hanya bisa terdiam dan berpikir secara keras. Apakah ia akan menerima tawaran paman Raiden atau ikut pelatihan sesaui program. Kedua nya merupakan keputusan yang sulit bagi Dea. Dea merasa ikut dengan paman Raiden adalah keputusan yang tepat, namun dilain sisi, Ibunya Dea melarang untuk dekat dekat dengan paman Raiden.

__ADS_1


To be Continued...


__ADS_2