Alpha : The Elemental Guide

Alpha : The Elemental Guide
Chapter 6 :Sisi yang Lain


__ADS_3

Note :


PATAW (Pelatihan Air Tingkat Awal)


PATM (Pelatihan Air Tingkat Menengah)


PATAK (Pelatihan Air Tingkat Akhir)


PATL (Pelatihan Air Tingkat Lanjut)


(Tingkatan diatas hanya berlaku pada elemen Air)


"Lu telat 10 menit, bocah....."


" Mohon bantuannya, Guruuuu."


Dea datang ke tempat dijanjikan tepat waktu. Dea terlihat cukup banyak keringat diseluruh tubuhnya. Jarak dari tempat pelatihan ke jembatan tersebut dapat dikatakan cukup jauh. Dea tidak mengira ia akan datang tepat waktu, namun ia begitu ia tetap berusaha sekuat mungkin untuk tetap datang.


"Hey, jangan panggil gua Guru. Bikin geli saja. Panggil seperti biasanya saja."


"Ahhhh, maaf mengenai itu Gu...maksudku paman."


"Sebelum itu, gua belum tau nama lu."


"Mohon maaf paman, nama aku Dea."


"Hmmmm, nama yang normal bagi desa ini ya..."


"Ada apa paman?"


"Ga ada apa-apa, langsung saja."


"Langsung saja apa paman?"


"Tunjukkan kemampuanmu saat ini."


"Ahhhhhh...ba..baik paman."


Dea menunjukan seluruh kemampuannya dalam pengendalian air. Dea berusaha keras untuk tidak mengacaukan dan membuat paman Raiden kecewa. Dea berpikir walaupun pengendaliannya sangat buruk, setidaknya tidak membuat semangat paman Raiden tidak turun.


"Ba..Bagaimana paman?" Tanya Dea yang kelelahan setelah menunjukan kemampuan terbaiknya.


"Hmmmmmm." Paman Raiden menunjukan ekspresi wajah yang datar. Tidak dapat ditebak bahwa ia kecewa atau tidak.


"Paman?"


"Ini....jauh lebih buruk dari yang gua bayangi."


"Ehhhhh?"


"Maksudku, anak-anak seumuran lu bahkan tidak akan seburuk ini."


"....." Dea menundukkan kepalanya.


"Tapi, setidaknya lu masih punya potensi untuk berkembang."


"Be..benarkah?" Dea dengan gembira mencoba memastikan kembali pernyataan paman Raiden. Ini merupakan pertama kalinya seseorang mengatakan bahwa Dea masih memiliki potensi selain ibunya dan Resa.


"Ya."

__ADS_1


"Horaayyyy." Dea loncat kegirangan.


"Hey, jangan berharap berlebihan. Bantu gua buat persiapan."


"Hmmmm, siap laksanakan paman."


*Setelah menyiapkan persiapan*


"Hey paman, sebenarnya tali ini dan beberapa barang tersebut memangnya berguna untuk apa?"


"Hmmmm, lihat saja nanti."


Saat ini Dea meletakkan barang yang terakhir, tiba tiba diserang dengan cepat oleh paman Raiden. Dengan melempar kain yang sudah basah. Dea tidak sempat untuk untuk menghindar dan karena kaget, ia terjatuh ketanah.


"Hey, musuh bisa datang darimana saja bukan?"


Dea tersenyum dan segera untuk bangkit. Dea dengan senang hati untuk menerima tantangan paman Raiden.


"Gua ga akan lembut pada bocah seperti lu. Hindari 10 kain secara beruntun dan lu boleh istirahat."


"Datanglah!!"


Latihan khusus dari paman Raiden pun berlangsung. Dea ditantang oleh paman Raiden untuk menghindari semua serangannya. Walaupun terdengar sepele dengan hanya melempar kain yang basah, namun kecepatan kain yang datang kepada Dea tidak main-main. Dea sudah tidak terhitung berapa kali ia jatuh. Dea sebelumnya belum pernah merasa sesulit ini sebelumnya, namun hal inilah yang membuat Dea terlihat selalu tersenyum saat dihujani oleh serangan paman Raiden.


"Hey, hey. Segitu saja lu sudah terlihat kelelahan. Bagaimana kalau lu menyerah saja?" Ejek Raiden kepada Dea.


"Haaah, lanjutkan paman!!" Dea dengan penuh semangat.


4 jam pun berlalu, dan Dea masih saja menuruskan latihan dari paman Raiden. Dea sama sekali tidak dapat menghindari serangan paman Raiden secara beruntun. Dea terlihat sangat kelelahan dan paman Raiden terus-menerus menyerang Dea. Disaat rasa lelah yang sudah mencapai puncak, secara ajaib Dea dapat menghindari satu serangan dari paman Raiden. Dea yang menyadari hal tersebut penasaran bagaimana dirinya dapat melakukan hal tersebut. Mungkin ada detail kecil yang ia lewatkan tadi.


"Hey, gua bilang kalo dapat menghindari 10 beruntun kan?"


Satu jam kemudian, Dea tetap saja tidak dapat beristirahat. Seluruh badan Dea sudah dapat bergerak lagi, dan Dea terjatuh. Ia tidak pingsan, hanya saja sudah kuat lagi untuk meneruskan hal tersebut. Walaupun ia beberapa kali dapat menghindari serangan paman Raiden secara tidak sadar. Ia tidak menghindarinya 10 kali beruntun.


"Latihan hari ini dicukupkan." Ucap Raiden tanda mengakhiri latihan sore hari ini.


"Bagaimana bocah, ingin menyerah?" Raiden datang dan memandangi Dea yang terlihat kelelahan.


"Paman ini kejam atau bagaimana? hahahahah."


"Hahaha, istirahatlah sebentar. Akan kutunjukkan apa yang lu perlukan."


"Baiklahhh...."


Beberapa saat kemudian, Dea pun akhirnya tertidur lelap. Setelah menjalani latihan yang keras dari paman Raiden. Pertama kalinya Dea merasakan rasa lelah seperti ini. Dea tau kalau usaha dia sebelumnya masih belum cukup.


.


.


.


2 jam terlewat. Langit sudah berubah menjadi gelap. Hanya api unggun dan penerangan dari pasar yang dapat menerangi mereka berdua.


"Ahhhh...sudah berapa aku tertidur?"


"Sekitar 2 jam."


"Gawat, bisa-bisa dimarahi ibu lagi nih." Dea sudah memilki firasat buruk ketika ia datang ke rumah. Dea dengan cepat bangun dan segera untuk pergi kerumahnya.

__ADS_1


"Saya pulang dulu ya paman, sampai jumpa."


"Hey, tunggu sebentar."


"Ada apa paman?"


"Biar kutunjukkan apa yang lu perlukan." Raiden yang tadinya terduduk kemudian berdiri.


"Ahhh.."


" Lu juga sudah pasti menyadari hal itu saat lu berhasil ngehindari kain itu."


"Yaaaa, walaupun tidak pernah secara beruntun...."


"Itu karena saat menghindari lu ga manfaatin kapasitas lu."


"Maksudnya?"


"Ga seperti gua yang ga punya sedikitpun 'Life', lu masih punya 'Life' walaupun hanya sedikit."


"...."


"Maksud gua, Saat lu ngehindari tadi, lu nyelimuti area kaki lu dengan air untuk memudahkan lu untuk bergerak."


Mendengar perkataan Raiden tersebut, Dea menjadi sadar, apa yang membuat ia dapat menghindari serangan paman Raiden. Dea secara tidak sadar menggunakan sedikit 'Life'nya.


"Sudah tau kan kalau sebenarnya masih banyak cara untuk memaksimalkan 'Life' dalam diri lu. Masih banyak cara untuk memanfaatkan pengendalian elemental lu."


"Tapi paman, semua pengguna 'Life' didesa ini merupakan seorang petarung jarak jauh. Bahkan dipelatihan kami, kami tidak pernah mendengar seseorang menggunakan pengendalian air nya seperti ini."


"Haaahhh, benar-benar merepotkan. Dengar, yang membuat desa ini tidak pernah maju adalah karena tidak pernah melihat dari sisi lain. Di negara lain, Pengendalian elemental sudah berada di level yang sangat tinggi. Kemampuan tempur desa sudah tidak dapat diandalkan." Raiden berkata dengan suara yang terdengar mengejek.


"Hey paman! jangan berkata seperti itu, banyak guru kami yang sudah menguasai PATL, seperti Master Dias, Guru Ayu, dan masih banyak lagi. Sangat berkata kalau kemampuan mereka dalam pengendalian air tidak berguna!" Dea membalas perkataan paman Raiden. Dea tidak menerima bahwa paman Raiden menggangap semua pengguna 'Life' di desa ini merupakan orang yang lemah.


"Hey dengar bocah!! jika negara lain memutuskan untuk memusnahkan desa ini, semua orang disini tidak dapat berbuat apa-apa! Bahkan dengan master Dias sekalipun!" Raiden dengan kesal berkata pada Dea.


"....." Dea hanya dapat terdiam, semua di desa tau kalau kekuatan tempur di negara lain sangatlah mengerikan. Bahkan ada rumor yang mengatakan bahwa salah satu petinggi negara lain dapat mengalahkan seekor naga dengan sekali serang.


"Haahhhh....karena inilah desa ini kehilangan Alpha nya."


"....."


" Sudahlah, gua lanjutin lagi. Seperti ini yang gua amati dari lu, lu itu tidak punya kekuatan 'Life' yang besar. Untuk mengakali ini, lu perlu merubah cara bertarung lu."


"Cara bertarung yang cocok untuk saya bagaimana paman?"


" Lu tidak sempurna untuk jadi petarung jarak jauh, lu lebih berguna jadi petarung jarak dekat. Dibanding pengguna elemental air di desa ini, lu punya stamina yang luar biasa. Mungkin karena sering keluar masuk hutan."


"Petarung jarak dekat..."


"Hal pertama yang perlu lu kuasai adalah manipulasi fisik."


"Seperti yang saya lakukan tadi bukan paman?"


"Yap, itu merupakan salah satunya. Mulai besok lu datang kesini lagi. Akan kubuat lu sebagai petarung terkuat yang pernah dimiliki desa ini!"


"Mohon bantuannya Paman!"


To be Continued...

__ADS_1


__ADS_2