Alpha : The Elemental Guide

Alpha : The Elemental Guide
Chapter 14: Tidak Terduga


__ADS_3

"Apa benar calon tersebut itu pemilik rumah besar ini?"


"Be-benar. Sudah kubilang berapa kali kalau kali ini saya tidak bohong!"


"Ahhh, maksudku pemilik rumah ini tuh adik salah satu EMPEROR! apakah kau tidak salah?" Iven bertanya kepada penculik tersebut.


"Benar kok, tidak salah lagi. Dia meminta gadis perawan dengan harga yang tinggi. Entah mau diapakan gadis tersebut."


"Baiklah sekarang tidurlah...." Dea dengan cepat membuat penculik tersebut kehilangan kesadarannya.


"Fuhhh, syukurlah gadis itu dapat bebas sekarang. Bagaimana sekarang Iven?"


"Bagaimana apanya?"


"Aku yakin kalau kejadian tidak terjadi hari ini saja. Apakah aku salah?"


"...."


"Apakah kau akan diam saja? Kemungkinan besar penculikan akan dikirim disini."


"Di-diam! aku tau yang aku lakukan!"


"Kau yakin?"


"Kriminal seperti kamu tidak akan paham perasaanku selama ini!"


"Hmmm, terserahlah. Terima kasih atas bantuannya tadi ya."


"Kenapa tiba-tiba?"


Dea dengan cepat bergerak masuk ke dalam mansion tersebut. Pergerakan Dea tidak dapat dianggap remeh. Dia dengan cepat berlawanan dengan penjaga mansion tersebut.


"Siapa kau?! Berhenti sekarang juga!" perintah salah penjaga tersebut.


Dea hanya mengabaikan perintah tersebut dan dengan cepat dapat melumbuhkan penjaga disana. Dea tidak membunuh mereka, hanya membuat penjaga tersebut pingsan, sama seperti yang ia lakukan seperti ia lakukan pada penculik itu. Pada gerbang mansion terdapat sekitar 5 penjaga. Semua nya dapat Dea kalahkan dalam 5 detik. Dapat dihitung Dea dapat mengalahkannya satu penjaga per satu detik!


Iven yang melihat dari kejauhan hanya dapat terkagum-kagum. Penggunaan elemental yang begitu efisien dan tidak membuang-buang waktu. Iven perkirakan bahwa kemampuan Dea saat ini dapat menyaingi salah satu EMPEROR sekalipun. Iven terus memikirkan perkataan Dea sebelumnya. Apakah baik-baik saja apabila terus menerus berdiam diri? Apakah benar mengabaikan permintaan tolong walaupun kau sendiri itu lemah? Apakah benar untuk berpura-pura tidak peduli?


Dalam satu titik di hatinya, Iven menolak untuk melakukan semua itu! Iven akhirnya sadar bahwa tindakannya selama ini hanya membuat ia dan orang disekitarnya menderita. Tanpa bukti yang nyata, semua usaha nya yang lalu terasa sia-sia. Iven memutuskan untuk berubah!


Iven berlari menuju Dea yang sedang mengambil kunci pada salah satu penjaga.


"Tunggu!!!"


"????"


"Aku akan ikut. Aku akan ikut denganmu. Dari sekarang aku akan berubah!" Iven menunjukan wajah yang serius. Seperti ekpresi puas dan tidak pernah Iven rasakan sebelumnya.


Dea yang melihat ekspresi tersebut hanya dapat tertawa kecil.


"A-apa yang lucu?"


"Hahahaha, tidak apa-apa, hanya saja perubahan sifat mu itu yang terlalu cepat. Hahahah"

__ADS_1


"Memangnya itu masalahmu bagimu?"


"Tidak, apakah kau masih sadar kalau aku ini kriminal?"


"Untuk saat ini saja aku mau bekerja sama denganmu, tidak untuk lain kali."


"Baiklah, kalau itu mau kamu."


Sebagai tanda kerja sama, Dea dan Iven saling berjabat tangan.


Dea dan Iven bergegas masuk kedalam mansion tersebut. Selain penjaga tadi, nampaknya mansion sepi-sepi saja. Walaupun dalamnya begitu luas, namun tidak dapat ditemui satu pun orang disini. Dea dan Iven hanya dapat terheran-heran dengan keadaan ini.


"Hey bukannya penculik itu bilang disini banyak gadis yang dijual belikan?"


"Aku pun tidak tau lah. Rasanya begitu aneh. Penculik tadi pun menyebutkan kalau selama satu bulan ini, ia menjual gadis-gadis kepada pembeli yang sama."


'Yang berarti seharusnya banyak orang disini."


Dea dan Iven melanjutkan pada pencarian mereka. Karena mansion ini begitu besar, butuh waktu untuk memeriksa satu persatu ruangan. Dan tibalah pada satu ruangan. Ruangan tersebut adalah ruangan terakhir yang dapat mereka periksa. Dea secara perlahan membuka pintu ruangan tersebut dan.....


.


.


.


.


.


Ruangan yang penuh warna merah. Warna merah yang sudah tidak asing lagi. Itu adalah darah manusia! Bagian tubuh manusia lainnya seperti tangan, kepala, dan kaki yang dibiarkan begitu saja. Terlihat pula satu bak mandi lumayan besar dan gadis yang sedang mandi pada bak mandi tersebut. Gadis tersebut sedang bergumam, seperti bergumam sebuah lagu.


"Sedang mengintip ku ya Beth? Dasar pelayan yang mesum ya? hahahah"


"....."


"Kenapa kau diam saja Beth? ini bukan pertama kalinya kau mengintipku kan?"


"....."


Setelah keheningan untuk kedua kalinya, gadis itu memalikkan pandangannya dan melihat orang yang ia ajak bicara ternyata bukan pelayannya melainkan orang yang tidak dikenalnya.


"Siapa kalian? atas izin siapa kalian berhak masuk kesini!?"


"Ke-ke-kenapa kau?" Dea bertanya secara terbata-bata.


"Kenapa?"


"Kenapa kau mandi dengan darah itu? Apakah disini tidak ada air?"


"Kau tidak tau? hahahaha."


"Apanya yang lucu HAH!!"

__ADS_1


"Hahahaha, kuyakin kalau kamu dari kaum raya ya? Atau kau ini dari kaum atas namun bodoh? Semua bangsawan di negeri ini juga tau kalau mandi dengan darah gadis perawan itu untuk kecantikan."


"Apa kata kau?!" Dea tidak dapat mempercayai kata-kata itu. Apakah semua bangsawan di negeri ini seperti itu? Apakah negeri ini sudah sekotor itu?


Dalam momen itulah, Dea merasakan hawa membunuh yang sangat kuat. Secara reflek Dea menangkap Iven dan menghindari semua serangan yang diarahkan dari sumber hawa tersebut. Dea merasa karena kejadian tidak terduga itu, membuat kewaspadaan dirinya menurun. Untung saja Dea dan Iven dapat menghindari serangan itu.


"Hoooh, lumayan.."


"Ahh Beth, selamat datang. Dan An juga datang ya. Selamat datang juga An."


"Nyonya Hory, tolong pakai pakaianmu." An berkata pada Gadis tersebut.


"Semuanya keliatan nyonya." Beth pada Hory.


"Kyaaaa, tubuhku dilihat oleh Beth. Senangnyaaaa hahahaha."


"Pergilah dari sini nyonya. Disini ada tikus yang berusaha menggangu kenyamanan nyonya."


"Biar saya dan Beth yang urus tikus ini nyonya." An berkata dengan angkuhnya.


"Baiklah, aku serahkan semuanya pada kalian. Dadahh."


.


.


.


Di lain sisi, Dea berusaha untuk menenangkan Iven yang ketakutan. Dengan keadaan begitu, mustahil mereka untuk bertarung.


"Hey Iven, tegarlah! Jangan buat pemandangan tadi membuat ku lemah! Hey, kau dengar tidak!?"


"Tidak bisa, itu mustahil Dea. Seluruh tubuhku sudah tidak dapat digerakkan."


"Ayolah!! setidaknya jangan buat dirimu itu terbunuh!"


.


.


Secara tiba-tiba Beth menyerang mereka berdua. Dea mengangkut Iven untuk menghindari serangan itu. Terlihat Beth menggunakan sejenis pisau besar untuk menyerang mereka berdua. Dan An disana juga terlihat menggunakan tombak sebagai alat serangnya. Mereka berdua dapat melapisi senjatanya dengan elemen mereka. Beth terlihat pengguna elemental Api dan An pengguna elemental Angin.


Ini adalah situasi yang gawat. Melawan pengguna elemental sekaligus adalah ide yang buruk. Ditambah Dea harus mengangkut Iven yang ketakutan. Dalam situasi ini, satu-satunya opsi disini adalah lari. Dea telah memutuskan untuk lari terlebih dahulu.


Disaat Dea berlari sekuat tenaganya, An dengan bantuan elemental nya bergerak dengan cepat untuk menghadang Dea. Kecepatan An jauh diatas kecepatan yang Dea punya. Sehinnga An memblokir jalur lari Dea. Kini Dea dan Iven telah terjebak oleh musuh. Didepannya adalah pengguna tombak elemental Angin dan dibelakangnya adalah pengguna pisau elemental Api.


"Well, well, Sekarang enaknya gimana ya Beth?"


"Buat kematian mereka semenyakitkan mungkin An."


.


.

__ADS_1


.


To be Continued...


__ADS_2