
Note :
PATAW (Pelatihan Air Tingkat Awal)
PATM (Pelatihan Air Tingkat Menengah)
PATAK (Pelatihan Air Tingkat Akhir)
PATL (Pelatihan Air Tingkat Lanjut)
(Tingkatan diatas hanya berlaku pada elemen Air)
Setelah kejadian tersebut, Dea dan paman Raiden kembali ke desa dengan selamat. Dea melihat paman Raiden, Dea tidak bisa menemukan sedikitpun luka pada tubuh paman Raiden. Dea berpikir bahwa paman Raiden sudah berada di tingkat yang berbeda. Bahkan Dea tidak akan kaget apabila Paman Raiden mengalahkan seseorang yang telah menguasai PATAK bahkan tanpa menggunakan 'Life'. Disepanjang jalan menuju desa, mereka berdua hanya berbincang-bincang sedikit. Dea banyak menanyakan hal-hal yang membuatnya ia takjub mengenai paman Raiden. Raiden hanya dapat menjawab sedikit saja. Bahkan kebanyakan pertanyaan Dea banyak diacuhkan oleh Raiden.
Setelah mereka sampai di desa, Dea izin berpamitan dengan paman Raiden dengan Raiden hanya terdiam tanpa suara. Dea segera menuju rumahnya. Dea ingat bahwa ia tidak boleh pulang terlalu malam karena itu akan membuat ibunya khawatir. Dea sudah berpikir bagaimana ia akan dimarahi oleh ibunya itu.
Dan benar saja, tepat ketika Dea datang kerumah. Dea disambut oleh senyuman ibunya yang terlihat seperti bukan untuk menyambut. Terlihat lebih seperti senyuman yang menunjukan kekesalan.
"Dari mana saja kamu hah?" Tanya Nata kepada Dea dengan nada yang lambat dan menekan.
Ekspresi muka Dea menjadi pucat dan....
"A...Aku pulang..." Jawab Dea dengan ragu-ragu
Nata dengan cepat menyeret lengan Dea dan menyeretnya masuk ke rumah. Dea sudah tau nasibnya malam ini. Sudah pasti malam ini ia akan mendengarkan ocehan ibunya. Namun, Dea tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya mendengarkan.
Esok hari telah tiba, Dea tengah bersiap untuk berangkat menuju tempat pelatihan untuk memenuhi kewajiban. Wajah Dea terlihat seperti kurang tidur. Alasan ia seperti itu sudah dapat dipastikan karena ibunya memarahinya semalaman. Dea merasa tubuhnya sangat nyeri untuk digerakkan. Bahkan untuk sekedar mengganti waktu, Dea perlu sekitar 5 menit. Rasa nyeri ini didapatkan Dea karena kajadian kemarin, ketika ia mengikuti paman Raiden menuju hutan.
Dea pun akhirnya telah berpamitan dengan ibunya dan pergi menuju tempat pelatihan. Dipertengahan jalan, ia bertemu dengan Resa, teman baiknya. Rumah Resa dan rumah Dea sebenarnya tidak terlalu jauh.
"Selamat siang Dea." Resa kepada Dea.
"Siang juga, Resa." Jawab Dea.
"Hmmmmm? kenapa kamu terlihat capek gitu? lalu kenapa kamu jalannya aneh gitu?"
"Ahahahahha, biasa.. aku main didekat sungai sampai malam. Dan seperti yang kamu tau, pasti dimarahin oleh ibu aku."
"Hahhh, kebiasaan kamu main-main melulu. Seharusnya kamu latihan walau sebentar, Kalau tidak kapan kamu akan maju."
"Iya,iya. Akan aku usahakan." Dea dengan wajah yang sedikit mengesalkan.
__ADS_1
"Ya sudahlah, Hmmmm Dea, kamu tidak lupa kan tentang janji kamu kemarin?"
"Janji apaan?"
"Ituloh yang kemarin..."
" Ah yang bener Resa, aku sepertinya tidak pernah janji apa apa ke kamu kemarin." Dea sebenarnya mengingat janji yang ia buat kepada Resa. Ia hanya ingin sedikit menjahili Resa. Sudah lama Dea tidak melihat ekspresi kesal Resa.
"Ahhh iyakah? mungkin aku salah ingat ya hahahah." Resa membalas dengan wajah yang kecewa sekaligus kesal.
Resa pun kembali melihat wajah Dea. Dan benar saja, Dea sudah memasang wajah 'Smug' yang mengesalkan. Wajah Resa pun seketika menjadi merah seperti tomat. Resa sadar bahwa ia sudah dijahili oleh Dea.
"Heeeeeyyyyy, apa apaan sih?" Resa langsung kepada Dea dengan nada yang kesal.
"Ga ada apa-apa kok, hahahahaha. Tenang kok, aku ingat. Nanti didepan sana aku belikan jagung rebus." Jawab Dea dengan wajah yang penuh kepuasan setelah melihat reaksi Resa yang menggemaskan.
"Hmmmmm, dasar."
Setelah telah membelikan jagung rebus yang telah janjikan, Dea dan Resa kembali bergerak menuju pelatihan. Dea membeli 2 jagung rebus ditempat langganannya. Penjual jagung rebus tersebut merupakan seorang nenek yang telah lama menjual jagung rebus disana. Resa dan Dea sudah menjadi akrab dengan nenek tersebut, nenek tersebut terkadang memberikan bonus kepada Dea dan Resa.
"Selamat siang nek." (Resa)
"Nenekkkk, beli jagung rebusnya 2 ya." Dea kepada nenek dengan santainya, Dea menggangap neneknya sudah sepertinya keluarganya. (Dea)
"Asikkkk, Nenek memang yang Terbaik." (Dea)
"Hey Dea, bicara dengan sopan dong dengan orang yang lebih tua."(Resa)
"Ahhhh tidak apa-apa dek Resa, nenek sudah terbiasa kok. Anak muda memang sudah seharusnya seperti itu hahahahaha." (Nenek)
" Sekali lagi mohon maaf ya nek, teman saya ini memang sedikit nyentrik." (Resa)
"Hey Resa, jangan buat rumor buruk seperti itu." (Dea)
"Hahahahha...Enaknya ya masa muda." (Nenek)
"Kalau begitu, kami pamit dulu ya nek."(Resa)
"Iya, hati-hati dijalan." (Nenek)
Dea dan Resa akhirnya telah membeli jagung rebus tersebut dengan membawa 3 jagung. Bonus tersebut diberikan kepada Resa. Dea sudah tau kalau dibalik semua keimutan wajahnya itu, Resa sangatlah suka makan, 2 kali porsi orang pada umumnya. Dea sudah cukup dengan 1 jagung rebus tersebut.
__ADS_1
"Hey, bagaimana dengan progress kamu?" Resa bertanya sambil memakan jagung tersebut.
"Tidak banyak perubahan, rasanya aku tidak akan mampu untuk berkembang lebih jauh lagi."
"Hey, jangan berbicara seperti itu, kau tau jika kamu punya bakat yang rendah, kamu perlu untuk berusaha lebih keras. Lebih keras dari kebanyakan orang."
"Ya aku tau, mungkin diriku ini kurang tekun dalam belajar."
"Kau tau, walaupun punya bakat yang luar biasa sekalipun, itu tidak menutupi fakta bahwa kau harus berusaha keras. Bakat luar biasa tersebut akan menjadi sia-sia apabila tidak diimbangi oleh usaha."
"Hmmmmm..."
"Oleh karena itu, aku perlu berusaha lebih keras dari sekarang untuk itu."
Dea melihat wajah Resa yang sedang menunduk. Dea merasa Resa memiliki tujuannya sendiri untuk lebih kuat, sama seperti dirinya untuk menepati janjinya pada ayahnya. Dea sebenarnya penasaran dengan kata 'ITU' yang disebut Resa sebelumnya, namun Dea merasa ia tidak punya hak untuk menanyakan hal tersebut.
Resa dan Dea pun akhirnya telah datang ke tempat pelatihan. Tinggal beberapa menit saja sebelumnya pelatihan dimulai, Resa segera untuk masuk kedalam pelatihan. Resa tiba-tiba berhenti dan melihat Dea yang terdiam didepan tempat pelatihan.
"Hey, cepatlah Dea, sebentar pelatihan akan segera akan dimulai."
"....." Dea hanya terdiam saja.
"Hey, cepatlah."
"Maaf Resa, aku perlu mengambil sesuatu yang tertinggal, aku akan mengambilnya dan akan kembali secepat mungkin.
"Hahhhh? apakah kau bodoh? Pelatihan akan dimulai akan dimulai kurang dari 3 menit lagi.
"Tidak bisa Resa, ini merupakan hal yang sangat penting."
"Haaaahhh, ya sudah aku masuk duluan. Jangan bilang kalau aku tidak memperingatkan kamu ya. Dahhh." Resa kembali bergegas kembali ke pelatihan.
"Baik Resa. Terima kasih."
Dea pun badannya dan dengan cepat berlari. Dea sebenarnya berbohong kepada Resa untuk mengambil sesuatu. Alasan yang sebenarnya adalah karena ia tiba-tiba teringat dengan ajakan paman Raiden untuk membolos dan mulai berlatih dengannya. Dea tau kalau keputusannya mungkin merupakan sebuah kesalahan. Dengan meninggalkan pelatihan dengan alasan yang egois. Tapi, Dea secara insting memilih ajakan paman Raiden yang memberi tahunya kalau ini merupakan yang tepat.
Dea terus berlari dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya ia tiba di pasar dan mulai mencari jembatan, tempat yang dijanjikan paman Raiden. Ternyata, pasar tersebut dalam keadaan yang sangat ramai. Dea kesulitan untuk menuju tempat tujuannya. Bahkan Dea sempat terjatuh beberapa kali karena padatnya pasar.
Raiden yang telah menunggu pun mulai merasa jenuh karena bocah yang ia nantikan belum datang juga. Raiden telah menunggu 10 menit lebih dari waktu yang ditentukan. Disaat Raiden akan mulai lelah menunggu dan akan pergi kedalam hutan kembali, tiba-tiba dikagetkan oleh kedatangan seseorang. Raiden pun tersenyum dan berkata.....
"Lu telat 10 menit, bocah....."
__ADS_1
" Mohon bantuannya, Guruuuu."
To be Continued.