
."Jangan halangi aku!! pengguna air!!"
"Jangan khawatir, ini akan cepat selesai."
.
.
Sebuah perkataan yang berani dari Dea. Dea tahu kalau saat ini musuhnya sedang tidak tenang. Dalam sebuah pertarungan, fokus dan tenang adalah sesuatu yang sangat penting. Dea berusaha untuk memprovokasi dia.
Setelah bentrokkan tersebut, Nampaknya Beth semakin marah dengan perkataan Dea itu. Beth memutuskan untuk all out pada pertarungan ini. Tidak ada kata senang-senang lagi. Membunuh kedua orang itu adalah hal yang absolut!
"Apa-apaan serangan lemah itu? apakah kau tidak punya serangan yang lebih kuat lagi?" Dea memprovokasi Beth.
"Akan kubuat kau mati menderita!!!"
Benar saja, karena perkataan Dea tersebut, membuat Beth kembali menyerang dengan pedang besar apinya itu. Kali ini ia melapisi anggota tubuh lainnya untuk memberikan tambahan kekuatan. Dan pedang besar terlihat lebih besar sekarang. Mungkin ukuran besar itu menunjukan seberapa besar 'LIFE' yang ia punya.
"DRAGON STRIKE!!" Beth berteriak sambil mengayunkan pedang besarnya. Serangan tersebut ternyata memanfaatkan panas api untuk menciptakan gelombang yang tertuju pada Dea. Gelombang tersebut menimbulkan percikan api, hasilnya gelombang itu menjadi api sepenuhnya.
Dea yang melihat serangan itu segera melapisi seluruh anggota tubuhnya untuk segera pergi membawa pergi Iven dan dirinya. Dea ternyata tidak berniat untuk bertarung saat ini. Prioritas nya saat ini adalah untuk memastikan keamanan Iven. Dea mengangkut Iven yang pingsan dan pergi keluar mansion itu dari jendela yang pecah tadi. Serangan yang dilancarkan Beth hanya digunakan Dea untuk mengulur waktu. Setelah keluar dari mansion tersebut, Dea berlari secepat mungkin untuk meninggalkan tempat tersebut.
Beth yang tau kalau musuhnya itu kabur dari dia merasa tidak puas. Selama kedua orang itu belum mati, ia tidak akan puas.
"Sial!! Dasar pengecut!!" Beth berteriak dengan penuh amarah.
"An, berikan itu pada sekarang!!"
"...."
.
.
.
Saat Dea merasa sudah cukup jauh dari mansion tersebut, Dea mencari tempat yang dapat menyembunyikan tubuh Iven. Dea tau kalau musuhnya itu akan terus mengejar mereka berdua sampai kapanpun. Kebetulan di tempat itu ada tumpukan jerami, Tidak ada waktu lagi, hanya opsi itu yang tersedia.
.
.
.
Setelah menyembunyikan Iven di tumpukan itu. Benar saja Beth datang menghampiri Dea. Dea tidak mengira kalau ia akan datang secepat ini. Terlihat pada sekeliling tubuh Beth ternyata sudah dilapisi angin. Yang menandakan kalau ia dibantu oleh An tadi.
"Hey bukankah tidak adil melibatkan orang lain untuk membantumu saat ini?"
"Apapun akan kulakukan untuk membunuhmu!"
Dengan percakapan singkat itu, Beth kembali mengeluarkan pedang besarnya. Dengan cepat Beth melesat menuju Dea untuk melancarkan serangannya. Namun, ayunan pedang besarnya terasa lebih cepat. Bahkan kecepatan ayunan pedang Beth saat ini sama seperti mengayunkan pedang biasa. Walaupun Dea sudah melapisi tubunya dengan elementalnya, ia kesulitan untuk menghindari serangan membabi buta Beth.
__ADS_1
Dea mengambil langkah besar dan bergerak menjauhi Beth. Nafas Dea terengah-engah tidak menyangka perbedaan kekuataan Beth sebelum dan sesudah dibantu oleh An akan sebesar ini. Dea berusaha sekuat mungkin mengambil nafas panjang dan menyerang balik Beth.
Dea bergerak cepat menuju Beth, meraih katananya yang sudah dilapisi oleh elemental air Dea, dan mengayunkan. Serangan Dea itu ditahan oleh Beth dengan pedangnya dan kembali menyebabkan gelomabang kejut itu. Dea melanjutkan dengan memutarkan tubuhnya dan menendang bagian pinggang Beth yang menyebabkan Beth terpental lumayan jauh.
Namun, usaha Dea tersebut tidak menimbulkan dampak yang signifikan. Beth terlihat terlihat sama sekali dengan serangan tersebut. Ternyata angin disekeliling Beth melindungi nya. Walaupun begitu, Dea sudah menyangka kalau serangannya tadi tidak akan berbuat banyak.
"Oyy, Oyy, Apakah tidak ada yang lebih kuat lagi?!!!" Beth bertanya dengan suara yang seperti tertawa namun menyeramkan.
"Hahhh.hahhh.." Dea mulai menunjukan rasa capeknya.
Beth dengan segera melesat menuju Dea dan mengayunkan pedang besarnya lagi. Dea menangkis itu dengan katananya, dan Beth melakukan hal yang serupa dengan Dea tadi, yaitu menendang pinggang musuhnya. Walaupun sudah dilapisi oleh elemental Dea, namun entah kenapa hal itu seperti sia-sia, karena Dea merasakan rasa sakit yang luar biasa dari serangan itu. Dea terpental sangat jauh dan menabrak tembok disana.
"Bagaimana dengan itu pengguna air?!! Apakah sakit?!"
"Erghhh..."
Dea berusaha sekuat mungkin menahan rasa sakit nya itu. Sepertinya ada beberapa tulangnya yang patah. Namun, tidak ada waktu lagi untuk memikirkan hal tersebut.
Beth kembali menuju Dea dengan cepat, Dea bersiap untuk itu. Beth lagi-lagi mengayunkan pedang besarnya seperti ia mengayunkan pedang biasa. Dea menghindari semua serangannya, mengambil langkah besar, dan meninju sekeras mungkin di perut Beth. Karena itulah, Beth terpental sangat jauh. Namun sekali lagi, hal itu tidak mengakibatkan luka sedikitpun.
"Angin yang merepotkan...." Dea berpikir dalam benaknya.
"HAHAHAHA, sama sekali tidak sakit!!" Beth berkata pada Dea.
"Aku tidak mau dengar itu oleh orang yang dibantu oleh orang lain." Dea membalas perkataan Beth.
"Aku tidak peduli!! yang penting aku bisa membunuh kamu sekarang juga."
"Dragon Strike!!!"
Beth yakin dengan luka yang diterima Dea tadi, serangannya kali ini akan mengakhirinya. Serangan ini dianggap Beth sudah cukup untuk membuat Dea mati. Namun setelah beberapa saat serangan itu telah mengenai Dea, secara tidak terduga ternyata Dea sudah berada dihadapan Beth yang sudah memegang katananya.
Dea menebas Beth, namun lagi-lagi angin itu kembali melindungi Beth. Angin itu membuat Dea frustrasi. Orang yang dapat menggunakan hal seperti ini setidaknya setara dengan seorang EMPEROR. Dea bingung apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh An.
Beth membalas Dea dengan tinju mengarah pada mukanya, namun Dea dapat menghindari itu dan menjaga jarak dengan Beth.
"Akan kubuat kau mati mengenaskan!!"
"Sudahlah. Entah berapa kali aku mendengar ocehanmu itu."
"KAU!!!" Beth kembali dibuat kesal oleh Dea.
Karena geram dengan ucapan itu, Beth kali benar-benar sudah tidak menahannya lagi. Beth mengangkat pedang besarnya sampai diatas kepalanya. Pedang besar yang dipegang Beth kini berukuran sangat besar. Saking besarnya pedang tersebut, kemungkinan daerah disekitarnya akan hancur karena serangan benda tersebut. Kabur dari sana adalah hal yang mustahil karena jalur kabur sudah berada dalam jangkauan pedang itu. Opsi saat ini adalah menggunakan elementalnya untuk melindungi dirinya dan Iven yang berada di tumpukan itu.
Sebelum serangan itu terjadi, Dea berlari menuju tumpukan jerami itu, dan membuat area yang tertutupi oleh elemental airnya. Dea berharap area yang ditutupi air ini dapat menahan serangan Beth tersebut.
"EL...FLAME!!!" Beth berteriak saat mengayunkan pedang raksasa itu ke arah Dea. Serangan yang sangat dahsyat itu membuat daerah pertempuran tersebut hancur lembur.
.
.
__ADS_1
.
Setelah menggunakan serangan pamungkasnya, kini Beth sudah tidak memiliki tenaga untuk bertarung. Ia yakin, kalau serangannya itu sudah membunuh Dea dan anak kaum raya itu.
"Hahaha, Itulah jika kau macam-macam dengan Beth ini." Beth bergumam pada dirinya sendiri.
Namun.....
secara mengejutkan, Dea sudah berada dihadapan Beth sambil memegang katananya. Kini Katananya sudah dilapisi oleh elementalnya dan Dea menebas Beth dibagian dadanya. Dan lagi-lagi Angin itu menghalau serangan Dea kembali. Namun kini, serangan Dea tidak sepenuhnya terhalau, namun angin tersebut sudah melemah.
Karena serangan tadi, tangan kiri Dea terbakar dan beberapa bagian dimukanya sedikit terbakar. Serangan pamungkas Beth tadi benar-benar membuat Dea terpojok. Dengan kondisinya seperti ini, Dea hanya memiliki sedikit waktu sebelum ia dapat mengalahkan orang itu.
"Sial, Sial, Sial. bagaimana mungkin kau dapat bertahan dari serangan itu!!!"
"Serangan lemah itu membuatku terbunuh?" Dea kembali memprovokasi Beth.
"Dasar bajingan!!!"
Walaupun ada keinginan kuat untuk bertarung kembali, namun tubuh Beth tidak dapat membantu lagi. Beth memaksakan untuk bergerak, namun tubuhnya bergetar saat digerakkan, dan darah di mukanya masih terus bercucuran.
Dea yang melihat kesempatan ini tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Ini adalah satu-satunya kesempatan untuk membunuh musuhnya ini. Walaupun Dea dapat kabur bersama dengan Iven, Dea tidak ingin orang ini muncul kembali sebagai sumber masalah dimasa yang akan datang.
Namun masalahnya, angin ini tidak dapat dihancurkan. Berapa kalipun Dea mencoba, angin ini tetap saja melindungi orang ini.
Disaat momen itulah, An kembali muncul dihadapan Dea dan Beth. Dea yang menyadari kehadiran An kini semakin terdesak. Dea menyesali keputusannya untuk tidak kabur tadi.
"An!! Cepat bunuh dia!!" Beth berteriak pada An. Beth melanjutkan...
"Hahaha, tidak mungkin kau akan menang sekarang pengguna air!!!"
An mendekati mereka berdua sambil menyiapkan tombak anginnya. Dea saat itu sudah siap menyambut serangan An walaupun ia tau kalau ia akan kalah juga.
.
.
.
Hal yang terjadi ternyata diluar yang dibayangkan. An melakukan hal yang terpikirkan oleh Dea maupun Beth. Ternyata An malah memenggal kepala Beth saat itu juga. Tentu saja, hal itu membuat Dea terkaget-kaget saat itu.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" Dea bertanya dengan serius pada An
"Kalau menurutmu kira-kira apa?" An menjawab dengan senyum yang manis.
.
.
.
To be Continued...
__ADS_1