
Setelah mendengarkan perkataan ibunya, Dea merasa janggal. Kenapa ia tidak boleh dekat-dekat lagi dengan paman Raiden. Dea tidak berani untuk menanyakan kembali pada ibunya mengenai paman Raiden.
Pada hari itu, Sebelum pergi menuju pelatihan, Dea membantu ibunya dalam urusan rumah. Seperti menyapu, berbelanja ke pasar, dan lain. lain. Dea nampaknya masih memiliki rasa bersalah terhadap ibunya karena telah membuatnya repot. Nata juga terlihat sangat senang dengan perilaku anaknya yang lebih lembut dari sebelumnya.
*Jadwal Pelatihan tiba*
Sebelum pergi kepelatiham. Dea mengganti pakaian menjadi pakaian khusus latihan. Dea berpamitan kepada ibunya. Sebelum itu, Nata mengatakan sesuatu kepada Dea....
"Dea, mau bagaimana pun Dea kedepannya, Ibu bakal selalu sayang sama Dea. Jangan pernah berpikir kalau Ibu ga pernah peduli sama Dea. Ibu bakal selalu ada buat Dea."
"Hmmm, Terima kasih banyak bu. Dea sayang sama Ibu." Jawab Dea dengan nada yang gembira.
Dea berpelukan dengan ibunya, lalu Dea pun segera pergi ke tempat latihan.
Setelah sampai di tempat latihan, Dea nampak gugup karena ia sudah lama membolos dalam pelatihan. Dea membayangkan ekspresi gurunya yang akan memarahi kepadanya. Walaupun guru tersebut dikenal baik dan ramah, namun ia juga dikenal tegas apabila bersangkutan dengan latihan. Dea berjalan dengan diam-diam supaya tidak ketahuan oleh gurunya itu. Namun...
"Hey darimana saja kamu...."
Dea mendengar suara yang tidak asing, suara yang lebih seram menurutnya ketimbang gurunya itu.
"Hey, kamu dengar atau tidak?" Jawab ia kembali kepada Dea.
Dengan wajah yang pucat ia melihat kepada sumber suara tersebut, dan melihat sosok yang tidak asing bagi Dea.
Dia adalah Resa, teman baik Dea saat ini. Ia memiliki postur yang sedikit lebih pendek dari Dea dengan rambut yang pendek sebahu dan memilki muka yang sangat imut. Dibalik itu semua, Resa tidak senang dengan perilaku banyak orang kepadanya yang menggangap dia itu imut. Resa lebih senang dianggap sama seperti kebanyakan orang. Namun, sulit menghindari fakta bahwa kau tidak bisa menggangap dia sangat imut.
"Hey, bisa dengar aku tidak Dea?" Tanya kembali Resa kepada Dea
"Ahhh, iya iya, Ada apa Res?hehehhe."
__ADS_1
"Pertanyaan aku, kamu habis dari mana saja? Sudah lama aku liat kamu tidak latihan."
"Anu,anu.....A..a..aku bolos heheheh."
"Haaahhhh, Emangnya apa alasan yang bikin kamu bolos lama kayak gitu?"
"Ya pengen aja." Dea menampakan ekspresi yang sangat jelas menunjukkan kebohongan.
"Hmmpphh, Jangan kira kamu bisa menipuku dengan ekspresi muka kamu yang seperti itu, ya sudah. Siap siap sekarang, pelatihan sebentar lagi dimulai."
" Maaf ya Resa, bikin repot kamu." Dea menunjukan muka yang sedikit merasa bersalah.
Resa adalah teman yang selalu diandalkan Dea sepanjang waktu. Resa merupakan murid dengan semangat dan bakat terbaik di angkatannya. Resa menunjukan progress belajar yang sangat pesat, bahkan dia diprediksi dapat menjadi salah satu kekuatan terbesar di dunia. Ekspetasi yang dilimpahkan kepada Resa membuat Resa merasa tidak nyaman. Hanya beberapa orang saja yang melihat Resa sebagai orang yang Normal. Salah satu orang tersebut adalah Dea dan Nata. Salah satu alasan Resa berteman baik dengan Dea karena Dea memperlakukannya dengan teman yang setara.
"Pelatihan hari ini dimulai sekarang."
Dalam pelatihan ini terdapat 4 Jenjang pelatihan. Pengendalian Air tingkat Awal, Tingkat Menengah, Tingkat Akhir, dan Tingkat Lanjutan. Saat ini, Dea dan Resa sudah berada ditingkat Pengendalian tingkat Menengah. Khusus untuk Resa, ia sudah dapat menguasai pengendalian tingkat akhir dan sedang menuju ke pengendalian air tingkat tingkat lanjutan. Walaupun begitu, Resa meminta kepada Ayu untuk tetap ditempatkan pada kelas PATM (Pengendalian tingkat menengah) karena tidak ingin diistimewakan. Disamping itu, Dea yang masih belum menguasai PATAW(Pengendalian Air Tingkat Awal) dimasukkan kedalam kelas yang sama dengan Resa karena atas permintaan Resa kepada Ayu.
Setiap kelas berisi sekitar 10 remaja. Untuk naik ke tingkat selanjutnya, semua murid akan melalui ujian yang akan dites. Semakin tinggi tingkatan, maka ujiannya akan semakin sulit. Sudah tidak terhitung banyak murid yang gagal untuk melalui ujian menuju PATAK (Pengendalian Air Tingkat Akhir). Resa merupakan satu-satunya murid yang dapat menembus PATAK dengan umur sekitar 14 tahun.
"Hey kau, Darimana saja hah? Sudah berapa kali aku ngasih peringatan untuk tidak membolos, Dea! Apakah kamu mau turun tingkatan ?" Tanya Ayu dengan tegas kepada Dea.
"Iya bu. maafffff." Jawab Dea dengan suara yang kecil.
" Engga bisa kah kamu nyontoh Resa, dia itu yang terbaik diangkatan kita. Bikin malu saja kalau teman dekatnya ternyata tidak sehebat dirinya."
"Permisi bu (Ucapan terhadap guru), ibu ga bisa menyetarakan semua orang seperti itu bu." Ucap Resa menyela.
"Hmmpphh, Terserah." Jawab bu Ayu dengan terkesan bete.
__ADS_1
Bu Ayu pun kembali fokus kepada pelatihan.
"Terima kasih Resa, Maaf ya bikin repot kamu. Entar aku traktir jagung rebut ya sebagai ucapan terima kasih aku."
"Hmmmphh aku tidak butuh itu dari kamu." Resa jawab dengan nada yang sedikit ragu. Dea tau kalau maksud dari Resa sebenarnya menginginkan itu.
Dea menyadari disekeliling dia, dia sudah diperbincangkan oleh teman sebayanya. Capaian pelatihan yang buruk dan seringnya membolos menjadi topik perbincangan sehari-hari. Dea mengerti bahwa dirinya sudah tidak layak berada dikelas ini, dan juga ia menyadari sudah tidak layak untuk berada disisi Resa. Kemampuan mereka sudah seperti langit dan bumi.
" Heyy, sudah jangan didengarkan." Resa kepada Dea.
"Ahhh, iya, terima kasih ya." Balas Dea kepada Resa
*Pelatihan hari itu sudah selesai, sebelum mengizinkan muridnya untuk pulang, Bu Ayu memberikan beberapa patah kata*
"Sebelum mengakhiri pelatihan hari ini, Ibu ingin mengingatkan bahwa minggu depan akan diadakan latih tanding. Kalian akan bertarung dengan teman sekelas dalam pertandingan 1 vs 1. Untuk mengetahui lawan kalian siapa, kalian akan diundi. Khusus untuk Resa dan Ozi, kalian tidak diizinkan untuk mengikuti latihan karena kalian berada ditingkat yang lebih tinggi. Jangan lupa juga, bahwa latih tanding ini akan menjadi salah satu kualifikasi kami dari guru untuk merekomendasikan kepada guru pribadi yang akan mendampingi kalian. Oleh karena itu, Persiapkan diri kalian sebaik mungkin. Sekian."
Setelah pengundian selesai, Semua murid mendapatkan masing masing lawannya. Resa mendatangi Dea untuk menanyakan siapa yang akan dilawan Dea. Namun, Saat sudah dekat, Dea hanya bisa termenung diam, karena lawan yang akan di lawan adalah Murid terkuat di PATM selain Resa dan Ozi. Dia bernama Rey. Ia adalah seorang yang memiliki bakat luar biasa. Namun, dengan bakat besar yang ia miliki, ia enggan untuk berusaha untuk menjadi lebih kuat. Lebih tepatnya malas untuk berusaha. Karena, ia tidak pernah merasakan kesulitan dalam pelatihan. Kesulitan yang ia pernah hadapi hanyalah saat ia melihat Resa yang memilki kekuatan dan bakat yang begitu melampaui dirinya. Seperti ada tembok yang tidak akan pernah ia lewati. Karena alasan itu pula, ia merasa percuma saja untuk berlatih.
Kemudian saat sudah diizinkan pulang, Rey sengaja mendatangi Dea dan berkata
"Semoga beruntung minggu depan.. Loserss." Ucap rey dengan nada yang meremehkan Dea.
Dea hanya bisa terdiam, Dea tau kalau dirinya pasti kalah dalam pertandingan minggu depan. Sebagai informasi tambahan, merekomendasikan kepada guru pribadi adalah hal yang sangat penting. Menembus PATAK tanpa bantuan guru pribadi merupakan hal yang mustahil. Bahkan dengan bakat yang luar biasa pun, Resa tetap perlu Guru Pribadi. Dea berpikir untuk mewujudkan janjinya kepada ayahnya adalah hal yang mustahil sekarang. Dea berpikir, mau sekeras apapun ia berlatih, tanpa adanya bakat, ia tidak dapat menjadi apa yang ia inginkan.
"Hey, jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh orang itu Dea. Aku yakin kamu bisa mengalahkannya minggu depan." Resa datang menyemangati Dea. Walaupun berkata begitu, Resa sebenarnya merasa Dea dengan kemampuannya saat ini, Dea tidak akan bisa mengalahkan Rey.
"Ahhh, iya, ehhhh aku pulang duluan Resa, kalau terlalu malam akan dicariin Ibu. Sampai jumpa besok." Ucap Dea sambil menjauhi Resa dan segera berlari menuju rumahnya. Resa melihat sekilas bahwa mata Dea sebenarnya sudah mengeluarkan air mata. Mungkin ia merasa kata-katanya tidak menghibur Dea.
To be Continued..
__ADS_1