
"Hey, kenapa banyak orang disini tidur dipinggir jalan? Terlebih disini kotor sekali."
"Kau tidak tau hal begitu? kamu bukan dari negara ini kah?"
"Bukan. Memangnya kenapa?"
"Seluruh pengembara atau orang yang bukan berasal dari negara ini seharusnya punya izin untuk menetap disini. Tunggu....Jangan jangan kamu masuk ke negara ini tanpa izin!?"
"Izin? ahhhh...maksudnya pemerasan uang itu ya? gila! untuk sekedar izin masuk ke negara ini saja sangat mahal!"
"Lalu bagaimana kau bisa masuk kesini!?"
"Hey-hey jangan kaget begitu dong. Pelan pelan dong.."
"Ahhhh, maaf."
"Tentu saja menerobos. Kau pikir tampilan kusuh aku ini menunjukan sebuah kekayaan?"
"Yang berarti kamu ini seorang kriminal....sebenarnya ada apa dengan hidupku ini?"
"Ehhhhmmm?"
"Lupakan saja. Nikmati saja daging itu."
.
.
.
Mereka pun sampai di panti asuhan nenek Rid, seperti biasa ini Iven membagikan roti hasil bekerjanya kepada nenek Rid. Nenek Rid melihat pemandangan yang tidak biasa.
"Terima kasih banyak nak Iven. Maaf ya karena merepotkan nak Iven setiap hari. Nak Iven tidak perlu memberi hal yang berharga ini setiap hari. Simpan saja untuk nak Iven, tidak perlu pikirkan nenek."
"Apa yang nenek bicarakan? Iven memberi ini karena Iven ingin saja, terlebih Iven tidak bisa membiarkan nenek kelaparan begitu."
"Terima kasih nak Iven. Semoga sang pemandu elemental memberkatimu."
"Semoga sang pemandu elemental memberkatimu kembali."
"Ngomong-ngomong nak, gadis yang dibelakang nak Iven itu siapa? Apakah nek Iven sudah menemukan kekasih?"
"Bu-bukan nek" Pipi Iven terlihat sedikit memerah.
"Benar nek, pria seperti dia bukanlah tipeku." Dea membalas dengan yang polos sambil memakan dagingnya. Iven yang mendengar itu merasa sedikit muram. Setidaknya Iven berpikir ia adalah pria yang cukup tampan di daerahnya.
"Hahahah begitukah? mohon bantuannya ya nak untuk menjaga nak Iven ini."
Dea hanya membalas dengan anggukan.
"Hey Dea!! sopan sedikit lah dengan nenek Rid."
"Tidak apa-apa nak Iven, sudah lama nenek tidak melihat seorang yang menarik seperti dia. Dan gadis ini adalah anak yang baik"
"Kalau nenek tidak keberatan, ya sudahlah. Nek saya pamit dulu ya."
"Iya, hati-hati dijalan ya."
Setelah menemui nenek Rid, Iven dan Dea melanjutkan perjalanan menuju rumah Iven. Setelah sampai dirumah, Iven menyuruh Dea untuk mandi terlebih dahulu. Semenjak tadi, Iven mencium bau yang tidak mengenakkan dari tubuh Dea. Mungkin Dea sudah tidak mandi selama berhari-hari.
"Mandi dulu sana. Bau badan mu sudah tidak tertahankan."
"Ohhhhh, tapi jangan intip ya."
"Ten-tentu saja bodoh! Dan jangan buang-buang air itu, air bersih disini mahal."
Iven kembali melanjutkan untuk mengembangkan alat pemberian masternya itu. Kali ini Iven mencoba sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Dengan mencoba dengan material yang berbeda. Material ini merupakan material yang sangat mahal. Bahkan untuk mendapatkan material ini, Iven perlu menabung selama berbulan-bulan. Iven berharap material dapat berfungsi sesuai harapannya. Namun, seperti sebelum-sebelumnya, percobaanya tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Material gagal berfungsi dengan baik. Iven perlu mencari material yang lain.
__ADS_1
"Ahhhh sial! begini lagi! hasil menabungku sia-sia."
"Material murahan seperti itu memangnya bakal berfungsi ya?" Dea yang baru saja mandi, muncul dibelakang Iven.
"Owjwhjhwwjwj! bikin kaget saja!"
"Maaf-maaf hehehe."
"Tunggu..Material murahan katamu? Material ini sangat mahal tau! perlu berbulan bulan untuk membeli bahan ini!"
"Sebelum aku dateng kesini, material ini sangat mudah ditemukan loh. Bahkan material yang itu jauh lebih berharga." Dea sambil menunjuk material yang digunakan Iven dahulu.
"Yang benar saja! menurut pedagang, material ini sangat sulit ditemukan! bahkan diseluruh penjuru negeri!"
"Benar kok, kalau tidak percaya ya sudah."
"Daerah mana yang kamu singgung itu?"
"Desa watah, dan tidak salah di pegunungan arul."
"Desa watah....."
Dalam momen tersebut, Iven sadar akan satu hal tentang 2 orang kriminal yang berasal desa watah. Orang yang pernah melihat kedua kriminal tersebut menyebutkan ciri-ciri mereka. Orang tersebut menyebutkan salah satu kriminal tersebut adalah seorang yang mamakai topi petani, memakai pakaian khas negeri petir, dan mambawa sebilah pedang dan seorang gadis yang memakai mantel yang menutupi punggungnya yang juga membawa pedang. Tidak jelas perbuatan jahat apa yang mereka lakukan, namun mereka sudah dicap sebagai kriminal sejak 5 tahun ini.
"Topi petani, mantel punggung, pedang, dan desa Watah?"
"....."
Iven yang sadar bahwa gadis didepannya adalah salah satu kriminal tersebut, segera mengambil pisau didekatnya dan monodongkan pisau tersebut kepada Dea. Iven melakukannya sebagai bentuk bela diri.
"Ja-jangan mendekat!" Iven yang ketakutan menyuruh gadis itu untuk menjauhinya.
"Begini lagi? apakah benar tidak ada seorang pun didunia ini yang menerimaku lagi?" Dea berbicara kepada dirinya sendiri.
"Apakah kau menyelematkan ku tadi itu karena maksud tertentu!? apakah kau akan membunuh ku disini!?"
"Tidak, terlebih kau ini tidak punya apa apa untuk kurampok."
"Tidak maksud apa-apa, kebetulan saja ada yang akan membunuhmu saat itu, tentu saja sebagai manusia aku menyelamatkanmu saat itu."
"Benarkah seperti itu? Kau tidak akan menyerangku atau merampokku?"
"Tentu saja bodoh, dan turunkan pisau itu. Itu berbahaya."
Perlahan-lahan, Iven menurunkan pisau tersebut. Iven dengan keringat dingin tersebut berusaha untuk terlihat tenang. Walaupun Iven tahu kalau ia tidak boleh sedikitpun mempercayai Dea. Lengah sedikit saja sama dengan nyawa melayang.
Di momen tersebut, suara teriakan gadis minta tolong kembali terdengar. Perhatian kedua orang tersebut teralihkan oleh hal tersebut.
"Hey kenapa gadis itu berteriak seperti itu?"
"Tentu saja diculik, kaum raya seperti kami sudah terbiasa dengan hal ini."
Dea dengan segera untuk menjawab teriakan tersebut. Memakai seluruh perlengkapannya dan langsung berangkat.
"Mau kemana kau!?"
"Tentu saja untuk menolong gadis itu! apakah kau tidak punya rasa kemanusiaan sedikitpun!?"
"Tentu saja aku punya! namun itu percuma saja!"
"Kita sudah tidak banyak waktu. Ikuti saja aku. Kau bisa putuskan semuanya nanti!"
"Ba-baik."
.
.
__ADS_1
.
.
"Tolong! Tolong!" Gadis tersebut berulang kali meminta pertolongan.
"Apakah kau tidak bodoh? tidak ada yang peduli dengan kaum raya."
Gadis tersebut tetap saja meminta pertolongan.
"Dia tidak mendengarkan kita, bro."
"Berisik kali! ikat mulutnya saja bro."
Tentu saja, Gadis itupun berontak saat diikat.
"Diamlah sedikit! kita tidak ingin harga jualmu menurun karena terluka."
.
.
Disaat itulah, tiba-tiba salah satu penculik tersebut terpental jauh karena sebuah serangan. Penculik yang disebelahnya pun kaget dan melihat seorang yang menyerang temannya mengenakan bertopi petani dan membawa pedang dan seorang pria dibelakangnya. Dengan sigap penculik tersebut mengambil mengambil ancang-ancang, dan memanggil seekor salamander angin. Dia juga dengan sekilas melihat rekannya sudah pingsan karena serangan tersebut.
"Siapa kamu!? beraninya menyerang my bro dengan seenaknya!"
"Mau kau apakan gadis itu?"
"Tentu saja dijual! ada seorang calon pembeli yang menawarkan harga cukup tinggi untuk gadis muda perawan."
"Siapa calon pembeli tersebut?"
"Untuk apa aku memberitahukan kamu!" Sambil memerintahkan salamander tersebut untuk menyerang.
Dea dengan cepat mengindar serangan salamander tersebut dan melancarkan serangan balasan kepada salamander tersebut dengan tinju yang telah dilapisi dengan air. Seketika salamander tersebut tewas seketika.
"Elemental air? Hahaha sepertinya aku akan kaya raya!"
Penculik tersebut kembali mengeluarkan salamandernya, kali ini ia mengeluarkan sekitar 10 salamander yang sama. Semua tenaganya dipakai karena ia merasa apabila ia mengalahkannya, ia akan kaya raya. Dan salamander tersebut terlihat mengeluarkan asam.
"Rasakan ini!!"
Penculik tersebut menyuruh salamandernya untuk menyemburkan asamnya pada target. Karena terbuat dari angin, kecepatan sembur salamander tersebut meningkat dengan sangat signifikan. Bisa dikatakan gesekan diudara dapat diabaikan.
Menyadari serangganya bisa berdampak fatal, Dea dengan cepat menggunkana buff pada dirinya sendiri. Dengan melapisi elemental pada tubuh pengguna, tubuh pengguna akan mendapatkan buff tertentu.
Satu, dua, tiga, empat serangan dihindari. Namun semakin lama, serangan salamander tersebut semakin cepat. Dea menjadi kesulitan untuk serangan tersebut. Bahkan Dea sempat terkena serangan itu dan membuat pakaian disekitar pinggulnya rusak.
"Menyerahlah saja! semua akan sia-sia saja!"
Mendengar perkataan itu, terlihat Dea tersenyum sedikit, dan berkata kepada dirinya sendiri...
"Sudah seharusnya?ehehhe..."
Dea terlihat mengambil pedangnya, dan terlihat pedangnya itu diselimuti air seperti air menyelimuti tubuh Dea.
"A-pa!!!??"
Dea menebas seluruh salamander dengan sangat cepat. Membuat semuanya mati seketika. Lalu Dea dengan buff dikakinya, cepat mendatangi penculik tersebut dan memukulnya dengan keras. Membuat penculik tersebut terbang melayang dan menabrak dinding yang lumayan jauh.
"Erggg...."
"Ku ulangi sekali lagi, siapa calon pembeli itu?" Dea bertanya dengan senyum yang menyeramkan.
.
.
__ADS_1
.
To be Continued...