
"Hey paman."
"Jangan panggil aku paman, bocah."
"Hey paman, umurmu itu berapa tahun?"
"Tsk, jangan tanyakan umurku lagi."
"Hey, paman, bagaimana kau membunuh monster itu tanpa Life?"
"Hahhhhhh, pertanyaan itu lagi. Sudahlah jangan banyak tanya."
"Hey paman, dimana paman tinggal?"
"Gua ga punya rumah."
Dea memulai perbincangan dengan pria tersebut saat mulai dekat dengan desa. Jawaban yang diberikan oleh pria tersebut tidak memuaskan rasa pertanyaan Dea. Sebenarnya, banyak hal yang ingin Dea tanyakan kepada pria tersebut. Namun, Dea merasa apabila ia menanyakan kembali, ia hanya akan membuat pria tersebut kesal.
*Mereka sudah sampai desa*
"Dah sana balik kerumah lu, dan jangan pernah balik lagi ke hutan itu tanpa izin ketua desa dan orang tuamu. Jangan bikin orang lain kesusahan lagi. Paham?" Ucap pria tersebut dengan nada yang sedikit intimidatif.
Dea hanya mengganguk saja.
"Paman boleh saya minta satu jawaban lagi dari paman?"
"APA?"
"Nama Paman siapa?"
" Raiden."
"Raiden?..Nama yang aneh hahahha" Dea tertawa kecil.
"Terserah lu" Jawab raiden.
"Dah, sana pergi ke rumah lu."
Dea pun berpamitan dengan Raiden dan bergegas pergi kerumah nya. Dea merasa sangat senang karena dapat tetap hidup dan bertemu Raiden. Seumur hidupnya, Dea tidak pernah bertemu orang yang begitu unik selain Raiden.
Ketika sampai dirumah, saat Dea mengetuk pintu, Nata membukakan pintu dan sesaat itu, Nata menampar anaknya nya sendiri dengan keras. Sontak, kejadian itu dilihat oleh orang yang lalu lalang. Dea pun kaget dan saat melihat ibunya kembali, ibunya sudah menangis hebat. Pipi Nata sudah diselimuti oleh air mata yang banyak.
__ADS_1
"APA-APAAN KAMU INI!? DARIMANA SAJA KAMU!? BARU DATANG KERUMAH MALAM-MALAM. HABIS DARIMANA!?"
"..."
"TADI JUGA IBU SAMPAI NYARIIN KAMU KE HUTAN, KARENA ADA BEBERAPA ORANG YANG LIHAT KAMU MASUK KE HUTAN. SEBENARNYA KAMU NGAPAIN DISANA?"
Nata memarahi anaknya dengan keras sehingga menjadi tontonan publik. Dea hanya bisa terdiam mendengarkan perkataan ibunya. Seketika mata Dea mengeluarkan air mata.
"Ibuuuuu, maafin Dea. Maafin Dea buuu. Maaf Dea karena masuk hutan terlarang tersebut bu." Ucap Dea sembari memohon kepada Nata.
"Hahhhhh, Kamu udah bikin khawatir ibu nak, ibu sampai nyariin kamu kedalam hutan nak. Sebenarnya ngapain aja kamu nak" Tanya Nata kepada anaknya dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya.
"..."
"Yaudah kita masuk dulu, kita bicarakan baik-baik".
Dea pun hanya menganggukan kepalanya, tanda ia setuju dengan ibunya.
*Sudah didalam rumah*
"Coba bicarakan, kamu kemana aja Dea?"
"..."
"....Anu,anu, Tadi Dea pergi ke Hutan buat bolos pelatihan bu."
"Emangnya kenapa kamu ga mau ikut pelatihan?"
" ..... Malu bu, Dea ga bisa ngapa-ngapain."
" Ga bisa ngapa-ngapain? Maksudnya gimana Dea?"
" Kekuatan 'Life' Dea sangat lemah bu, bahkan untuk sekedar pengendalian air tingkat rendah saja tidak bisa bu."
"Dea masih bisa belajar kan?"
"Engga bu, teman sebaya Dea saja sudah bisa menguasai pengendalian tingkat menengah. Ditambah Dea dikucilkan karena mempunyai Life yang begitu lemah."
"....." Nata terus mendengarkan keluhan Dea terhadap kepelatihannya.
"Kalau begini terus, kapan Dea bisa ngewujudkan janji Dea ke Ayah. Bisa-bisa, Bisa-bisa..."
__ADS_1
Setelah Dea menyelesaikan perkataannya, Nata pun memeluk anaknya dengan erat sambil berkata..
"Maafkan ibu ya, Ibu enggak bisa menyadari hal tersebut. Maafin ibu ya..." Sembari Nata mengeluarkan air mata.
"Hmphhhghhgahjshfjjsfhjsahk". Dea bergumam dan menangis didekapan ibunya.
Beberapa menit kemudian, ketika Nata akan melihat anaknya, ternyata anaknya sudah tertidur. Nata hanya tertawa dan sambil mengusap pipinya yang terdapat air mata. Nata menyadari bahwa perilakunya terhadap Dea akhir-akhir ini terlalu keras karena memaksanya untuk mengikuti pelatihan. Mulai esok, Nata akan berubah untuk memberikan perhatian yang lebih kepada Dea. Nata mulai melihat pakaian suaminya dan mengatakan "Maafkan aku."
*Berlanjut keesokan harinya*
Dea bangun dengan rasa yang sudah lama ia tidak rasakan. Seperti kehilangan sesuatu yang sudah menjadi beban dalam hidupmu. Dea terbangun didalam kamarnya, Mungkin ibunya sudah memindahkannya kekamar kemarin malam. Sesaat kemudian, Dea keluar dari kamar dengan wajah penuh senyuman.
"Selamat pagi, bu." Sapa Dea kepada ibunya dengan ramah.
"Selamat pagi juga, Dea. Mau sarapan apa pagi ini?" Nata dengan penih senyum.
"Hmmm, apa ya, mungkin seperti yang kemarin saja bu."
"Siap."
*Setelah sarapan*
"Hmmm bu, maafin Dea ya untuk yang kemarin bu."
"Hmmm? iya ga apa apa. lagipula itu salah ibu juga yang kurang perhatian ke kamu."
"Hehehehe, bukan salah ibu kok. Ohhh iya bu, ibu kenal tidak dengan orang yang bernama Raiden?"
Sang ibu kaget dengan pertanyaan Dea, sontak sang ibu bertanya kepada Dea :
"Kamu kok tau nama itu? Tau darimana?" dengan eksperesi yang serius.
"Aaaanuu, kemarin sewaktu dihutan, Dea sempat dikejar oleh Monster ular berkepala banteng. Kebetulan waktu itu, pria Raiden ini ngebantu Dea."
"....."
"Raiden ini hebat loh bu, bisa ngalahin monster tanpa menggunakan 'Life'. yaaa, walaupun gaya bicaranya agak kasar. Tapi sebenarnya dia orang yang baik." Ucap Dea dengan ekspresi yang Excited.
"Dea....Dengar, mulai sekarang kamu jangan pernah dekat-dekat lagi dengan si Raiden itu." Nata dengan wajah yang serius.
"Emang kenapa bu?"
__ADS_1
"Sudah, ikuti saja apa kata ibu."
To be Continued....