Alpha : The Elemental Guide

Alpha : The Elemental Guide
Chapter 11 : Diskriminasi


__ADS_3

"Hahahaha, lemah!! lemah sekali!!!"


"Hahaha, bagaimana mungkin orang sepertimu lahir didunia ini!!.


"Ergg...."


Terlihat di suatu tempat, terdapat 2 orang yang sedang membully seorang pemuda berkaca mata. Nampak pula, perawakan antara 2 orang itu dan seoerang pemuda sangat berbeda jauh. Tubuh 2 orang tersebut kekar berotot, sedangkan pemuda tersebut bertubuh kecil dan terlihat melindungi alat yang ia peluk.


"Orang seperti kamu hanya ada untuk stok budak saja!!"


"Kaum raya seperti kau tidak pantas untuk berada pada negara ini! dasar kaum rendahan."


Kedua orang tersebut masih saja memaki pemuda tersebut sambil menendang tubuh pemuda yang sudah terjatuh ditanah. Pemuda itu hanya dapat menahan rasa sakit dan menerima semua perilaku kedua orang itu kepadanya.


"Ahahah, serahkan semua uang kamu!! kalau tidak... kamu tahu kan apa yang akan terjadi!?"


"Ba-baik." Pemuda itu mengeluarkan semua sisa uangnya.


Orang berbadan kekar tersebut dengan cepat mengambil uang tersebut sambil berkata...


"Haaa?!! cuman segini? selama ini kamu ngapain saja hah?!!!"


" Kalau cari uang itu yang benar dong."


" Ma-maafkan saya tuan. Uang saya tinggal segitu saja."

__ADS_1


"Dasar tidak becus!!"


Salah satu orang berbadan kekar menendang pemuda itu ke tanah kembali.


"Dengar bocah! hidupmu saja sudah tidak berguna, setidaknya bawakan kami berdua lebih banyak uang!! besok bawakan kami berdua uang yang lebih banyak!"


"Hahahahahaha."


"Ba-baik tuan."


Pemuda tersebut hanya dapat mematuhi perintah kedua orang tersebut. Ketika kedua orang tersebut sudah pergi meninggalkan dia, ia segera bangun dan mengambil sebuah alat yang ia jaga tadi. Dengan penuh luka, ia berjalan menuju rumahnya dengan terpincang-pincang.


Si pemuda tersebut berhasil kembali ke pemukimannya. Pemukiman yang sangat lusuh dan dipenuhi orang yang kelaparan. Setiap ia pulang dari pekerjaannya, ia selalu menyisihkan sedikit uangnya untuk membantu orang-orang kelaparan dipemukimannya. Ia tidak tega saat melihat orang kelaparan, walaupun ia sendiri merasakan kelaparan itu sendiri. Karena kebaikan pemuda itulah, penduduk sekitar menjadi hormat dan berterima kasih pada pemuda tersebut. Seluruh penduduk pemukiman disana mengganggap pemuda tersebut adalah seorang penyelamat dari surga.


"Sekali lagi terima kasih nak Iven. Maaf merepotkan setiap harinya."


"Tidak apa apa nek, kebetulan Iven dapat sedikit uang tadi. Oh iya, ini roti buat bu Yeni dan bu abel."


"Baik baik, akan nenek sampaikan."


.


.


.

__ADS_1


Ketika semua pemberiannya sudah tersampaikan, yang tersisa hanyalah satu potong roti untuk makan malamnya. Iven berpikir bahwa hari ini hari yang indah, karena ditempat ia bekerja, ia mendapatkan bonus dari bos nya dan saat diperas uangnya tadi oleh kedua orang kekar itu, ia sempat menyembunyikan sedikit uang disepatunya. Iven berpikir, hari ini mungkin ia sangat beruntung, namun untuk esok harinya Iven tidak boleh bergantung pada kata keburuntungan.


Iven tiba dirumah kecil dan sederhananya, dan segera untuk membersihkan diri. Iven hanya membersihkan beberapa bagian tubuhnya. Iven tahu betul bahwa air bersih disini adalah sesuatu yang berharga. Ia tidak boleh membuang-buang air bersih hanya untuk sekedar membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, Iven kembali melanjutkan mengembangkan alat yang ia bawa kemana-mana itu. Alat yang selalu Iven bangga-banggakan, dan alat yang selalu dipercayai oleh Iven. Alat tersebut berupa sarung tangan yang dikelilingi oleh material misterius. Walaupun hasil yang diinginkan oleh Iven masih belum tercapai, namun Iven percaya bahwa alat ini akan mengubah seluruh kehidupan Iven dan pemukiman disini.


Disaat pengembangan alat tersebut, suara soerang gadis berteriak minta tolong. Gadis tersebut terdengar memohon sebuah pertolongan. Namun, tidak ada yang menolong gadis itu. Seluruh penduduk Pemukiman kumuh ini adalah kaum raya, kaum yang berada pada di tingkatan terbawah pada sistem kasta dinegara ini. Kaum yang derajatnya sama seperti seorang budak. Kaum yang bebas diperlakukan apa saja oleh kaum yang diatasnya. Kaum yang keberadaanya tidak diinginkan oleh dunia ini. Ya benar, kaum yang tidak memiliki sedikitpun 'Life', yang berarti tidak dapat mengendalikan elemen.


Iven yang mendengar suara minta tolong tersebut, hanya dapat berpura-pura tidak mendengar. ven tahu, kalau ia tidak dapat berbuat apa-apa. Walaupun ia sangat ingin menolong, ia hanya akan berakhir babak belur bahkan dapat membuatnya ia mati terbunuh. Setiap minggunya, seorang gadis yang cantik diculik untuk dijadikan alat pemuas ***** atau seorang anak biasanya diculik untuk dijadikan budak. Ada sebuah peraturan dinegara ini, untuk pria kaum raya diatas 18 tahun, dilarang untuk dijadikan budak. Iven secara ajaib dapat menghindari penculikan tersebut.


Kekuatan pengendalian elemen adalah hal yang mutlak, dengan kekuatan tersebut dapat menentukan nasib seseorang. Anak yang terlahir tanpa 'Life', hanya akan membuat orang tua kandungnya malu. Kebanyakan orang tua yang memiliki anak tanpa 'Life', akan membuang anaknya dipemukiman ini. Karena alasan itulah, kebanyakan penduduk di pemukiman ini depresi berat dan tidak memiliki tujuan hidup.


Iven terus mengembangkan alatnya itu. Walapun ia mendengar suara minta tolong, namun ia hanya diam saja. Alat yang ia kembangkan itu adalah alat yang terima dari seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya dimasa lalu. Orang tersebut membantu Iven menghadapi masa-masa yang sulit. Orang tersebut pula yang telah membuat pemukiman ini sedikit lebih baik. Di masa lalu, keadaan pemukiman tersebut sangat buruk dibandingkan sekarang. Terjadi banyak tindak krimanal, perampokan dimana-mana. Namun karena usaha yang luar biasa dari orang itu, keadaan telah sedikit lebih friendly. Bahkan ialah yang membuat negara ini terpaksa untuk membuat peraturan tentang pria kaum raya berumur 18 tahun. Walaupun orang itu masih tidak puas dengan keputusan itu. Ia adalah orang memperjuangkan hak-hak kaum raya. Ia adalah hero yang sesungguhnya.


Karena sebuah kejadian, orang tersebut tewas terbunuh secara misterius. Iven menduga sang pembunuh adalah seorang kiriman dari kaum diatas yang tidak suka dengan kehadiran orang tiu. Sebelum tewas, orang itu sempat mewariskan alat ciptaanya kepada Iven. Sebuah perkataan yang akan selalu dikenang Iven.


"Ven, jagalah alat ini seperti kamu menjaga dirimu sendiri. Suatu hari nanti, alat ini adalah yang akan membebaskan kaum raya dari diskriminasi ini."


"Emangnya alat ini apaan master?"


"Alat ini masih belum sempurna, masih ada satu bagian yang terlewatkan dan saya masih belum dapat menemukannya. Mungkin kamu bisa menemukan hal itu. Alat ini adalah...."


Perkataan yang tidak akan pernah Iven lupakan. Perkataan yang menjadi alasan mengapa Iven bekerja keras untuk mengembangkan alat ini. Perkataan yang meyakinkan Iven, bahwa suatu hari nanti kaum raya akan bebas...


"Master, akan kuwujudkan impianmu! Aku berjanji! Dengan seluruh jiwa dan ragaku, saya berjanji untuk membebaskan kaum raya!!!."


To be Continued...

__ADS_1


__ADS_2