Alpha : The Elemental Guide

Alpha : The Elemental Guide
Chapter 12 : Penyelematan


__ADS_3

Keesokan harinya, Iven tetap menjalani kesehariannya. Bekerja sebagai kuli bangunan di tanah yang lebih tinggi dan gaji yang tidak seberapa, Iven tetap bersyukur ada orang yang tetap menerimanya walaupun ia berasal dari kaum raya. Gaji yang ia dapat begian habis diberikan kepada kedua preman jalanan. Menyisihkan sebagian uangnya untuk membantu nenek Rid, Iven tidak meninggalkan sedikitpun penyesalan disana.


Hari demi hari, waktu demi waktu berlalu. Perjalanan hidup Iven masih sama saja. Tidak ada yang berubah sedikitpun, bahkan progress kemajuan alat yang Iven kembangkan masih disitu-situ saja. Lama-kelamaan, Iven merasa jenuh dengan semua ini. Walaupun ia sendiri sudah bersumpah untuk menyelamatkan kaumnya, namun ia merasa tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dirinya hanyalah manusia lemah tanpa kekuatan pengendalian elemen. Semua orang disini tahu kalau orang yang terlahir tanpa 'Life', hanya akan menjadi sampah masyarakat. Pengendalian elemental adalah segalanya.


Suatu hari, tepatnya setelah Iven bekerja, ketika saat Iven sangat kelelahan, seperti biasanya ia dipalak oleh kedua orang berotot itu lagi.


"Hey bocah! seperti biasa, biaya bekerja mu."


"Berapa banyak uangmu hari ini bocah?"


Iven menyodorkan uangnya, walaupun kebanyakan uangnya diserahkan kepada kedua orang itu, Iven masih menyembunyikan sebagian kecil uangnya didalam sepatunya.


"Hmm, hmm, totalnya masih sama seperti kemarin-kemarin."


"Apakah kamu itu kerja dengan benar atau tidak? sama sekali tidak ada peningkatan."


Dan sepertinya biasanya, Iven dipukuli dan ditendangi oleh kedua preman itu. Iven pasrah dan tidak dapat berbuat apa-apa, hanya menerimanya saja. Terlebih kedua orang tersebut mampu untuk mengendalikan elemental. Keduanya adalah pengguna elemental angin, elemental yang sangat mudah ditemui di negara ini.


Namun, secara tidak sengaja, ternyata sepatu yang Iven pakai terlepas. Wajah Iven menjadi panik dan salah satu orang tersebut melihat eksperesi panik Iven.


"Hey kenapa tiba tiba panik begitu?"


Melihat salah satu sepatu Iven terlepas, orang tersebut mengambil sepatu yang lepas dan....


"Ehhhh, ternyata ada uang disini."


"Apa?! selama ini kamu nipu kami hah?!!"


Karena ketahuan menyembunyikan uang, Iven ketakutan setengah mati. Bukan karena nasibnya, melainkan nasib penduduk pemukiman. Iven tahu kalau penduduk disana sangat bergantung padanya.


"Dasar kaum raya!! beraninya kamu menipu kami!!"


Orang tersebut memukul Iven dengan tangan yang telah dilapisi angin. Sehingga, membuat Iven terpental jauh dan menimbulkan luka yang mendalam.


"Argghhh...." Iven kesakitan


"Inilah akibatnya telah menipu kami."


"Bagaimana kalau kita bunuh saja dia? Lagian uang yang ia berikan juga tidak seberapa."


"Ahahhaa, Ide yang bagus! kita tinggal mencari orang lain saja!"


"Baiklah, biar aku yang bunuh!"


Orang tersebut mendatangi Iven, Iven yang sudah tidak dapat bergerak hanya dapat menerima nasibnya yang malang. Terlahir menjadi salah satu yang tidak memiliki 'Life' dan mati dibunuh oleh orang yang selalu memerasnya, Iven hanya berpikir bahwa hidupnya tidak ada artinya. Iven iri dengan orang yang memiliki 'Life', Iven iri dengan orang yang memiliki kehidupan yang nyaman, Iven iri dengan orang yang terlahir diluar negara ini.

__ADS_1


Karena ia sudah menerika takdirnya, Iven menutup matanya. Berharap setidaknya kematiannya tidak begitu menyakitkan. Seluruh indera Iven telah dipaksa untuk tidak bereaksi.


.


.


.


Beberapa menit berlalu...


Iven merasa bahwa ia sudah berada di alam yang berbeda. Alam setelah kematian.


Iven secara perlahan membiarkan seluruh inderanya bereaksi seperti semula. Matanya membuka secara perlahan-lahan. Nampak pemandangan yang sama persis sebelum ia mati. Iven berpikir...


"Alam kematian itu seperti ini ya? pemandangan yang ia lihat adalah pemandangan yang sama seperti momen sebelum kematian. Tubuh Iven juga tetap merasakan sakit yang sama seperti sebelum ia mati. Apakah ini adalah bagian dari hukumanku? pikir Iven.


Iven melihat sosok yang tidak ia kenal. Memakai topi petani dan mantel yang menutupi seluruh bagian belakang tubuh itu. "Apakah itu adalah sosok yang akan menghukumku?". Sosok itu kemudian berbalik dan nampak sosok tersebut adalah seorang wanita muda dengan rambut yang panjang. Rambut itu mencapai punggungnya. Pakaian yang ia pakai juga sedikit ketat tanpa lengan, memakai celana panjang, dan membawa sebilah pedang.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Secara perlahan wanita muda itu mendatangi Iven.


"..."


"Sepertinya luka cukup parah juga. Sebaiknya perlu diobati sesegera mungkin."


"..."


"Ba-baik...Apakah kita berada di alam kematian?"


"Alam kematian? apa yang kamu bicarakan. Jangan bicara yang seram-seram seperti itu lagi."


"Hahh? berarti aku belum mati?"


"Tentu saja."


"Tapi, bagaimana kedua orang itu?"


"Ahhh mereka? mereka ada disebelah sana."


Iven melihat arah yang ditunjukan oleh wanita muda itu. Terlihat kedua orang tersebut telah terbaring pingsan disana. Bahkan salah satu orang tersebut telah kehilangan salah satu lengannya.


"A-Apa yang telah kamu lakukan?"


"Yang aku lakukan? hmmmm... apa ya?"


"?"

__ADS_1


"Itu sudah terlihat jelaskan kalau aku mengalahkan mereka berdua."


"!!??"


"Jangan terlihat kaget begitu dong. Aku ini menyelematkan kamu loh."


"Tapi bagaimana? mereka itu preman didaerah ini, jika kamu berkeliaran disini, berarti kamu itu termasuk kaum raya! Bagaimana mungkin seseorang tanpa 'Life' dapat mengalahkan orang dengan pengendalian elemental?!"


"Hmmmm. Ada 2 hal yang kamu keliru disini. Pertama, kamu salah bilang kalau aku tidak mampu mengalahkan mereka berdua. Yang kedua, aku ini punya 'Life' walupun sedikit."


"Walaupun begitu, 'Life' mereka berdua itu tinggi loh. Aura yang kamu punya itu bahkan hampir sama dengan orang yang tidak memiliki 'Life'. Bisa dikatakan mereka berkuasa didaerah ini karena mereka itu sangat kuat!"


"Hmmm, kamu terus menerus bilang kalau mereka itu kuat, namun nyatanya kedua orang itu sangat lemah menurutku."


"Lemah? hahaha berarti kamu itu sangat kuat hah."


"Yang terpenting sekarang adalah pengobatan. Rumah ada disebelah mana?"


"Ahh, sebelum itu, bagaimana dengan mereka berdua?"


"Biarkan saja. Nanti juga ada orang yang akan menemukan mereka berdua. Tenang saja, orang dengan tangan terputus itu, pendarahannya berhenti."


"Hohhh, kalau begitu, tolong bantu aku berdiri."


"Baiklah"


Iven telah bangkit dan menghampiri kedua orang itu dan mengambil uangnya kembali.


"Hey, apakah kamu berjalan sendiri? keliahatannya menyakitkan."


"Ti-tidak apa-apa."


.


.


.


Iven dan wanita muda itu kemudian pergi menuju rumah Iven. Tidak lupa, Iven membelikan roti untuk nenek Rid dan makan malamnya. Tidak lupa pula, Iven membelikan sesuatu kepada wanita muda itu sebagai tanda terima kasihnya. Walaupun, wanita muda tersebut meminta sepotong daging yang harganya 5 kali lipat dari roti, Iven tetap membelikannya.


"Ohhh iya, untuk namu siapa ya? maaf ya soal daging ini, soalnya aku kelaparan hehehe."


"Ohh tidak apa-apa kok. Untuk nama ku sendiri adalah Iven. kalau kamu sendiri?"


"Namaku Dea. Salam kenal ya."

__ADS_1


"Salam kenal juga."


To be Continued...


__ADS_2