
"Well, well, Sekarang enaknya gimana ya Beth?"
"Buat kematian mereka semenyakitkan mungkin An."
Sebuah kata-kata yang menyeramkan. Nampaknya mereka berdua sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Seolah-olah kata 'Mati' adalah kata yang biasa-biasa saja.
"Semenyakitkan mungkin katamu? Bagaimana jika itu berlaku bagi kamu juga?" Dea berusaha untuk mengulur waktu untuk memulihkan tenaganya sebentar.
"Tidak mungkin. Pisau ku ini tidak mungkin meleset." Balas Beth
Namun, rencana Dea untuk mengulur waktu sia-sia. Nampaknya An tidak ambil pusing untuk menyerang mereka berdua. Nampaknya prinsip yang dipakai antara An dan Beth itu berbeda. An lebih senang melakukan semuanya lebih cepat. An melempar tombaknya kearah Dea dengan bantuan elementalnya sehingga membuat kecepatannya naik drastis.
Namun, itu masih belum cukup untuk mengenai Dea. Walaupun Dea membawa beban tubuh Iven, nampaknya itu bukan menjadi masalah yang serius. Hanya dengan sedikit gerakan, Dea dengan mudah menghindari tombak tersebut.
"Oyy Oyy! jangan ganggu kesenangan ku ini An!"
"Diamlah! lebih baik cepat selesaikan ini!"
"Tchh, dasar merepotkan. Padahal tadi kau bilang 'enaknya gimana?'"
"Aku berubah pikiran. Masih ada hal yang perlu aku lakukan."
Karena tombak An sudah tidak pada genggamannya, Dea melihat sebuah harapan. Sudah seharusnya pemilik senjata untuk membuang senjatanya seperti itu. Dengan melapisi kakinya dengan elementalnya, Dea melesat menuju arah An. Tujuan Dea saat ini adalah kabur, dengan melesat menuju ke arah An, Dea berharap untuk membuat An sedikit panik. Namun, raut wajah An tidak menunjukan ekspresi panik sedikitpun. Karena tau hal itu, Dea menyerang An dengan tinjunya. Dan ternyata tinju tersebut dihalau An oleh tombaknya. Karena tumbukan tersebut, menimbulkan gelomabang yang cukup besar, membuat lampu disekitarnya bergoyang sedikit.
Karena serangannya gagal, Dea mengambil langkah ke belakang dan kembali melancarkan tinjunya. Kali ini dengan dilapisi elemental airnya. Dan kembali, An memblokir serangan Dea dan gelombang kejutnya kembali terjadi.
"Sial, bagaimana dia kembali mendapatkan tombaknya?" Pikir Dea dalam benaknya.
Secara reflek, Dea dapat menghindari serangan dari belakangnya. Serangan tersebut adalah pisau yang dilapisi oleh elemental api. Pisau tersebut dilemparkan ke arah Dea secara beruntun. Jumlah yang dilemparkan sangat banyak. Karena jumlahnya yang banyak inilah, membuat Dea terkena sebagian pisau tersebut. Dea terlihat kesakitan dengan luka, namun tidak ada waktu untuk mengeluh. An kembali menyerang Dea, kali ini dengan mengayunkan dengan lihai tombaknya. Karena luka sebelumnya, Dea kesulitan untuk bergerak. Dari seluruh ayunan tombak An, sekitar 3 kali Dea terkana serangan. Karena situasi semakin gawat, Dea melapisi kakinya dan mengambil besar untuk menciptakan jarak antara Dea dengan An dan Beth.
"Bagaimana dengan sekarang Iven? Apakah badan mu sudah bisa digerakkan?"
"Sekarang sudah bisa Dea. Maaf, karena aku kamu terkena serangan mereka."
"Well, yahh. begitulah. Untuk mencari jarak ini, aku memakai seluruh tenagaku. Saat ini, aku tidak sanggup bertarung."
__ADS_1
"Huhh? tidak bisa bertarung? Lalu bagaimana sekarang? Apakah kita akan mati?"
"Huhh, Huhh, pakai lah sarung tangan itu. Bukannya itu berguna?"
"Tapi, ini masih belum sempurna."
"Lakukanlah atau mati!! Setidaknya ulur waktu sekitar 3 menit."
Disaat perbincangan antara Dea dan Iven tersebut, An dan Beth dapat menyusul mereka berdua.
"Ada apa bocah? Apakah kau sudah menyerah?"
"Jangan banyak bicara Beth! Lebih baik kau cepat selesaikan dengan pisau bodohmu itu."
"Iya, iya aku tau. Dasar bikin repot saja."
.
.
Dengan beberapa milidetik lagi pisau tersebut akan mengenai tubuhnya, Iven seperti masuk ke dalam sebuah alam, alam ini seperti bukan alam kematian, namun alam yang berbeda dari itu. Seluruh waktu disana seperti terhenti sejenak. Disana ia seperti melihat sebuah bola melayang. Bola itu terasa seperti tidak asing saat disentuh. Dan benar saja, itu sesuatu yang berkaitan dengan masternya dulu. Saat menyentuh itu, Iven merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Karena itulah, seluruh tubuh Iven seperti tersengat listrik. Dan Iven melihat sedikit memori, entah memori siapa itu.
Dan Iven kembali ke dunia nyata, pada momen pisau tersebut tinggal menamcap di kepalanya, tiba tiba muncul angin disekitar Iven yang mengahalau pisau tersebut. Semua orang disana terkaget-kaget. Begitupun dengan Iven sendiri. Angin yang entah muncul dari mana, datang melindungi Iven.
"Sialan, padahal kau itu hanyalah kaum raya. Bagaimana mungkin..."
"...." An terdiam.
Disisi lain...
"Dea, apakah kau melakukan itu?"
"Tidak, bukan aku. Aku ini bukan pengguna angin."
"Lalu siapa?"
__ADS_1
"Mana ku tahu!"
Pandangan Iven teralihkan, membuat celah pada dirinya untuk diserang, melihat kesempatan itu, An datang kembali menyerang Iven dengan ayunan lihai tombaknya. Dengan beberapa ancang-ancang, An dapat menciptakan sebuah pusaran angin disekitar tombaknya.
Iven kembali melihat kedua orang tersebut akan menyerang mereka kembali. Mungkin tadi hanya kebetulan saja ada angin yang membantunya. Kali ini, Iven perlu untuk menemukan cara untuk mengulur waktu. Dan tiba-tiba, secara sekilas Iven mendengar suara yang halus berbisik pada telinganya.
"Berteriaklah...." Suara misterius itu berbisik
Tanpa pikir panjang, Iven melakukan apa yang ia dengar. Iven berteriak sekencang yang ia bisa. Dan tiba tiba saja pusaran angin muncul datang mengelilingi Iven dan Dea. An yang melihat itu kaget dan mencoba melancarkan serangannya dengan kekuatan penuh. Ayunan tombak An kali ini terasa jauh berbeda dari sebelumnya, nampaknya An sudah mulai serius menghadapi mereka berdua. Saat tombak itu dan angin yang melindungi Iven dan Dea berbentrokkan, tercipta sebuah gelombang kejut hasil bentrokkan tersebut yang membuat area disekitarnya rusak parah. Bahkan An dan Beth yang disana pun terkena dampaknya. Pakaian An robek-robek serta tubuhnya terdapat banyak luka sayatan. Yang lebih parah, Beth terkena gelombang itu pada mukanya, membuat mukanya memiliki luka sayatan yang parah. Hasilnya, muka Beth saat ini penuh dengan darah.
Lalu, Gelombang itu juga membuat An terpental sangat jauh. Iven yang melihat itu menjadi semakin dibuat bingung. Pasalnya, ia hanya mengikuti perintah yang ia dengarkan. Tapi, setelah berteriak itulah, seluruh energi dalam tubuhnya seperti tersedot habis. Keadaanya kini jauh lebih buruk dari sebelumnya. Sebelumnya ia tadi hanya tegang karena melihat pemandangan itu, kali ini tidak ada tenaga yang tersisa. Hasilnya Iven pingsan ditempat.
"Sialan!!! Lihat apa yang telah kau perbuat!!! Tidak akan ku maafkan, Tidak akan ku maafkan!!!" Beth yang marah besar pada Iven karena telah melukai wajah berharganya.
"Setelah kuhabisi dia, akan ku bunuh kau An!!!" Beth menambahkan sambil melihat An yang sudah terkapar lemas dengan tatapan marahnya.
Setelah mengatakan itu, Beth kini benar-benar tidak bermain-main lagi. Ia membuang semua pisaunya dan memanipulasi elementalnya menjadi sebuah pedang besar. Terlihat dengan jelas bahwa sebenarnya ia adalah pengguna pedang besar (claymore). Menggunakan pisau hanyalah sebagian permainan kecilnya.
Beth dengan ancang-ancang mengambil langkah besar, dan langsung melesat menuju Iven yang jatuh pingsan. Saat sudah didekat....
"Well done Iven..." Terlihat Dea yang sudah pulih berkata pada Iven dengan menarik pedang dari sarung pedang yang ia bawa. Terlihat pula saat ia menarik pedangnya, aura air muncul dari pednag tersebut.
Dan hasilnya, bentrok antar 2 pedang dengan elemental yang berlawanan terjadi. Dea dengan katana air nya dan Beth dengan pedang besar apinya. Sebuah pertarungan yang seperti sudah ditakdirkan terjadi!
Karena bentrok tersebut, gelombang kejut kembali terjadi. Walaupun tidak sebesar sebelumnya, gelombang itu dapat dikatakan cukup kuat untuk membuat mansion itu bergetar.
"Jangan halangi aku!! pengguna air!!"
"Jangan khawatir, ini akan cepat selesai."
.
.
.
__ADS_1
To be Continued...