Alpha : The Elemental Guide

Alpha : The Elemental Guide
Chapter 17: The Resistance


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" Dea bertanya dengan serius pada An


"Kalau menurutmu kira-kira apa?" An menjawab dengan senyum yang manis.


.


.


.


"DEA!!!!" Iven terbangun dari tidurnya sambil meneriakkan sebuah nama.


Iven terbangun pada sebuah ruangan yang asing. Ruangan yang cukup nyaman untuk ditinggali siapapun. Yang berarti saat ini ia tidak berada pada daerah kumuh itu lagi. Mungkin ada seseorang yang membawanya kemari.


"Sial, dimana aku? Apakah aku ini sudah mati?"


"Belum kok." Terdengar suara seseorang menjawab secara misterius. Hanya terdengar suaranya saja namun sumber suaranya masih belum jelas.


"Siapa kau?! cepat jelaskan dimana aku? lalu dimana Dea sekarang?"


"Tenanglah sedikit bang, disini tidak akan ada yang melukaimu sekarang, jadi tenanglah."


"Saya tidak peduli itu! cepat jawab pertanyaanku sekarang!" Iven menekan suara itu untuk menjawab pertanyaannya.


"Tch merepotkan sekali. Untuk posisi abang sekarang ini saya tidak bisa jawab, namun untuk gadis itu ada di ruangan sebelah abang. Saat ini, dia..."


Disaat suara itu menyebutkan posisi Dea, Iven langsung pergi keluar ruangannya tanpa mendengar kelanjutan ucapan suara itu.


"Hey! setidaknya dengarkan seluruh ucapanku dulu bang!" Sumber suara itu sepertinya kesal dengan tingkah laku Iven itu.


Saat Iven membuka ruangan sebelah, tepat saat itu pula ia melihat Dea yang sedang melakukan hal yang sama seperti dirinya.


"Sedang apa kamu disini?" Dea bertanya dengan ekspresi wajah datar.


"Kau selamat?"


"Tentu saja aku selamat, lagi pula yang membuat kamu hidup sekarang itu karena aku kan?"


"Te-tentu saja haha" Iven mulai mengeluarkan air matanya.


"He-hey jangan nangis sekarang dong." Wajah Dea mulai memerah, tanda rasa malu saat dirinya dan Iven disitu dilihat beberapa orang.


Dea menarik Iven kedalam ruangannya karena tidak dapat menahan rasa malu itu.


"Sebenarnya ada apa dengan kamu?!" Dea mulai jengkel dengan tangisan Iven itu.


"Ma-maaf Dea. Hanya saja....Aku...." Iven tidak mengungkapkan betapa bersyukurnya dia saat tahu bahwa Dea selamat.


"Sudahlah tenangkan dirimu dahulu. Ada yang perlu ku diskusikan denganmu nanti."


*Iven menggangukan kepalanya*


.


.


.


Saat suasana sudah tenang, Suara misterius itu datang lagi.


"Haduh abang yang satu ini bikin repot saja. Tapi ya, perintah dari tuanku adalah yang mutlak."


"Suara itu lagi?" -Iven

__ADS_1


"Dengar Iven, saat ini kita perlu untuk menumui pemimpin disini. Nasib kita saat ini berada pada tangannya."-Dea


"???"-Iven


"Izinkan saya menjadi pemandu untuk menuntun kalian untuk menemui pemimpin kami. Silahkan ikuti hembusan angin ini." Tiba-tiba muncul hembusan angin yang membawa mereka berdua pada suatu tempat. Saat mereka berdua sudah sampai didepan ruangan tersebut....


"Silahkan masuk, tuanku sudah menunggu kalian disini. Tolong jaga perilaku kalian didepan tuanku jika ingin keluar hidup-hidup ya...Kalau begitu, saya pamit undur diri." Suara itu menghilang tidak terdengar lagi.


Setelah mendengarkan ucapa yang mengerikan dari suara misterius itu, Iven mulai ragu untuk membuka pintu didepannya. Lebih baik saat ini mereka untuk kabur mumpung ada kesempatan. Namun Dea menepuk punggung Iven yang mengisyaratkan untuk tetap tegar. Iven memegang gagang pintu dan masuk kedalam ruangan itu.


.


.


.


Saat masuk kedalam ruangan itu, Iven dan Dea dapat melihat terdapat 3 orang disana. Satu orang dengan badan kecil seperti anak kecil dengan setelan jas dan memakai topi seperti penyihir. Lalu orang yang dikenal Iven dan Dea, itu adalah An yang memakai setelan dress yang memukau. Lalu yang terakhir adalah ada pria dengan setelan jas dengan wajah seram, rambut rapih berwarna putih, dan memiliki mata dengan tanda X di bola mata bagian kananya. Iven yang melihat hal tersebut seketika gemetar. Namun, ia harus dapat menahan itu semua demi keselamatan mereka berdua.


"Selamat datang, selamat datang, selamat datang! silahkan duduk dan nikmati teh terbaik kami!" Orang berbadan kecil itu memulai pembicaraan dengan nada yang penuh riang.


Iven dan Dea hanya menuruti apa yang diucapkan orang berbadan kecil. Mereka berusaha mungkin untuk tidak membuat mereka bertiga tersinggung.


"Hey Dea, beneran tidak apa-apa ini? Rasanya menyeramkan disini."


"Ikuti saja untuk sekarang ini." Dea menjawab dengan muka yang serius. Dea memulai percakapan dengan....


"Pertama-tama tuan, saya ucapkan terima kasih telah membiarkan kami beristirat di tempat yang nyaman ini. Lalu langsung saja, apa yang perlu kami lakukan untuk membalas kebaikan tuan?" Dea memulai pembicaraan dengan sangat serius.


"Tenang sedikit Dea, tidak perlu terburu-buru seperti itu. Apakah kau punya teh yang kau sukai?" Pria berwajah seram ini menjawab ucapan Dea.


"Minuman apapun tidak masalah denganku, bagaimana denganmu Iven?"


"Ahh-ahh, samakan saja denganmu." Iven terlihat gugup.


"Baiklah tuanku."


Ternyata An yang berdiri disamping pria berwajah seram itu memiliki nama asli Eru. Dari pembicaraan ini dapat dilihat bahwa pria berwajah seram ini adalah pemimpin disini.


"Silahkan dinikmati"


"Baik tuan." Dea dan Iven menjawab.


"Cukup dengan kata tuan, kalian bisa menyebut saya Leo."


"Ba-baik tuan Leo." Dea segera mengiyakan. Nampak pula Eru terlihat sangat terkejut dengan pernyataan Leo itu.


.


.


.


"Baiklah, boleh kita mulai sekarang?" Leo memulai pembiacaraan


"Silahkan tuan Leo."


"Sebelumnya apakah saya berbicara denganmu, Iven?"


"Si-silahkan Tuan."


"Mungkin ini sedikit lancang, namun apakah saya boleh meminjam sarung tangan itu sebentar?" Leo mengatakan ini dengan sangat sopan.


"Silahkan..." Iven

__ADS_1


Leo memegang sarung tangan tersebut, terlihat Leo memegang benda tersebut dengan sangat hati-hati bahkan dia sedikit mengeluarkan air matanya.


"A-apakah ada masalah Tuan?"


Leo mengusap matanya dan berkata....


"Tidak apa-apa, hanya saja ini begitu membahagiakan untukku."


Setelah perkataan manis tersebut...Leo mengucapkan satu kalimat..


"Apakah saya boleh memiliki ini?" Perkataan yang diucapkan seperti ucapan yang biasa.


Suasana menjadi hening seketika, tidak ada yang berinisiatif untuk berkata sesuatu sampai pada suatu waktu...


"Tidak boleh." Iven berkata dengan berani pada pria berwajah seram tersebut. Iven melanjutkan


"Tidak peduli sekuat apapun anda. Tidak peduli kalau kau adalah salah satu bagian dari The Numbers, Tidak akan pernah kuserahkan benda itu padamu atau pada siapapun." Iven berkata dengan beraninya walaupun ia tahu kalau didepannya saat ini adalah orang yang sangat kuat.


"The Numbers?" Dea mulai bingung kembali dengan istilah baru baginya.


Karena ucapan Iven yang tidak sopan itu, sontak Eru/An mengeluarkan tombaknya untuk menyerang Iven saat itu pula. Namun, usahanya itu dihadang oleh Dea yang telah melapisi tangannya dengan air.


"Singkirkan tangan itu!! Bocah itu harus dibunuh sekarang juga!!" Terlihat Eru disini sangat tersinggung dengan ucapan Iven yang tidak sopan kepada tuannya.


"Tenanglah..." Dea berusaha untuk membuat suasana kembali dingin.


"Jauhkan tombak itu Eru." -Leo


"Ta-tapi tuanku..."-Eru


"Apakah perintahku kurang jelas Eru? Jauhkan tombak itu sekarang." Leo menatap Eru.


"Ba-baik tuanku, mohon maafkan saya atas kecerobohan saya." Eru kembali pada posisinya semula.


"Boleh kutanyakan kenapa kau menolak permintaan saya?"-Leo


"Be-be-benda itu adalah warisan dari master saya. Master adalah segalanya bagi saya. Master adalah pahlawan sesungguhnya bagi saya. Tidak akan kuserahkan pada siapapun benda terakhir yang ditinggalkan masterku ini!" Iven menjawab pertanyaan Leo dengan penuh percaya diri.


"Hmmm...Hahahaha. Dasar orang itu, bikin repot saja hahahah." Tidak disangka, Leo tertawa dengan lepas setelah mendengar jawaban Iven. Semua orang disana dibuat terheran-heran dengan perubahan yang drastis ini.


"Ada masalah dengan ucapanku?"-Iven


"Tidak, tidak ada masalah. Baiklah Iven, mau bergabung dalam organisasi ini?"-Leo


"Tiba-tiba ditawari...Organisasi apa ini sebenarnya?" Nampaknya rasa takut Iven sudah tidak dapat dirasa lagi. Rasa hormat pada masternya lah yang membuat Iven sekuat ini.


"Hah? kau belum tau?"-Leo


"Belum."-Iven


"Dasar Eru...seenaknya saja." Leo menatap pada Eru. Eru terlihat sedikit gemetar.


"Haahh... begini, ini adalah organisasi penentang pemerintah saat ini. Atau kau bisa menyebutnya Resistance."-Leo


"Resistance..."-Iven


"Jadi bagaimana? Tertarik bergabung?"-Leo


.


.


.

__ADS_1


To be Continued...


__ADS_2