Alpha : The Elemental Guide

Alpha : The Elemental Guide
Chapter 9 : Perpisahan


__ADS_3

"Ahhhh, udah bangun lu?"


"Aghhh, paman?"


"Syukurlah, gua kira lu ga akan bangun."


"Aku kalah ya....maaf ya paman telah mencewakan paman." Dea mulai mengeluarkan air mata.


"Hahahaha, lu udah menang sebenarnya. Secara teknis lu kalah, tapi lu menang karena berhasul membuat semua orang disana tercengang."


"Paman lihat pertandingan aku tadi?"


"Ya."


"Ahhh, malunya...."


"Ya, walaupun performa lu tadi sangat dibawah standar."


"Hahahah, maaf paman."


"Hmmmm...kalau begitu latihan selanjutnya akan lebih keras dari kemarin-kemarin!"


"Siap paman!"


"Omong-omong, lu dikeluarkan dari pelatihan itu."


"EHHHHHHHH?!!"


Saat itu pula, paman Raiden menceritakan bahwa dirinya adalah seseorang yang tidak lahir dari desa watah. Walauupun desa watah sangat tidak menyukai seorang pendatang, karena sebuah alasan, Raiden diizinkan tinggal di desa watah untuk sementara waktu dengan syarat, untuk tidak campur tangan dengan pelatihan. Desa watah sangat menentang akan perubahan. karena, ilmu pengendalian air harus tetap murni untuk selama-lamanya. Namun, karena Raiden melanggar aturan itu, Raiden dan orang yang terlibat (Dea) tidak diizinkan untuk tinggal di desa watah. Dea dan Raiden saat ini sudah harus pergi untuk pergi dari desa watah , apabila masih terlihat di sekitar desa, maka keduanya akan dihukum mati. Saat ini, Dea dan Raiden berada sedang pada sebuah tempat diluar desa dan masih relatif aman. Pada saat itu hari sudah malam, Raiden dan Dea hanya ditemani dengan api unggun kecil untuk menjaga suhu tubuh mereka.


Secara Tiba-tiba, seseorang dari belakang memeluk Dea dengan erat. Ya, orang yang dimaksud adalah Resa, teman dekat Dea. Terlihat sangat jelas, bahwa Resa saat itu sudah menangis. Resa merasa sangat khawatir dengan Dea, karena ia juga menyaksikan pertandingan itu.


"Urghhhhhh, Bodoh, Bodoh, Bodoh." (Resa)


"Auch,Auch. Badan aku masih sakit Resa. Dan kenapa kamu memanggilku bodoh?"(Dea)


"Apakah kau tidak tau betapa aku mengkhwatirkan kamu? Aku tau kalau selama seminggu ini berlatih dengan orang tua itu, namun memaksakan dirimu seprti itu terlalu berlebihan!" (Resa)


"Orang tua!?"(Raiden)


"Dasar kau orang tua yang tidak bertanggung jawab! bagaimana nasib Dea kedepannya setelah ia dikeluarkan dari desa ini!?" (Resa)


"Erghh.."(Raiden)


"Ahhhh....dengar Resa, aku tau kalau aku tidak boleh untuk tinggal lagi didesa ini, namun percayalah kalau aku akan baik-baik saja." (Dea)


"Baik-baik saja? Hey apakah kau tidak ingat dengan ibumu? apakah kamu tidak merasa bersalah karena meninggalkan ia sendirian?" (Resa)

__ADS_1


"Ahhh....AKU BENAR-BENAR TENTANG IBU!!" (Dea)


"Apa kubilang juga, apa kamu akan meninggalkan dia sendiri?" (Resa)


"Itu....akan kuselesaikan hari ini juga, Apa kamu mau ikut menemani aku untuk berbicara dengan ibu?" (Dea)


"Hmmm! baiklah, namun jangan kau kira aku akan berada dipihak kamu!"(Resa)


"Paman, bolehkah?" (Dea)


"Hmmm, segera lakukan. Jangan buang-buang waktu. Informasi mengenai kita pasti akan menyebar dengan cepat. Berhati-hatilah." (Raiden)


"Baiklah paman, ayo Resa.." (Dea)


Dea dan Resa segera untuk pergi menuju rumah Dea dan ibunya, Nata. Dengan perasaan campur aduk, Dea membuka pintu rumah, dan melihat Nata yang sudah duduk di sofa yang biasanya mereka gunakan untuk mengobrol. Nata menengok ke arah Dea dan Resa, terlihat bahwa ekspresi Nata sudah menggambarkan sebuah depresi berat. Dea yang melihat ekspresi itu, tubuhnya gemetar dan membuatnya tidak bergerak. Ini keduanya Dea melihat ekspresi itu.


"Deaaaaa, duduklah."


Mendengar kata-kata itu, Dea hanya bisa mematuhi perkataan ibunya itu. Dea duduk tepat disamping ibunya.


"Ibu sudah mendengar info tentang kamu, tolong katakan bahwa itu tidak benar, Dea."


"A....A....Anu..."


"KATAKAN BAHWA ITU TIDAK BENAR DEA!!" Nata mulai menaikan suaranya. Tanda bahwa emosinya sudah tidak tertahan lagi.


"Aghhh... Jadi itu benar ya?" Nata berbicara pada dirinya sendiri.


"Resa, boleh tidak kalau kamu keluar sebentar nak?"


"Baik tante." (Resa)


*Setelah Resa keluar dari rumah itu*


"Pasti karena kamu dekat dengan orang itu kan? Orang yang bernama Raden."


"...."


"jadi benar ya? hahahahaha."


Walaupun dengan suasana yang tegang seperti itu, Nata tertawa secara keras. Tentu hal itu merupakan hal yang aneh. Mungkin kesehatan mental Nata terganggu.


"I..Ibu?"


"IBU SUDAH KATAKAN KALAU KAMU JANGAN DEKAT-DEKAT DENGAN ORANG ITU! SUDAH IBU BERITAHU KALAU KAMU JANGAN BERURUSAN DENGAN ORANG ITU BAGAIMANAPUN KEJADIANNYA!"


"Maafin Dea bu. Maafin Dea bu. Dea tau kalau Dea itu anak yang nakal tidak taat pada ibu. Maafin Dea bu..." Disini Dea sudah mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


"Sudah ibu katakan berkali-kali...Sudah ibu katakan berkali-kali...." Nata sudah tidak tahan untuk mengeluarkan air matanya dan sambil mulut dengan tangannya.


Nata melanjutkan...


"Apa kah kau akan mengambil sesuatu yang berharga lagi dari aku, Raiden?"Nata bergumam pada dirinya.


"Maafin Dea bu, kalau selama ini Dea hanya menjadi beban untuk ibu. Maafin Dea, kalau selama ini Dea hanya bisa menjadi anak yang lemah dan merepotkan. Maafin Dea, kalau Dea menjadi anak yang tidak bisa ibu banggakan. Namun saat ini, Dea perlu pergi dari desa karena perbuatan Dea sendiri. Ini semua bukanlah salah ibu, ini semua adalah salah Dea sendiri. Oleh karena itu, Dea perlu menebus dosa ini seorang diri bu."


"Apakah karena Dea tidak puas dengan ibu yang membuat Dea pergi dari ibu?"


"Tentu saja tidak, Ibu sudah melakukan semua hal yang Dea inginkan. Hanya Deanya saja yang tidak menyadari itu. Dea tahu, kalau Dea adalah anak yang buruk."


"Kalau begitu, tetaplah bersama ibu kalau ingin anak yang baik."


"Dea sangat ingin bersama ibu, namun..."


"Tolong Dea, tolong tinggallah bersama ibu dirumah ini. Ibu tidak peduli dengan desa ini lagi, asalkan ibu bersama Dea...."


"Dea senang banget mendengar itu, namun Dea perlu pergi dari desa ini. Dea tidak ingin membuat ibu dan orang-orang yang berharga bagi Dea dalam bahaya."


Mendengar perkataan itu, Nata hanya bisa terdiam sambil menangis. Mengikhlaskan anak satu-satunya untuk pergi darinya adalah hal yang paling berat dan harus Nata terima. Nata tidak menyangka hal ini akan terjadi.


Dea menggegam tangan ibunya dan mengatakan....


"Terima kasih atas semua yang ibu berikan selama ini. Seluruh momen bersama ibu adalah kenangan berharga yang tidak ternilai bagi Dea. Seluruh kenangan tersebut, akan Dea simpan baik-baik. Percayalah bu, kalau Dea akan baik-baik saja diluar sana. Mungkin terdengar tidak masuk akal, namun Dea berjanji kalau Dea akan kembali ke desa ini sebagai prajurit terkuat didunia."


"Ahahaha, Dea sudah menjadi prajurit terkuat bagi ibu." Nata mengatakan itu sambil memeluk Dea dengan erat. Yang menandakan bahwa Nata sudah mengikhlaskan kepergian anaknya. Nata merasa lega, karena anak yang ia asuh dari lahir, kini sudah menjadi anak yangluar biasa. Tidak terasa bahwa anak kecil itu, sudah tumbuh besar.


"Jangan lupa dengan janji Dea, kalau suatu hari nanti, Dea harus kembali ke desa ini. Ibu akan menanti Dea disini sepanjang waktu. Dan tolong ingat terus, kalau Ibu selalu berada disisi Dea, mau bagaimana pun kondisinya."


"Terima kasih Ibu, Terima kasih. Dea janji untuk kembali ke rumah ini lagi."


*Setelah itu, Dea akan berpamitan dengan ibunya Nata.*


" Sampai Jumpa Dea, Hati-hati dijalan." Nata menunjukan senyumannya yang hangat.


" Siap laksanakan, bu!." Dea membalas perkataan dengan senyuman.


.


.


.


Setelah Dea berpisah dengan ibunya, setelah keluar dari rumahya, ia melihat sahabat baiknya sedang menunggunya. Dea tahu, setelah ibunya, kini harus meyakinkan Resa untuk ikhlas melepasnya.


"Bisakah kita berbicara sebentar?"

__ADS_1


To be Continued...


__ADS_2