
"Bisakah kita berbicara sebentar?"
Terlihat jelas bahwa Resa tidak setuju dengan kepergian Dea.
"Resa...."
"Jangan bilang kalau akan pergi begitu saja?"
"Resa...Semua sudah terlambat. Walaupun aku sebenarnya ingin tinggal lebih lama di desa ini, namun aku perlu menebus kesalahan ini."
"Bagaimana dengan ibumu?"
"Ibu...ya walaupun ada sedikit konflik, namun.."
"APAKAH KAMU ITU TIDAK PERNAH MEMIKIRKAN PERASAAN IBUMU!? APAKAH KAMU SADAR DENGAN APA YANG KAMU PERBUAT?"
"Aku tahu.Aku tahu. Namun, mau bagaimana lagi. Aku harus segera pergi dari sini. Tidak ada jalan lain."
"Jika begitu, tinggallah bersamaku. dirumahku. Kamu juga tahu kan kalau rumah itu berada disisi terluar desa."
"Resa.."
"Atau setidaknya izinkan aku ikut bersama kamu. Berpetualang bersamamu..." Resa memohon kepada Dea sambil mulai mengeluarkan sedikit air mata.
"Resa, kamu tahukan kalau kamu tidak bisa melakukan itu. Kamu adalah masa depan desa ini. Semua orang banyak berharap pada kamu. Aku, orang tua kamu, dan seluruh warga berharap pada kamu. Kami semua percaya kalau kamu dapat menuntun desa ini kearah yang lebih baik. Ibu dan ayah mu yang telah membesarkan kamu dengan penuh cinta, penuh rasa sabar, dan penuh kebanggan, aku tidak ingin mengambil sesuatu yang berharga dari mereka. "
"Tetap saja, dengan kepergian kamu, aku tidak akan bisa...."
*Dea secara tiba-tiba memeluk Resa.*
"Aku tahu kalau kamu itu kuat Resa, lebih kuat dari siapapun yang aku kenal. Aku tahu kalau kamu dapat mengatasi semua rintangan. Bahkan apabila itu merupakan hal yang mustahil sekalipun."
"Bodoh..Kata-kata manis seperti itu tidak akan membuat aku lu...lu..luh." Resa mulai sulit berkata-kata. Air matanya telah menggangu indra ucapnya itu.
"Aku tahu, untuk sekedar kehilangan salah satu temanmu adalah hal yang mudah bagimu. Kamu pasti akan menemukan teman yang jauh lebih baik dari aku. Teman yang tidak akan membuat kerepotan setiap saat. Teman yang tidak akan membuatmu khawatir setiap saat. Dan teman yang akan selalu untukmu. Aku percaya, kamu pasti akan menemukan orang itu."
"..."Resa berusaha sekuat mungkin untuk mengeluarkan air mata. Ia tidak ingin sahabat terbaiknya itu melihat sisi lemahnya lagi.
Dea menarik badannya dan kedua muka sahabat itu saling manatap.
"Resa, percayalah kalau aku akan baik-baik saja. Percayalah kalau perpisahan ini hanya bersifat sementara. Percayalah kalau aku akan kembali ke desa ini. Jadi, tunggulah dengan sabar dan ubahlah desa ini untukku!" Dea berkata dengan muka penuh percaya diri.
"Ha,ha,ha....Memang kamu itu teman yang selalu bikin repot saja. Baiklah, aku percaya padamu! Kembalilah ke desa saat kamu telah menjadi yang terkuat! jangan kecewa kan aku kembali pokoknya."Resa sambil mengucap matanya, untuk menghapus air matanya.
"Sudah pasti! dan juga tolong jaga ibuku ya..."
Disaat momen perpisahan itu, bawahan master dias, melihat bahwa Dea masih berada disekitar desa. Orang itu adalah orang yang sangat dipercaya master Dias. Dia bernama Kai, sudah menguasai PATL dengan fasih, Sehingga kemampuan dia sudah berada di level tertinggi. Saat ini, dia ditugaskan untuk berpatroli sekitar desa untuk memastikan Dea dan Raiden sudah pergi meninggalkan desa. Namun nyatanya Dea masih berada di dalam desa.
"Hey, kenapa kamu masih ada disini!"
__ADS_1
"Dea, kabur!!!" (Resa)
Dea yang mendengar ucapan Resa pun, dengan cepat menggunakan air yang menyelimuti kakinya untuk membuatnya lebih cepat. Dea dengan segera kabur dari tempat tersebut.
"Tidak akan kubiarkan!"
Sebuah pusaran air berkecapatan tinggi sedang menuju Dea dengan cepat. Dea yang hanya fokus pada pelariannya, tidak menyadari serangan tersebut. Namun, serangan tersebut dihalau dengan tembok es yang tebal.
"Kemampuan itu?...Hahahaha ternyata anak berbakat itu membantu anak itu kabur ya?"
"Tidak akan kuizinkan kau untuk menyentuh Dea sedikitpun!"
"Hahahaha, Mari kita lihat siapa yang lebih diantara kita!"
"Datanglah!"
.
.
.
Di sisi yang lain, Dea yang sudah berada diluar desa, berhenti sejenak untuk mengisi tenaganya kembali.
"Orang itu sudah tidak mengejarku lagi?"
Dea kembali melanjutkan perjalanan untuk menemui Raiden. Dea telah menghabiskan seluruh tenaganya untuk kabur, sehingga saat ini, ia hanya dapat berjalan untuk perjalanannya.
Akhirnya, Dea dapat kembali menemui Raiden. Terlihat dengan jelas, Dea sudah sangat kelelahan. Dan terlihat pula, Raiden yang sudah lelah menunggu.
"Telat!! Lu telat Dea!!"
"Maaf paman, ada sedikit masalah disana."
"Hahh! dasar bocah.."
"Hahaha...."
"Sudahlah, 1 jam lagi kita pergi dari sini."
"Sa..Satu jam? Apakah paman tidak lihat kalau aku kelelahan saat ini?"
"Itu karena kesalahan lu sendiri. Waktu 1 jam sudah cukup."
"Ba.baik paman..."
.
Waktu istirahat itu dimanfaatkan Dea dengan sebaik-baiknya. Menggunakan 'Life' secara berlebihan seperti itu jelas perlu waktu setidaknya satu hari untuk pulih. Namun, karena master Dias mengirimkan anak buahnya untuk berpatroli disekitar desa, Mereka berdua harus segara pergi dari sana. Persiapan selama perjalanan nanti juga sangat sedikit untuk saat ini. Hanya beberapa macam makanan yang telah dikumpulkan Raiden, saat Dea pingsan setelah latih tanding.
__ADS_1
Satu jam pun berlalu. Raiden dan Dea telah pergi dari area sekitar Desa Watah. Dea nampak masih lelah, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk berjalan.
"Hey paman, tujuan kita saat ini kemana ya?"
"Tidak tahu."
"Ti.Tidak tahu?"
"Ya, saat ini kita hanya seseorang yang tidak memiliki rumah."
"Terus, kalau tidak tahu tujuan, apakah kita hanya akan berjalan lurus kedepan?"
"Benar."
"Kenapa tidak menuju desa terdekat saja, atau bahkan negara terdekat saja."
" Pertama, Desa lain juga tidak menerima orang asing, sama seperti desa lu. Kedua, kita adalah seorang kriminal saat ini."
"Kriminal?"
"Desa yang memiliki hubungan kuat dengan seluruh negara, dengan melanggar aturan desa itu, sudah pasti kita akan di cap sebagai krimanal."
"Bukankah kita hanya tidak diperbolehkan untuk menetap di desa? kenapa kita malah menjadi kriminal?"
"Perjanjian nya memang seperti itu, namun semua tidak akan semudah itu dengan adanya orang yang bernama Dias itu."
"Memangnya ada apa dengan Master Dias?"
" Sudahlah, jangan banyak nanya Bocah..."
"Bocah, bocah terus. Aku ini punya nama. Paman ingatkan dengan namaku!?"
"Lu tidak layak disebut dengan nama dengan kemampuanmu saat ini."
"Apa!! Erghhh... akan kubuat paman menyebut namaku, jadi tunggulah saja!"
"Terserah lu aja."
Setelah itu, Dea dan paman Raiden berbincang-bincang sebentar saat diperjalanan. Saat diperjalanan ini pula, Raiden melatih dengan dengan sangat keras. Beberapa kali, Raiden bahkan menyuruh Dea untuk mengalahkan seekor monster yang lebih kuat dari Dea saat itu. Raiden dengan optimis, dapat membimbing muridnya tersebut menjadi prajurit terkuat. Walaupun kedepannya akan banyak rintangan yang menghadang, kisah perjalanan Dea menjadi prajurit terkuat akan terus berlanjut.
.
.
.
.
ACT PERTAMA DARI SERI INI TELAH SELESAI. NEXT ACT 2 : WIND NATION!!!
__ADS_1