Alpha : The Elemental Guide

Alpha : The Elemental Guide
Chapter 18: Lelah


__ADS_3

"Jadi bagaimana? Tertarik bergabung?"


.


.


.


Mendengar pernyataan tersebut membuat Iven terkejut, namun entah kenapa hanya Iven saja yang merasa seperti itu. Bahkan Dea yang bersamanya saja terlihat tidak terkejut sama sekali.


"Tentu saja kamu berhak untuk menolak." Lanjut Leo pada Iven


"Organisasi penentang pemerintah....Tujuannya organisasi ini apa sebenarnya?" Iven bertanya pada Leo.


"Kami membentuk organisasi ini karena kami tidak puas dengan kinerja pemerintah negara ini yang berantakan. Sudah terlalu banyak masalah yang dihadapi oleh negara ini. Suara kami sudah tidak didengarkan oleh orang-orang atas tersebut. Orang-orang itu hanya mempedulikan diri mereka sendiri. Terlebih Alpha itu....."


"Memangnya suara kami yang dimaksud itu siapa? Memangnya kau tau penderitaan orang -orang yang bahkan lebih rendah dari kau? apakah kau mengetahui hal tersebut?" Iven terlihat kesal dengan perkataan Leo sebelumnya yang seperti menderita lebih dari kaumnya.


"Aku tahu kalau penderitaan kami itu masih belum ada apa-apanya dengan orang yang kurang beruntung seperti kau. Namun, apakah kau tidak ingin hal itu berubah? Apakah kalian, orang-orang yang tidak beruntung akan tetap seperti ini? Apakah kalian tidak merasa sakit saat orang-orang memperlakukan kalian lebih rendah dari hewan?"


"....."


"Saya sendiri merasa sakit ketika seseorang diperlakukan dengan tidak pantas. Namun, saya sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Hukum negara ini yang memungkinkan seseorang dengan derajat yang lebih tinggi dapat melakukan apa saja dengan orang dengan derajat lebih rendah. Seseorang telah menyadarkan saya dari semua itu. Semua orang berhak untuk hidup lebih baik, bahkan jika itu orang yang tidak memiliki 'Life' sekalipun." Setelah mengucapkan perkataanya itu, Leo terlihat sedikit mengeluarkan air matanya.


Iven tersentuh dengan kata-kata Leo tersebut, seakan bahwa Leo adalah bagian dari orang-orang sepertinya.


"Namun, orang-orang seperti kami bagaimana bisa berguna? Memangnya apa yang kau perlukan dari ku"


Leo mengangkat sarung tangan yang dipinjam dari Iven tadi dan berkata...


"Benda ini yang akan mengubah segalanya."


Dea terlihat kaget sekaligus kebingungan dengan pernyataan Leo tersebut. Dea menengok kearah Iven yang sama sekali tidak kaget.


"Aku sudah tau dengan itu." Iven menjawab dengan wajah dan nada yang datar.


"Hahahaha. Tentu saja kau sudah tahu. Namun apakah kau tau ini benda apa?"


"Yang kutahu hanyalah benda pemberian masterku."


"Menurutmu, Kenapa benda ini begitu berharga?"


"Saya....tidak tahu."


"Benda ini terhubung dengan suatu tempat. Yang dapat memungkinkan kau dapat mengendalikan elemen tanpa 'Life'."


"Berarti saat itu...."


"Benar, itu karena benda ini. Eru memberitahu padaku saat ia sedang menyamar." Leo melempar sarung tangan itu kepada Iven.


"Bagaimana kau tahu kalau benda ini memiliki kekuatan seperti itu?"


"Tentu saja karena mastermu dulu memberitahu padaku. Dia adalah orang yang menakjubkan."


"Bagaimana kehidupan master dahulu Leo?" setelah mendengar masternya tadi, membuat Iven semakin penasaran dengan latar belakang masternya.


"Kalau itu....rahasia. Saya sudah berjanji untuk menceritakan hal itu."

__ADS_1


Harapan Iven untuk mengetahui masternya itu pupus. Terlihat ekspresi Iven yang sedikit kecewa.


"Jadi bagaimana? apakah mau bergabung?" Leo kembali mengajak Iven


Iven menutup matanya. Lalu....


"Baiklah saya akan bergabung denganmu." Iven berkata dengan penuh percaya diri


.


.


.


Ketika setelah perkataan Iven tersebut, seluruh ketegangan diruangan itu seketika reda. Terlihat Dea terlihat sangat lega dengan setujunya Iven bergabung dengan the resistance. Iven kebingungan dengan semua orang yang terlihat lega itu.


"Ka-kalian kenapa?"


"Tidak, hanya saja aku lega dengan pernyataanmu itu, Iven." Dea segera menjawab pertanyaan Iven.


"Emangnya kenapa jika saya menolak ajakan tuan Leo tadi?" Iven kembali mengajukan pertanyaan.


"Tentu saja akan kubunuh bocah." Eru menjawab pertanyaan tersebut dengan dinginnya.


"Kenapa aku akan dibunuh?" Iven semakin kebingungan.


"Kau menganggu penyamaranku kemarin."


"Hentikan menakut-takuti anggota baru Eru. Apakah kamu mau membuat tuan malu dengan perlakuan mu itu?" Orang misterius itu menegur Eru.


"Hentikan kalian berdua." Leo dengan tegas menyuruh bawahannya itu.


"Ma-maafkan kami tuan" Dua orang itu menjawab.


"Eru, antarkan Iven keruangannya sekarang. Saat ini, kita akan menuju proses selanjutnya."-Leo


"Baik tuanku."-Eru


Iven dan Dea lalu berdiri dan bersiap untuk mengikuti Eru. Namun...


"Dea, kau tetap diruangan ini."-Leo


"Ehh?"-Dea


"Ada yang perlu kita diskusikan terlebih dahulu"


.


.


.


"Tidak usah khawatirkanku Iven, pergi saja ke ruanganmu. Kau perlu banyak istirahat."


"Baik...."


Setelah pintu ruangan itu tertutup, Dea menengok ke arah Leo. Ternyata Leo sudah tidak ada diposisinya semula. Secara tiba-tiba, Leo sudah berada disamping Dea dan mencoba memukul Dea. Secara reflek Dea menghindari serangan itu dan segera menjauh dari Leo.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Dea terheran-heran dengan aksi Leo tersebut.


"Hoohh, lumayan juga." Orang misterius yang bersama Leo itu memuji Dea sambil memberikan tepuk tangan.


"Kenapa kalian menyerangku? kukira aku akan aman berada disini?"


"Kau itu seorang kriminal kan? terlebih kau itu seorang pengendali air." Leo menjawab pertanyaan Dea.


"Tcihh..."


Leo dengan cepat mendekati Dea, namun Dea terus menerus menjaga jarak dengan Leo. Dea melihat orang misterius itu hanya menonton aksi mereka berdua.


Dea melapisi kepalan tangannya dengan air dan mencoba meninju Leo. Namun, Leo dengan mudah menghindari serangan Dea dan melancarkan tinju balasan. Namun, tinju tersebut terlihat bukan seperti tinju biasa namun dengan kepalan tangan yang aneh. Tinju tersebut mengenai dada Dea yang mengakibatkan Dea terlempar jauh.


"Arghhhh." Dea merasa kesakitan dan Dea mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Serangan macam apa itu? kenapa serangan itu begitu menyakitkan?" Dea bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Sudah selesai kah?" Leo bertanya pada Dea


Tubuh Dea sudah tidak dapat digerakkan kembali akibat serangan Leo tadi.


"Apa yang kau lakukan di negara ini? Apakah aku bisa mempercayai mu?" Leo kembali melontarkan beberapa pertanyaan.


Pada dirinya sendiri, Dea menyesalkan keputusannya untuk mempercayai organisasi ini. Andai saja ia membawa pedangnya saat diruangan ini.


Leo mendatangi Dea dan memandangi wajah Dea.


"Pengendali air yang kutahu tidak pernah menggunakan serangan jarak dekat seperti itu? Apakah kau ini spesial?"


"....."


"Lalu kenapa kau bisa menjadi seorang kriminal? apakah kau sudah membunuh orang? Aapakah kau sudah mengkhianati sesuatu"


"....." Dea tidak dapat menjawab pertanyaan Leo karena saat ini kondisinya sulit untuk berkomunikasi.


"Akan kuizinkan kau untuk bergabung dengan organisasi ini. Saat ini, kau itu tidak berguna bagi kami. Setidaknya buatlah dirimu lebih kuat agar bisa kita manfaatkan."


"...."


"Dengar, jika kau berkhianat pada kami, hal yang akan terjadi padamu adalah kematian. Camkan baik-baik Dea."


"....." Saat ini Dea sudah jatuh pingsan.


"Viz, bawa kekamarnya dan rawat dia." Leo berbicara kepada orang misterius yang bernama Viz itu.


"Baik tuanku....Apakah perlu membuat anggota baru kita itu babak belur seperti itu tuanku?"


"Tenang saja, Tindakanku sudah benar. Saya sudah lelah dengan sebuah pengkhiatan."


.


.


.


To be Continued...

__ADS_1


__ADS_2