ANAK BUAH KESAYANGAN

ANAK BUAH KESAYANGAN
Bab 12


__ADS_3

💰


💰


💰


💰


💰


Gerry melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dia merasa gelisah karena Rubby tiba-tiba bersikap aneh kepada dirinya.


"Apa tadi gue salah ngomong ya, sehingga membuat Rubby marah," gumam Gerry.


"Lo kenapa Ger?" tanya Kiting.


"Ga apa-apa."


"Oh iya Ting, sini gue ada sesuatu yang mau gue omongin."


"Apa?" seru Kiting dengan duduk dihadapan Gerry.


"Tapi lo harus janji ya jaga rahasia."


"Ah lo kaya yang ga kenal sama gue saja, gue bisa jaga rahasia tenang saja."


"Sebenarnya semenjak gue masuk ke dalam rumah ini ada sesuatu yang membuat gue penasaran, Ting."


"Apa?"


"Gue suka lihat maid membawa makanan kamar atas dan waktu gue merawat Rubby tadi gue lihat maid itu keluar dari kamar pojok dekat kamar Rubby, gue yakin ada seseorang yang di sembunyikan Rubby."


"Serius lo Ger? apa mungkin Bos cantik menculik seseorang dan mengurungnya disana," celetuk Kiting.


"Sembarangan kalau ngomong, ga mungkinlah Rubby seperti itu. Sumpah gue penasaran Ting, kalau gue tanya kepada Pak Rinto gue ga berani."


"Wah siapa ya yang ada di dalam kamar itu?" sahut Kiting dengan mengelus dagunya sendiri.


"Nanti deh gue pikirkan lagi, ya sudah sana lo pindah ke ranjang lo, gue mau rebahan."


"Ya sudah gue juga mau lanjutin main game dulu."


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam, Gerry masih membolak-balikkan tubuhnya entah kenapa dia kepikiran Rubby terus, dia takut kalau Rubby marah.


"Gerry pun terduduk di atas tempat tidur, dilihatnya Kiting sudah tertidur pulas sekali. Tiba-tiba saja tenggorokkannya kering dan sangat haus. Gerry mengambil gelas dan ternyata airnya habis.


"Astaga, si Kiting kebiasaan kalau sudah habis tidak mau ngisi lagi," gumam Gerry.


Gerry pun beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil minum ke dapur. Dengan langkah gontai, Gerry melangkahkan kakinya tapi baru saja Gerry ingin membuka pintu dapur, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga, dengan cepat Gerry bersembunyi di balik dinding pemisah antara dapur dan ruangan keluarga dan mengintip siapa yang turun.


Rubby, Pak Rinto, seorang maid, dan terakhir Shifu Shen-shen yang menggendong seseorang di punggungnya. Gerry tampak menyipitkan matanya karena gelap jadi Gerry tidak melihat jelas siapa orang yang digendong oleh Shifu Shen-shen.


Sesampainya di bawah, Shifu Shen-shen menurunkan tubuh pria paruh baya itu dan mendudukkannya di sebuah kursi roda.


"Siapa dia?" batin Gerry.


Rubby berjongkok di hadapan Papanya dan menggenggam erat tangan sang Papa dengan deraian airmata.


"Pa, Papa harus sembuh, Papa jangan mikirin Rubby, disini Rubby sudah ada yang menjaga, Papa harus fokus dengan pengobatan Papa dan Rubby akan fokus mengumpulkan banyak bukti mengenai kejahatan Yulia dan Juan, pokoknya Papa harus sembuh kita harus balaskan dendam kita kepada mereka," seru Rubby.


Papa Robby mengangguk...


"Pak Rinto, tolong jagain Papa jangan sampai ada yang tahu mengenai keberangkatan Papa ke Australia, saya sudah menghubungi Dr.syaraf handal yang ada disana untuk mengobati Papa dan saya juga sudah menyiapkan beberapa anak buah, kalian pakai Jet pribadi saja biar cepat sampai," seru Rubby.


"Baik Nona, tapi saya sangat khawatir dengan keadaan Nona disini, saya takut Nyonya Yulia dan Tuan Juan mengetahui keberadaan Nona," sahut Pak Rinto.


"Jangan khawatir Pak, ada Gerry dan Kiting yang menjaga saya di tambah sekarang ada Shifu Shen-shen juga, terus anak buah kita juga sudah tersebar dimana-mana jadi Pak Rinto jaga saja Papa jangan pikirkan saya."


"Baiklah Nona, tapi tolong kalau Nona keluar rumah ajak Gerry dan Kiting jangan pergi sendirian."


"Iya Pak."


Rubby kembali menatap Papanya yang sekarang masih menggenggam erat tangan Rubby, matanya sudah berkaca-kaca ada kekhawatiran di wajah sang Papa dan Rubby bisa melihatnya.


"Papa jangan khawatir, Rubby akan baik-baik saja."


Rubby memeluk Papanya dengan deraian airmata. Sedangkan Gerry yang dari tadi melihat adegan itu tampak terkejut.


"Papa? apa itu Robby Gilbert? tapi bukannya Robby Gilbert sudah dinyatakan meninggal satu tahun yang lalu," batin Gerry.


Rubby pun melepaskan kepergian Papanya dengan deraian airmata, Shifu Shen-shen mengantarkan Papanya dan Pak Rinto ke Bandara. Rubby terduduk di sofa dengan deraian airmatanya, perlahan Gerry mendekat dan membuat Rubby terkejut.


"Ger--gerry."


Gerry duduk di hadapan Rubby...


"Sejak kapan lo ada disini? apa tadi lo melihat semuanya?" tanya Rubby khawatir.


"Iya, tadi gue haus dan berniat akan mengambil air minum ke dapur tapi aku tidak sengaja melihat semuanya, apa maksud semua ini? bukannya Robby Gilbert sudah dinyatakan meninggal satu tahun yang lalu? tapi kenapa barusan gue melihatnya?" tanya Gerry dengan sangat hati-hati.


Rubby menundukkan kepalanya, airmatanya terus-terusan mengalir dipipi mulusnya. Gerry berjongkok dihadapan Rubby dan menghapus airmata Rubby.


"Lo bisa percaya sama gue, gue bukan orang jahat, lo bisa cerita apa pun sama gue jangan pendam masalah lo seorang diri itu tidak baik, mulai sekarang apa pun masalah yang lo hadapi gue akan selalu berada di samping lo, gue bakalan jagain dan lindungi lo walau pun nyawa gue yang menjadi taruhannya," ucap Gerry lembut.

__ADS_1


Rubby menatap mata Gerry lekat-lekat, tidak ada kebohongan disana. Airmata Rubby semakin deras baru kali ini Rubby bisa menemukan seseorang dan Rubby merasa nyaman dengan orang itu.


Gerry membawa Rubby ke dalam pelukkannya, Gerry tidak peduli kalau nanti Rubby akan memarahinya karena Gerry sudah lancang memeluknya tapi pada kenyataannya memang saat ini Rubby sangat membutuhkan seseorang yang bisa dia jadikan sandaran disaat Rubby sedang dalam posisi tidak berdaya.


Cukup lama Rubby menangis dalam pelukkan Gerry, sehingga Rubby mulai menjauhkan diri.


"Maaf Ger."


"Tidak apa-apa, lo bisa cerita sama gue, sebenarnya gue juga merahasiakan identitas gue yang sebenarnya dari lo," seru Gerry dan duduk di samping Rubby.


Rubby menatap Gerry dengan mengerutkan keningnya.


"Gue bakalan cerita yang sebenarnya tapi setelah lo menjelaskan apa yang gue lihat tadi."


Rubby menghela nafasnya...


"Seperti yang tadi lo lihat, orang tadi memang Robby Gilbert Papa gue yang diberitakan meninggal satu tahun yang lalu. Sebenarnya memang selama ini gue yang menyembunyikan Papa, semenjak kejadian gue gagal menikah gue memutuskan untuk menetap di Australia, awalnya semuanya berjalan dengan lancar hingga enam bulan dari kepergian gue, gue dapat kabar dari Pak Rinto kalau Papa mengalami lumpuh, dan ternyata istri dan anak tiri Papa gue yang berada di balik semua ini. Mereka mencampur obat pelumpuh syaraf ke makanan Papa setiap hari supaya Papa meninggal secara perlahan."


Rubby kembali meneteskan airmata tapi dengan cepat Rubby menghapusnya, Gerry memperhatikan Rubby dengan seksama tanpa berniat memotong pembicaraan Rubby.


"Pak Rinto memberikan kabar kalau kondisi Papa semakin hari semakin memburuk bahkan Papa sudah mengalami kelumpuhan dan hal yang mengejutkan lagi, Pak Rinto mengabarkan kalau Yulia menyuruh Pak Rinto untuk membunuh Papa. Pak Rinto membeli sebuah boneka yang mirip dengan manusia dan memakaikan pakaian yang Papa pakai, setelah itu Pak Rinto melempar boneka itu ke jurang, setelah itu Pak Rinto membawa Papa kesini dan bersembunyi disini, tidak ada yang tahu tentang Papa dan barusan gue mau mengirim Papa ke Australia, gue punya kenalan dokter syaraf hebat disana dan mudah-mudahan Papa bisa sembuh supaya gue bisa balas dendam kepada Yulia dan Juan. Oh iya, kalau lo? apa yang sudah lo sembunyikan dari gue?" tanya Rubby dengan menatap wajah Gerry.


"Cerita gue sama sih kaya lo, lo pernah bilang sama gue kalau pemilik PT.SINAR JAYA sudah meninggal karena bunuh diri akibat stres perusahaannya terancam bangkrut."


"Iya gue tahu dari surat kabar, memang apa hubungannya sama lo?" tanya Rubby.


"Nama lengkap gue, Gerry Putera Tanuwijaya anak dari Tanuwijaya yang dibilang sudah mati itu."


Rubby menutup mulutnya karena terkejut...


"Gue bukan bunuh diri karena stres, tapi waktu itu mobil yang gue kendarai tiba-tiba remnya blong dan mobil gue masuk jurang, tubuh gue terpental dan wajah gue hancur karena terkena pecahan kaca, beruntung orang yang menemukan gue adalah seorang Dr.bedah jadi gue di bawa ke rumah sakit dan gue menjalani operasi plastik dan setelah itu gue diangkat anak oleh Dokter itu, tapi belum lama gue diangkat anak Dr.Ahmad meninggal karena kecelakaan dan istrinya pun mendapat serangan jantung dan meninggal juga menyusul suaminya, keluarga Dr.Ahmad mengusir gue dan selama bertahun-tahun gue hidup menjadi gelandangan tanpa tempat tinggal, makan pun hanya mengharapkan belas kasihan dari orang lain."


Rubby menatap iba kepada wajah Gerry, terlihat sekali ada gurat kesedihan yang mendalam di wajah tampannya itu.


"Beruntung gue bertemu dengan Kiting, dia memberi gue pekerjaan dan tempat tinggal hingga akhirnya gue dipertemukan dengan lo."


"Pantesan saja waktu itu lo bisa membantu gue mengerjakan berkas-berkas kantor ternyata lo seorang Presedir juga."


"Mantan lebih tepatnya."


Sesaat terjadi keheningan diantara keduanya..


"Apa lo mau gue bantu untuk mendapatkan perusahaan dan aset-aset lo lagi? secara gue juga punya saham di PT.SINAR JAYA sebesar tiga puluh persen, lo bisa bantuin gue memegang saham itu, pasti lo tahu kan seluk beluk perusahaan lo dan pastinya lo juga tahu kelemahan perusahaan lo, itu akan lebih mudah buat gue jatuhin perusahaan itu dan mengambil alih perusahaan lo lagi," seru Rubby.


"Serius lo mau bantuin gue?" tanya Gerry antusias.


"Kapan gue ga serius."


Saking bahagianya Gerry langsung memeluk Rubby, Rubby hanya diam mematung.


"Sudah jam satu subuh, gue kembali ke kamar dulu ngantuk."


Rubby pun mulai beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Gerry. Gerry tampak tersenyum, dia sangat bahagia akhirnya Rubby mau membantunya secara kinerja Rubby di dunia bisnis tidak perlu diragukan lagi.


***


Keesokkan harinya...


Rubby sudah siap-siap dengan setelan joggingnya, setiap hari minggu Rubby memang sudah terbiasa jogging.


"Nona mau jogging? mau saya kawal Nona?" tanya salah seorang anak buah Rubby.


"Ah tidak usah, aku joggingnya hanya keliling komplek saja tidak akan lama kok."


"Tapi Nona, kata Pak Rinto Nona tidak boleh pergi sendirian."


"Sudah jangan khawatir, kamu meragukan kemampuan beladiriku?" sentak Rubby.


"Maaf Nona."


Rubby pun pergi meninggalkan rumahnya...


Gerry dan Kiting baru saja bangun, dia sudah siap untuk latihan bersama Shifu Shen-shen.


"May, Nona Rubby masih tidur?" tanya Gerry.


"Nona sudah berangkat jogging, Mas."


"Apa? sama siapa?"


"Sendirian Mas, memang Nona Rubby biasa jogging kalau hari minggu."


Tanpa bicara apapun lagi, Gerry langsung berlari menyusul Rubby, sedangkan Kiting tampak mengedipkan sebelah matanya kepada Maya dan membuat Maya tersipu malu.


"Wuidih, tuh cewek cantik banget mana sendirian lagi, kita samperin yuk," ajak seorang pria.


"Ayo."


Kedua pria yang sedang jogging itu pun juga menyusul Rubby dan berlari di sisi kanan dan kiri Rubby, Rubby hanya melirik sebentar.


"Hai cantik, boleh kenalan ga?" seru pria itu.


Rubby tidak memperdulikannya dia terus saja berlari.

__ADS_1


"Sombong banget sih," seru pria yang satunya lagi.


Rubby masih tetap tidak memperdulikannya, hingga akhirnya salah satu pria itu menarik tangan Rubby sehingga Rubby berhenti dengan terpaksa.


"Cantik-cantik kok sombong, jangan sok jual mahal deh."


"Lepasin tangan lo," seru Rubby dingin.


"Hai, jangan sombong jadi cewek aku sumpahin kamu jadi perawan tua baru tahu rasa kamu," sambung pria yang satunya lagi.


Gerry yang baru saja menemukan Rubby, melihat Rubby sedang diganggu oleh dua pria, awalnya dia berniat menghampiri tapi dia ingin melihat dulu reaksi Rubby, Gerry yakin Rubby bisa mengatasi dua pria tidak tahu diri itu.


Rubby menghempaskan tangan si pria...


Bugghh..bughh...bughh...


Satu pukulan Rubby menghantam wajah kedua pria itu sehingga mereka meringis kesakitan.


"Gue sudah peringatkan kalian jangan sentuh gue, tapi kalian malah mengabaikannya, itu akibatnya kalau kalian tidak mendengar ucapan gue," seru Rubby membalikkan badannya dan hendak meninggalkan dua pria tersebut.


"Dasar cewek sialan."


Kedua pria itu ingin memukul Rubby tapi dengan cepat Rubby kembali berbalik dan menangkap kedua tangan pria itu, Rubby memutar tangan keduanya kebelakang, membuat kedunya kesakitan.


"Aduh, ampun..ampun ok kita nyerah kami tidak akan ganggu kamu lagi, maafkan kami."


Rubby melepaskan keduanya dan mereka pun langsung pergi meninggalkan Rubby. Rubby kembali melanjutkan joggingnya lagi. Dari kejauhan, Gerry terlihat tersenyum bangga dan berlari menghampiri Rubby.


"Hai cewek, ikut abang dangdutan yuk," goda Gerry.


Rubby menoleh dan mendelikkan matanya..


"Ngapain lo nyusulin gue? bukannya hari ini lo harus latihan bersama Shifu Shen-shen?" tanya Rubby.


"Iya sih, tapi tadi gue dengar lo pergi jogging sendirian jadi gue memilih nyusulin lo karena takut lo kenapa-napa."


"Gue hanya jogging keliling komplek, jadi ga usah khawatir berlebihan seperti itu."


"Tetap saja namanya juga pergi sendirian, apalagi musuh lo ada dimana-mana, bisa jadi mereka lagi ngintai lo."


Rubby tidak menjawab ocehan Gerry hingga akhirnya kaki Rubby mengalami kram dan Rubby langsung terduduk di jalanan.


"Lo kenapa?"


"Kaki gue kram, Ger."


"Sini lurusin kakinya biar gue coba obatin."


Gerry membuka sepatu Rubby dan mulai mengurut kakinya dengan sangat pelan.


"Bagaimana sekarang?" tanya Gerry.


Rubby menggerak-gerakkan kakinyanya..


"Sudah sembuh, makasih ya Ger."


Rubby pun memakai kembali sepatunya dan mulai meneruskan joggingnya. Disaat Rubby hendak menyebrang, sebuah motor dengan kecepatan tinggi hendak menabrak Runny. tapi dengan sigap Gerry menarik tangannya dan lagi-lagi Rubby jatuh dipelukkan Gerry.


Saking kagetnya Rubby terlihat memejamkan matanya.


"Lo kenapa sih, hobi banget jatuh di pelukkan gue," goda Gerry.


Rubby membuka matanya dan mendorong tubuh Gerry.


"Apa gue ga salah dengar, bukannya lo yang selalu cari-cari kesempatan supaya bisa meluk gue?" ketus Rubby.


"Tapi lo suka kan dipeluk sama gue?" Gerry kembali menggoda Rubby membuat wajah Rubby seketika memerah.


"Dasar nyebelin," ketus Rubby dan langsung berlari meninggalkan Gerry.


Gerry pun akhirnya tertawa karena dia sudah berhasil menggoda Rubby.


💰


💰


💰


💰


💰


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2