
💰
💰
💰
💰
💰
10 tahun kemudian....
"Mami buruan, Gibran hari ini harus cepat-cepat sampai di sekolah karena ada perkenalan guru baru," teriak Gibran dari dalam mobil.
Rubby cepat-cepat keluar dari dalam rumahnya karena mendengar teriakkan putera kesayangannya itu.
"Sayang jangan teriak-teriak Nak, maafkan Mami sekarang Mami tidak bisa antar kamu ke sekolah, kamu bareng sama Papa Kiting saja ya."
"Loh, memangnya kamu mau kemana By?" tanya Kiting.
"Aku harus bertemu klient penting dan ga bisa ditunda soalnya klientku yang satu ini tidak bisa menunggu."
"Ya sudah boy, kita berangkat sekarang."
"Ok, Gibran berangkat dulu ya Mami."
"Iya, kamu hati-hati."
Rubby menghujani ciuman kepada wajah putera semata wayangnya itu. Rubby pun segera masuk ke dalam mobilnya, Rubby tidak mau memakai sopir pribadi karena dia memang lebih suka mengendarai mobilnya sendiri.
Gibran entah kenapa selalu memanggil Kiting dengan sebutan Papa, semenjak Gibran baru belajar bicara, Gibran langsung memanggil Kiting dengan sebutan Papa. Awalnya Rubby membiarkannya saja, karena mungkin karena orang yang selalu ada dengannya adalah Kiting jadi Gibran dengan spontan memanggil Kiting dengan sebutan Papa.
Rubby pikir nanti juga kalau sudah dewasa Gibran akan mengerti dan Rubby akan menjelaskannya tapi sayang, sampai saat ini sampai usianya sepuluh tahun Gibran masih nyaman memanggil Kiting dengan sebutan Papa.
"Boy, ada guru baru ya di sekolahmu?" tanya Kiting.
"Iya Pa."
"Memangnya Mirs.Lusi mau kemana?"
"Katanya sih mau mengundurkan diri, tapi tidak tahu kenapa."
"Oh..."
Tidak lama kemudian, Kiting pun sampai di sekolahan Gibran.
"Pa, Gibran masuk dulu," seru Gibran dengan mencium punggung tangan Kiting.
"Hei, kamu melupakan sesuatu boy," teriak Kiting sehingga Gibran menghentikan langkahnya.
Gibran membalikkan tubuhnya dan melihat Kiting menunjuk pipinya.
"Oh my god, come on Pa disini banyak orang malu masa Gibran harus selalu cium Papa," keluh Gibran.
"Ya sudah, Papa tidak mau nganterin kamu sekolah lagi kalau Mami kamu sedang sibuk dan Papa juga tidak mau datang kalau ada perlombaan lagi," sahut Kiting melipat tangannya diperut dan pura-pura marah.
Gibran menghela nafasnya pelan, dan dengan wajah cemberut Gibran menghampiri Kiting dan dengan cepat mencium pipi Kiting.
"Sudah ya, Gibran masuk dulu."
Gibran langsung berlari masuk ke dalam sekolah, sementara Kiting tampak tersenyum. Kiting pun hendak meninggalkan sekolah Gibran tapi pas dia membalikkan tubuhnya, Kiting menabrak seseorang sehingga buku yang dia bawa berserakan di jalan.
Brrruuukkkk....
"Astaga, maaf Nona saya tidak sengaja," seru Kiting yang langsung membantu wanita itu memungut buku yang berserakan.
"Tidak apa----"
Degggg....
Kedua mata itu saling mengunci satu sama lain, wajah keduanya tercengang karena terkejut. Sementara si wanita sudah sangat pucat, bahkan matanya sudah memerah menahan airmatanya.
"Maaf, sa--sa--ya tidak sengaja."
Dengan cepat-cepat wanita itu membereskan bukunya yang berantakan dan buru-buru masuk ke dalam sekolah. Kiting hanya bisa diam mematung, dia tidak menyangka kalau wanita yang selama ini berusaha dia lupakan justru sekarang ada dihadapannya.
"Celline..." gumam Kiting.
Ya, wanita yang barusan Kiting tabrak adalah Celline, wanita yang selama sepuluh tahun ini menyiksa hati dan pikirannya.
Jujur saja Kiting sama sekali tidak bisa melupakan Celline, wanita pertama yang sudah mencuri hatinya. Walaupun Celline sudah mengkhianati dan membohongi Kiting tapi tidak tahu kenapa Kiting tidak bisa melupakan Celline.
Kiting pun segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju kantor, sedangkan Celline yang berdiri di balik dinding yang dari tadi melihat ke arah Kiting kembali meneteskan airmatanya.
"Maafkan aku Raga, aku tidak menyangka kalau kepindahanku ke Bali ini akan kembali mempertemukan kita," batin Celline.
Semenjak Celline tertangkap dan diserahkan ke Polisi, Celline mendapat hukuman selama lima tahun dan setelah Celline keluar dari penjara, dia berusaha memcari pekerjaan dan karena kegigihannya akhirnya dia mendapatkan pekerjaan.
Celline melanjutkan kuliahnya, tapi kali ini dia mengambil jurusan PGSD ( Pendidikan Guru Sekolah Dasar ), Celline ingin mengabdikan sisa hidupnya untuk menjadi Guru.
Baru satu tahun belakangan, Celline menyelesaikan pendidikannya dan Celline memutuskan untuk pindah ke Bali karena dia melihat iklan di media sosial kalau di sekolah itu ada lowongan untuk menjadi Guru dengan honor yang terbilang besar.
Sebenarnya banyak lowongan untuk menjadi Guru, tapi Celline memilih Bali karena Celline ingin pergi jauh dari Jakarta untuk melupakan kenangannya yang sangat menyakitkan dulu tapi tidak disangka kalau kepergiannya ke Bali justru mempertemukannya dengan pria yang sama sekali tidak bisa Celline lupakan.
***
Di Kantor, Rubby baru saja sampai di Kantor setelah bertemu dengan klientnya di sebuah restoran.
Rubby langsung masuk ke ruangan Kiting karena sudah beberapa kali mengetuk pintu tidak ada jawaban dari Kiting.
"Astaga, pantas saja dari tadi aku ketuk pintu sama sekali tidak kedengaran, ternyata kamu sedang melamun," seru Rubby yang langsung mendudukan dirinya di sofa.
"Eh, sorry By."
"Ngelamunin apa sih? jangan terlalu dalam nanti kamu bisa gila," ledek Rubby.
"Ah kamu bisa aja."
"Oh iya Ting, nanti aku minta tolong lagi ya jemput Gibran soalnya siang ini juga aku harus pergi ke Jakarta ada masalah di perusahaan aku yang disana, aku ga bakalan lama kok besok juga aku sudah balik lagi kesini."
"Hah..ok."
"Kamu kenapa? kok kaya yang lagi bingung kaya gitu?"
"Ah, ga apa-apa."
"Ya sudah, aku cuma mau sampaikan itu doang kalau begitu aku pamit dulu mau langsung ke Bandara."
"Mau aku anterin?"
"Ga usah, aku dianterin sama supir."
"Ya sudah kamu hati-hati ya By."
"Ok."
Rubby pun pergi meninggalkan kantor menuju Bandara, sedangkan Kiting pun kembali mengerjakan pekerjaannya.
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, Gibran sudah pulang dan saat ini sedang menunggu di pos satpam karena sekolah itu kalau ada anak yang belum dijemput, tidak akan dibiarkan pulang sampai ada wali yang menjemputnya.
"Kamu Gibran kan?" tanya Celline.
"Iya Mirs.Celline."
"Kenapa belum pulang?"
"Papa belum jemput."
"Oh, mungkin Papa kamu masih sibuk, ya sudah Mrs.Celline temenin Gibran ya disini sampai Papa Gibran datang."
"Iya, terima kasih Mrs."
Celline dan Gibran terlihat sangat akrab, Celline adalah Guru baru Gibran.
Satu jam kemudian, mobil Kiting sampai di sekolahan Gibran. Dengan langkah yang tergesa-gesa, Kiting pun masuk ke dalam sekolah.
"Maaf boy, Papa tel-----"
Ucapan Kiting terhenti kala melihat Gibran yang sedang asyik ngobrol dengan wanita yang paling Kiting hindari.
"Papa, kok telat sih jemputnya," ketus Gibran.
"Maaf boy, tadi Papa lupa."
"Kebiasaan."
"Papa minta maaf, jangan marah dong nanyi tampannya hilang loh."
__ADS_1
"Oh iya Pa, kenalkan ini Mrs.Celline guru baru Gibran yang gantiin Mrs.Lusi."
Celline menundukkan kepalanya, dia sungguh tidak sanggup menatap mata Kiting. Tapi Celline merasa terkejut saat Kiting mengulurkan tangannya.
"Saya Raga, Papanya Gibran."
"Ce--Celline."
"Yuk Pa, kita pulang Gibran sudah lapar."
"Ok boy."
"Mrs.Celline, Gibran pulang dulu."
Kiting dan Gibran pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Celline yang masih diam mematung.
"Papa..berarti Raga sudah menikah," batin Celline.
Malam pun tiba...
Saat ini Gibran sedang melakukan panggilan Videocall bersama Rubby dan ditemani Kiting dan juga Shifu.
"Hallo sayang."
"Mami, besok ada perlombaan di sekolah dan setiap anak harus datang bersama orangtuanya dan ikut lomba bersama-sama," seru Gibran.
"Ya sudah, besok subuh Mami pulang dan kita ke sekolah bersama-sama, ok boy."
"No Mami, kata Guru Gibran anak perempuan sama Maminya dan anak laki-laki sama Papinya, jadi Gibran harus datang bersama Papi dong bukan Mami."
Seketika Rubby diam membeku tidak tahu harus berbicara apa.
"Sayang, kan ada Papa Kiting kamu pergi ke sekolah sama Papa Kiting saja ya."
"By, aku ga bisa pagi-pagi ada meeting dan palingan aku bisa ke sekolah Gibran pas siangnya," seru Kiting yang berada di samping Gibran.
"Bagaimana kalau kamu sama Shifu saja ya," bujuk Rubby.
"Mami, Kakek Shifu ga bakalan kuat ikutan lomba bisa-bisa Gibran kalah, Kakek Shifu kan sudah tua," keluh Gibran.
"Ya sudah, kalau begitu kamu jangan ikutan lomba saja ya," seru Rubby dengan sangat lembut.
"Mami jahat, padahal Gibran ingin sekali ikutan dan membawa piala itu."
Gibran mematikan sambungan videocallnya dan langsung berlari ke kamarnya. Kiting dan Shifu tidak bisa berbuat apa-apa, begitu pun Rubby yang merasa sangat sakit.
***
Keesokkan harinya...
"Sayang kamu mau kemana? sini sarapan dulu," seru Shifu.
"Tidak Kakek, Gibran mau langsung berangkat ke sekolah," ketus Gibran.
"Wait, Papa antarkan kamu."
"No, aku bisa berangkat diantar supir."
"Tapi boy---"
Shifu menghentikan Kiting..
"Sudah, biarkan saja dia berangkat dengan supir, kamu sekarang cepat berangkat ke kantor supaya meeting kamu cepat selesai dan kamu bisa langsung ke sekolah, kasihan Gibran."
"Baiklah, aku berangkat dulu Shifu."
Disekolah...
Semua teman-teman Gibran sudah sangat bahagia karena hari ini mereka di temani oleh orangtua mereka masing-masing, berbeda dengan Gibran yang tampak murung dengan memainkan bola basket sendirian.
Sorak-sorai sudah mulai terdengar pertanda permainan sudah dimulai. Tidak terasa airmata Gibran menetes, hingga dengan kesalnya Gibran melempar bola basket itu tapi ternyata bola basket itu tidak kembali lagi, seketika Gibran mendongakkan kepalanya dan melihat seorang pria dengan wajahnya dipenuhi bulu-bulu halus yang tumbuh serta memakai topi sedang tersenyum menatap Gibran dengan bola basket di tangannya.
"Hallo, kenapa kamu menangis?"
"Aku sedang kesal karena aku tidak bisa mengikuti perlombaan padahal aku ingin sekali ikut dan mendapatkan piala, tapi aku tidak punya Papi."
"Bagaimana kalau kamu ikutan lomba bersama saya?"
"Hah, serius uncle? uncle mau nemenin aku lomba?" seru Gibran dengan mata yang berbinar.
"Iya, dan kita akan memenangkan lomba itu."
Akhirnya Gibran pun ikut perlombaan dengan ditemani pria yang baru saja dia temui itu. Gibran tampak sangat bahagia karena dia bisa ikutan lomba.
"Loh, itu Gibran sama siapa? perasaan itu bukan Raga deh," gumam Celline.
Gibran dan pria itu bermain dengan semangat, hingga akhirnya permainan pun selesai dan Gibran yang mendapatkan pialanya.
"Wah uncle, kita menang terima kasih ya uncle," Gibran dengan reflek memeluk pria itu.
"Sama-sama, oh iya nama kamu siapa?"
"Nama aku Gibran, uncle. Kalau uncle siapa namanya?" tanya Gibran
Baru saja pria itu ingin berkata, tiba-tiba Celline memanggil Gibran.
"Gibran..." teriak Celline.
"Gibran, uncle pergi dulu ya."
Pria itu langsung pergi meninggalkan Gibran.
"Sayang, kamu tadi sama siapa? itu bukan Papa kamu kan?" tanya Celline.
"Bukan Mrs."
"Lain kali kamu jangan sembarangan dekat dengan orang yang tidak dikenal, bahaya."
"Iya Mrs, maaf. Tapi uncle itu terlihat baik kok Mrs tidak jahat."
"Ya sudah, yuk kita ke depan perlombaanya sudah selesai kamu tinggal tunggu Papa kamu jemput."
Celline pun mengajak Gibran untuk ke depan karena waktu sudah siang dan perlombaan pun sudah selesai.
"Boy, bagaimana perlombaanya?"
"Gibran menang, Pa."
"Menang? memangnya kamu sama siapa?"
"Sama uncle baik tadi."
"Uncle baik?" seru Kiting bingung.
Kiting melihat ke arah Celline dan Celline hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Ya sudah, yuk kita pulang."
"Mrs, Gibran pulang dulu."
"Iya sayang."
Gibran pun masuk ke dalam mobil, tapi Kiting masih berdiri dihadapan Celline membuat Celline salah tingkah.
"Nanti malam, aku tunggu di restoran xxx di pinggir pantai Kuta, aku ingin menyelesaikan masalah yang sudah lama tertunda."
"Hah..."
"Aku tunggu pukul tujuh malam."
Kiting pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju rumah untuk mengantarkan Gibran pulang.
"Loh, Nona mau kemana? bukannya Nona mau istirahat?"
"Aku mau ke kantor dulu Shifu, ada berkas yang tertinggal disana, ga lama kok cuma ngambil berkas doang."
"Mau saya antar?"
"Tidak usah Shifu, aku bawa mobil sendiri."
"Ya sudah kalau begitu Nona hati-hati."
Rubby pun segera melajukan mobilnya menuju kantor, di usianya yang sudah menginjak kepala tiga membuat Rubby semakin cantik dan terlihat anggun.
Bagi orang yang tidak mengenal Rubby, pasti akan mengira kalau Rubby seorang gadis tidak akan ada yang mengira kalau Rubby sudah memiliki seorang anak.
Rubby segera masuk ke dalam lift menuju ke ruangannya.
__ADS_1
Ting...
Pintu lift terbuka tepat di depan ruangan Rubby, mata Rubby melebar, jantungnya berdetak sangat kencang, dan Rubby hanya bisa diam mematung saat melihat seorang pria tinggi, putih, dan gagah berdiri di depan ruangan Rubby dengan memakai jas dan kedua tangannya dia masukkan ke dalam kantong celananya.
Pria itu membalikkan tubuhnya...
Deggg...
Pria yang selama ini Rubby rindukan sekarang sudah berada di hadapannya, penampilannya sangat berbeda dengan tadi pagi saat bertemu dengan Gibran puteranya, sekarang penampilan Gerry sudah rapi dan tampan.
Rubby kembali masuk ke dalam lift dan memutuskan untuk pergi, dengan deraian airmata Rubby segera menuju parkiran, tapi disaat Rubby hendak membuka pintu mobil, Gerry dengan cepat menutupnya kembali.
"Minggir..."
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu lagi sudah cukup sepuluh tahun aku menderita jauh darimu dan anak kita."
"Awas aku mau pergi."
Gerry menarik tubuh Rubby ke dalam dekapannya walaupun Rubby berontak tapi Gerry tidak melepaskan pelukkannya malah pelukkannya semakin erat.
"Lepaskan aku Gerry, aku benci sama kamu, aku benci," seru Rubby dengan terus memberontak.
Satpam yang melihat kejadian itu hendak menghampiri Rubby tapi Kiting yang baru saja sampai di kantor setelah mengantarkan Gibran menahannya.
"Jangan ganggu mereka, biarkan saja."
Mendengar ucapan atasannya itu, Satpam itu pun menurutinya dan pergi. Kiting tersenyum dan ikut pergi meninggalkan mereka berdua.
"Maaf..maafkan aku sayang, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan," seru Gerry dengan deraian airmata.
Rubby terus saja berontak tapi kekuatannya tidak sebanding, dan akhirnya Rubby hanya bisa menangis tersedu-sedu dipelukkan Gerry.
"Maaf..maaf..maaf."
Hanya itu yang bisa Gerry ucapkan, Gerry menghujani ciuman di pucuk kepala Rubby. Hingga akhirnya Rubby luluh juga, karena di dalam hatinya paling dalam Rubby sangat mengrindukan Gerry.
Perlahan Rubby membalas pelukkan Gerry dan itu membuat Gerry senang dan tersenyum. Cukup lama Gerry dan Rubby saling berpelukkan dan Gerry pun melepaskan pelukkannya.
Dilihatnya wajah cantik sang istri dan menghapus airmatanya.
"Istriku semakin cantik saja," goda Gerry.
"Apaan sih."
Wajah Rubby seketika memerah dan kembali memeluk Gerry dan menyembunyikan wajahnya didada bidang milik Gerry membuat Gerry terkekeh dengan tingkah istrinya itu.
"Jangan ketawa, aku malu tahu," rengek Rubby.
Gerry semakin tertawa mendengar rengekkan Rubby, sehingga membuat Rubby kesal dan menghujani perut Gerry dengan cubitan.
"Aw, sakit sayang ampun."
"Syukurin," sahut Rubby melipat tangannya diperut dengan wajah yang cemberut.
Gerry dengan cepat mencium pipi Rubby sehingga membuat Rubby terperanjat.
"Maaf, ayo kita pulang aku ingin melihat putera kita."
"Pasti dia senang banget."
Gerry pun mengambil kunci mobil dari tangan Rubby dan mulai melajukan mobilnya, selama dalam perjalanan Gerry tidak melepaskan tangan Rubby dan menciumnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di Mansion Rubby. Shifu yang sedang duduk di teras langsung berdiri dan tersenyum melihat kedatangan Gerry.
"Shifu.."
"Selamat datang Gerry."
Gerry memeluk Shifu...
"Shifu, Gibran mana?" tanya Rubby.
"Ada dikamarnya Nona."
"Ya sudah yuk, kita temui Gibran," ajak Rubby.
Rubby dan Gerry pun naik ke atas menuju kamarnya Gibran.
Tok..tok..tok..
"Sayang, Mami masuk ya."
Rubby pun masuk ke dalam kamar Gibran dan Gerry hanya berdiri di depan pintu kamar.
"Mami darimana saja? Gibran lapar, belum makan," rengek Gibran.
"Ya ampun jagoan Mami belum makan?"
Gibran memiringkan kepalanya melihat seseorang yang sedang berdiri didepan pintu.
"Uncle, bukannya kamu uncle yang tadi main perlombaan bersama Gibran," seru Gibran.
Rubby menaikkan satu alisnya dan menatap ke arah Gerry.
"Mami kok kenal dengan uncle itu?"
Rubby memegang kedua pundak Gibran..
"Sayang, dia adalah Papi kamu."
"Apa? uncle itu Papi Gibran?" tanya Gibran tak percaya.
"Iya, namanya Gerry dia Papi kamu."
Mata Gibran berkaca-kaca...
"Benarkah Mami, uncle itu Papi Gibran."
"Iya sayang."
Perlahan Gibran melangkahkan kakinya mendekat ke arah Gerry, bahkan saat ini airmata Gibran sudah menetes. Sedangkan Gerry saat ini sudah bertumpu pada kedua kakinya dan merentangkan kedua tangannya.
"Pa--pi..."
"Iya sayang."
Gibran dengan cepat berlari dan memeluk Gerry, airmata Gerry seketika tumpah. Gerry menciumi putera kesayangannya itu dengan perasaan terharu.
"Maafkan Papi sayang."
Rubby pun ikut menangis dan menghampiri kedua pria yang sangat dia sayangi, Rubby ikut memeluk Gerry dan Gibran. Gerry bergantian menciumi wajah Gibran dan Rubby, sungguh Gerry sangat rindu dengan anak dan istrinya.
"Papi akan menebus semua waktu yang sudah terbuang sia-sia, apa kalian tahu kenapa Alloh menciptakan rindu?" tanya Gerry.
Gibran dan Rubby melepaskan pelukkannya dan sama-sama menggelengkan kepalanya.
"Sebab, Alloh ingin mengajarkan kita agar selalu menghargai sesuatu yang ada, sebelum ia tiada."
Gibran dan Rubby mencium pipi Gerry..
"Kami sayang Papi," seru Gibran dan Rubby bersamaan.
Akhirnya mereka bertiga tertawa bersama.
💰
💰
💰
💰
💰
Alhamdulillah, akhirnya karyaku selesai juga terima kasih all yang sudah memberikan vote dan giftnya🙏🙏😘😘
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1