
💰
💰
💰
💰
💰
Keesokkan harinya....
Gerry sudah sangat tampan dengan menggunakan jas kerjanya, mulai hari ini Gerry mulai menjalankan tugasnya memegang perusahaan Rubby. Sedangkan Rubby akan diam di rumah dan pantau kinerja Gerry dari rumah.
"Bagaimana, lo sudah siap?" tanya Rubby disela-sela makan sarapannya.
"Insyaalloh siap dan harus siap," sahut Gerry.
"Bagus, dan lo Ting mulai besok lo lanjutin kuliah lo, gue sudah daftarin lo di universitas terbaik disini, gue mau lo juga ngerti bisnis dan bantuin Gerry," seru Rubby.
"Serius Bos, Kiting bakalan kuliah?" tanya Kiting tidak percaya.
"Iya, semuanya sudah gue urus lo tinggal masuk saja dan belajar yang rajin," sahut Rubby
"Terima kasih Ya Alloh, engkau sudah menurunkan bidadari penolong untuk Kiting. Terima kasih Bos, Kiting memang ingin sekali kuliah, Kiting janji akan belajar yang rajin."
"Jangan jelalatan sama cewek," ledek Gerry.
"Kalau itu gue ga janji Ger," sahut Kiting dengan cengirannya.
Mereka pun sudah menyelesaikan sarapannya, Gerry berangkat ke kantor dengan ditemani oleh Kiting, sedangkan Rubby memilih naik ke atas menuju kamarnya.
Rubby tampak mondar-mandir di kamarnya...
"Ya ampun, besok gue harus jawab apa? pasti Gerry bakalan menagih jawaban dari gue," gumam Rubby.
Rubby teringat sesuatu, dia pun bergegas mengganti pakaiannya. Setelah rapi, Rubby pun turun ke bawah dan meminta salah satu anak buahnya untuk menemaninya ke suatu tempat.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Rubby pun berhenti di sebuah pemakaman umum.
"Kamu tunggu saja disini, saya tidak akan lama kok," seru Rubby.
"Baik Nona."
Rubby pun segera melangkahkan kakinya menuju makam Ardi yang tidak lain adalah calon suaminya.
Rubby menaburkan bunga ke atas makan Ardi kemudian Rubby berjongkok di samping makam Ardi sembari mengusap nisan yang bertuliskan nama calon suaminya itu.
"Apakabar sayang, maaf aku baru bisa menemuimu, semenjak kepulanganku dari Australia banyak sekali masalah yang timbul sehingga aku sedikit sibuk, jangan marah ya," ucap Rubby dengan bibir yang bergetar.
Rubby menundukkan kepalanya, bulir bening itu menetes dari balik kacamata hitam yang dipakainya. Pundaknya bergetar hebat, hatinya sangat sakit saat membayangkan bagaimana kematian calon suaminya di depan mata kepalanya sendiri.
"Maafkan aku sayang karena aku belum bisa menemukan pelakunya, tapi aku janji aku akan menemukan mereka dan aku akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri," seru Rubby dengan kebencian yang menyelimuti dirinya.
Cukup lama Rubby di makan Ardi, hingga matahari pun sudah mulai menyengat, Rubby pun tersadar.
"Sayang, aku pulang dulu aku akan sering-sering mampir kesini, aku sangat merindukanmu."
Rubby mencium batu nisa Ardi dan mengusapnya.
"I love you, Ardi."
Rubby pun mulai beranjak dan melangkahkan kakinya meninggalkan area pemakaman. Sedangkan anak buah Rubby yang dari tadi menunggu Rubby sudah sangat gelisah, takut tiba-tiba ada musuh menghampiri.
Rubby pun masuk ke dalam mobil, selama dalan perjalanan Rubby hanya melamun. Hingga di pertengahan jalan, Rubby tidak sengaja melihat tiga orang pria yang sedang bercanda dan tertawa-tawa dengan minuman kaleng di tangannya.
"Berhenti," perintah Rubby.
Anak buahnya pun menghentikan mobilnya, Rubby mencoba memfokuskan dan mengingat semuanya, tiba-tiba matanya melotot setelah Rubby ingat sesuatu. Ya, Rubby ingat mobil jeep itu, mobil yang tiga tahun lalu menghampiri rumahnya dan menembak Ardi dengan sadisnya.
Rubby mengepalkan tangannya, matanya memerah menahan amarah dan dengan cepat Rubby keluar dari mobilnya.
"Nona, Nona mau kemana?" tanya sang anak buah yang terkejut dengan sikap Rubby.
Rubby tidak menghiraukan teriakan sang anak buah yang khawatir, dia hanya terus melangkah menghampiri ketiga pria yang saat ini sedang tertawa bersama.
"Sialan, kali ini kalian tidak akan bisa lolos dari gue," gumam Rubby dengan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Rubby menghampiri ketiganya dan berdiri menatap orang-orang itu.
"Wow, ada cewek cantik menghampiri kita."
"Hai cantik, ada apa? apa kamu mau ikut dengan kita bersenang-senang," goda salah satu dari mereka.
"Jarang-jarang ada cewek cantik yang menawari dirinya kepada kita, apa kamu sedang membutuhkan uang sehingga menghampiri kita," seru yang satunya lagi.
Rubby tidak bergeming dengan godaan ketiga pria itu, Rubby malah semakin emosi dibuatnya. Sementara sang anak buah segera menghubungi Gerry karena takut Bosnya kenapa-napa. Bukannya dia tidak berani melawan mereka bertiga, sudah jelas kemampuan beladiri anak buah Rubby tidak bisa diragukan lagi, tapi dia takut masih banyak lagi orang-orang itu yang nantinya akan datang.
Gerry yang saat ini sedang mempelajari berkas-berkas, terganggu saat ponselnya berbunyi, dengan cepat Gerry mengangkatnya.
"Iya, ada apa?" tanya Gerry.
"........"
"Apa? ok..ok..gue bakalan segera kesana, lo harus tetap awasi Rubby," sahut Gerry dan memutuskan sambungan telponnya.
"Ada apa Ger?" tanya Kiting.
"Kita harus segera pergi, Rubby dalam bahaya."
Gerry segera berlari dan disusul oleh Kiting, mereka berdua cepat-cepat melajukan mobilnya ke alamat yang disebutkan oleh anak buah Rubby.
"Kenapa diam saja cantik," seru orang itu dengan mencolek dagu Rubby.
"Itu mobil siapa?" tanya Rubby dingin.
Ketiganya menoleh ke arah mobilnya dan tertawa bersama.
"Kenapa cantik? itu mobil saya," seru salah satu pria itu dengan bangganya.
Buuuggghhh....buuuggghhh...
Tanpa aba-aba lagi, Rubby langsung memukul orang yang mengaku pemilik mobil itu, sehingga pria itu terhunyung ke belakang akibat pukulan Rubby.
"Cewek sialan, berani-beraninya lo mukul gue," seru pria itu dengan memegang wajahnya yang terasa sakit.
"Wah cari gara-gara lo."
Kedua teman pria itu langsung menyerang Rubby dan seketika perkelahian pun tidak terelakkan, anak buah Rubby yang melihat Bosnya diserang langsung berlari dan menolong.
Pria itu sudah terkapar dijalanan dengan luka dan darah yang mengalir dari hidungnya, tapi Rubby terus memukul orang itu dengan membabi buta dengan deraian airmata.
"Katakan siapa yang sudah menyuruh lo untuk membunuh Ardi," bentak Rubby yang terus memukul pria itu.
Gerry yang melihat Rubby langsung menghampirinya dan menarik tubuh Rubby supaya menghentikan pukulannya.
"Sudah Rubby, orang itu sudah pingsan," sery Gerry.
Tapi Rubby terus berontak, amarahnya semakin tak terkendali melihat orang itu. Gerry dengan sekuat tenaga memegang Rubby dan memeluknya dengan erat walaupun Rubbt terus saja berontak dipelukkannya.
"Sabar Rubby, orang itu sudah pingsan kalau lo terus pukulin dia bisa jadi orang itu mati dan lo ga bakalan tahu siapa pelakunya," seru Gerry yang terus saja memeluk Rubby.
"Pak, bawa orang itu ke rumah sakit dan jaga orang itu dengan para pengawal jangan sampai dia meloloskan diri dan kabur karena orang itu merupakan saksi kuncinya," seru Gerry.
"Baik Mas Gerry."
Anak buah Rubby pun segera membawa pria yang sudah tidak berdaya itu masuk ke dalam mobilnya dan membawanya ke rumah sakit seperti yang diperintahkan oleh Gerry.
Nafas Rubby begitu terengah-engah akibat emosi yang memuncak, dan sedetik kemuduan Rubby mendorong tubuh Gerry.
Buuugghhh...
Rubby memukul pipi Gerry, sehingga Gerry memegang pipinya yang terasa sakit itu.
"Kenapa lo menghentikan gue, gue mau bunuh orang itu dengan tangan gue sendiri," bentak Rubby dengan deraian airmatanya.
"Rubby lo dengerin gue dulu, kalau lo tidak menghentikan aksi lo dan orang itu sampai mati, lo ga bakalan tahu siapa pelaku dibalik penembakan itu, jadi biarkan dia hidup baru setelah itu kita tanya dia siapa yang menyuruh dia," sahut Gerry.
Tapi hawa nafsu sudah menguasai hati dan pikiran Rubby, dengan wajah yang merah padam karena penuh dengan emosi, Rubby meninggalkan Gerry dan Kiting, kemudian dengan cepat menghentikan taxi.
"Rubby tunggu," teriak Gerry yang mengejar taxi Rubby.
"Ger, kita kejar gue takut Bos cantik melakukan hal yang macam-macam," seru Kiting.
Gerry dan Kiting pun segera masuk ke dalam mobilnya dan mengejar taxi yang ditumpangi oleh Rubby. Setelah sekian lama mengikuti, ternyata mobil Rubby berhenti didepan rumahnya dan itu membuat Gerry dan Kiting merasa lega.
__ADS_1
Rubby segera berlari ke dalam rumahnya dan dengan cepat naik keatas menuju kamarnya. Gerry hanya menatap miris Rubby, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Ting, sebaiknya lo diam saja disini jagain Rubby, gue harus kembali ke kantor masih banyak pekerjaan yang harus gue urus, kalau ada apa-apa lo cepat hubungi gue," seru Gerry
"Ok, lo jangan khawatir gue bakalan jaga Bos cantik."
Gerry pun pergi meninggalkan rumah menuju kantor.
Sementara itu dikamar Rubby, Rubby menangis sejadi-jadinya, dadanya begitu sesak mengingat kejadian tiga tahun lalu dan dia harus kehilangan orang yang sangat dia cintai.
"Ah sial...bresengsek..." teriak Rubby.
Karena lelah menangis, akhirnya Rubby pun terlelap tidur dengan pulasnya.
***
Disebuah padang rumput yang sangat luas dan indah, Rubby tampak celingukkan mencari seseorang. Dia begitu bingung, kenapa dia bisa sampai berada di tempat itu.
Disaat Rubby sedang kebingungan, dari kejauhan Rubby melihat seorang pria dengan pakaian serba putih berdiri membelakanginya. Rubby sangat kenal dengan sosok itu, pria yang selama ini dia cintai dan dia rindukan.
Perlahan Rubby mendekat...
"Ardi...." lirih Rubby.
Pria itu pun membalikkan tubuhnya, wajah tampan yang selama ini Rubby rindukan saat ini sudah menampilkan senyumannya.
"Ardi...."
Ardi tersenyum dan merentangkan kedua tangannya, Rubby langsung berlari memeluk ardi dan seketika tangisannya pun pecah.
"Ardi, aku sangat merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu, Rubby."
"Ardi, bawa aku bersamamu, aku sudah lelah menjalani hidup ini."
Ardi melonggarkan pelukkannya dan menatap wajah cantik Rubby dengan dalam, kemudian Ardi mengusap airmata Rubby dengan tangannya.
"Kamu jangan ngomong seperti itu sayang, akan ada seseorang yang akan menjaga dan melindungi kamu, bukalah hatimu jangan tutup hatimu untuk pria lain, dia pria baik-baik dan akan membuatmu bahagia," seru Ardi.
"Dia siapa?" tanya Rubby bingung.
Ardi tersenyum dan mencium kening Rubby..
"Berbahagialah, lupakan aku, bukalah lembaran baru kamu pantas mendapatkan kebahagiaan," seru Ardi.
Ardi memundurkan tubuhnya...
"Ardi kamu mau kemana? jangan pergi."
"Selamat tinggal Rubby."
Perlahan bayangan Ardi pun mulai memudar dan akhirnya menghilang.
"Ardiiiii....." teriak Rubby.
Rubby terbangun dengan airmata yang terus mengalir dan keringat yang membasahi wajah dan tubuhnya. Rubby kembali menangis dan memeluk kedua lututnya.
💰
💰
💰
💰
💰
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU