ANAK BUAH KESAYANGAN

ANAK BUAH KESAYANGAN
Bab 13


__ADS_3

💰


💰


💰


💰


💰


Sementara itu di sebuah rumah mewah, seorang wanita yang masih terlihat sangat cantik meskipun usianya sudah tidak muda lagi sedang menyesap teh hijaunya, tatapannya ke depan seperti sedang memikirkan sesuatu.


***


Flash back on...


"Yulia maafkan Papa, perusahaan Papa dinyatakan bangkrut, Papa kalah dari musuh bubuyutan Papa yaitu Ruslan Gilbert, dia sangat sulit dikalahkan hingga saat ini perusahaan Papa kalah dan dia yang menang," seru Andi Rahman yang tidak lain adalah Papanya Yulia.


"Apa? jadi kita akan jatuh miskin Pa?"


"Iya, maafkan Papa dan rumah ini pun akan disita oleh Bank jadi kita harus segera mengosongkan rumah ini."


"Tidak Pa, Yulia tidak mau jatuh miskin bagaimana dengan Juan? dia masih terlalu kecil untuk merasakan penderitaan," sahut Yulia dengan deraian airmatanya.


"Terus kita harus bagaimana lagi, coba kamu minta bantuan kepada Sammy suami kamu kali saja dia bisa membantu kit," seru Andi Rahman.


Yulia pun segera menghubungi Sammy suaminya yang saat sedang berada di kantor dan tidak lama kemudian, Sammy pun datang dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Mas----"


Sammy melayangkan tangannya diudara sehingga menghentikan Yulia yang ingin berbicara.


"Aku sudah tahu bagaimana nasib perusahaan Papa kamu, awalnya aku menikahi kamu karena kamu adalah seorang anak dari Andi Rahman tapi sekarang Papa kamu sudah bangkrut, apalagi yang harus aku pertahankan? aku minta kita cerai," seru Sammy.


Jedaaarrr bagaikan disambar petir disiang bolong, Yulia harus menelan pil pahit kalau suaminya menggugat cerai dirinya.


"Tapi Mas, bagaimana dengan Juan?"


"Kamu urus saja sendiri, aku sudah tidak peduli lagi," sahut Sammy dan pergi meninggalkan Yulia.


Sementara itu Andi Rahman tampak memegang dadanya, dia tidak menyangka kalau menantunya selama ini memanfaatkannya.


"Pa, Papa kenapa?" seru Yulia panik.


Yulia bingung, harus melakukan apa kalau dibawa ke rumah sakit, dia tidak tahu harus membayar dengan apa sedangkan saat ini dia sama sekali tidak mempunyai uang.


Hingga akhirnya Yulia harus melihat Papanya meregang nyawa dipangkuannya sendiri. Hancur dan sakit itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh Yulia. Dia harus berjuang menjalani hidup demi anak semata wayangnya yaitu Juan.


Perasaan sakit dan hancurnya membuat Yulia berubah menjadi sosok yang jahat dan ambisius, dia punya rencana kalau dia juga akan menghancurkan keluarga Gilbert seperti mereka menghancurkan keluarganya sampai berkeping-keping.


Yulia mencari tahu mengenai putera tunggal Ruslan Gilbert yang tidak lain adalah Robby Gilbert. Yulia berencana akan merayu Robby dengan segala cara, apalagi Yulia tahu kalau saat ini Anggun yang merupakan istrinya sedang hamil besar, Yulia ingin Anggun juga merasakan penderitaan yang dia rasakan.


Singkat cerita, seakan mendapatkan angin segar Robby Gilbert saat ini sedang mencari seorang ART untuk rumahnya dan Yulia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan Yulia sangat beruntung karena Robby Gilbert dan Yulia menyukainya, hingga akhirnya Yulia bisa masuk ke rumah itu dan membawa Juan ikut serta.


Hari demi hari Yulia jalani dengan sungguh-sungguh, dia ingin mendapatkan perhatian dulu dari penghuni rumah nanti setelah merek percaya kepada Yulia baru Yulia akan menjalankan rencananya.


"Aw..." keluh Anggun.


"Kenapa Nyonya?" tanya Yulia.


"Tidak tahu Yul, perut aku sakit."


"Ah jangan-jangan Nyonya akan melahirkan, sebentar saya panggilkan dulu sopir untuk membawa Nyonya ke rumah sakit."


Yulia membawa Anggun ke rumah sakit, Robby sampai berlari karena mendapat kabar istrinya akan melahirkan. Setelah menunggu beberapa saat, anak yang dinanti-nanti keduanya pun akhirnya lahir, anak perempuan yang sangat cantik dan diberi nama Rubby Caesa Gilbert.


Kehadiran Rubby semakin menambah kebahagiaan keluarga Gilbert dan itu membuat Yulia merasa jengah dan muak. Yulia diam-diam memasukkan sianida ke makanan Anggun hingga Anggun seketika meregang nyawanya. Yulia pura-pura tidak tahu bahkan disaat polisi melakukan pemeriksaan, Yulia menangis tersedu-sedu membuat semuanya percaya dengan akting Yulia.


Semenjak kematian istrinya, Robby tampak sangat sedih bahkan dia banyak diam dirumah untuk menemani Rubby dan mempercayakan perusahaan kepada Pak Rinto. Yulia ikut mengasuh Rubby, Robby sangat kagum dengan rasa sayang yang Yulia tunjukkan untuk Rubby hingga lama-kelamaan Robby merasa jatuh cinta kepada Yulia.


Itulah sebenarnya tujuan Yulia mencari perhatian Robby supaya Robby bisa menikahinya. Rencananya pun berhasil, Robby akhirnya menikahi Yulia dan sejak saat itu Yulia berjanji pada dirinya sendiri akan menghancurkan Robby dan anakknya.


Satu persatu rencananya dia jalanni, perusahaan dan aset milik keluarga Gilbert mulai jatuh ke tangannya, Yulia juga ingin membunuh Robby secara perlahan dengan memberikan Robby obat pelumpuh syaraf setiap hari tapi sayang Robby masih diberi umur panjang, hingga akhirnya Yulia menyuruh Pak Rinto untuk membunuh Robby dengan cara melemparnya ke jurang.


Pak Rinto pura-pura menuruti semua keinginan Yulia dan justru itu dibuat kesempatan untuk Pak Rinto membawa Robby keluar dari rumah itu. Rencana Pak Rinto berhasil, Yulia dan Juan tidak tahu kalau Pak Rinto membawa pergi Robby, setelah itu Pak Rinto memerintahkan seseorang untuk membuat berita kalau dirinya masuk penjara karena ketahuan membunuh dan surat kabarnya dikirimkan kepada Yulia dan untungnya Yulia dan Juan percaya.


Flash back off..


"Tinggal satu lagi yang harus disingkirkan yaitu Rubby, kenapa anak sialan itu susah sekali dihancurkan," gumam Yulia.


"Mama sedang apa?" tanya Juan dan duduk disamping Mamanya.


"Mama sedang menikmati hidup, Juan. Oh iya, apa kamu sudah menemukan dimana anak sialan itu tinggal?" tanya Yulia.


"Belum Ma, susah sekali mencari keberadaan Rubby, disaat anak buah Juan mengikuti Rubby ada saja yang menghalangi mereka dan sepertinya tanpa sepengetahuan kita Rubby menyebar anak buahnya dimana-mana."


"Dasar anak sialan, masa kamu tidak bisa menyingkirkan anak sialan itu sih, Juan."


"Ma, Rubby dikawal sama dua Bodyguard dan mereka mempunyai ilmu beladiri yang lumayan jago."

__ADS_1


"Pokoknya Mama tidak mau tahu, kamu harus cepat singkirkan anak itu karena aset terbesar keluarga Gilbert ada di perusahaan yang Rubby kelola di Australia, tapi apa disini dia tidak punya perusahaan?" tanya Yulia.


"Juan belum tahu Ma, tapi kemungkinan besar Rubby punya perusahaan disini, secara kalau kita pakai logika buat apa Rubby datang ke Indonesia kalau dia tidak punya apa-apa disini, Papanya sudah mati, calon suaminya pun sudah mati, apa yang dia harapkan selain mempunyai perusahaan disini. Mama tenang saja Juan akan mencari tahu dan Mama juga harus tahu kalau Juan tidak akan membunuh Rubby sebelum Juan mendapatkan apa yang Juan mau."


"Kamu terobsesi kepada anak sialan itu."


"Mama kan sudah tahu, kalau dari dulu Juan sangat menginginkan Rubby sampai Juan membayar penembak jitu untuk membunuh Ardi supaya pernikahan mereka gagal."


"Iya, dan sampai saat ini kamu belum bisa mendapatkan Rubby itu karena kebodohanmu, Juan," sentak Yulia.


Juan mengepalkan tangannya, dia tidak terima disebut bodoh oleh Mamanya sendiri. Juan pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Yulia tanpa sepatah katapun.


***


Rubby sampai di rumahnya dan langsung naik ke atas menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Baru saja Rubby menyambar handuknya, tiba-tiba ponsel Rubby berbunyi tanda ada panggilan yang masuk.


"Nomor siapa ini?" gumam Rubby.


Rubby pun segera menggeser tombol hijau...


"Hallo!!"


"Jangan lupa nanti malam saya tunggu pukul delapan malam di Casvia club jangan sampai terlambat kalau kamu ingin mengetahui siapa pembunuh Ibumu, satu lagi kamu harus datang sendirian jangan bawa siapa-siapa kalau sampai kamu ketahuan bawa pengawal, aku tidak akan memberitahumu."


"Kamu si----"


Tut...tut...tut...


"Sial, siapa sebenarnya orang ini?" gumam Rubby.


Rubby segera membersihkan tubuhnya, sedangkan Gerry dan Kiting melanjutkan latihannya.


"Bagus, sekarang perkembangan beladiri kalian sudah sangat berkembang dengan pesat, saya bangga kepada kalian karena kalian cepat tanggap," seru Shifu Shen-shen.


"Terima kasih Shifu," sahut keduanya bersamaan.


"Kalau begitu latihan hari ini sampai disini dulu, nanti sore kita lanjut lagi."


"Baik Shifu."


Shifu Shen-shen pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat.


Kiting melangkahkan kakinya menuju kamar tapi pas berada tepat di atas kolam berenang Gerry mendorong Kiting.


Bbbyyyuuuuuurrrrr....


"Kampret lo Ger."


"Iya juga sih."


Kiting malah senang dan menikmati berenang dipagi hari itu.


"Lo ga mau ikutan Ger, seger tahu buruan turun," teriak Kiting.


Gerry pun akhirnya tergoda juga untuk berenang, dia membuka bajunya sehingga perutnya yang kotak-kotak sudah terlihat. Bersamaan dengan Rubby yang baru turun dari kamarnya, Rubby mengambil kopi yang sudah disiapkan oleh maid.



"Masyaalloh, ada bidadari datang," seru Kiting dengan menempelkan kepalanya ke pinggiran kolam berenang.


"Lo kenapa Ting?" tanya Gerry.


"Gue lagi lihatin bidadari."


Gerry melihat arah pandang Kiting, dan benar saja ada Rubby disana dan melangkahkan kakinya menghampiri Kiting dan Gerry.


"Hallo Bos cantik," sapa Kiting.


"Hallo juga Kiting."


Rubby duduk d kursi yang berada disamping kolam berenang.


"Kalau kalian sudah selesai berenang kalian naik ada sesuatu yang pengen gue omongin sama kalian berdua," seru Rubby.


"Ok, kita sudah selesai kok."


Gerry dan Kiting pun naik dari kolam berenang, Rubby sampai menyemburkan kopi yang dia minum saat melihat tubuh telanjang Gerry. Tubuh Gerry tampak putih mulus dan jangan lupa perut kotak-kotaknya yang bikin salfok.


"Lo kenapa?" tanya Gerry.


"Enggak, gue ga apa-apa."


Gerry dan Kiting duduk dilantai di bawah Rubby dan sudah siap untuk mendengarkan apa yang ingin Rubby bicarakan, tapi berbeda dengan Rubby yang terlihat salah tingkah melihat penampilan Gerry.


"Apa yang mau lo omongin sama kita berdua?" tanya Gerry.


"Lo bisa ga pakai handuk dulu gitu, apa pakai baju kaya Kiting? memangnya lo ga malu telanjang dada seperti itu di hadapan gue?" seru Rubby dengan menyesap kopinya sembari memalingkan wajahnya.


Gerry melihat kearah tubuhnya dan tersenyum, dia baru mengerti kalau Rubby merasa malu melihat Gerry seperti itu. Gerry pun mengambil bajunya dan memakaikannya.

__ADS_1


"Sudah, sekarang lo mau ngomong apa?"


"Ehmm...dengerin gue, kemarin gue dapat pesan dari orang yang tidak gue kenal, dia mengirim pesan katanya tahu siapa yang sudah membunuh Mama gue dan dia akan memberitahu kepada gue siapa pelakunya."


"Terus?" tanya Gerry.


"Dia minta gue datang ke Casvia club malam ini pukul delapan malam."


"Casvia club? bukannya itu club khusus buat para pengusaha kelas kakap?" seru Gerry.


"Betul sekali."


"Eh tunggu, Ger kok sepertinya lo tahu banget ya tempat-tempat mewah para pengusaha kelas kakap, kemarin tempat golf, sekarang club malam, gue bingung lo sepertinya bukan berasal dari rakyat jelata ya," seru Kiting.


Gerry dan Rubby saling pandang satu sama lain..


"Kiting sahabat gue yang paling baik, sebelum gue bertemu sama lo, gue adalah pesuruh para pengusaha kelas kakap jadi gue tahulah tempat nongkrong mereka," sahut Gerry dan Rubby hanya tersenyum.


"Oh, kirain lo anak orang kaya yang berpura-pura miskin."


"Ngaco lo, ya ga mungkinlah."


"Terus bagaimana Bos cantik?" tanya Kiting.


"Sepertinya gue punya firasat kalau orang itu bakalan nyelakain gue, tapi orang itu bilang kalau gue jangan bawa pengawal kesana, gue harus datang sendirian.


"Wah tidak bisa, sudah jelas ada yang aneh disini pasti orang itu akan memanfaatkan situasi," sahut Gerry.


"Maka dari itu gue sudah menyuruh anak buah gue buat siaga disana, mereka gue suruh nyamar jadi pedagang, tapi tetap saja gue was-was takut ini kerjaannya si Juan."


"Terus, rencana lo apa?" tanya Gerry.


"Kalian ikutin gue diam-diam, tapi tetap kalian juga harus menyamar jangan sampai mereka tahu kalian Bodyguard gue, gue sengaja kirim anak buah biar kalau ada apa-apa mereka bisa bantuin kalian, pasti orang ini bawa anak buah juga."


"Siap Bos cantik."


"Ya sudah, sana kalian mandi dulu habis itu kita sarapan."


"Baik Komandan."


Rubby hanya tersenyum melihat tingkah keduanya, sedangkan Gerry timbullah ide jahil di otaknya untuk menggoda Rubby. Gerry kembali membuka bajunya dihadapan Rubby sehingga membuat Rubby terkejut.


"Hei, apa-apaan lo?" bentak Rubby.


"Buka baju," sahut Gerry dengan santainya.


"Buka bajunya di dalam kamar saja bukannya disini," ketus Rubby.


Gerry menghampiri Rubby dengan senyuman genitnya membuat Rubby was-was dan itu membuat Gerry semakin ingin menggoda Rubby. Perlahan Gerry membungkukkan tubuhnya ke arah Rubby membuat Rubby reflek menyilangkan tangannya di dada.


"Ma--u nga--pain lo?" tanya Rubby gugup.


"Bos kenapa gugup seperti itu, wajah lo juga terlihat memerah, apa lo baru melihat seorang pria bertelanjang dada seperti ini?" ucap Gerry dengan mengedipkan matanya.


Rubby sangat gugup kali ini, wajahnya berjarak sangat dekat dengan wajah Gerry.


"Gue sexi kan?" seru Gerry.


Rubby mendorong kening Gerry dengan jari telunjuknya agar menjauh.


"Jangan PD lo jadi orang, dasar gila lama-lama lo semakin ngelunjak saja sama gue, gue pecat baru tahu rasa lo," ketus Rubby.


"Memang lo berani mecat gue?" goda Gerry kembali.


Rubby semakin malu dengan tingkah Gerry..


"Dasar nyebelin."


Rubby dengan cepat meninggalkan Gerry yang saat ini sedang tertawa bahagia, kali ini dia sudah berhasil lagi menggoda Rubby.


💰


💰


💰


💰


💰


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2