
💰
💰
💰
💰
💰
Tiga jam sudah perjalanan Jakarta Bali, Rubby langsung menginfokan kepada sang supir untuk segera pulang menuju Mansion milik Rubby.
Butuh waktu yang lumayan panjang untuk sampai di Mansion milik Rubby, sesampainya disana Rubby langsung masuk ke dalam Mansion karena kepala Rubby sudah sangat pusing.
"Ting, disini banyak kamar kamu pilih saja kamar mana yang mau kamu tempati."
"Iya, Bos tenang saja bisa diatur."
"Kalau gitu, aku ke atas dulu ya."
Rubby segera menuju kamarnya dan dengan cepat merebahkan tubuhnya.
***
Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan sudah terlewati. Saat ini Rubby sedang duduk-duduk di kursi taman sembari mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"Awww..." ringis Rubby.
"Nona, sarapan sudah siap," seru maid.
Tapi Rubby tidak menjawab, dia malah meringis dengan memegang perutnya. Wajah yang sudah penuh dengan keringat dan sangat pucat.
"Nona kenapa?"
"Sakit..."
Maid itu langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Tuan..Tuan..tolong."
"Ada apa, kenapa kamu teriak-teriak?" seru Kiting yang saat ini sedang bekerja dari rumah.
"Tuan tolong, Nona Rubby seperti yang kesakitan."
"Apa?"
Kiting tampak panik dan segera berlari menuju taman belakang.
"Rubby, kamu kenapa?"
"Sak--it Ting."
Dengan cepat Kiting mengangkat tubuh Rubby..
"Tolong siapkan mobil," teriak Kiting.
Kiting sangat panik apalagi melihat wajah Rubby yang sudah sangat pucat dan wajahnya pun sudah penuh dengan keringat.
"Sabar By, aku akan berusaha secepat mungkin."
Selama ini Rubby memang menyuruh Kiting merubah panggilannya, dan Rubby pun mengajarkan bisnis kepada Kiting dan untung saja Kiting sangat cepat tanggap dalam belajar sehingga dalam waktu singkat Kiting pun membantu Rubby mengurus perusahaan.
Sesampainya di rumah sakit, anak buah Rubby dengan cepat memanggil Dokter dan Dokter mengatakan kalau Rubby akan melahirkan. Kiting merasa sangat khawatir menunggu di depan ruangan bersalin.
__ADS_1
Ceklek pintu ruangan bersalin itu terbuka...
"Maaf Tuan, apa anda suami dari Nyonya Rubby?"
"Bukan Dokter, saya saudaranya."
"Suami Nyonya Rubby kemana? sepertinya Nyonya Rubby sangat membutuhkan suaminya soalnya dari tadi Nyonya Rubby terus saja memanggil nama suaminya."
"Suaminya...suaminya sedang ada kerjaan di luar negeri Dok, jadi tidak mungkin bisa menemani Rubby."
"Oh, ya sudah tidak apa-apa. Tuan tolong bantu dengan do'a mudah-mudahan keduanya selamat dan dalam keadaan sehat."
"Iya Dok, pasti."
Dokter pun kembali masuk ke dalam, Kiting memukul dinding rumah sakit itu.
"Sial, anak lo mau lahir Ger. Do'akan mereka, ya Alloh selamatkan mereka berdua," gumam Kiting.
Sementara di dalam, Rubby tampak berusaha mengeluarkan bayinya buah cintanya dengan Gerry.
"Gerry, aku membutuhkanmu," batin Rubby di tengah-tengah usahanya.
"Ayo Nyonya sedikit lagi."
"Gerryy....." teriak Rubby.
"Oekk..oekk..oekk..."
"Alhamdulillah, anaknya laki-laki Nyonya dan sangat tampan."
Rubby tersenyum dan meneteskan airmatanya, sebelum akhirnya Rubby hilang kesadarannya.
***
Kiting yang mendengar suara isakkan, akhirnya Kiting menoleh ke arah Rubby.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga. Lihatlah anakmu tampan sekali mirip Uncle Kiting ya boy."
Rubby tersenyum dalam tangisannya, dia sangat bersyukur ada Kiting dan Shifu Shen-shen yang selalu menjaganya tapi sayang saat ini Shifu Shen-shen sedang pulang ke China.
"Ting, terima kasih karena kamu dan Shifu selalu ada buat aku kalau tidak ada kalian aku tidak tahu harus menjalani hidup ini seperti apa, mungkin aku akan stres dan tidak bisa bertahan hidup."
"Jangan bicara seperti itu, kamu harus tetap jalani hidup kamu dengan baik apalagi sekarang sudah ada jagoan kamu, berarti kamu harus lebih semangat lagi."
"Iya Ting."
"Apa kamu mau menggendongnya?" seru Kiting.
"Mau banget."
Kiting pun meyerahkan bayi itu ke pangkuan Rubby, Rubby melihat wajah puteranya yang sangat mirip dengan Gerry. Rubby mrnghujani ciuman diwajah mungil puteranya itu dengan deraian airmata.
"Kamu adalah kekuatan Mami sayang."
"Siapa namanya By?" tanya Kiting.
"Namanya Gibran Tanuwijaya Gilbert."
"Nama yang bagus."
***
Hari-hari Rubby menjadi semakin berwarna dengan kehadiran Gibran puteranya yang tampan dan pintar. Bahkan Gibran menjadi obat capek untuk semuanya, setiap Kiting pulang kerja, Kiting selalu menyempatkan diri untuk menemui Gibran ke kamarnya.
__ADS_1
Kiting selalu mengendap-ngendap kalau masuk ke kamar Gibran karena Rubby selalu memarahinya. Bukan karena Rubby melarang Kiting untuk bertemu dengan Gibran, tapi Kiting selalu saja melanggar peraturan yang Rubby buat.
Kiting tidak boleh menemui Gibran apalagi menyentuh Gibran kalau Kiting belum mandi dan cuci tangan tapi memang dasar Kiting, setiap pulang dari kantor dia langsung masuk ke kamarnya Gibran dan menghujani anak gembul itu dengan ciuman.
"Bagus, selalu saja seperti itu," seru Rubby dengan bertolak pinggang di depan pintu.
"Astaga, Mami kamu bikin Uncle kaget saja boy," gumam Kiting.
"Siniin Gibrannya," ketus Rubby.
"By, aku baru aja gendong, sebentar lagi ya, please.."
"Enggak ada, sini."
Rubby merebut Gibran dari gendongan Kiting dan membawanya ke ruangan keluarga.
"Ya ampun boy, Mami kamu galak banget."
"Bodo, sudah tahu aku buat peraturan jangan pegang Gibran dulu sebelum kamu bersih-bersih, kamu itu sudah dari luar, bertemu banyak orang, siapa yang tahu kalau orang itu sehat apa tidak, bagaimana kalau orang yang ketemu sama kamu itu punya penyakit yang menular," cerocos Rubby.
"Astaga Rubby, aku ketemu sama klient mereka semuanya dari kalangan orang berada, mana mungkin mereka punya penyakit menular," ketus Kiting dengan kesalnya.
Sedangkan Shifu terlihat terkekeh dengan memegang cangkir kopi di tangannya. Setiap hari Rubby dan Kiting memang tidak pernah akur, selalu saja ada bahan untuk mereka bertengkar dan selisih paham.
"Enggak usah ketawa deh Shifu, ga ada yang lucu," ketus Kiting.
"Kenapa sih kamu, selalu saja membantah apa kata Nona Rubby, sekali-kali nurut napa," seru Shifu Shen-shen.
"Rubbynya aja yang terlalu kolot."
"Apa kamu bilang?"
"Boy, lihat deh Mami kamu marah-marah terus lama-kelamaan Mami kamu bakalan tua sebelum waktunya dan wajahnya keriput," seru Kiting dan langsung ngacir.
"Kitiiiiing....." teriak Rubby dengan kesalnya.
Shifu Shen-shen hanya bisa geleng-geleng kepala dan memilih pergi ke teras depan rumahnya menikmati suasana sore yang indah itu.
Rubby menggendong Gibran ke kamarnya karena setelah Rubby menyusuinya, Gibran pun tertidur dengan pulasnya. Dilihatnya wajah puteranya itu dengan seksama dan sekarang semakin terlihat mirip dengan Gerry.
Cairan bening itu kembali menetes, sebenarnya Rubby sangat..sangat..merindukan Gerry tapi bayangan kejadian memilukan itu selalu terbayang dibenak Rubby, walaupun Kiting dan Shifu selalu menjelaskan kalau itu bukan kesalahan Gerry tapi Rubby belum bisa menerima Gerry untuk saat ini.
💰
💰
💰
💰
💰
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU