
π°
π°
π°
π°
π°
Saking seriusnya bekerja, sampai-sampai Rubby tidak melihat jam. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Rubby mulai merentangkan kedua tangannya dan melihatbke arah jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Ya ampun sudah pukul lima," gumamnya.
Rubby melihat kedua Bodyguardnya tertidur di sofa, perlahan Rubby mendekat di lihatnya lekat-lekat wajah Gerry.
"Tampan juga dia," batin Rubby.
Hingga Gerry pun menggeliat dan dengan cepat Rubby memalingkan wajahnya pura-pura mencari sesuatu.
"Sudah selesai?" tanya Gerry.
"Su--sudah, ayo kita pulang," sahut Rubby gugup.
Gerry menendang kaki Kiting sehingga membuat Kiting terkejut dan langsung berdiri.
"Pulang Bro."
"Lo ngagetin saja."
Mereka pun kembali ke rumah Rubby, ternyata Tuan Shen-shen sudah berada di rumah Rubby dan menunggu kedatangannya.
"Selamat sore Shifu, maaf lama menunggu," seru Rubby dengan menjabat tangan Tuan Shen-shen.
"Selamat sore Nona."
Tuan Shen-shen melirik ke arah Gerry dan Kiting.
"Apa mereka yang akan saya latih?" tanya Tuan Shen-shen.
"Iya Shifu, perkenalkan mereka."
"Gerry."
"Kiting."
"Wah, dari segi penampilan mereka sangat menjanjikan dan aku yakin kalau basic beladiri mereka lumayan bagus hanya tinggal di asah lagi, karena saya yakin kalau Nona Rubby tidak mungkin salah memilih orang."
"Iya Shifu, mereka memang jago beladiri dan saya ingin Shifu jadikan mereka lebih jago lagi."
"Siap Nona, jangan khawatir."
"Pak Rinto, bisa kita bicara sebentar," seru Rubby.
"Bisa Nona."
"Shifu bisa berkenalan dulu dengan mereka, saya permisi dulu ada urusan penting dengan Pak Rinto."
"Silakan Nona."
Rubby pun membawa Pak Rinto ke dalam ruangan kerjanya.
"Pak Rinto, saya sudah membaca biodata Gerry dan Kiting mereka memang hanya orang biasa tapi saya harus tetap hati-hati dengan orang, maka dari itu jangan sampai mereka tahu dulu kalau Papa saya masih hidup dan jangan sampai mereka masuk ke dalam kamar Papa, tolong informasikan kepada semua penghuni rumah ini jangan ada yang memberitahukan tentang Papa, kalau Gerry dan Kiting sampai tahu Papa masih hidup, aku takut nyawa Papa kembali terancam," jelas Rubby.
"Baik Nona, saya akan informasikan kepada semua orang."
"Bagus, kalau begitu Pak Rinto bisa bergabung dengan mereka, saya mau mandi dulu dan istirahat sebentar sebelum makan malam."
"Iya, baik Nona kalau begitu saya permisi dulu."
"Jangan sampai ada yang tahu kalau Papa masih hidup, apalagi Yulia dan Juan. Awas kalian, gue bakalan membuat hidup kalian menderita seperti kalian yang sudah menyiksa Papa sampai menjadi lumpuh seperti itu," batin Rubby dengan mengepalkan tangannya.
Rubby kembali ke kamarnya setelah dia melihat dulu sebentar ke kamar Papanya. Ternyata Papanya sedamg tidur, dengan langkah gontai Rubby masuk ke dalam kamar mandi dan berendam disana sangat lama sampai tidak sadar dia tertidur di dalam bathup.
Sementara itu Gerry dan Kiting masih mendengarkan arahan dari Tuan Shen-shen.
"Apa kalian sudah mengerti?" tanya Tuan She-shen.
"Mengerti Tuan," sahut Gerry dan Kiting bersamaan.
"Bagus, kalian boleh pergi besok pagi-pagi sekali saya tunggu kalian di halaman belakang."
"Baik Tuan."
Gerry dan Kiting pun pergi ke kamar mereka untuk beristirahat, hari pertama mereka bekerja sungguh sangat melelahkan. Gerry langsung mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, badannya sudah lengket dengan keringat.
Tidak lama kemudian, Gerry sudah selesai mandi. Gerry menuju lemari pakaiannya, matanya melotot dan menganga melihat lemarinya penuh dengan pakaian dengan berbagai jenis dari kaos, kemeja, dan jas semua tertata rapi.
"Wow, ini gila," teriak Gerry.
"Apaan sih lo Ger, teriak-teriak."
__ADS_1
"Ting, lo lihat lemari pakaian lo."
"Hah, memangnya kenapa?" tanya Kiting bingung.
"Sudah, lo lihat saja dulu."
Kiting pun beranjak dari tempat tidur menuju lemari pakaiannya. Seperti halnya Gerry, Kiting sangat terkejut dengan isi dalam lemarinya.
"Wadidaw, ini semua pakaian untuk kita Ger?" seru Kiting.
"Sepertinya sih iya."
"Bos cantik memang paling the bestlah, seumur-umur gue baru punya pakaian mahal seperti ini, biasanya gue kalau beli baju itu seratus ribu dapat tiga potong itu juga masih gue tawar," seru Kiting dengan melihat-lihat pakaian yang ada di dalam lemari.
Kiting sangat bahagia, berbeda dengan Gerry yang tampak biasa saja karena memang dulu pakaiannya sama seperti itu mahal semua bahkan kebanyakan limited edition. Gerry dengan cepat mengambil kaos dan celana joger.
"Buruan lo mandi, sebentar lagi makan malam."
"Yoi, gue benar-benar senang jadi anak buah Bos cantik dia begitu royal kepada anak buahnya," sahut Kiting.
Kiting pun dengan semangat menuju kamar mandi, Gerry duduk di sofa. Tiba-tiba bayangan wajah Rubby saat tadi mengobati wajah Gerry terus terbayang di benak Gerry.
"Kenapa wajah Bos sombong itu selalu terbayang, ah dia begitu sangat cantik dan sexi," gumam Gerry sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Setelah menunggu, Gerry dan Kiting pun menuju meja makan karena mereka sudah di panggil oleh maid. Selama berjalan menuju meja makan, Gerry tidak lepas menatap Rubby yang saat ini sedang berbincang dengan Tuan Shen-shen, senyuman Rubby sangat menawan membuat Gerry lagi-lagi terpesona.
"Selamat malam," sapa Kiting.
Rubby menoleh dan melihat ke arah Gerry, Rubby juga tampak terpesona melihat Gerry yang sangat tampan malam ini. Walaupun dia cuma memakai kaos dan celana jogger tapi ketampanan Gerry tak terkalahkan.
Mereka pun makan dengan hening, tidak ada yang berbicara sedikit pun semuanya fokus makan dengan lahapnya. Setelah selesai makan malam, Gerry, Kiting, dan Tuan Shen-shen berbincang di kursi yang berada di samping kolam berenang dengan di temani secangkir kopi.
"Tuan Shen-shen, apa saya boleh bertanya?" tanya Gerry.
"Silakan Ger, mau tanya apa?"
"Apa Tuan Shen-shen sudah kenal lama dengan Rubby?" tanya Gerry.
"Lumayan sih, sudah hampir lima tahunan."
"Wah lama juga ya," sahut Kiting.
"Rubby itu orangnya seperti apa?" tanya Gerry.
"Nona Rubby adalah sosok wanita yang hebat, mandiri, dan pekerja keras. Semenjak Papanya menikah lagi, Nona Rubby menjadi wanita kasar, tidak ada lagi kelembutan dalam dirinya bahkan perusahaannya dia bangun sendiri tanpa bantuan siapapun tapi memang semua orang tidak ada yang tahu kalau itu perusahaan Nona Rubby bahkan di profil perusahaannya pun dia tidak menunjukkan jati dirinya dan merahasiakan dirinya," jelas Tuan Shen-shen.
"Kenapa? terus kenapa juga Rubby sangat banyak musuh?"
"Wah, memang wanita hebat si Bos cantik itu," sahut Kiting.
"Iya, dan lima tahun lalu Pak Rinto menghubungi saya dan menjadikan saya sebagai guru beladiri Nona Rubby."
"Pantesan saja waktu pertama kita bertemu dengan si Bos, dia tampak mampu menghadapi empat orang yang badannya jauh lebih besar daripada dirinya," sahut Kiting.
"Iya, saat ini kemampuan beladiri Nona Rubby memang sudah jauh lebih baik."
Gerry tampak melamun dan mencerna kata-kata Tuan Shen-shen.
"Nasibnya kok sama kaya gue sih, apa gue minta bantuan Rubby saja buat nolongin gue? tapi kalau gue minta bantuan Rubby, otomatis identitas gue bakalan kebongkar," batin Gerry.
Gerry kembali menyesap kopinya, pandangannya terarah ke dalam rumah Rubby. Keningnya berkerut dan matanya menyipit saat melihat salah satu maid menuju ke lantai atas dengan membawa nampan berisi nasi dan air putih.
"Lah, maid itu mau bawa makanan kemana? apa mungkin itu untuk Rubby? tidak mungkin, kita baru saja makan tidak mungkin Rubby ingin makan lagi, apa di rumah ini masih ada penghuninya?" batin Gerry.
"Woi, kenapa lo melamun?" seru Kiting dengan menepuk pundak Gerry.
"Astaga, lo ngagetin gue saja. Tuan Shen-shen kemana?" tanya Gerry.
"Dia sudah pergi ke kamarnya, lo sih dari tadi melamun saja sampai tidak tahu Tuan Shen-shen pergi."
"Aduh sorry..sorry, gue tadi hanya----"
"Hanya apa?" tanya Kiting dengan memotong pembicaraan Gerry.
"Tidak apa-apa."
"Gue serasa orang kaya kalau seperti ini, hidup gue enak banget," seru Kiting.
Gerry hanya tersenyum mendengarnya, Gerry menyesap kopinya dan tidak sengaja pandangannya mengarah kepada kamar Rubby yang berada di atas. Dia baru sadar kalau dari kolam berenang, dia bisa lihat Rubby karena kebetulan kamar Rubby tepat diatas kolam berenang.
Terlihat Rubby sedang duduk di depan jendela sembari menyesap teh hijau kesukaannya, tatapannya menerawang jauh entah kemana, dia tidak sadar kalau di bawah Gerry sedang memperhatikannya.
"Juan, kenapa dia ada disini? kalau dia ada disini, berarti dia akan mencari tahu tentang gue dan itu sangat bahaya melihat Juan adalah orang yang sangat nekad, apalagi Juan adalah orang yang cukup berkuasa," batin Rubby.
Rubby sangat takut dan khawatir kalau Yulia dan Juan bisa menemukan dirinya dan Papanya. Pasti mereka tidak akan membiarkan Rubby dan Papanya hidup dengan tenang.
"Ma, Rubby lelah dengan semua ini. Rubby ingin hidup normal seperti yang lainnya, bisa bebas pergi kemana pun yang Rubby ingin tanpa ada perasaan was-was dan takut di ikuti anak buah Yulia dan Juan, Rubby takut, apa yang harus Rubby lakukan? ini terlalu berat buat Rubby," gumam Rubby.
Tanpa terasa airmata Rubby menetes, beban hidup yang Rubby jalani sangat berat selain nyawa Papanya yang harus dia lindungi, perusahaannya juga saat ini berada di pundaknya. Rubby menundukkan kepalanya, pundaknya bergetar hebat dan Rubby menangis tersedu-sedu.
Gerry yang melihat Rubby merasa tercengang, Bosnya yang begitu sombong, kasar, dan seenaknya terlihat begitu rapuh sekarang.
__ADS_1
"Rubby kenapa? kok dia nangis?" batin Gerry.
Entah kenapa hati Gerry begitu sakit melihat Rubby menangis, perasaan ingin melindungi Rubby menjadi semakin besar saat ini. Rubby pun menghapus airmatanya dan beranjak dari duduknya.
"Ger, lo mau diam disana terus? besok kita mulai latihan, lebih baik sekarang kita istirahat mempersiapkan diri untuk besok," seru Kiting.
"Iya, ini juga gue mau tidur."
Gerry pun menyusul Kiting masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
***
Keesokkan harinya...
Seperti yang di bilang oleh Tuan Shen-shen, mereka akan latihan di halaman belakang karena halaman belakang sangat luas dan sangat cocok untuk dijadikan tempat latihan.
"Kalian sudah siap," seru Tuan Shen-shen.
"Siap."
"Kalian panggil saya Shifu saja jangan Tuan, sama seperti Nona Rubby."
"Baik Shifu," sahut Gerry dan Kiting bersamaan.
Mereka pun kembali fokus dan mendengarkan arahan yang Shifu Shen-shen berikan. Setelah mengerti, mereka mulai latihan beladiri ala-ala khungfu shaolin.
"Saya akan jadikan kalian orang yang jago beladiri, jangan salah musuh Nona Rubby itu merupakan orang-orang pilihan dan mereka menggunakan jasa Sensei dari Jepang untuk mengasah beladiri mereka, jadi kalian harus lebih jago dari mereka jangan sampai Nona Rubby dalam bahaya, kalian harus bisa melindunginya karena hanya kalian yang bisa menyelamatkan Nona Rubby," jelas Syifu Shen-shen.
Gerry dan Kiting mengangguk bersamaan...
"Walaupun Nona Rubby juga memiliki anak buah yang sama banyak, dan di tempatkan dimana-mana tapi hanya kalian yang nantinya akan melindunginya secara langsung."
"Iya Shifu kami mengerti."
"Bagus, kita mulai lagi latihannya."
Sementara itu di tempat gym, Rubby tidak henti-hentinya memukul samsak, dia ingin melampiaskan rasa marahnya dengan memukul samsak itu. Pak Rinto yang dari tadi menemani Rubby merasa sangat khawatir dan cemas karena dari subuh Rubby belum berniat menghentikan kegiatannya.
Pak Rinto segera berlari ke arah taman belakang.
"Gerry tolong bantu saya," seru Pak Rinto.
"Ada apa Pak?" tanya Gerry dan menghentikan latihannya.
"Nona Rubby dari subuh belum menghentikan latihannya, saya takut Nona sakit karena kelelahan," sahut Pak Rinto cemas.
Tanpa menunggu lagi, Gerry langsung berlari menuju tempat gym dan sesampainya disana benar saja Rubby saat ini memang sudah kelelahan tapi dia tetap memaksakan untuk memukul samsak itu.
Gerry segera menarik tangan Rubby...
"Hentikan, apa yang sudah lo lakukan? lo bisa sakit kalau terlalu memforsir tenaga lo," seru Gerry.
"Jangan ikut campur urusan gue," bentak Rubby dengan tatapannya yang tajam.
Rubby berbalik dan hendak melakukannya lagi tapi Gerry kembali menahannya.
"Lepasin gue, lo hanya Bodyguard gue jadi jangan lancang, lo lupa kalau gue Bos lo," bentak Rubby.
"Justru karena gue Bodyguard lo, gue peduli sama lo, gue disini dibayar buat menjaga dan melindungi lo jadi lo jangan bertingkah konyol dengan menyiksa tubuh lo sendiri," Gerry malah balik membentak Rubby membuat Rubby terkejut dan terperangah.
"Apa peduli lo? gue sudah lelah dengan semua ini, gue pengen hidup bebas, hanya dengan mereka semua mati hidup gue bakalan tenang, dan sekarang gue berlatih keras supaya gue bisa membunuh mereka semua, lo ga bakalan ngerti dengan perasaan gue," teriak Rubby dengan deraian airmata.
Gerry sangat terkejut dengan ucapan Rubby, sungguh berat sekali beban yang Rubby rasakan dan tidak disangka beban Rubby jauh lebih berat dibanding dengan beban dirinya.
Entah keberanian darimana yang Gerry dapatkan, Gerry menarik tubuh Rubby dan membawanya ke dalam pelukkannya. Tangisan Rubby semakin pecah di pelukkan Gerry.
"Gue janji bakalan lindungi lo dan gue janji bakalan bantuin lo menghancurkan musuh-musuh lo," ucap Gerry dengan mengeratkan pelukkannya.
π°
π°
π°
π°
π°
Hai guys, ayo dong Author minta dukungannya biar Author makin semangat lagiππ
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU