
💰
💰
💰
💰
💰
Hari ini adalah hari dimana Ibunya Celline di operasi, sudah dua jam Celline menunggu Ibunya bersama Kiting.
Tiba-tiba lampu operasi dimatikan itu tandanya operasi sudah selesai dan dokter pun keuar dari ruangan operasi.
"Bagaimana dok?"
"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar dan sekarang saya akan memindahkan Ibu Mbak Celline ke ruangan rawat."
"Alhamdulillah, terima kasih dokter."
Tidak lama kemudian, Ibu Celline pun di pindahkan ke ruangan rawat inap. Celline tetap setia berada di samping Ibunya yang saat ini masih belum sadar paska operasi.
"Cell, karena sudah selesai gue pulang dulu."
"Terima kasih Raga, sudah bantuin gue. Gue tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa."
"Sama-sama, lagipula kan yang bantuin lo Bos cantik bukan gue."
"Oh iya, tolong sampaikan rasa terima kasih gue sama Nona Rubby tapi maaf gue belum bisa ke rumah Nona Rubby, gue harus menjaga Ibu dulu."
"Tidak apa-apa nanti gue bilangin sama Bos cantik, kalau gitu gue permisi dulu."
Kiting pun segera pulang ke rumah Rubby, dia ingin membereskan barang-barangnya karena nanti malam semuanya akan berangkat ke Australia, berkenaan tiga hari lagi Rubby dan Gerry akan melangsungkan pernikahan.
Rubby saat ini sedang berada di kantor, untuk membantu Gerry soalnya mereka akan meninggalkan kantor lumayan lama, makannya saat ini mereka sedang menyelesaikan pekerjaan yang memang harus selesai.
Tok..tok..tok..
"Masuk."
"Tuan, PT.SINAR ABADI benar-benar sudah hancur sekarang sahamnya sudah sangat menurun, Pak Darius beberapa kali menghubungi perusahaan dan ingin bertemu dengan anda," seru Niko.
"Bagus, biarkan saja Niko saya akan berangkat dulu ke Australia nanti sepulang dari sana baru kita eksekusi perusahaan itu," sahut Gerry.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu."
Niko pun keluar ruangan Gerry dengan menundukkan kepalanya.
"Wow, kayanya ada yang lagi bahagia nih karena sebentar lagi perusahaannya akan jadi miliknya lagi," goda Rubby.
"Sini sayang."
Rubby tersenyum dan menghampiri Gerry, Gerry menarik tangan Rubby sehingga Rubby duduk dipangkuan Gerry.
"Terima kasih sayang, ini semua karena kamu yang sudah membantuku sampai sejauh ini. Kalau kamu tidak bantuin aku, aku tidak mungkin bisa mendapatkan kembali perusahaanku lagi," seru Gerry.
"Tidak, aku tidak melakukan apa-apa semuanya kamu yang lakukan karena kamu memang seorang pengusaha hebat."
"Kamu terlalu merendah."
Gerry menarik hidung Rubby dengan gemasnya.
"Sayang, aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menikah denganmu dan menjadikanmu milikku seutuhnya."
"Sabar, tiga hari lagi."
"Bisa ga nikahnya besok saja atau sekarang juga boleh."
"Ih apaan sih Ger."
"Oh iya, kamu mau mas kawin apa dariku?" tanya Gerry.
__ADS_1
"Cinta dan kasih sayang."
"Apa? kalau itu tidak usah dijadikan mas kawin juga aku sudah menyerahkan semua cinta dan kasih sayangku untukmu. Maksudnya apa kamu tidak mau perhiasaan mahal danewah?" yanya Gerry kembali.
"Perhiasanku sudah banyak aku tidak membutuhkannya."
"Kalau begitu mobil saja."
"Kamu sudah hilang ingatan ya, di rumah mobil berserakan dimana-mana, kamu mau beli mobil nanti di simpannya dimana?"
"Oh iya ya aku lupa kalau calon istriku ini seorang konglomerat muda," goda Gerry dengan memcubit kedua pipi Rubby.
"Sakit Ger."
"Ya sudah, kalau gitu kita makan siang dulu yuk, aku sudah lapar," ajak Gerry.
"Ayo."
Rubby dan Gerry berjalan keluar secara neriringan, bahkan Rubby sudah tidak sungkan lagi merangkul lengan Gerry dan itu membuat semua mata Karyawannya menatap iri.
Gerry membukakan pintu mobil untuk Rubby dan mereka pun pergi ke sebuah restoran untuk makan siang.
"Sayang, apa tidak apa-apa wanita itu kerja dirumahmu? takutnya dia orang jahat ataupun suruhan Juan yang menyamar untuk menyelidiki kita," seru Gerry.
"Tidak Ger, aku sudah menyelidiki identitas Celline memang benar Ibunya sedang dirawat di rumah sakit. Sebelum Kiting membawa dia ke rumah, orang suruhan aku sudah lebih dulu menyelidikinya."
"Syukurlah, aku takut dia orang jahat tapi tetap saja kita harus waspada sayang jangan sampai lengah."
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, malam pun tiba dan sekarang saatnya Rubby dan semuanya berangkat ke Australia untuk persiapan pernikahan Rubby dan Gerry.
Setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, Rubby dan yang lainnya pun sampai di Australia. Gerry dan Kiting sampai melongo melihat mansion milik Rubby yang sangat mewah.
"Selamat malam Nona, Tuan Gerry, dan Mas Kiting," seru Pak Rinto.
"Malam Pak Rinto, Papa sudah tidur ya?" tanya Rubby.
"Sudah Nona."
"Silakan Nona."
Rubby, Gerry, dan Kiting pun pergi ke kamar masing-masing, mereka sudah sangat lelah tidak ada tenaga lagi walau hanya untuk menjawab sapaan dari orang lain.
***
Keesokkan harinya...
"Selamat pagi Pa," sapa Rubby.
"Pagi, puteri Papa yang paling cantik."
"Papa lagi ngapain pagi-pagi sudah mengajak Gerry ngobrol?" tanya Rubby.
"Tuan Bos lagi ngetes calon Mantu Bos cantik," celetuk Kiting.
"Oh iya, ngetes apa?"
"Segalanya Papa tes, jadi menantu dari Robby Gilbert tidak sembarangan harus memenuhi syarat," seru Papa Robby.
"Apa syaratnya?" tanya Rubby penasaran.
"Rahasia, ini urusan para pria, iya kan Ger?" seru Papa Robby.
Gerry tersenyum dan mengangguk...
"Ishh...dasar, ya sudahlah aku mau buat sarapan dulu."
Rubby pun memilih pergi untuk menyiapkan sarapan daripada harus berdebat dengan para pria itu.
Tidak lama kemudian, sarapan hasil Rubby pun selesai. Sebenarnya di Mansion itu maid lebih banyak daripada di rumahnya yang ada di Indonesia, tapi Rubby senang saja kalau sudah memasak.
__ADS_1
"Yuk semuanya, kita sarapan dulu," ajak Rubby.
Semuanya pun sarapan dengan tenang, tidak ada yang berbicara sedikit pun. Hingga selesai sarapan, Rubby memilih jalan-jalan di taman belakang dengan mendorong kursi roda Papanya.
Gerry dan Kiting sengaja membiarkan anak dan Papa itu, memberikan ruang untuk mereka mungkin mereka butuh waktu untuk saling bertukar cerita.
Rubby duduk di kursi taman berhadapan dengan Papanya.
"Apa kamu bahagia, sayang?"
"Sangat, sangat bahagia Pa."
"Syukurlah, sebenarnya Papa sudah lama menaruh curiga kepada Gerry kalau dia menyukaimu tapi Papa tidak mau menyimpulkan terlalu buru-buru, hingga Rinto mengatakan kalau Gerry memang menyukaimu."
"Iya Pa, Gerry adalah orang yang sangat baik dan dia juga begitu perhatian kepada Rubby, bahkan Gerry selalu ada disaat Rubby dalam bahaya, sifat Gerry sama persis kaya Ardi, Pa."
"Iya Papa tahu."
"Oh iya Pa, sebenarnya Gerry itu pemilik perusahaan PT.SINAR JAYA yang diberitakan sudah meninggal karena bunuh diri."
"Papa tahu."
"Hah, Papa tahu darimana?"
"Kamu meragukan Papa sayang, kamu lupa siapa Papa? kalau masalah mencari identitas seseorang bukan perkara sulit untuk Papa. Gerry adalah pengusaha muda yang hebat, cuma dulu dia dibodohi saja oleh Omnya dibilang bangkrut dan Darius menawarkan diri untuk meminjamkan uang supaya Gerry merasa hutang budi, padahal uang itu adalah uang milik perusahaan yang dikorupsi oleh Darius, dan sekarang perusahaan itu kembali dinyatakan bangkrut."
"Wah Papa hebat ya."
"Iya dong, Papanya siapa dulu!!!"
Rubby memeluk Papanya...
"Sekarang kamu sudah dewasa sayang, dan wajah kamu mirip sekali dengan Mama kamu, maafkan Papa karena keegoisan Papa, kamu menjadi menderita."
Rubby meregangkan pelukkannya...
"Sudahlah Pa jangan membahas masa lalu, semuanya sudah berlalu."
"Tapi Papa berjanji akan menjebloskan Yulia dan Juan ke dalam penjara, atau Papa akan bunuh mereka kalau semua bukti sudah terkumpul."
"Jangan Pa, biar Rubby yang bunuh mereka."
"Bagaimana kalau kita sama-sama saja," seru Papa Robby dengan mata yang berkaca-kaca.
Rubby tersenyum dan kembali memeluk Papa tersayangnya.
"Besok kamu akan menikah, berbahagialah karena kamu pantas mendapatkan kebahagiaan. Papa do'akan semoga tidak ada lagi orang yang mengganggu kalian."
"Iya Pa."
Akhirnya Rubby pun meneteskan airmatanya, tangisan yang dari tadi dia tahan ternyata sudah tidak bisa dibendung lagi.
💰
💰
💰
💰
💰
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU