
π°
π°
π°
π°
π°
Kiting pulang ke rumah dan tersenyum melihat sahabatnya sudah kembali.
"Woi, lo ga mau peluk gue, Ger."
Gerry melepaskan pelukkannya dan menoleh ke belakang.
"Hallo bro apakabar?"
Gerry berdiri dan langsung memeluk Kiting.
"Terima kasih karena selama ini lo sudah menjaga anak dan istri gue."
"Itu sudah menjadi tugas gue."
Kriuuukk..kriuuukk...
Gibran memegang perutnya sembari meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Mami, Gibran lapar," lirih Gibran.
Semuanya tertawa melihat anak tampan itu..
"Ya sudah, yuk kita makan siang."
"Sini, biar Papi gendong kamu."
Gerry langsung menggendong Gibran sehingga anak itu tertawa bahagia.
"Astaga, anak Papi berat sekali."
"Iya dong Pi."
Semuanya duduk di meja makan dan bersiap-siap untuk makan siang bersama. Makan siang kali ini sungguh sangat membahagiakan, karena untuk pertama kalinya mereka bisa berkumpul.
"Papi darimana saja selama ini kok ga pernah pulang?" seru Gibran.
Deg...
Semua orang diam mematung dengan pertanyaan Gibran yang dadakan.
"Papi kamu ada kerjaan sayang," sahut Rubby.
"Pasti Papi sangat sibuk ya, sampai tidak sempat pulang," seru Gibran.
__ADS_1
"Iya sayang, maafkan Papi ya."
"Tidak apa-apa Papi, yang penting sekarang Papi sudah pulang."
Semua orang tersenyum dengan ucapan dewasa Gibran.
"Papi, Mami, Gibran sudah selesai makan, Gibran ke kamar dulu ya mau mengerjakan PR."
"Iya sayang."
Gibran pun mencium pipi Mami dan Papinya..
"Hei boy, Papa ga dicium juga."
Gibran pun menghampiri Kiting dan mencium pipi Kiting, tapi Kiting menahannya dan membisikan sesuatu di telinga Gibran.
"Boy, habis ngerjain PR jangan gangguin Mami sama Papi kamu ya soalnya mereka bakalan bikin adik buat kamu," bisik Kiting.
"Hah, Adik Pa."
"Iya, makannya kalau sudah ngerjain PR kamu tidur saja jangan ke kamar Mami kamu, ok."
"Ok Pa."
Gibran pun langsung berlari ke kamarnya..
"Hai ngapain lo bisik-bisik sama anak gue? awas kalau sampai lo kotorin otak anak gue, gue pecahin kepala lo," seru Gerry.
"Wow, sadis banget lo jadi orang. Lo jadi orang tidak tahu terima kasih banget, selama ini siapa yang sudah mengasuh anak lo," ketus Kiting.
"Apa? jadi selama gue ga ada lo berantem terus sama Rubby? sayang, apa si kampret itu selalu bikin kamu kesal?"
"Alay lebay lo."
"Sudah ah, aku ke kamar dulu mau mandi gerah."
Rubby pun meninggalkan kedua sahabat itu di meja makan.
"Sudah sana susul, memangnya lo ga mau buka puasa ya, sepuluh tahun loh, gue ga bisa bayangin pasti saat ini sudah kaya pasta gigi," ledek Kiting.
"Sialan lo."
"Gibran sudah gue handle tadi, jangan lupa kunci pintu terus pemanasan dulu takutnya ditengah-tengah lo malah kram kan ga lucu," ledek Kiting dengan kekehannya.
"Ok, lagipula adik gue sudah karatan butuh di asah lagi supaya tajam," sahut Gerry dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar otak lo, hajar Ger sampai minta ampun."
"Lo juga kapan lo punya pasangan jangan bisanya cuma ngeledek saja, sudah tua lo jangan sampai lo keburu mati sebelum merasakan surga dunia," seru Gerry yang langsung ngacir menyusul Rubby.
"Dasar gila."
Kiting tampak tersenyum...
__ADS_1
Gerry membuka pintu kamar Rubby dan menutupnya kemudian tidak lupa menguncinya. Terdengar gemercik suara air, berarti Rubby masih ada di dalam, Gerry melepaskan jasnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur Rubby.
Ceklek...
Rubby keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit di tubuhnya. Seketika tubuh Rubby membeku, saat melihat Gerry sedang tertidur dikasurnya.
Perlahan, dengan mengendap-ngendap Rubby melewati Gerry untuk mengambil bajunya tapi karena tetesan air dari tubuhnya membuat lantai menjadi licin dan seketika Rubby terpeleset.
Rubby sudah memejamkan matanya dan menutup mulutnya pasti dia akan terjatuh, tapi Rubby tidak merasakan sakit pas Rubby membuka mata, ternyata sepasang mata sedang memandangnya.
"Dasar ceroboh."
Rubby hanya tersenyum kikuk, jantungnya berdetak tak karuan. Sedangkan Gerry tampak menelan salivanya melihat tubuh mulus istrinya itu.
Rubby membenarkan posisi berdirinya, tapi disaat Rubby hendak melangkahkan kakinya sebuah tangan kekar melingkar diperut Rubby, Gerry memeluknya dari belakang.
"Aku sangat merindukanmu, sayang. Apa kamu tidak merindukanku?" bisik Gerry di telinga Rubby membuat Rubby merinding.
Gerry menciumi pundak Rubby membuat Rubby semakin gelisah. Perlahan Gerry membalikan tubuh sang istri, ditatapnya wajah cantik sang istri yang selama sepuluh tahun ini tidak pernah hilang dari ingatannya.
Gerry mendekatkan wajahnya, dan akhirnya bibir Gerry pun menempel dengan bibir tipis Rubby, bibir yang selama ini Gerry rindukan. Gerry menarik pinggang sang istri supaya lebih dekat lagi dan Rubby pun sekarang sudah mengalungkan tangannya ke leher Gerry.
Cukup lama mereka menyalurkan perasaan rindu masing-masing, hingga dirasa pasokan oksigen menipis, mereka pun melepaskan pungutannya. Kening mereka berdua saling menempel dengan nafas yang sama memburu.
"Aku sangat merindukanmu," lirih Gerry.
"Aku juga sangat merindukanmu," sahut Rubby.
Gerry pun mengangkat tubuh Rubby dan membaringkan tubuh Rubby, akhirnya rasa rindu, cinta, yang selama ini tertahan mereka lampiaskan siang itu.
π°
π°
π°
π°
π°
Siapa nih yang minta extra part? sebagai Author yang baik hati dan tidak sombong, Author mengabulkan permintaan readernya semoga kalian senangπ€π€ππ
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU