
💰
💰
💰
💰
💰
Malam pun tiba, perasaan Rubby campur aduk antara takut, penasaran, dan marah semuanya jadi satu. Setelah melihat penampilannya, Rubby pun segera turun ke bawah, Gerry dan Kiting sudah menunggu di bawah.
Tap..tap..tap...
Suara sepatu Rubby menuruni anak tangga, membuat Gerry dan Kiting mendongakkan kepalanya.
Dengan senyum yang mengembang Rubby menghampiri para Bodyguardnya yang saat ini terlihat mangap melihat penampilan Rubby.
"Gila, cantik banget si Bos," seru Kiting.
"Iya Ting, gue sampai ga rela memalingkan pandangan gue," sahut Gerry.
"Buruan berangkat sekarang, kalian ikuti mobil gue dari belakang," seru Rubby.
Gerry dan Kiting malah melongo tidak menjawab ucapan Rubby. Dengan kesalnya, Rubby menjitak kening Gerry dan Kiting secara bergantian.
"Kalian merhatiin gue ngomong ga sih?" sentak Rubby.
"Ah, barusan lo ngomong apa?" tanya Gerry dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian ikuti mobil gue dari belakang, nanti kalau selama setengah jam gue ga keluar-keluar dari club, kalian masuk."
Rubby memperhatikan penampilan kedua Bodyguardnya, yang saat ini memakai kemeja dan jas semi formal dengan celana jeans dan sepatu mahal yang dia berikan.
"Good, penampilan kalian sudah terlihat seperti seorang pengusaha setidaknya kalian ga bakalan dicurigai kalau masuk club itu, let's go kita berangkat," seru Rubby.
"Lo bisa ga ganti baju lo."
Ucapan Gerry sontak membuat Rubby menghentikan langkahnya.
"Maksudnya? memangnya kenapa dengan penampilan gue? jelek atau bagaimana?" tanya Rubby mengerutkan keningnya.
"Bukan jelek, justru lo terlihat sangat cantik malam ini, bisa jadi nanti lo jadi pusat perhatian para pria hidung belang disana," sahut Gerry.
Deg...
Jantung Rubby kembali berdebar, saat Gerry berkata seperti itu.
"Ehhmm...apa hak lo ngatur-ngatur gue, buruan berangkat gue ga mau sampai terlambat," seru Rubby yang langsung meninggalkan Gerry dan Kiting.
Pletaaakkkk....
"Aw, apaan sih lo Ting mukul gue," ketus Gerry.
"Lo itu bego apa tolol, main ngatur-ngatur Bos cantik segala, memangnya lo siapanya Bos cantik, dasar syaraf," seru Kiting dan langsung menyusul Rubby keluar.
"Iya juga ya, gue kan hanya Bodyguardnya ngapain gue larang-larang dia, ah..dasar bodoh," gumam Gerry dengan memukul kepalanya sendiri.
Rubby pun mengendarai mobilnya seorang diri dan di belakangnya Gerry dan Kiting mengikuti mobil Rubby. Tidak membutuhkan waktu lama, Rubby sampai di Casvia club. Rubby turun dari mobilnya dan melihat disekelilingnya, anak buahnya sudah tersebar dimana-mana, ada yang menjadi tukang parkir, tukang baso, dan masih banyak lagi.
Melihat Rubby datang mereka tampak memanggutkan kepalanya. Sedangkan mobil yang di kendarai Kiting berhenti sedikit jauh dari club dan menunggu Rubby masuk setelah itu nanti mereka akan masuk menyusul.
"Nona Rubby."
Rubby membalikkan badannya, terlihat dua pria dengan tubuh besar menghampiri Rubby.
"Bos kita sudah menunggu di dalam, Nona Rubby bisa ikut bersama kami," seru salah satu pria tinggi besar itu.
"Ok."
Rubby pun mulai mengikuti kedu pria itu maduk ke dalam club. Rubby tampak menyipitkan matanya karena suara musik yang lencang langsung menyambut kedatangan Rubby.
"Bos, Nona Rubby sudah datang dan tadi kami sudah memeriksanya kalau Nona Rubby datang seorang diri," seru pria itu.
"Bagus, kalian boleh pergi dan tetap waspada."
"Baik Bos."
Kedua orang itu pergi meninggalkan Rubby dan Bosnya.
"Selamat malam Nona Rubby, wah..wah..wah..ternyata Nona Rubby sangat cantik," seru pria itu.
"Siapa kamu sebenarnya? dan cepat katakan siapa yang sudah membunuh Mama saya?" tanya Rubby to do poin.
"Wow..wow..santai cantik, silakan Nona duduk dulu dan kita minum-minum sebentar."
"Aku tidak minum, lebih baik sekarang cepat kamu katakan apa yang kamu tahu tentang Mama aku?" tanya Rubby dengan dinginnya.
"Aku tidak akan memberitahukannya, sebelum Nona duduk dan menemani aku minum dulu sebentar."
Rubby tampak menghela nafasnya secara kasar, Rubby akhirnya menurut dan duduk.
"Mau aku isikan minumannya ke gelas kosong ini?"
"Tidak, aku pesan orange jus saja."
"Orange jus satu," teriak pria itu dengan mengacungkan satu tangannya sembari mengedipkan matanya seolah memberi kode kepada sang bartender itu.
"Baik Tuan."
Tidak lama kemudian, bartender itu mengantarkan satu gelas orange jus ke meja Rubby.
"Terima kasih, siapa kamu sebenarnya?" tanya Rubby.
"Oh iya, perkenalkan nama aku Miko, satu-satunya orang yang mengetahui kematian Mama kamu.
"Cepat katakan siapa yang sudah membunuh Mama aku?" tanya Rubby dingin.
"Sabar cantik, diminum dululah nanti aku akan kasih tahu siapa pembunuh Mama kamu."
Rubby pun akhirnya menurut dan meminum orange jus itu, tidak ada rasa curiga karena memang saat ini tenggorokan Rubby sangat kering. Pria yang bernama Miko itu tampak tersenyum melihat Rubby meminum minumannya bahkan Rubby hampir menghabiskannya.
Sementara itu diluar, Gerry tampak gelisah dan beberapa kali melihat jam yang melingkar di tangannya.
__ADS_1
"Rubby sudah dua puluh menit di dalam, sepertinya kita harus masuk," seru Gerry.
Kiting melajukan mobilnya dan memarkirkan mobilnya, dua pria tinggi besar yang tadi menjemput Rubby melirik tajam ke arah Gerry dan Kiting.
Dengan santainya Gerry dan Kiting masuk ke dalam club tanpa memikirkan dua pria yang sedang memperhatikan mereka dengan tajam. Sesampainya di dalam, Gerry celingukkan mencari keberadaan Rubby sedangkan Kiting langsung menutup kedua telinganya.
"Busyet, musiknya keras banget keluar dari sini bisa-bisa gue budeg," gumam Kiting.
Gerry sudah menemukan keberadaan Rubby, tapi Gerry merasa aneh dengan sikap Rubby yang tampak merasa gelisah dalam duduknya.
"Aduh, kenapa tiba-tiba jadi panas seperti ini sih?" batin Rubby.
Rubby mengipas-ngipaskan tangannya, tubuhnya sangat panas dan dia ingin sekali membuka bajunya.
"Kenapa Nona? apa kamu mulai kepanasan?"
"Apa yang sudah kamu masukan ke dalam minumanku," bentak Rubby dan berdiri.
"Kamu ikut denganku, aku akan membawamu kepada seseorang dan dia bisa mengobatimu," ajak Miko dengan menarik tangan Rubby.
"Lepasin, kamu mau ngapain?" bentak Rubby sembari mengipas-ngipaskan tangannya.
"Ting, buruan Rubby dalam bahaya."
"Ayo ikut."
"Ga mau."
"Lepasin dia," seru Gerry.
"Siapa kalian, jangan ikut campur kalau kalian tidak mau terluka," sahut Miko.
Gerry menarik Rubby, kali ini Rubby tampak agresif dan bertingkah aneh.
"Ger, tolongin gue panas," seru Rubby dengan suara sexinya.
"Sial, lo masukin obat perangsang ya diminumannya Rubby?" bentak Gerry.
"Kalau iya, memangnya apa yang mau lo lakukan?" seru Miko dengan santainya.
Buuuugggghhhh....
Tanpa aba-aba Kiting memukul Miko sampai tersungkur ke atas sofa.
"Brengsek lo, pengawal urus dua orang ini," teriak Miko.
"Ger, lo bawa Bos cantik pergi ini biar jadi urusan gue."
"Tapi Ting----"
"Lo mau Bos cantik melakukan hal gila disini, buruan bawa Rubby pulang."
Tanpa pikir panjang, Gerry pun membawa Rubby lari sementara Kiting berusaha menghalangi kedua pria itu supaya tidak mengejar Gerry dan Rubby.
Rubby dan Gerry berhasil keluar dari tempat itu..
"Tolong Kiting, dia sedang bahaya di dalam," teriak Gerry kepada anak buah Rubby.
Disaat Gerry masuk ke dalam mobil, Kiting pun berlari dari dalam dengan dikejar oleh beberapa orang suruhan Miko.
Orang suruhan Miko hendak mengejar ketiganya tapi anak buah Rubby dengan sigap menghalangi semuanya, sehingga Kiting bisa melajukan mobilnya tanpa ada yang mengejar.
"Panas Ger, tolongin gue," seru Rubby yang terus menggeliat di kursi belakang.
Rubby tidak mau diam, bahkan saat ini dia sudah berusaha ingin membuka bajunya.
"Wait..wait..lo mau ngapain?" teriak Gerry panik.
"Panas Ger, gue mau lepas baju gue."
"Ah sial."
Gerry pindah duduk ke belakang untuk mencegah Rubby membuka bajunya, gila saja bisa panas dingin dia kalau melihat Rubby telanjang.
"Lepasin Ger, panas gue sudah ga tahan," keluh Rubby yang terus menggeliat dipelukkan Gerry.
"Cepetan Ting."
"Iya, ini juga sudah cepet Ger."
Tanpa di duga-duga, Rubby menarik tengkuk Gerry dan mencium bibir Gerry dengan ganasnya. Gerry membelalakkan matanya, begitu juga dengan Kiting.
"Busyet, menang banyak lo Ger."
Gerry mencoba melepaskan ciuman Rubby tapi Rubby malah semakin menggila. Memeluk dan menciumi leher Gerry membuat Gerry benar-benar dibuat kewalahan.
"Buruan Ting, gue ga yakin bisa kuat nahan kalau terus-terusan kaya gini," rengek Gerry.
"Sabar bro, ini juga gue sudah ngebut."
Rubby kembali menangkup wajah Gerry dan menciumnya kembali dengan rakusnya, bahkan saat ini Rubby menggigit bibir Gerry sampai berdarah.
"Gue ga kuat Ger, tolongin gue," lirih Rubby dengan nafas yang sudah ngos-ngosan.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Rubby, Gerry langsung mengangkat tubuh Rubby. Rubby terus meronta dan menciumi leher dan wajah Gerry.
"Ger, hati-hati jangan sampai kebablasan lo," teriak Kiting.
"Kampret lo, suruh Maya bawain es batu yang banyak ke kamar Rubby," seru Gerry.
"Siap."
Kiting pun melangkahkan kakinya menuju kamar tempat para maid beristirahat, Kiting mengetuk pintu yang bertuliskan Maya.
Tok..tok..tok..
"Neng Maya, bisa keluar sebentar tidak?" seru Kiting.
Ceklek...
"Loh Mas Kiting, ada apa Mas? apa ada yang bisa Maya bantu?" tanya Maya dengan terus menguap.
"Neng, tolong bawakan es batu yang banyak le kamar Bos Rubby sekarang."
"Buat apa, Mas?"
__ADS_1
"Pokoknya kamu bawakan saja es batunya ke kamar si Bos sekarang juga, sebelum terlambat."
"Terlambat? Mas Kiting kalau ngomong itu yang jelas dong, Maya kan ga ngerti," sahut Maya.
"Pokoknya Neng Maya ikuti saja perintah Mas Kiting ya, nanti Mas jelasin."
"Baiklah Mas."
Sementara itu di kamar Rubby, dia terus saja berontak dan menggeliat di atas tempat tidurnya.
"Ger, panas gue sudah ga tahan lagi."
Belum sempat Gerry menjawab, Rubby langsung menarik Gerry sehingga Gerry jatuh di atas tempat tidur Rubby, Rubby naik ke atas tubuh Gerry dan mulai menciumi Gerry lagi.
"Astaga kalau begini terus, pertahanan gue bisa bobol nih," batin Gerry.
Gerry menghentikan aksi liar Rubby...
"Rubby, lo tidak boleh seperti ini, lo ga tahu apa kalau junior gue sudah meronta-ronta dari tadi," batin Gerry.
Gerry pun malangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan menyiapkan air dingin untuk merendam tubuh Rubby. Disaat Gerry keluar kamar mandi dan hendak melihat keadaan Rubby, Gerry membelalakan matanya.
Pakaian dan rok yang Rubby pakai sudah berserakkan di lantai, hanya tinggal *** dan ****** ***** yang melekat di tubuh Rubby. Gerry menelan salivanya saat melihat tubuh putih mulus terpampang nyata di hadapannya.
"Astaga Rubby, lo benar-benar menguji iman gue," gumam Gerry.
Tok..tok..tok..
Gerry segera menutupi tubuh Rubby dengan selimut walaupun Rubby terus saja berontak.
"Masuk."
"Loh Mas Gerry kok ada disini?" tanya Maya.
"Nanti saya jelaskan, sekarang tolong kamu masukkan es batu itu ke dalam bathup."
"Baik Mas."
Maya pun segera menuruti perintah Gerry.
"Sudah Mas."
"Kamu jangan dulu pergi, diam disini."
Gerry mengangkat tubuh Rubby yang saat ini sudah tertutup selimut ke dalam kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, mau tidak mau Gerry melepaskan selimutnya dan memasukkan Rubby ke dalam air es itu, awalnya dia masih berontak tapi Gerry terus saja mengguyur kepala Rubby dengan air itu, hingga lama-kelamaan Rubby mulai tenang dan saat ini malah tertidur di dalam bathup.
"Maafin gue yang sudah melihat tubuh indah lo," gumam Gerry.
Gerry pun kembali mengangkat tubuh Rubby dengan di balut memakai selimut kembali, kemudian merebahkan Rubby di atas tempat tidurnya.
"May, tolong kamu ganti baju Nona Rubby dan kamu juga ganti selimutnya dengan selimut baru, aku pergi dulu," seru Gerry.
"Baik Mas."
Gerry pun pergi meninggalkan kamar Rubby, sementara itu di kamarnya, Kiting tampak mondar-mandir dengan menggigit kuku-kuku jarinya, hingga pintu kamar terbuka dan Kiting segera menghampiri Gerry.
"Bagaimana? lo ga kebablasan kan?" tanya Kiting penasaran.
"Apaan sih lo Ting."
"Wah benar-benar, malam ini lo menang banyak Ger."
"Menang banyak apanya? masih mending kalau dia sadar, lah ini akibat terpengaruh sama obat perangsang berarti Rubby melakukannya tanpa sadar," sahut Gerry.
"Ya tetap saja lo beruntung, bisa dicium sama Bos cantik."
"Lo tahu Ting, gue susah payah nahan hasrat gue dan menguatkan iman gue melihat pemandangan indah yang terpampang jelas dihadapan gue, walaupun lo tahu kalau junior gue dari tadi meronta-ronta," sahut Gerry.
"Hahaha....lo mau kemana?" tanya Kiting saat melihat Gerry melangkahkan kakinya.
"Gue mau nenangin junior gue," sahut Gerry yang disambut gelak tawa dari Kiting.
Gerry masuk ke dalam kamar mandi dan segera merendam tubuhnya dengan air dingin, bayangan tubuh Rubby yang sexi, putih, mulus, terbayang-bayang di otaknya bahkan mengingat Rubby menciumnya membuat Gerry tersenyum.
Wajah Gerry kembali berubah saat mengingat kejadian di club.
"Sialan siapa pria itu? pasti dia ingin melecehkan Rubby dengan alasan tahu siapa pembunuh Mamanya, dan memberikan Rubby obat perangsang itu." gumam Gerry.
Sementara itu disebuah kamar hotel yang mewah, Miko dan anak buahnya tampak menundukkan kepalanya, mereka terlihat babak belur karena disiksa oleh anak buah Rubby dan mereka berhasil kabur.
"Dasar manusia tidak berguna, melakukan hal sepele saja kalian tidak mampu," bentak Juan.
"Maaf Tuan, kami tidak tahu kalau anak buah Nona Rubby sudah stand by disana," sahut Miko.
"Kalian memang bodoh, keluar kalian dari sini atau aku akan menembak kepala kalian satu persatu," bentak Juan.
"Ba--baik Tuan."
Miko dan anak buahnya pun dengan cepat keluar dari kamar hotel itu. Juan melempar gelas minuman yang sedang dia pegang sampai pecah berantakan.
"Kurang ajar, kedua Bodyguard Rubby harus segera disingkirkan terlebih dahulu biar mereka tidak selalu mengganggu rencanaku," gumam Juan dengan mengepalkan tangannya.
💰
💰
💰
💰
💰
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1