ANAK BUAH KESAYANGAN

ANAK BUAH KESAYANGAN
Bab 7


__ADS_3

πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


Rubby tampak serius mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Keningnya mengkerut melihat satu persatu berkas itu dan membuat Gerry yang dari tadi memperhatikan Rubby menyunggingkan senyumannya.


"Bos, waktunya makan siang," seru Gerry.


Rubby mendongakkan kepalanya dan melihat jam tangannya.


"Kalau kalian mau makan siang, silakan duluan gue masih banyak pekerjaan."


"Tidak bisa, pokoknya kita akan makan siang kalau Bos juga makan siang," seru Gerry.


"Betul itu," sahut Kiting.


"Kok jadi kalian yang ngatur-ngatur gue sih? disini siapa Bosnya," bentak Rubby.


"Maaf Bos, tapi kita tidak mau sampai Bos sakit bagaimana pun sekarang Bos jadi tanggung jawab kita, kalau sampai terjadi kenapa-napa sama Bos, kita akan yang merasa bersalah," sahut Kiting.


Tanpa menunggu persetujuan Rubby, Gerry langsung menarik tangan Rubby sehingga membuat Rubby terkejut.


"Hei, lo apa-apaan sih? lepasin tangan gue, lo lancang sekali tarik-tarik tangan Bos lo," bentak Rubby.


Gerry tetap menarik tangan Rubby sampai lobi, setelah itu Gerry segera membukakan pintu mobilnya dan mendorong Rubby untuk masuk ke dalam mobil.


"Lo gila Gerry, kenapa memaksa gue kaya gini?" bentak Rubby.


"Nona harus makan, kalau Nona sakit kita juga yang susah," sahut Gerry datar.


"Dasar cowok nyebelin," gerutu Rubby.


Gerry tidak mendengarkan gerutuan Rubby, begitu pun dengan Kiting yang langsung menancabkan gas menuju restoran terdekat. Tidak membutuhkan waktu lama, mobil mewah itu pun sampai di sebuah restoran, Gerry segera membukakan pintu mobil dan Rubby masih cemberut serta meninggalkan keduanya masuk ke dalam restoran. Gerry hanya tersenyum melihat Rubby cemberut seperti itu.


Rubby duduk di kursi dan langsung memesan makanan, sementara Gerry dan Kiting duduk di meja yang berbeda karena bagaimana pun mereka hanyalah sebatas anak buah tidak pantas duduk bersama Bosnya.


Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang. Perut Rubby langsung keroncongan saat melihat makanan di hadapannya, dengan cepat Rubby langsung melahapnya. Tapi baru saja satu suapan, ada seseorang yang menarik tangannya secara kasar sehingga sendok yang Rubby pegang jatuh.


"Akhirnya aku menemukanmu, Rubby," seru pria itu dengan seringainya.


Gerry dan Kiting langsung sigap menghampiri Rubby dan melepaskan tangan Rubby dari genggaman pria asing itu.


"Jangan sentuh Bos kita," seru Kiting.


"Hahaha...Bos? jadi sekarang kamu mempekerjakan dua orang tidak berguna ini untuk menjadi Bodyguardmu, Rubby."


"Bukannya dia Juan Rahman Gilbert," batin Gerry.


"Maaf anda siapa? jangan mengganggu Bos kita, saat ini dia sedang makan," seru Gerry.


Juan menarik kerah jas Gerry, sesaat mereka saling tatap dengan tatapan kemarahan satu sama lain.


"Kamu hanya sebatas Bodyguard, jadi kamu tidak berhak ikut campur urusan aku dan Rubby. Rubby sekarang juga kamu harus ikut denganku," seru Juan dan menarik paksa tangan Rubby.


"Lepasin gue Juan, gue ga mau ikut sama lo," teriak Rubby dengan terus berontak.


Gerry dan Kiting bersiap menghalangi Juan tapi empat orang anak buah Juan langsung menghadang Gerry dan Kiting.


"Minggir kalian," seru Gerry.


"Jangan banyak omong kamu."


Keempat orang itu langsung menyerang Gerry dan Kiting, akhirnya terjadi perkelahian di dalam restora itu sehingga membuat semua pengunjung berteriak dan memilih pergi dari restoran itu.


Rubby menggigit tangan Juan sampai berdarah sakit kerasnya gigitan Rubby.


"Aw, beraninya kamu melawan kepadaku Rubby," bentak Juan.


"Kenapa tidak, belum puaskah lo sama nyokap lo mengambil semua harta kekayaan milik Papa? sekarang apa lagi yang lo mau?" Rubby pun membalasnya dengan bentakkan.


"Kamu tahu Rubby, kalau dari dulu aku menginginkanmu, ayolah jangan sok jual mahal hidup di Amerika tidak menjamin kamu masih perawan pasti kamu sudah tidur dengan banyak pria kan? tapi kenapa kamu tidak mau tidur denganku?" sahut Juan dengan santainya.


Plaaaaaakkkkk....


"Jangan sembarangan lo kalau ngomong, kenapa lo selalu memaksa gue? lo lupa kalau kita adalah saudara," bentak Rubby.


"Berani sekali kamu menamparku."


Juan mendorong tubuh Rubby ke samping mobilnya dan mencengkram wajah Rubby.


"Kamu lupa kalau kita hanyalah saudara tiri Rubby, jadi sampai kapanpun aku tidak pernah menganggap kamu adalah adikku," sahut Juan.


Juan melepaskan cengkramannya, kemudian tangannya mengelus pipi mulus Rubby.


"Sudah lama tidak bertemu, kamu semakin cantik dan sexi saja Rubby, aku semakin menginginkanmu," bisik Juan di telinga Rubby.

__ADS_1


Sekuat tenaga Rubby mendorong tubuh Juan dan Rubby langsung berlari menghampiri Gerry. Keempat anak buah Juan terkapar di lantai tidak berdaya.


"Dasar kalian bodoh, mengurus dua orang saja tidak becus, bangun kalian," teriak Juan.


Keempat anak buah Juan pun bangun dengan tertatih-tatih.


"Awas kalian, dan kamu Rubby aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi, kamu harus menjadi milikku," seru Juan dan pergi meninggalkan restoran itu.


Rubby mengeluarkan beberapa lembar uang untuk mengganti kerusakan yang diperbuat oleh Bodyguardnya.


"Kita kembali ke kantor," seru Rubby dingin.


Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan diantara mereka. Wajah tampan Gerry tampak babak belur akibat perkelahian tadi, begitu juga dengan wajah Kiting.


Sesampainya di kantor, keduanya mengikuti Rubby dari belakang.


"Didit, tolong bawakan es batu ke dalam ruangan saya."


"Baik Nona."


Sesampainya di dalam ruangan Rubby, Rubby mengambil kotak p3k dari dalam laci.


"Kalian berdua duduk," perintah Rubby dengan dinginnya.


Keduanya pun menurut dan duduk di sofa, tidak lama kemudian Didit datang dengan membawa es batu di tangannya.


"Ini Nona es batunya."


"Iya, terima kasih kamu boleh kembali bekerja."


"Baik Nona."


Rubby dengan sigap mengobati wajah Kiting terlebih dahulu, Kiting sampai gugup di obati sama Bos cantiknya itu.


"Sudah Bos, biar gue sendiri saja yang obati."


Rubby tidak bicara sedikit pun, dia beralih mengobati wajah Gerry. Rubby mengambil es batu dan mengompres luka lebam di wajah tampan Gerry.


Gerry terus saja memperhatikan wajah cantik Rubby, mata Rubby memerah seperti menahan tangisannya. Rubby dengan telaten mengobati luka lebam itu dan mengoleskan salep ke wajah Gerry.


"Sore ini Tuan Shen-shen tiba dari China, kalian harus rajin berlatih lagi karena anak buah mereka lebih jago dan yang pastinya lebih banyak," seru Rubby datar.


Tiba-tiba Gerry memegang tangan Rubby yang sedang mengompreskan es batu ke wajahnya.


"Siapa lo sebenarnya? kenapa hidup lo penuh dengan misteri, kenapa lo kenal dengan Juan? bukankah dia seorang palyboy kelas kakap yang sering gonta-ganti teman kencan? dan kenapa cewek kaya lo banyak sekali musuh yang mengincar, gue sangat penasaran dengan kehidupan lo," ucap Gerry dengan tatapan tepat ke arah mata Rubby.


"Jangan penasaran sama hidup gue, karena gue mempekerjakan lo hanya sebatas menjadi Bodyguard gue bukan untuk mengorek kehidupan gue, lo jangan macam-macam ikut campur dengan urusan gue, cukup lo lakukan perintah dan tugas yang gue berikan kalau lo berani cari tahu tentang gue apalagi mengkhianati gue, gue pastikan gue bakalan bunuh lo dengan tangan gue sendiri," sahut Rubby dengan penuh penekanan dan menepis tangan Gerry.


"Ting, gue keluar dulu sebentar mau cari makanan, ingat lo jagain Rubby jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi," bisik Gerry.


"Siap."


Gerry pun pergi tanpa meminta izin kepada Rubby, Rubby hanya melirik Gerry sebentar dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sebuah email masuk, dan Rubby segera membukanya. Perlahan Rubby membacanya dengan teliti dan tiba-tiba senyumnya tersungging.


"Ternyata dia hanya orang biasa, gue bisa tenang dan gue tidak perlu khawatir dengan mereka," batin Rubby.


Tidak lama kemudian, Gerry kembali dengan dua kantong penuh dengan makanan. Lagi-lagi Gerry mengacuhkan Rubby dan Rubby pun hanya berani meliriknya, Rubby sadar kalau nada bicaranya tadi sedikit kasar kepada Gerry.


Gerry membuka satu persatu makanan itu, Gerry membeli beberapa porsi ayam bakar, nasi timbel, lalapan, tahu, tempe dan juga sambel. Tadi Gerry tidak sempat makan karena ada insiden yang tidak di duga-duga.


"Cakep, harum sekali baunya," seru Kiting.


Gerry melirik ke arah Rubby tapi Rubby sedang sibuk dengan pekerjaannya, daripada nanti kena semprot lagi lebih baik Gerry diam dan mulai melahap makanannya.


"Bos, apa Bos mau ikut makan? si Gerry membeli nasi dan lauknya beberapa porsi," seru Kiting.


"Tidak, kalian makan saja."


Sebenarnya Rubby sangat lapar karena dia juga sama sekali belum makan tapi gengsinya sangat besar kalau harus ikut makan dengan anak buahnya apalagi tadi Rubby sudah memarahi Gerry.


Kriuuuukkk....kriuuukkk...


Tiba-tiba suara perut Rubby berbunyi membuat Rubby menggigit bibir bawahnya karena menahan malu, sedangkan Gerry tampak menahan tawanya supaya tidak pecah.


"Kalau lapar jangan di tahan-tahan, jangan sok-sokan gengsilah," sindir Gerry.


"Apaan sih lo, kalau gue lapar, gue bisa pesan makanan sendiri ga perlu minta makanan sama lo," ketus Rubby.


"Baguslah, ya sudah sana pesan makanan nanti lo pingsan lagi karena kelaparan," sindir Gerry.


"Sial, baru kali ini gue punya anak buah berani banget sama Bosnya, dasar nyebelin," batin Rubby.


"Bos cantik, sudah ikut makan saja bareng kita ini ada satu porsi lagi," ajak Kiting.


"Sudah jangan gengsi-gengsian, lo ga ngiler apa lihatnya? ini adalah makanan paling enak, dan gue yakin lo belum pernah memakannya," sahut Gerry dengan terus melahap makanannya.


Rubby sudah tidak tahan lagi, perutnya sudah sangat lapar dan tidak bisa di tunggu-tunggu lagi, akhirnya Rubby pun langsung duduk di samping Gerry, masa bodo dengan imagenya yang penting saat ini perutnya sangat lapar.


Gerry tersenyum penuh dengan kemenangan, tanpa menunggu lagi Rubby langsung membuka bungkusan nasi dan ayam bakarnya kemudian memakannya dengan lahap, karena lapar Rubby tidak peduli dengan statusnya yang sebagai seorang Bos, membuat Kiting melongo melihat Bos cantiknya makan selahap itu.

__ADS_1


"Astaga makannya pelan-pelan kali, ga bakalan ada yang ngambil makanan lo," seru Gerry.


Rubby menatap tajam ke arah Gerry, baru saja Rubby ingin membalas ucapan Gerry tapi Gerry dengan cepat memasukan daun selada ke mulut Rubby sampai penuh membuat Rubby melotot, Rubby sampai kesusahan mengunyah daun selada itu membuat Gerry dan Kiting tertawa.


Rubby kesal disela-sela keduanya menertawakan Rubby, Rubby pun mengambil daun selada yang dikasih sambel dan memasukkannya ke dalam mulut Gerry dan Kiting yang saat ini lagi tertawa lebar.


"Rasain kalian, siapa suruh menertawakan gue," seru Rubby.


"Astaga pedas banget," sahut Gerry yang dengan cepat mengambil air minum.


Begitu pun dengan Kiting yang sama hebohnya kaya Gerry, mereka berdua jingkrak-jingkrak saking pedasnya mulut mereka. Sedangkan Rubby tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya melihat kelakuan para Bodyguardnya itu.


"Syukurin," seru Rubby dengan terus tertawa.


Disela-sela kehebohan mereka, Gerry tampak terpesona melihat tawa Rubb. Menurut Gerry, Rubby sangat cantik kalau sedang tertawa karena semenjak mereka bertemu dengan Rubby, mereka tidak pernah melihat Rubby tertawa segirang itu.


"Uhuk..uhuk..uhuk..."


Tiba-tiba Rubby tersedak, dengan cepat Gerry memberikan minum kepada Rubby dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Kualat sih lo, menertawakan kita yang sedang kepedesan makannya lo jadi kesedak," seru Gerry.


Setelah selesai makan, Rubby memanggil cleaning servis untuk membersihkan bekas makan mereka. Suasana kembali hening, Gerry tampak mengamati seluruh ruangan kerja Rubby.


Ruangan mewah namun terlihat elegan, Gerry kembali melihat ke arah Rubby yang tampak mengerutkan keningnya, perlahan Gerry mendekat ke arah Rubby.


"Kenapa?" tanya Gerry.


"Ga apa-apa, cuman gue sedikit ga ngerti sama berkas ini."


"Boleh gue lihat?"


"Memangnya lo ngerti dengan kaya ginian?" tanya Rubby.


"Ya makannya lihat dulu, kali aja gue ngerti."


Awalnya Rubby ragu, tapi Rubby akhirnya percaya juga dan memberikan berkas itu kepada Gerry. Gerry membacanya sangat teliti, hingga Gerry menemukan titik yang jadi masalah dan membuat Rubby bingung.


Rubby sampai melongo mendengar penjelasan Gerry, mulutnya menganga tidak menyangka kalau Gerry mengerti dan bisa menemukan titik masalahnya.


"Hai, tutup tuh mulut nanti ada lalat masuk," seru Gerry.


Rubby terkesiap dan langsung menutup mulutnya...


"Sebentar, kok lo ngerti sama ginian?" tanya Rubby menyipitkan matanya.


"Ah, iya juga ya kok gue ngerti? mungkin karena dulu gue punya sahabat seorang pengusaha dan sering ikut ke kantornya juga dan sedikit-sedikit belajar dari dia," dusta Gerry.


"Siapa sahabat lo?"


"Oh itu..itu...pemilik perusahaan PT.SINAR JAYA."


"Apa? PT.SINAR JAYA? tunggu, kok gue serasa familiar dengan nama perusahaan itu, bukannya dulu perusahaan itu hampir bangkrut ya dan sekarang malah sudah berpindah tangan kepada Darius Tanuwijaya? menurut berita yang gue dengar, anak dari Tanuwijaya itu meninggal karena bunuh diri akibat stres kehilangan perusahaan dan semua asetnya," sahut Rubby.


"Apa? bunuh diri? stres?" seru Gerry kaget.


"Lah katanya lo sahabatan sama pemilik perusahaan itu tapi saat dia meninggal lo ga tahu, gimana sih lo?"


"Ah iya, jelas gue tahulah barusan gue hanya terkejut saja kok beritanya sampai segitunya, bagaimana kalau sampai sekarang anak dari Tanuwijaya masih hidup?" tanya Gerry.


"Ga mungkinlah karena surat kabar memberitakan kalau mobilnya masuk jurang dan meledak, ga mungkin dia selamat."


"Kurang ajar, jadi mereka bilang kalau gue bunuh diri karena stres," batin Gerry dengan mengepalkan tangannya.


Gerry beralih metapap Rubby yang saat ini sudah kembali fokus ke pekerjaannya.


"Andaikan lo tahu kalau gue adalah Gerry Putera Tanuwijaya," batin Gerry.


πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


Ayo dong guys, mana dukungannyaπŸ™πŸ™


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2