ANAK BUAH KESAYANGAN

ANAK BUAH KESAYANGAN
Bab 23


__ADS_3

💰


💰


💰


💰


💰


Keesokkan harinya....


"Gerry, Kitting, malam ini aku mau ke Australia ada yang perlu aku urus disana sekalian nengok Papa, tolong kalian jaga rumah ya jangan sampai ada musuh yang mengetahui keberadaan kita," seru Rubby.


"Apa? ke Australia? kok kamu ga ngomong sama aku sebelumnya?" tanya Gerry.


"Maaf Ger, ini mendadak sekali. Tadi malam Pak Rinto menghubungiku katanya perusahaanku ada yang meretas dan semua berkas-berkas penting perusahaan sudah bocor tapi untungnya Pak Rinto cepat mengetahuinya dan rahasia perusahaan tidak sampai bocor," jelas Rubby.


"Siapa pelakunya?" tanya Kiting.


"Pak Rinto sudah menangkapnya, dia orang dalam yang sudah bekerjasama dengan perusahaanku dan aku harus kesana untuk meintrogasi orang itu."


"Apa perlu aku ikut?" tanya Gerry.


"Tidak usah Ger, kamu urus saja perusahaan aku takut perusahaan aku yang ada disini pun ada yang meretas, jadi kalian harus hati-hati karena sepertinya musuh mulai mendekat dan berada dimana-mana."


"Tapi aku khawatir, kamu pergi sendirian."


"Tidak usah khawatir, aku pergi sama Shifu dan beberapa pengawal juga, makannya aku berangkat nanti malam."


Gerry tampak cemberut, sepertinya dia tidak rela Rubby pergi. Bukannya apa-apa, Gerry takut terjadi sesuatu kepada Rubby.


"Ya sudah, semuanya Kiting berangkat dulu."


"Saya juga pamit, mau siap-siap dulu," seru Shifu Shen-shen.


Tinggallah Rubby dan Gerry berdua di meja makan, tidak ada pembicaraan Gerry tampak kesal.


"Aku juga berangkat ke kantor dulu," seru Gerry dan langsung pergi begitu saja.


Rubby berlari dan menghentikan Gerry...


"Tunggu, kamu kenapa sih?"


"Masih nanya kenapa? aku itu khawatir sama kamu takut terjadi kenapa-napa sama kamu, apalagi kamu pergi tidak denganku."


Rubby tersenyum dan langsung memeluk Gerry dengan erat.


"Aku janji tidak akan terjadi apa-apa denganku dan aku akan segera kembali lagi kesini."


Akhirnya Gerry pun luluh juga, dan membalas pelukkan Rubby.


"Jaga diri kamu baik-baik, kalau sampai terjadi kenapa-napa kamu harus langsung menghubungiku."


Rubby melepaskan pelukkannya dan menaikkan satu alisnya.


"Hai, kamu pikir jarak Australia dan Indonesia itu dekat. Kalau sampai terjadi sesuatu sama aku dan aku menunggu kamu datang, bisa-bisa kamu sampai sudah melihat aku menjadi mayat."


Gerry dengan cepat kembali memeluk Rubby dan menghujani ciuman di kepala Rubby.


"Kamu jangan bicara seperti itu, kamu sudah membuat aku sangat takut."


"Sudah lepas, sana berangkat ke kantor nanti terlambat."


Gerry pun melepaskan pelukkannya...


"Ya sudah, aku berangkat dulu," seru Gerry dengan mencium pipi Rubby.


***


Sementara itu, seperti biasa Kiting melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pagi ini dia tidak mau terburu-buru.


Bruuggghhh...


Kiting menginjak gasnya dengan sangat mendadak, dia terkejut tiba-tiba ada seorang wanita berlari tanpa melihat jalan dan di kejar-kejar oleh dua orang yang berbadan tinghi besar.

__ADS_1


"Astaga."


Kiting dengan cepat keluar dari mobilnya, karena melihat wanita yang tadi menabrak mobilnya diseret oleh orang itu.


"Woi, jangan kasar sama cewek, banci kalian beraninya sama cewek," teriak Kiting dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.


Kedua pria bertubuh tinggi besar itu membalikkan badannya, Kiting terkejut ternyata wanita itu adalah Celline dan terlihat wajah Celline memar sepertinya Celline sudah dipukul oleh mereka.


Seketika darah Kiting naik ke ubun-ubun, entah apa yang dia rasakan yang jelas melihat Celline babak belur seperti itu membuat dadanya sesak dan marah.


"Jangan ikut campur urusan kita, kamu siapa?" seru salah satu orang itu.


"Raga, lo pergi jangan ikut campur urusan gue, gue ga mau lo terluka gara-gara gue," seru Celline.


"Lepaskan wanita itu, kenapa kalian memukuli seorang wanita," seru Kiting dingin.


"Hahaha...kamu mau jadi pahlawan buat wanita ini? lebih baik sekarang kamu pergi sebelum kamu menyesal," seru yang satunya lagi seolah meremehkan Kiting.


"Raga, gue mohon lo pergi."


Bukannya pergi, Kiting malah melangkah mendekati mereka. Dengan santainya Kiting menepuk pundak kedua orang itu.


"Lepaskan Celline, atau kalian yang akan menyesal," seru Kiting dengan santainya.


"Kurang ajar."


Salah satu orang itu langsung menyerang Kiting, tapi dengan mudahnya Kiting menghindar. Perkelahian pun terjadi, namun tidak membutuhkan waktu lama, orang itu langsung kalah di tangan Kiting.


"Awas kamu ya."


Satu orang lagi menyerang Kiting, tapi dengan santainya Kiting melawan dia. Jangan lupakan siapa Kiting, bahkan guru beladirinya pun langsung didatangkan dari China.


Kedua pria tinggi besar itu kalah seketika dengan mudah.


"Awas kamu Celline, kami akan datang lagi," seru orang itu dan mereka pun pergi dengan menahan rasa sakit.


"Lo ga apa-apa Cell?" tanya Kiting.


Celline bukannya menjawab, malah berlari dan memeluk Kiting. Kiting seketika diam mematung, mendapat pelukkan mendadak seperti itu.


"Terima kasih Raga, barusan kalau tidak ada lo, gue tidak tahu apa yang akan terjadi sama gue," seru Celline dengan sesegukkan di pelukkan Kiting.


"Sudah jangan menangis."


Celline tersadar dan melepaskan pelukkannya..


"Maaf..." lirih Celline.


"Tidak apa-apa."


Celline menundukkan kepalanya karena merasa malu dan seketika wajahnya pun memerah. Kiting tersenyum melihat tingkah wanita cantik yang ada dihadapannya itu, dengan cepat Kiting menarik tangan Celline dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.


"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Celline.


"Sudah diam, lo duduk manis saja jangan banyak omong."


Kiting mulai melajukan mobilnya dengan senyuman dibibirnya. Di pertengahan jalan, Kiting berhenti di depan sebuah Apotek dan membeli obat untuk Celline.


Celline hanya diam di dalam mobil, menunggu Kiting. Tidak lama kemudian Kiting kembali, tanpa banyak bicara Kiting kembali melajukan mobilnya. Kiting menghentikan mobilnya di sebuah Taman kota.


"Ayo turun," ajak Kiting.


Kiting pun berjalan dan duduk di sebuah kursi taman, Celline pun menyusulnya dan ikut duduk di samping Kiting.


"Sini, gue obatin luka lo," seru Kiting.


"Tidak usah, biar gue saja."


"Jangan banyak membantah, sini."


Kiting menarik wajah Celline dan mulai mengobatinya, wajah mereka berdua begitu sangat dekat bahkan nafas Kiting pun sangat terasa menyapu wajah Celline.


"Astaga, kenapa jantung gue berdebar-debar seperti ini? Raga tampan sekali," batin Celline.


Kiting masih dengan serius mengobati luka memar di wajah cantik Celline, Kiting baru sadar kalau dari tadi Celline memperhatikannya dan Kiting pun menghentikan kegiatannya, sesaat Kiting dan Celline saling tatap satu sama lain.

__ADS_1


Deg..deg..deg..


Jantung mereka berdua berdetak tak karuan, hingga keduanya memutus pandangannya satu sama lain. Mereka membenarkan posisi duduknya dan sama-sama menjadi salah tingkah.


"Sini, biar gue sendiri yang obatin," seru Celline.


Celline dengan cepat mengambil obat yang berada di tangan Kiting, sedangkan Kiting hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tadi lo kenapa di kejar-kejar sama dua orang itu?" tanya Kiting memecah keheningan.


Celline hanya diam saja, dia tidak tahu harus bercerita bagaimana yang jelas bagi Celline itu merupakan hal yang memalukan.


"Ya sudah kalau lo ga mau jawab pertanyaan gue."


"Mereka depkolektor."


"Depkolektor?"


"Iya, gue minjam uang kepada salah satu Bank karena waktu itu Ibu gue sakit keras dan harus segera mendapat penanganan, tabungan gue ga cukup buat bayar biaya rumah sakit, akhirnya gue minjam uang ke Bank. Saat ini pekerjaan gue sebagai pengantar koran dan pelayan di restoran hanya cukup buat makan dan bayar kontrakan, jadi gue nunggak dan belum bayar selama dua bulan, makannya tuh depkolektor ngejar gue dan mereka bakalan gue bawa ke kantor Polisi," jelas Celline.


Celline meneteskan airmatanya, tapi dengan kasar dia langsung menghapusnya, dia tidak mau dipandang lemah oleh orang lain.


Kiting merasa kasihan dengan nasib Celline, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang selama ini dia mendapatkan kemewahan karena kebaikan Bos cantiknya.


"Memang berapa hutang lo?" tanya Kiting.


"Dua puluh juta."


Kiting hanya manggut-manggut, dia pikir kalau minta bantuan kepada Bos cantik bisa saja menolongnya, apalagi hanya uang dua puluh juta ga bakalan ada artinya buat Bos cantik.


Celline menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. Celline melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Raga, sepertinya kita harus segera ke kampus, dua puluh menit lagi mata kuliah kita dimulai, gue ga mau sampai kita telat dan ketinggalan mata kuliahnya," seru Celline.


"Ya sudah yuk."


Celline dan Kiting pun beranjak dari duduknya, tapi kaki Celline merasa sakit mungkin akibat jatuh tertabrak mobil Kiting, sehingga tubuh Celline sedikit oleng tapi dengan sigap Kiting menarik tubuh Celline sehingga Celline tidak terjatuh ke tanah melainkan jatuh kepelukkan Kiting.


Lagi-lagi bak adegan sinetron mereka saling tatap satu sama lain. Tangan Celline reflek memeluk pinggang Kiting, tapi Celline merasakan ada sesuatu yang tidak sengaja dia sentuh.


"Lo ga apa-apa?" tanya Kiting.


Seketika Celline tersadar dan kembali berdiri.


"Maaf, kaki gue sedikit sakit."


"Apa kita ke rumah sakit saja? sepertinya akibat tadi gue nabrak lo, gue takut kaki lo kenapa-napa," seru Kiting.


"Ah tidak usah, palingan cuma lecet sedikit. Sudah yuk kita ke kampus," ajak Celline.


Celline pun segera masuk ke dalam mobil Kiting dan Kiting pun menyusul Celline. Kiting mulai melajukan mobilnya menuju kampus, Celline menatap ke arah luar jendela.


"Gue yakin yang tadi gue sentuh itu sebuah pistol, siapa sebenarnya Raga? kenapa dia sampai membawa pistol segala?" batin Celline.


Ada perasaan takut di dalam diri Celline, masih mending kalau seandainya Kiting seorang Polisi, ini kalau Kiting seorang penjahat atau bahkan seorang *******, Celline benar-benar menjadi takut dekat dengan Kiting.


💰


💰


💰


💰


💰


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2