ANAK BUAH KESAYANGAN

ANAK BUAH KESAYANGAN
Bab 32


__ADS_3

💰


💰


💰


💰


💰


Kiting membawa makanan ke kamar dimana Celline di sekap. Terlihat Celline sedang duduk memeluk lututnya dan pandangannya lurus keluar jendela.


"Makanlah."


Kiting menyimpan piring yang berisi makanan di samping Celline dan Kiting pun langsung meninggalkan Celline kembali.


Hati Kiting sebenarnya tidak tega melihat Celline diperlakukan seperti itu, jujur Kiting sudah mulai jatuh cinta kepada Celline tapi melihat kenyataan seperti ini Kiting merasa tidak yakin dengan kejujuran Celline.


"Maafkan gue Raga, maaf," batin Celline dengan menenggelamkan wajahnya sembari memeluk erat lututnya.


Celline pun tidak memungkiri kalau dia jatuh cinta kepada Kiting, Kiting yang selalu ada untuk Celline dan selalu membantu Celline disaat Celline sedang membutuhkan bantuan.


***


Rubby terduduk dengan bekas airmata yang masih terlihat dipipinya, Papa Robby pun duduk di sampaing Rubby dengan pandangan kosong, sementara Shifu Shen-shen masih belum sadarkan diri terbaring dihadapan Rubby dan Robby.


Tiba-tiba tangan Shifu pun bergerak...


"Shifu..."


Rubby mendekat kearah Shifunya itu..


"No--na..ma--afkan sa--ya ka--rena sa--ya ti--dak bi--sa me--lin--dungi Tu--an dan an--da."


"Tidak Shifu, Shifu sudah banyak berjasa di keluargaku, justru kami sangat berterima kasih karena Shifu selalu menjaga dan melindungi kami," seru Rubby dengan deraian airmata.


"Maaf, hanya sampai disini saya bisa menjaga keluarga anda."


"Tidak Shifu, Shifu harus bertahan, aku yakin Shifu orang yang sangat kuat dan sebentar lagi Gerry dan Kiting pasti bisa menemukan kita disini."


Shifu Shen-shen berusaha untuk duduk dibantu oleh Rubby dan Rubby menyandarkan tubuh Shifu Shen-shen.


"Bertahanlah Shifu."


Shifu Shen-shen menganggukkan kepalanya lemah.


"Di rumah ada pengkhianat Nona."


"Apa? siapa Shifu?"


"Nanti juga Nona akan tahu siapa orang itu."


Rubby sangat terkejut dengan ucapan Shifunya, siapa yang menjadi pengkhianat di rumahnya.


***


Waktu pun berjalan dengan cepat, orang-orang dari Australia pun sudah datang dan sekarang sudah menyiapkan senjatanya masing-masing.


Gerry dan Kiting sudah memakai pakaiannya lengkap, tidak lupa rompi anti peluru dan senjata full dengan isinya.


"Disini ada yang berjaga-jaga untuk menjaga Celline jangan sampai kalian kecolongan lagi," seru Gerry.


"Baik Tuan."


"Ayo, sudah siap semuanya."


"Kita berangkat sekarang."


Gerry, Kiting, dan semua anak buahnya berangkat menggunakan mobil masing-masing.


Butuh waktu yang lumayan lama untuk sampai di tempat tujuan, Gerry menyuruh semuanya untuk berhenti dari jarak yang lumayan jauh.


"Gila Ger, penjagaannya banyak banget," seru Kiting.


"Kita harus cari strategi."


Gerry, Kiting, dan yang lainnya pun membuat sebuah rencana. Mereka memutuskan untuk menyimpan mobilnya dan menuju lokasi tanpa menggunakan mobil.


Dengan mengendap-ngendap, Gerry mendekat ke rumah yang banyak penjagaan itu. Satu per satu pengawal Juan bisa dilumpuhkan, sehingga saat ini Gerry dan Kiting sudah bisa masuk kehalaman rumah dengan terlebih dahulu merusak cctv.


Anak buah Rubby dari Australia memang sangat terlatih, mereka sangat cepat melumpuhkan musuh-musuhnya tanpa suara sedikit pun.


"Tuan, di samping bangunan ini ada pintu menuju ruangan bawah tanah, menurut feeling saya Nona Rubby dan Tuan Robby di sekap disana," seru salah satu anak buahnya.

__ADS_1


"Benarkah?"


Gerry dan Kiting beserta beberapa anak buah menuju pintu yang dimaksud dan benar saja pintu itu menuju ruangan bawah tanah yang sangat gelap.


Butuh kejelian dan hati-hati melewati ruangan itu karena ditakutkan anak buah Juan tiba-tiba muncul, dan benar saja beberapa anak buah Juan menyadari kedatangan Gerry.


Seketika terjadi perkelahian diantara mereka, semakin masuk ke dalam anak buah Juan semakin banyak membuat Gerry dan yang lainnya merasa kewalahan, tapi tidak lama kemudian anak buah Gerry yang lainnya datang membantu.


"Tuan, cepat cari Nona dan Tuan ini biar kami yang urus."


"Baiklah, ayo Ting."


Gerry dan Kiting segera menuju pintu yang ternyata dijaga oleh pengawal bersenjata lengkap.


"Bagaimana ini Ger?"


"Kita alihkan perhatian mereka."


Dooorrrrr...


Gerry menembak jendela yang berada tepat di samping pengawal itu, membuat kedua pengawal itu menoleh dan berlari mencari asal tembakan.


"Ayo Ting, ini kesempatan kita."


Gerry dan Kiting masuk, ketiga orang yang ada didalam menoleh kearah pintu.


"Gerry."


"Sayang."


Rubby berdiri dan berlari memeluk Gerry.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang."


"Aku tidak apa-apa, tapi Papa dan Shifu terluka parah mereka menyiksanya," sahut Rubby menangis tersedu-sedu dipelukkan Gerry.


Kiting terlihat mengepalkan tangannya...


Prok..prok..prok..


"Wah..wah..wah..ternyata sang Bodyguard sudah datang," seru Juan dengan senyumannya.


Gerry melepaskan pelukkannya dan menarik Rubby untuk berdiri di belakangnya, begitu pun dengan Kiting yang sudah bersiap-siap dengan senjata di tangannya.


"Lepaskan mereka atau kamu akan menyesal karena sudah berhadapan denganku," seru Gerry.


"Hahaha...apa aku tidak salah dengar, sedikit pun aku tidak takut denganmu, aku akan melepaskan mereka semua tapi kita duel dulu satu lawan satu aku ingin melihat kemampuanmu sampai mana. Kalau aku kalah, aku akan melepaskan kalian semua tapi kalau kamu yang kalah, Rubby akan menikah denganku, gampang sekali kan persyaratannya?" seru Juan.


"Ger, jangan aku tahu siapa Juan dia bukan tandinganmu," bisik Rubby di belakang tubuh Gerry.


"Kamu tenang saja sayang, aku pasti akan mengalahkan Juan."


"Bagaimana apa kamu bersedia? kalau kamu merasa takut, kamu bisa membawa teman kamu itu tidak apa-apa satu lawan dua," seru Juan.


Gerry menoleh ke arah Kiting dan Kiting pun menganggukkan kepalanya.


"Ok, aku terima tantanganmu," sahut Gerry mantap.


"Gerry.."


Gerry menangkup wajah Rubby yang saat ini sudah berderaian airmata.


"Do'akan kita, semoga aku dan Kiting menang dan kita semua bisa selamat, tapi kalau aku sampai kalah, tolong jaga anak kita."


"A---anak."


"Iya, saat ini kamu sedang mengandung jagalah anak kita baik-baik, kalian adalah kekuatanku, aku pasti menang."


Gerry mencium kening Rubby dan mengusap perut Rubby yang masih rata, Rubby benar-benar tak bisa membendung airmatanya lagi.


"Bawa mereka semua, kecuali Rubby bawa Rubby ke kamar yang kemarin dia tempati."


"Baik Tuan."


Para anak buah Juan menggiring Gerry, Kiting, Papa Robby dan juga Shifu Shen-shen ke sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat ring untuk pertandingan tinju.


Anak buah Juan menyeret tubuh Papa Robby dan Shifu Shen-shen dengan tidak manusiawi, dan menghempaskan keduanya di lantai, sedangkan Rubby dibawa ke tempat lain.


Juan naik ke atas ring tinju itu dan membuka bajunya kemudian dia melempar pistol yang dia pegang.


"Ayo kalian naik."


Gerry dan Kiting pun melepaskan semua atribut yang dia pakai. Senjata dan rompi anti peluru pun sudah mereka lepaskan dan sekarang mereka naik ke atas ring dan berhadapan langsung dengan Juan.

__ADS_1


Ruangan itu di jaga ketat oleh semua anak buah Juan, Yulia duduk di kursi di samping Robby dengan pistol di tangannya.


"Ayo maju."


Gerry dan Kiting memulai serangannya, ketiganya terlihat sangat jago dalam berkelahi. Benar apa yang dikatakan oleh Rubby, Juan benar-benar kuat, staminanya bagus dia tidak merasa lelah sedikit pun malah tenaganya semakin lama semakin meningkat.


Brrruuuuukkkk...


Gerry dan Kiting terkapar di atas ring dengan luka dan darah yang mengalir dimana-mana, sedangkan Juan masih tetap kuat berdiri walaupun dia juga terluka tapi dia masih terlihat kuat.


Gerry dan Kiting masih dalam posisi tertelungkup dengan hidup dan mulut mengeluarkan darah.


"Hahaha...ternyata cuma segitu kemampuan kalian."


Anak buah Juan membawa kursi ke atas ting dan Juan dengan santainya duduk di kursi itu.


"Ambilkan minum," teriak Juan.


Ceklek...


Pintu ruangan itu terbuka, seseorang datang membawa minuman untuk Juan. Kitin dan Gerry pun dengan susah payah mengangkat kepalanya melihat siapa orang yang datang.


Mata Kiting melebar begitu pun dengan Gerry, ternyata orang yang membawakan minum untuk Juan adalah Celline.


"Chelline," batin Kiting.


Celline hanya mampu menundukkan kepalanya dan berdiri tepat di samping Juan.


"Kurang ajar," batin Kiting dengan mengepalkan tangannya.


"Terima kasih sayang. Raga apa kamu kenal dengan wanita cantik ini?" seru Juan dengan senumannya.


"Dasar pengkhianat kamu Celline, aku tidak menyangka kamu melakukan semua ini," teriak Gerry.


"Dia adalah mata-mataku, berkat dia aku tahu dimana Rubby tinggal dan berkat dia juga aku tahu kalau Papa Robby masih hidup, hidup ini memang sungguh kejam kan, Raga?" seru Juan.


Juan tersenyum penuh kemenangan tapi berbeda dengan Celline, dia hanya bisa menundukkan kepalanga, sedetik pun Celline tidak berani melihat ke arah Kiting, malah sekarang mata Celline sudah berkaca-kaca.


"Raga, kamu pikir pertemuan kamu dan Celline merupakan ketidaksengajaan? no..no..no..kamu salah besar, pertemuan kamu dan Celline sudah direncanakan sebelumnya," seru Juan.


Kiting melebarkan matanya dan tanpa terasa airmata Kiting menetes. Sakit sungguh sakit yang dirasakan oleh Kiting, sakit karena luka saat ini tidak sebanding dengan sakitnya hati Kiting karena sudah dikhianati oleh orang yang dia sukai.


"Awal Celline menabrak kamu di kampus adalah awal pertemuan kamu dengannya, Celline memang sengaja menabrak kamu atas perintahku untuk membuat kamu penasaran, dan benar saja kan kamu masuk dalam perangkapku, kamu penasaran dengan Celline wanita cantik yang terlihat polos ternyata sudah membodohimu, hahaha..."


"Terus, kamu melihat Celline sedang di kejar-kejar oleh depkolektor karena Celline punya hutang, itu juga merupakan bagian dari rencanaku dan terakhir kamu menolong Celline karena Ibunya masuk rumah sakit dan harus dioperasi, itu juga merupakan bagian dari rencanaku supaya Celline bisa masuk ke dalam rumah Rubby dan ternyata semua rencanaku berjalan dengan lancar."


Kiting dan Gerry tidak menyangka kalau Celline merupakan orang jahat bermuka bidadari. Kiting sudah sangat emosi mendengar penjelasan dari Juan, tangannya sudah mengepal.


"Dan satu lagi yang harus kamu tahu, Celline itu sudah tidak punya Ibu yang di rumah sakit adalah orang lain yang aku bayar untuk memuluskan rencanaku."


Kali ini Kitinh sudah tidak bisa menahannya lagi, dengan amarah yang memuncak Kiting bangkit dan dengan cepat menyerang Juan. Juan yang merasa tidak siap langsung tersungkur, begitu pun dengan Gerry yang sekarang sudah bangkit dan ikut menyerang Juan.


Wajah Juan seketika babak belur, hidung dan mulutnya mengeluarkan darah karena pukulan yang membabi buta Kiting dan Gerry. Yulia yang melihat Juan terluka merasa khawatir dan dengan cepat menodongkan pistolnya ke kepala Papa Robby.


"Hentikan, atau kepalanya pecah," teriak Yulia.


Gerry dan Kiting langsung menghentikan aksinya, dan menatap tajam ke arah Yulia.


💰


💰


💰


💰


💰


Tinggal beberapa Part lagi menuju END, bagaimana akhir dari kisah Gerry dan Rubby? akankah mereka bahagia atau malah sebaliknya?


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2