ANAK BUAH KESAYANGAN

ANAK BUAH KESAYANGAN
Bab 37 ( Extra Part )


__ADS_3

πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


Gerry dan Rubby merebahkan tubuhnya saat olahraga siangnya selesai. Gerry menarik tubuh sang istri ke dalam dekapannya.


"Terima kasih sayang karena selama ini sudah menjadi Ibu dan Ayah sekaligus untuk Gibran, aku sangat merasa bersalah banget sama kamu."


"Tidak apa-apa."


Mata Rubby sudah terpejam, Rubby merasa sangat lelah selain dirinya baru pulang dari Jakarta dan belum sempat istirahat, ditambah olahraganya bersama sang suami membuat Rubby sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya.


Gerry mendengar dengkuran halus milik istrinya dan dilihatnya Rubby sudah terlelap tidur.


"Pasti kamu sangat lelah sayang."


Gerry mencium kening Rubby, lalu perlahan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tidak lama berselang, Gerry selesai mandi dan lihatnya Rubby sangat pulas. Gerry sengaja membiarkan istrinya istirahat, setelah selesai mengganti pakaian, Gerry pun keluar dan menuju ke kamar puteranya.


Ceklek...


Dilihatnya Gibran pun sedang terlelap tidur dengan buku-buku pelajaran yang berserakan diatas tempat tidur.


"Astaga, anak Papi kok bukunya sampai berantakan seperti ini sih," gumam Gerry dengan senyumannya.


Gerry pun memberesakan buku-buku Gibran dan menyimpannya diatas meja belajar. Gerry duduk disamping puteranya itu, Gerry memperhatikan secara seksama wajah puteranya yang memang merupakan jiplakan dirinya.


"Maafkan Papi sayang, tidak berada disampingmu saat kamu membutuhkan Papi, Papi janji mulai sekarang dan seterusnya Papi akan selalu berada disamping kamu dan Mami, Papi akan menebus semua waktu yang sudah terbuang," gumam Gerry dengan mencium kening Gibran.


Gerry pun meninggalkan kamar Gibran dan turun ke bawah, dilihatnya Shifu sedang duduk seorang diri di tepi kolam berenang.


"Shifu."


"Gerry, sini duduk."


"Shifu sedang apa?"


"Biasalah kerjaan aku hanya diam saja, maklumlah aku kan seorang pengangguran."


"Shifu bisa saja, oh iya aku mau mengucapkan terima kasih karena sudah menjaga anak dan istriku selama aku tidak ada."


"Sama-sama Ger, asalan kamu tahu Nona Rubby adalah wanita kuat dan hebat yang pernah aku temui. Kamu tahu kenapa? karena Nona Rubby bisa melalui masa hamil dan melahirkan seorang diri. Wanita lain belum tentu bisa menjalaninya dengan kuat, aku tahu masa-masa Nona hamil dia juga mengalami hal ngidam selayaknya wanita pada umumnya, seperti tiba-tiba tengah malam menginginkan sesuatu tapi Nona begitu kuat dan mandiri, dia melakukannya seorang diri tanpa meminta bantuan aku maupun Kiting," jelas Shifu.


Hati Gerry merasa teriris mendengar penuturan Shifu, dia tidak bisa membayangkan saat tengah malam istrinya menginginkan sesuatu tapi Gerry tidak ada disampingnya.


"Bahkan saat melahirkan pun, Nona berjuang sendirian sampai mengurus Gibran saja Nona tidak mempekerjakan bebisitter."


"Rubby wanita yang hebat," seru Gerry.


"Iya, dan aku minta sama kamu tolong jaga Nona jangan sampai kamu menyakiti Nona, kalau sampai kamu sakiti Nona atau membuat Nona menangis, aku sendiri yang akan memberimu pelajaran."


"Tenang Shifu, aku tidak akan menyakiti hati Rubby hatiku sudah milik dia dan tidak ada tempat untuk wanita lain walaupun cuma sebesar lubang jarum."


"Bagus, kalau begitu aku ke kamar dulu mau istirahat sejenak."


"Iya Shifu silakan."


Gerry pun kembali ke kamarnya dan ikut tidur bersama sang istri.


***


Malam pun tiba..


Rubby malam ini sedang merias wajahnya di depan cermin karena malam ini Gerry mengajak Rubby dan Gibran makan malam diluar."



"Wow, kamu cantik banget malam ini sayang," ucap Gerry dengan memeluk Rubby dari belakang kemudian mengecup pundak Rubby.

__ADS_1


"Sudah jangan seperti ini, nanti malah ga jadi berangkatnya.


"Memang tadinya aku mau membatalkannya."


Ceklek...


"Mami, Papi, kapan berangkatnya lama banget," rengek Gibran.


"Astaga, ini sayang Papi kamu yang lama, Mami sudah siap kok dari tadi."


"Waw, putera Papi tampan sekali."


"Siapa dulu dong Papinya," sahut Gibran.


"Yuk, kita berangkat sekarang," ajak Rubby.


"Let's go."


Gerry menggandeng tangan Gibran, disaat yang bersamaan Kiting pun hendak keluar.


"Wuidih, si bujang lapuk mau kemana nih, rapi bener," ledek Gerry.


"Wah, sembarangan kalau ngomong gue bukan bujang lapuk."


"Tapi?" seru Gerry.


"Bujang karatan."


"Sama aja kampret."


"Wow..wow..wow..kamu mau kemana boy, tampan benar."


"Mau jalan-jalan sama Mami dan Papi."


"Ya sudah, kita duluan ya takut kemalaman," Gerry.


"Ok."


Gerry, Rubby, dan Gibran pun berangkat ke sebuah restoran di tepi pantai. Sementara itu, seorang perempuan cantik saat ini sedang meremas kedua tangannya karena merasa gugup.


Tidak lama kemudian Kiting pun sampai..


"Maaf sudah lama menunggu," seru Kiting.


"Ah tidak, aku juga baru sampai kok."


"Kita pesan makanan dulu, nanti setelah makan baru kita bicara," seru Kiting dingin.


Kiting dan Celline pun memesan makanan dan setelah beberapa saat menunggu makanannya pun datang, mereka makan dengan hening sesekali Kiting tampak mencuri-curi pandang ke arah Celline.


Akhirnya mereka pun selesai makan, keduanya tampak canggung untuk memulai bicara hingga mereka pun saling diam satu sama lain.


"Aku butuh penjelasan kejadian sepuluh tahun yang lalu," tiba-tiba Kiting bersuara.


Celline menghela nafasnya dalam-dalam, dia sudah mengira kalau Kiting pasti akan menanyakan hal itu.


"Aku punya hutang nyawa kepada Juan, makannya aku membantunya."


"Hutang nyawa?" tanya Kiting dengan mengerutkan keningnya.


"Iya, dulu aku hampir saja meregang nyawa karena aku dipukulin oleh orang satu kampung, aku dituduh mencuri kotak amal mesjid padahal pada saat itu aku hanya menumpang shalat dan kebetulan kotak amal itu berada tepat disamping aku. Padahal mereka sudah memeriksa tas aku dan tidak ada uang disana tapi mereka tetap saja tidak percaya dan terus memukuli aku, hingga akhirnya seseorang berhenti dan menolong aku, dia adalah Juan."


Kiting mendengarkan cerita Celline dengan seksama...


"Juan yang sudah menolong aku, membawa aku ke rumah sakit, dan memberiku tempat tinggal. Awalnya aku sangat bersyukur banget masih ada orang yang peduli sama aku tapi ternyata Juan memanfaatkan kelemahan aku. Dia menyuruh aku untuk deketin kamu dan masuk ke dalam hidup kamu untuk mencari tahu dimana Nona Rubby tinggal, dan semuanya terjadi. Maaf, maafkan aku," seru Celline yang tanpa terasa meneteskan airmatanya.


Kiting terkejut dan Kiting melihat kesungguhan dan penyesalan yang teramat sangat dari Celline. Kiting beranjak dari duduknya dan menghampiri Celline, tiba-tiba Kiting berlutut di depan Celline dan menghapus airmata Celline dengan jarinya membuat Celline terkejut.


"Aku tidak mengharapkan kamu mau memaafkan aku Raga, karena aku tahu kesalahan aku itu sangat fatal dan aku juga sudah mendapatkan hukuman selama ini. Aku hanya bisa minta maaf atas semua dosa yang sudah aku lakukan biar aku merasa tenang menjalani hidup ini tanpa dibayangi kejadian masalalu," seru Celline.


"Aku memang marah sama kamu, aku memang kecewa sama kamu, dan aku memang sangat benci sama kamu, tapi-----"


"Tapi apa?"


"Tapi rasa cintaku lebih besar daripada rasa benci dan marahku," sahut Kiting.

__ADS_1


Celline membelalakkan matanya dan menatap mata Kiting. Kiting memegang tangan Celline.


"Dari awal aku bertemu denganmu, aku sudah jatuh cinta dan selama sepuluh tahun ini hatiku masih menyimpan namamu dan pikiranku tidak pernah sedetik pun melupakan kamu, Celline aku mencintaimu dulu dan sekarang, kita lupakan masalalu karena jauh dilubuk hatiku yang paling dalam, aku sudah memaafkanmu," seru Kiting.


Tes...


Airmata Celline kembali menetes, berarti selama ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Aku tidak mau pacaran lagi karena usiaku tidak memungkinkan untuk berpacaran, jadi maukah kamu menikah denganku?"


Celline kembali terkejut dengan ucapan Kiting, Celline tidak menyangka kalau Kiting akan mengajaknya menikah.


"Papaaaaa..."


Kiting dan Celline menoleh bersamaan, seorang pria kecil tampan tersenyum ke arah mereka.


"Gibran..." gumam Celline.


"Astaga, boy kamu sudah mengganggu acara lamaran Papa," batin Kiting yang langsung berdiri dan Celline pun ikut berdiri.


"Papa sedang apa disini dengan Mrs.Celline?" tanya Gibran.


"Aduh boy kamu ganggu Papa saja," keluh Kiting.


"Oh iya Raga, kamu kan sudah menikah ya? terus kenapa kamu malah melamarku? apa jangan-jangan kamu mau jadikan aku istri kedua ya," seru Celline.


"Astaga, istri kedua bagaimana? istri pertama pun aku ga punya."


"Terus Gibran?"


"Tuh, emak bapaknya lagi ngelihatin kita," seru Kiting dengan menunjuk ke belakang Celline.


Celline membelalakan matanya kala melihat Rubby dan Gerry sedang menatapnya. Gerry dan Rubby mulai mendekat, tapi tanpa disangka-sangka, Celline langsung bersujud dikaki Rubby.


"Nona, maafkan aku karena aku sudah jahat kepada Nona dan Tuan Gerry, aku benar-benar menyesal, maafkan aku Nona maaf," seru Celline dengan deraian airmata.


Rubby tersenyum dan menarik tubuh Celline supaya Celline berdiri, kemudian dengan tiba-tiba Rubby memeluk Celline.


"Sudahlah, aku sudah sejak lama memaafkan kamu karena aku yakin kamu melakukan semua itu karena kamu terpaksa kan?"


"Iya Nona."


"Sudahlah kita tutup masalalu dan kita buka lembaran baru."


"Terima kasih Nona."


"Ting, kapan mau dihalalin keburu di samber orang baru tahu rasa lo," ledek Gerry yang sukses membuat Celline tertunduk karena malu.


"Baru aja gue mau melamarnya, tapi anak kalian ini mengganggunya, dasar resek ga emaknya, ga bapaknya, sekarang anaknya, heran deh kalian satu keluarga kompak benar hobi banget gangguin gue," ketus Kiting.


Semua pun akhirnya tertawa bersama...


πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


πŸ’°


Yang masih ingin extra partnya jangan kendor dong like dan giftnya biar Authornya makin semangat lagiπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2