Anak Tunggal Tuan Ether

Anak Tunggal Tuan Ether
Rumah Ether


__ADS_3

Ether terus saja menatap tajam pada Wisnu yang sedari tadi asik bermain dengan Daniel, tak lama setelah itu Bella keluar dari kamarnya sembari mendorong koper kecil miliknya.


"Ah aku sampai lupa, Ayah ayok bersiap kita kan tadi mau mandi," Daniel menarik tangan Ether.


Ether tersenyum sinis pada Wisnu seakan mengatakan bahwa ialah pemenangnya, Bella berjalan menghampiri Wisnu, "Kau sudah dari tadi di sini?" tanya Bella.


"Yah..... Tiga puluh menit yang lalu lah, kau mau kemana membawa koper?"


"Daniel ingin tinggal beberapa hari di rumah Ether, jadi mau tak mau aku pun harus ikut."


"Kau yakin? Kalian berdua kan bukan suami istri?"


"Kau tenang saja, di sana banyak orang. Dan aku pun tidak akan tinggal satu kamar dengan Ether."


"Tetap saja," Wisnu khawatir.


"Aku tau apa yang aku lakukan."


"Ya sudahlah aku percaya padamu."


__________


Ether dan Daniel kembali keluar dari kamarnya, Daniel di pangku Ether.


"Semuanya sudah bereskan? Yuk pergi," tak mau menunggu lagi Ether ingin segera membawa mereka ke rumahnya.


"Maaf yah, aku harus pergi," ucap Bella pada Wisnu.


"Tak apa, lagipula aku juga sudah mau pulang," balas Wisnu tersenyum hangat.


"Cepet ajak Mama mu pergi," bisik Ether pada telinga Daniel yang sudah mulai terbakar api cemburu.


"Ayok Ma," Daniel menarik tangan ibunya.


________


Sampailah mereka bertiga di rumah Ether, Daniel langsung berlari masuk ke rumah tersebut. Sementara Bella masih terdiam, "Ini beneran rumah mu?" tanya Bella tak percaya.


"Kau sejahat itu sampai tak percaya aku mampu membeli rumah ini?" Ether tersenyum ke arah Bella.

__ADS_1


"Bukan itu, inikan rumah yang pernah ku ceritakan padamu," Bella jadi mengingat kejadian lima tahun lalu dimana ia mengatakan pada Ether tentang rumah impiannya, ia tak menyangka bahwa Ether benar-benar membangun rumah itu menjadi seindah ini.


"Aku ingin mewujudkan semua impian mu dulu untuk menebus kesalahan ku," jelas Ether.


Bella berjalan memasuki rumah itu, para pelayan di sana juga menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Bella juga dulu sempat bilang kalau ia ingin sekali di rumahnya banyak pelayan agar ia merasakan bagaimana enaknya hidup seorang princess, itu adalah mimpinya sejak kecil.


Daniel langsung di ajak bermain oleh salah satu pekerja di sana, rumah Ether juga terdapat ruangan khusus untuk bermain di mana di sana terdapat banyak mainan, bahkan juga ada kolam untuk mandi bola.


Dari kejauhan Bella tersenyum melihat anaknya bermain begitu bahagia, "Akan ku kabulkan semua impian masa kecilmu dulu pada Daniel, dia pantas mendapatkan semuanya," Ether berdiri di samping Bella ikut menatap Daniel.


"Aku tidak menyangka kau masih mengingat semua itu," ujar Bella.


"Tak akan pernah ku lupakan semua hal tentang mu, Bella sampai detik ini aku masih mencintaimu. Semua hal tentang mu masih tersusun rapih dalam ingatan ku," Ether menatap Bella dengan tatapan teduh yang dulu sering sekali Bella lihat.


Bella tersenyum, "Beri aku waktu untuk kembali meyakinkan hatiku kalau kau memang mencintaiku."


Ether tersenyum tipis, "Aku akan menunggunya, sampai hari itu tiba."


Daniel tiba-tiba menghampiri mereka, "Ayah, rumahnya bagus sekali," ujarnya dengan sangat bahagia.


"Ayah bahkan punya kejutan yang lebih dari ini untukmu," Ether menggendong Daniel.


Bella menganggukkan kepalanya. Sementara itu di tempat lain Rose baru saja pulang dari kantor, karena mobilnya mogok ia terpaksa mencari taksi untuk pulang. Namun taksi tak kunjung lewat membuat ia lemah menunggu, "Sialan ini taksinya kemana sih? Masa gak ada terus," gumamnya.


Tiba-tiba tas miliknya di rampok membuat ia dengan panik mengejar perampok itu sambil berteriak, "Maling-maling," teriaknya dengan suara panik.


Bruk, orang yang mengambil tas Rose terjatuh ke tanah karena di tabrak seorang pria, "Pecundang, kalau mau uang kerja jangan jadi maling," pria itu langsung mengambil tas milik Rose sementara itu di pencuri langsung lari karena di sana juga sudah banyak orang yang berkumpul.


Rose malah terpana dengan ketampanan pria itu hingga membuatnya mematung memandangi dia, "Mba ini tas nya, lain kali hati-hati," pria itu menyodorkan tas Rose.


Sedangkan Rose masih melamun.


"Mba, halo. Mba ini tasnya," pria itu melambaikan tangan di hadapan wajah Rose.


"Ah iya, makasih yah, ada yang terluka gak?" tanya Rose yang baru tersadar dari lamunannya.


"Tidak kok, lagi nunggu taksi?" tanya pria itu kembali.


"Iya, tapi dari tadi gak ada taksi lewat."

__ADS_1


Pria itu melihat arlojinya, "Bagaimana kalau saya antarkan pulang saja, jam segini mana ada taksi soalnya."


"Tapi nanti ngerepotin, udah nolongin eh malah nganterin pulang juga."


"Gak papah sekalian aja, mba pulangnya mau kemana emang?"


"Jangan panggil Mba, panggil saja Rose."


"Ah, baiklah. Namaku Rendi, kau tenang saja saya bukan orang jahat. Saya dari kepolisian," Rendi menunjukkan kartu kepolisian nya agar Rose percaya kalau ia benar-benar tidak berniat jahat.


"Baiklah kalau kau bersedia," dengan senang hati Rose mau di antarkan pulang oleh Rendi.


"Itu mobilku," Rendi menunjuk sebuah mobil civic turbo miliknya.


Rose semakin terpesona dengan pria itu, tak hanya ganteng ternyata Rendi juga orang kaya. Mereka berdua segera masuk ke mobil itu, Rendi benar-benar mengantarkan Rose pulang ke rumahnya.


Kembali pada Ether, pria itu menunjukkan sebuah kolam renang pribadi pada Daniel.


"Wah....... Ini bagus banget loh," Daniel tampaknya menyukai kolam renang itu.


"Kau bisa berenang di sini sebebas mu."


Kolam renang itu di desain seperti kolam renang yang ada di bali, ada beberapa pepohonan di samping kolam renangnya yang membuat suasana jadi lebih enak.


Daniel turun dari pangkuan Ether, ia langsung ingin bermain air, "Boleh berenang sekarang?" tanyanya menatap ayahnya.


"Jangan besok saja ini sudah malam, nanti kau masuk angin. Yuk masuk lagi."


"Ah ya sudahlah," Daniel menuruti permintaan ayahnya.


Sementara itu Bella di antarkan masuk ke kamarnya, "Saya bisa bereskan sendiri," ujar Bella.


"Baik Non, kalau Non ada apa-apa Non bisa bunyikan bel itu dan saya akan segera datang."


"Baik terimakasih."


Pelayan itu pergi meninggalkan Bella sendirian, Bella berjalan ke arah kasurnya lalu duduk di sana sembari memandangi setiap sudut kamarnya. Ini benar-benar kamar impiannya sejak dulu, "Dia benar-benar tau apa yang ku inginkan," Bella tersenyum.


"Tak ku sangka semuanya akan jadi kenyataan, padahal dulu aku hanya berandai-andai saja," tambahnya.

__ADS_1


"Aku tak tau apakah dia benar-benar mencintaiku atau dia akan mempermainkan ku lagi sekarang, tapi setelah melihat semua ini mengapa hatiku malah kembali luluh padanya?"


__ADS_2