Anak Tunggal Tuan Ether

Anak Tunggal Tuan Ether
Ternyata Kau


__ADS_3

Beberapa saat kemudian tanpa orang ketahui, Bella ternyata kabur dari rumah Ether untuk menemui tempat yang di perintahkan oleh orang yang menculik Daniel.


Wisnu segera menyusulnya karena takut terjadi sesuatu pada Bella, Rose langsung melaporkan kepergian Bella pada Ether.


"Jadi dia memutuskan pergi sendiri?" tanya Ether.


"Iya, dia kabur."


"Sial, kalian cepat lacak keberadaan Bella," titah Ether pada Mark.


Gisel tertawa kecil, "Karena aku sudah menduga akan ada kejadian seperti ini, maka sudah ku siapkan semuanya. Aku sudah menempelkan alat pelacak di baju Bella, kita hanya tinggal mengikutinya saja."


"Pintar, segera siapkan mobil," saat Ether akan pergi Rose menarik lengan bajunya.


"Boleh ku ikut?" tanyanya.


"Tidak, tinggal lah di sini. Bahaya," balas Ether.


Rendi tiba-tiba menghampiri kekasihnya itu sambil menatapnya dengan tatapan hangat, "Dia benar, biar aku yang menyelamatkan temanmu dan anaknya. Aku janji akan membawa mereka dengan selamat."


"Tapi-" Rose benar-benar ketakutan setengah mati.


"Tenanglah kau bisa mengandalkan kami semua," Rendi tersenyum hanya untuk membuat Rose sedikit tenang.


"Baiklah."


Kini mereka mulai mengikuti kepergian Bella, "Kau sudah siapkan peralatan ku?" tanya Ether.


"Sudah Tuan," balas Mark sambil terus fokus menyetir.


"Bagus."


Sementara itu Bella kini sedang bertemu seseorang di sebuah gedung tua, "Jadi ternyata kau," ucap Bella menatap tajam pria itu sambil memegang sebuah pistol.


Pria itu tertawa dengan wajah penuh kebahagiaan, ia juga mulai berjalan ke sana kemari.

__ADS_1


"Kau pasti mengingat ku sekarang?" tanya pria itu sambil menghentikan langkahnya.


"Sialan jadi kau adalah orang itu?" tanya Bella.


"Yah, anak dari seorang pria tua yang kau bunuh tiga tahun lalu. Aku tidak sangka kau yang melakukan itu pada ayahku, setelah aku tau kau yang melakukan itu pada ayahku aku sedikit senang karena kau memang sudah dekat denganku maka akan mudah untukku membalaskan semuanya padamu, tapi sedihnya aku tidak pernah bohong soal perasaan ku padamu," pria itu tersenyum kembali dengan aura yang misterius.


"Di tambah pria yang kau cintai itu adalah seorang mafia yang selama ini ayahku cari, jadi membalas dendam pada dua orang sekaligus bukan masalah bagiku," tambahnya lagi.


"Sialan, jangan libatkan anakku juga Ether dalam masalah ku. Kau ingin balas dendam padaku bukan? Maka lawan lah aku."


"Ah sial, hanya melawan dan membunuhmu begitu saja tidaklah seru. Kau harus merasakan apa yang kurasakan juga," pria itu meminta anak buahnya untuk membawa Daniel ke sana.


Anak buah dari pria itu langsung membawa Daniel yang kini sedang tertidur di kasur, "Aku akan menjatuhkannya dari sana kalau kau mati melawan ku," ancam pria itu.


"Sialan, tak kan kubiarkan kau menang," balas Bella.


Tiba-tiba suara keributan di luar terdengar sampai kedalam, "Sial, mengapa mereka secepat ini menemukan tempat ini," gumam pria itu berdecak sebal.


"Ether," Bella melirik sebentar ke arah pintu keluar, lalu tiba-tiba pria itu mulai menyerang Bella.


"Aku tidak suka jika ada orang yang berpaling dariku," ucapnya.


Bella mulai tersungkur ke lantai karena beberapa pukulan dari pria tersebut, pria itu berjalan ke arah Bella dengan senyuman miring nya, "Tak ku sangka kau selemah ini jika di hadapi langsung, sebagai seorang pembunuh bayaran kau terlalu payah," pria itu menodongkan pistol ke arah Bella.


Namun tiba-tiba pistol itu terlempar berkat tendangan dari Gisel yang mengenai tangan pria tersebut, "Wisnu tak ku sangka kau adalah pria licik yang bodoh," Gisel tersenyum sinis.


"Kau?" Wisnu terlihat sangat kaget dengan kedatangan Gisel.


Ether, Mark dan Rendi ada di sana juga. Mark segera mengambil Daniel dan membawanya pergi, sementara Ether menghampiri Bella dan membantunya bangun.


Gisel tertawa, "Kau tidak tahu siapa aku?"


"Sialan, jadi kau juga komplotan pria itu?" Wisnu menunjuk Ether.


"Ternyata kau memang bodoh? Kau tau siapa Ether tapi tidak tahu siapa diriku, makannya kalau cari informasi itu yang bener," bentak Gisel.

__ADS_1


"Ah masa bodo, aku sudah menghabiskan seluruh uangku untuk ini jadi kalian harus mati di sini, akan jadi sejarah besar kalau aku dapat menghabisi kalian di sini, bawahanku serang mereka," ucap Wisnu.


Bawahan Wisnu yang begitu banyak langsung menyerang mereka, tapi bala bantuan dari Ether juga sudah tiba dan membantu Ether menyerang musuh.


Gisel tertawa lagi, "Sial, kau benar-benar membawa manusia rendahan ini untuk melawan Tuan ku? Sangat memalukan. Bahkan aku sendiri mampu mengalahkan mereka, kau membuatku sangat mual sekali," Gisel tanpa ampun langsung menyerang Wisnu perasaan cinta yang ia punya untuk Wisnu benar-benar telah hilang begitu saja.


Bella di bawa Ether masuk ke dalam mobil untuk menemani Daniel, "Tunggulah nanti aku akan kembali," ucap Ether.


Bella hanya mengangguk.


Ether kembali masuk ke gedung tua itu dan rupanya semua pasukan Wisnu sudah di kalahkan dengan mudahnya oleh anak buah Ether, Ether menghampiri Wisnu yang tengah di hajar habis-habisan oleh Gisel.


"Cukup! Serahkan dia padaku," pintanya.


Gisel pun berhenti dan memilih untuk mundur.


"Ku pikir aku akan melawan orang yang hebat sampai-sampai aku harus memanggil mereka, kau tahu? Ini sangat merepotkan," Ether berjongkok di hadapan Wisnu yang sudah tak berdaya.


"Mereka bukan manusia, bagaimana bisa mereka mengalahkan pasukan ku yang sangat banyak," balas Wisnu tertatih-tatih.


Ether tersenyum miring, "Kau salah berurusan denganku, jangan pernah sentuh orang-orang yang ku sayangi," Ether menusuk kedua bola mata Wisnu menggunakan tangannya.


Wisnu berteriak kesakitan. Setelah itu Ether bangun dan berjalan pergi dari hadapan Wisnu, "Nikmatilah daging panggang mu sendiri," Ether melambaikan tangannya ke arah Wisnu.


"Ah aku lupa, kau sudah buta jadi untuk apa aku melambaikan tangan," ledek Ether.


"Bakar semuanya," titah Ether.


"Baik Tuan."


Kini Ether kembali ke mobilnya, "Jadi mau ceritakan apa yang terjadi?" tanya Ether.


"Sebenarnya lima tahun yang lalu aku berhasil masuk pasukan khusus kepolisian di sini, dimana tugasku sangat rahasia. Awalnya tugasnya hanya untuk mengintai para petinggi sampai pada akhirnya aku harus membunuh mereka satu persatu karena di anggap merugikan negara dan berkhianat pada negara. Dan mungkin ayahnya Wisnu adalah salah satu orang yang telah ku bunuh, karena aku sudah tidak sanggup menjalankan tugasku maka aku berhenti dari pasukan khusus."


"Dan memilih untuk hidup biasa," Jelas Bella sambil terus memeluk Daniel.

__ADS_1


"Benar, di kepolisian memang ada pasukan khususnya. Untung saja kau bisa berhenti," ucap Rendi.


"Benar."


__ADS_2