Anak Tunggal Tuan Ether

Anak Tunggal Tuan Ether
Markas Utama


__ADS_3

Saat pulang kerja Bella kembali kaget dengan apa yang telah Ether beli, "Kau apakan lagi rumah ku?" tanya Bella geram.


"Ma-Ma lihat kulkasnya canggih tau," Daniel menarik-narik rok Bella.


"Bawa keluar semuanya," bentak Bella sambil menatap Ether.


"Sudahlah aku membelikan ini untuk Daniel jadi Terimalah."


"Iya Ma lagipula aku seneng kok Ma di belikan ini semua."


"Lain kali jangan pernah lakukan ini lagi," bentak Bella.


"Aku hanya ingin membelikan anakku seperti ayah pada umumnya apakah salah? Selama ini aku sudah sangat salah pada kalian makannya sekarang sebisa mungkin aku akan menebus semua kesalahan ku."


"Ya sudah terserah kau," tiba-tiba Bella merasa tersentuh dengan ucapan Ether.


Bella berjalan ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju, "Kau mau ikut ke supermarket tidak? Aku ingin beli makanan untuk isi kulkas," teriak Ether.


"Tunggu aku ikut," balas Bella.


________


Mereka berdua sudah sampai di supermarket, Daniel duduk di atas troli belanjaan. Sementara Ether yang mendorong troli tersebut sedangkan Bella yang memilih belanjaannya, seorang ibu-ibu di dekat mereka tersenyum ramah pada Bella dan Ether.


"Pasangan muda yang cantik dan tampan," ujarnya.


Bella dan Ether hanya bisa tersenyum dan bilang terimakasih, Daniel menatap orang tuanya bersamaan, "Kalian cocok sekali," ledek nya.


"Kau sudah bisa mengejek ayahmu sekarang?"


Daniel hanya tersenyum, "Tapi memang sangat cocok tau, ayah ingat anak kecil tidak pernah berbohong."


"Kau memang sangat pintar ternyata."


Selesai belanja mereka bertiga langsung membereskan belanjaan mereka ke kulkas, "Aku mau ini," Daniel ngambil susu kotak dan langsung membukanya.


"Em enak," gumamnya.

__ADS_1


"Sini ayah cobain," Ether merebut susu coklat milik Daniel.


"Ayah sini, itu punyaku," Daniel mengejar Ether untuk merebut kembali susu kotaknya.


"Kalau kau mau ambil lah," mereka berdua malah main kejar-kejaran sambil ketawa-ketawa.


Bella yang melihat itu hanya bisa tersenyum bahagia, senyuman lebar dari bibir kecil Daniel membuat Bella merasa hidup selama ini. Selama senyuman itu tidak hilang maka hidup Bella akan terus baik-baik saja.


"Sudah Daniel, ini Mama bawakan yang baru untukmu," Bella memberikan susu kotak baru untuk Daniel.


"Asik," Daniel menghampiri Bella lalu mengambilnya, ia kemudian menatap ayahnya sambil mengejek ayahnya.


"Aku dapat yang baru," Daniel mengeluarkan lidahnya.


"Awas kau, rasakan ini," Ether menghampiri Daniel lalu menggelitik Daniel.


"Hey anakmu sedang minum nanti keselek sudah cukup," Bella menarik baju Ether agar berhenti menggelikan Daniel.


Saat Ether akan berbalik ia malah kehilangan keseimbangan sampai terjatuh menimpa tubuh Bella, bukannya langsung bangun mereka berdua malah saling tatap. Daniel yang melihatnya langsung tersenyum sambil menatap mereka berdua bergantian.


"HM," Daniel berdeham.


"Cie Mama salah tingkah," Daniel meledek mamanya sendiri.


"Kau tau apa tentang salah tingkah?" tanya Ether ayahnya.


"Ayah tau, kata temanku kalau seseorang yang sedang bicara dengan kita tapi tatapan matanya kemana-mana itu tandanya sedang salah tingkah," jelas Daniel.


"Sok tau kau Daniel, kau masih kecil mana mengerti soal begituan," timpa Bella.


"Ah Mama salah tingkah," Daniel tetap meledek ibunya.


"Sudah kasihan Mama mu, sekarang lebih baik kita tidur," Ether menggendong Daniel dan membawanya masuk ke kamar untuk tidur.


Bella yang sudah sendirian di sana hanya bisa senyum-senyum sendiri, "Ma jangan senyum-senyum sendiri nanti di sangka orang gila," teriak Daniel dari kamarnya.


"Dasar kau," balas Bella, ia langsung masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Tengah malam Bella keluar dari kamarnya, ia melihat Ether yang sedang minum di dapur. Ia segera menghampiri Ether, "Aku ingin berterimakasih padamu, berkat kau game ku benar-benar di terima dan akan segera di lakukan percobaan besok."


"Aku memang sehebat itu yah."


"Iya ku akui kau hebat sekarang, tapi hanya dalam hal itu saja. Yang lainnya entahlah."


"Kau jangan terlalu gengsi untuk mengakuinya."


"Berisik kau, sudah malam mengapa kau masih belum tidur?" tanya Bella.


"Terimakasih karena sudah mau menungguku dan tetap sendiri sampai sekarang," Ether menatap Bella dengan cukup dalam.


Bella tersenyum sinis, "Menunggumu? Aku tidak sama sekali menunggumu."


"Apapun itu, pokoknya terimakasih untuk tetap sendiri selama lima tahun ini. Awalnya saat aku datang ke sini aku benar-benar tidak siap jika harus mengetahui kalau kau sudah menikah dengan orang lain, setelah aku tau kau masih sendiri selama ini aku senang."


"Aku masih sendiri bukan berarti aku menunggumu atau tidak bisa melupakanmu, tapi karena aku trauma olehmu. Aku takut jika menjalin hubungan dengan orang lain mereka juga akan meninggalkanku dengan kejamnya seperti mu."


"Aku akan buktikan kalau aku tidak seburuk yang kau kira. Pasti suatu saat nanti kau akan tau kalau aku sangat mencintaimu bahkan sampai hari ini."


"Lagipula ibu mana yang mau anaknya menikah dengan seorang wanita yang sudah punya anak hasil perzinahan, tidak mungkin ada yang seperti itu," Bella tersenyum sinis.


"Maka dari itu aku akan menikahi mu suatu saat nanti setelah kau sadar akan besarnya cintamu."


"Besarnya cintamu? Menjelaskan mengapa kau meninggalkan ku saja kau tidak mampu, apalagi membuktikan bahwa kau mencintaiku," Bella langsung meninggalkan Ether.


Ponsel Ether berbunyi ternyata itu adalah panggilan dari asistennya yaitu Mark, "Ada apa lagi menelpon ku malam-malam?" tanya Ether.


"Tuan katanya markas utama kita di serang."


"Sialan, siapa yang melakukan itu?" tanya Ether marah.


"Gisel masih mencari tahu pelakunya, orang yang di tangkap Gisel masih belum mengatakan apa-apa sampai sekarang."


"Baiklah terus pantau semuanya, karena saya tidak mungkin kembali ke Amerika dalam waktu dekat ini. Saya percayakan semuanya pada Gisel dan Tomi, katakan pada mereka untuk segera menangkap pelakunya."


"Baik Tuan nanti akan segera saya katakan pada mereka."

__ADS_1


"Bagus, ya sudah saya mau tidur," Ether mematikan sambungan telponnya.


__ADS_2