
Bella menatap isi kulkasnya yang kosong, Daniel dan Ether datang ke dapur.
"Bagaimana kalau kita pesan makanan lewat GO-JEK saja?" usul Ether.
"Aku akan masak," tegas Bella walaupun ia tidak tau akan masak apa, sangking sibuknya ia sampai lupa beli makanan.
"Sudah kita pesan saja, kau tidak punya apa-apa di kulkas. Memangnya kau bisa masak tanpa bahan makanannya? Ingat kau bukan pesulap."
Bella memasang wajah kesal, "Baiklah terserah kau."
"Daniel kau penghianat, bagaimana bisa kau lebih dekat dengannya yang baru kau kenal," Bella menatap Daniel.
Daniel menghampiri ibunya, "Mama, mama tenang saja. Walaupun aku dekat dengannya tapi aku tetap paling mencintaimu, kalau dia membuatmu menangis aku akan langsung memukulnya."
Bella tersenyum sambil menatap sinis pada Ether, lalu tak lama Bella langsung menangis, "Sayang dia buat mama menangis," Bella mulai berdrama agar Daniel mengusir Ether dari rumahnya.
"Mama aku bukan bayi yang bisa mama bohongi, kau hanya pura-pura menangis jadi berhentilah. Mana mungkin aku mengusir orang yang tidak bersalah dari rumah," balas Daniel.
Ether yang melihat itu langsung tertawa puas, "Akting mu ternyata masih jelek, Daniel kemari lah kau mau pesan makan apa?" ledek Ether.
Bella menatap Ether kesal, "Awas kau, aku akan membalas mu lain waktu."
"Ayah aku ingin makan ini."
"Baiklah aku akan membelinya untukmu, Mama mu mau makan apa? Tanya sana."
"Mama, Mama mau pesan apa?" Daniel menatap ibunya.
"Mama tidak lapar," sinis Bella sambil minum air putih.
Tiba-tiba perutnya berbunyi, "Sialan mengapa bunyi sekarang sih," Bella bergumam pelan.
Ether tersenyum tipis, "Kau lapar tampaknya."
"Ya sudah mau iga bakar," timpa Bella tanpa menatap Ether sedikitpun.
"Bagus."
Tak lama setelah itu makanan mereka datang, ketiganya makan bersama di meja makan. Tak bisa di pungkiri Bella sebenarnya senang mereka dapat berkumpul bersama lagi, tapi ia masih tetap merasa takut jika nanti Ether akan mengambil hak asuh Daniel darinya.
Waktunya tidur, Daniel kekeh ingin tidur bersama Ether. Bella yang tak bisa berbuat apapun akhirnya mengiyakan apa yang Daniel inginkan, ia juga tak mau membuat anaknya sedih selama ini Daniel hanya ingin punya ayah dan sekarang keinginan sudah terkabul jadi untuk apa Bella melarang-larangnya lagi.
Bella yang masih ada pekerjaan, bekerja di ruang tengah walaupun sudah mengantuk. Ether yang haus pergi ke dapur, tetapi saat melihat Bella masih belum tidur ia langsung menghampirinya.
"Kau belum tidur?" tanya Ether duduk di kursi samping Bella.
__ADS_1
"Masih ada pekerjaan."
"Kau kerjakan besok saja, hari ini sudah malam nanti kau sakit karena kurang tidur."
"Tidak, ini harus ku selesaikan malam ini juga. Tapi aku masih bingung apa yang kurang dari game ini, padahal aku sudah merasa ini pas, tapi mengapa pak direktur masih merasa ini ada yang kurang," jelas Bella sambil memegang kepalanya yang sudah pusing menatap layar laptop terus.
"Sini biar aku lihat," Ether menarik Laptop Bella.
"Ah."
"Diam lah biar ku perbaiki," Ether dengan teliti memeriksa semuanya, ia juga memperbaiki kesalahan-kesalahan kecil dalam game tersebut.
Bella hanya diam memperhatikan pekerjaan Ether, tak di sangka Ether memang sangat pintar, "Wah keren, ternyata kau lumayan juga," Bella memuji Ether.
"Aku memang hebat sejak lahir," Ether menyombongkan dirinya.
"Sialan aku salah bicara."
"Sudahlah tidur sana, kerjaan mu sudah selesai. Ku pastikan direktur mu tidak akan memintamu memperbaikinya lagi."
"Oke, terimakasih," Bella langsung beres-beres dan pergi ke kamarnya untuk tidur.
Sementara Ether juga melanjutkan ke dapur untuk mengambil segelas air putih, tenggorokannya terasa sangat kering sedari tadi. Ether menatap ke sekeliling dapurnya, ia merasa ada yang kurang di dapur ini, ternyata kulkas di rumah ini sangat kecil dan jelek.
___________
Keesokan harinya Ether sudah berada di kantor, setelah kemarin terus menerus membatalkan rapat hari ini ia datang ke rapatnya untuk membahas sebuah kerjasamanya bersama perusahaan lain untuk membuat hotel bertema game.
Selesai rapat tanpa pikir panjang Ether langsung pergi ke sekolah Daniel untuk menjemputnya pulang, "Ah mana dia?" Ether berdiri di depan gerbang masuk sama seperti yang lainnya.
Bel tanda pulang berbunyi, Anak-anak langsung keluar dan menghampiri orang tua mereka yang sudah menjemputnya. Daniel tersenyum saat melihat Ether ada di sana, Daniel merentangkan tangannya sambil berteriak ke arah Ether, "Ayah......"
Ether ikut merentangkan tangannya sambil tersenyum, mereka langsung berpelukan dengan sangat bahagia, "Ah aku senang ayah datang ke sini menjemput ku."
"Ayah juga senang kalau kau senang."
"Kita pulang yuk."
"Ayah aku lapar."
"Kita makan dulu kalau begitu, kebetulan ayah juga sedang ingin beli sesuatu untuk di rumah. Jadi kau mau menemani ayah membelinya?"
Daniel mengangguk.
Di tempat lain Bella dan Rose sedang mengobrol santai di ruangannya karena sudah tak ada kerjaan, game milik Bella juga di acc oleh pak direktur.
__ADS_1
"Kau tau? Ether sekarang tinggal bersamaku," jelas Bella.
"Benarkah? Jadi dia sudah tau kalau Daniel adalah anaknya?"
"Iya, Diam-diam dia melakukan tes DNA pada Daniel."
Rose tertawa kecil, "Cukup pintar, lalu bagaimana bisa dia tinggal bersamamu?"
"Dia memaksa ingin tinggal untuk merawat Daniel, karena Daniel sangat senang aku jadi tidak bisa menolaknya."
"Ah kau benar, sudah dari lama ia ingin punya ayah. Jadi mana mungkin ia melewatkan kesempatan ini."
"Iya aku juga bingung sekarang, aku hanya takut Ether suatu hari nanti mengambil hak asuh Daniel."
Rose menepuk pundak Bella, "Hey kau tenang saja, kalau Ether melakukan itu aku akan jadi tameng mu. Kau tidak perlu khawatir, aku yakin Ether juga tidak akan setega itu padamu."
"Yah..... Semoga saja memang begitu."
"Ya sudah kita makan siang yuk, hari ini Daniel di jemput ayahnya?"
"Iya tadi pihak sekolah mengatakan seperti itu."
"Biarkanlah Daniel merasakan apa yang hilang dari nya, sekarang kita pergi," Rose menarik Bella ke kantin untuk makan siang.
Di tempat lain Daniel dan Ether baru saja sampai di toko elektronik, "Ayah mau beli apa di sini?" tanya Daniel.
"Mau beli kulkas buat di rumahmu."
"Bukannya kulkas Mama masih baik-baik saja?"
"Kau mau kulkas itu tidak?" tanya Ether menunjuk sebuah kulkas mewah yang canggih keluaran terbaru.
"Ah mau ayah."
"Kita beli."
"Mas saya beli kulkas itu yah, sama mau televisi juga AC nya," jelas Ether pada penjaga tokonya.
"Boleh Pak, mau lihat-lihat dulu yang lainnya?"
"Saya pokoknya ingin paling terbaru dan paling mahal."
"Baik Pak boleh ikut saya untuk melihat-lihatnya."
Ether menggendong Daniel dan pergi memilih-milih.
__ADS_1