Anak Tunggal Tuan Ether

Anak Tunggal Tuan Ether
Cepat atau lambat dia harus tau


__ADS_3

Hari berlalu, hari ini terlihat sangat cerah, Bella pagi sekali sudah ada di kantor di taman kantor tak sengaja ada orang yang menabraknya.


"Sorry," wanita yang menabrak Bella membuka kaca mata hitam nya lalu menunduk ke Bella.


Bella tersenyum ramah pada wanita itu, "Ah tidak papah, lain kali hati-hati aja yah," setelah itu Bella langsung melanjutkan perjalanannya.


Ternyata wanita yang barusan menabraknya adalah Gisel, "Ternyata dia memang secantik itu," gumam Gisel lalu pergi dari sana, Gisel sengaja melakukan itu hanya untuk melihat Bella dari dekat.


Di tempat lain Daniel dan Ether sedang membeli baju untuk datang ke pertemuannya Rose.


"Ayah ini cocok tidak?" Daniel memakai jas berwarna putih dengan kacamata hitam.


Ether merenung menatap anaknya, lalu memberinya jempol, "Bagus, baiklah kita beli saja itu."


Kini mereka menatap dirinya di cermin sambil memasang gaya cool, kedua tangan mereka di masukkan ke saku celana.


"Kita keren yah," gumam Daniel.


"Oh jelas."


Selesai membeli baju mereka makan-makan dulu, hari ini Daniel tak sekolah karena libur.


__________


Malam pun tiba, mereka sudah dalam perjalanan menuju restoran. Bella memakai gaun hitam yang tadi Ether belikan untuknya, gaun itu terlihat sederhana namun terkesan mewah saat di pakai di tubuh Bella.


Sampailah mereka di sana, Ether menggandeng Bella dan juga menggendong Daniel. Mereka pergi ke lantai tiga, setelah di sana ternyata Rose dan Rendi juga sudah datang. Mereka bangun untuk menyambut kedatangan Bella dan yang lainnya.


"Hay," sapa Bella.


Mereka kembali duduk, "Rendi kenalin ini Bella, itu Ether dan ini anaknya Daniel," Rose memperkenalkan mereka.


Mereka tersenyum sambil menundukkan kepalanya, "Ganteng, seperti ayah dan ibunya," ucap Rendi pada Daniel.


"Makasih Om, om juga ganteng," balas Daniel.


Rendi tersenyum, "Selain ganteng kau juga pandai memuji ternyata."


Pelayan restoran datang untuk memberikan menu, mereka memesan beberapa menu utama di restoran ini.


"Jadi apakah dia akan ikut ke Singapura?" tanya Bella.

__ADS_1


"Jelas, sekalian liburan," balas Rose tersenyum.


"Kalian juga bakalan pergi bertiga kan?" lanjut Rose.


"Ya iyalah, Ether pasti harus datang ke pertemuan itu dan aku tidak mungkin meninggalkan Daniel. Jadi pasti ikut," jelas Bella.


Setelah berbincang-bincang makanan mereka pun datang, sambil ngobrol-ngobrol mereka juga menikmati makanan itu. Di meja lain ternyata Gisel juga ada di sana, ia memperhatikan mereka sedari kejauhan walaupun hatinya sangat panas dan sakit sekali.


Gisel tersenyum sinis, "Sanggupkah wanita itu menerima kenyataan bahwa Ether adalah Mafia?"


"Ku rasa cepat atau lambat dia akan segera tau, entah itu Ether sendiri yang mengatakannya atau aku," lanjutnya.


Tiba-tiba Mark duduk di depan Gisel membuat wanita itu kaget, "Ku harap sebaiknya kau tidak melakukan itu," ujar Mark.


Gisel menatap Mark, "Tapi cepat atau lambat wanita itu harus tau tentang kehidupan Ether, ku harap Ether sendiri yang mengatakannya. Karena ketika kita mengetahui rahasia dari orang lain sakitnya bukan main."


"Ku rasa Tuan Ether juga akan mengatakannya suatu saat nanti, karena itu sebuah keharusan."


"Kapan? Aku rasa Ether tidak punya keberanian akan hal itu. Dia terlalu lemah jika sudah menyangkut wanita itu."


"Tak bisa di pungkiri Tuan Ether menjadi tangguh juga karena cintanya, cinta bukan hanya bisa melemahkan seseorang tapi juga dapat menguatkan seseorang."


Mark terdiam, "Ku rasa dia akan mau mengikuti Ether."


Gisel terkekeh pelan, "Kalau mereka belum punya anak, aku percaya dengan kata-kata mu. Tapi apakah Bella akan membiarkan anaknya dalam bahaya? Ibu mana yang tega melakukan itu?"


Mark kembali terdiam.


"Pokoknya cepat atau lambat Bella harus tau, kalau Ether tidak mau mengatakannya maka aku lah yang akan bicara padanya," setelah itu Gisel pergi dari sana.


Di luar Gisel sedang berjalan ke mobilnya tapi tiba-tiba seseorang tak sengaja menyenggol dengan motor membuat Gisel terjatuh dan lututnya berdarah.


"Ah," rintis Gisel sambil menatap lututnya yang berdarah.


Pria yang naik motor itu segera membuka Helmnya dan turun dari motor, ia menghampiri Gisel.


"Sorry, aku benar-benar tidak sengaja. Lututmu berdarah mari saya obati dulu," Pria itu membantu Gisel bangun dan membawa Gisel duduk di kursi yang ada di pinggir jalan.


Gisel menatap pria itu yang kini sedang membuka tasnya mencari alkohol.


"Ini gak akan sakit kok, jadi tanah yah," pria itu mengoleskan alkohol yang sudah ia tuangkan ke kapas pada lutut Gisel.

__ADS_1


Gisel pura-pura meringis karena menurutnya ini tak sakit, sudah sering ia tertembak atau bahkan terluka. Luka ini tak seberapa baginya, tapi sedari tadi Gisel hanya terdiam karena merasa ini baru pertama kali dalam hidupnya ada pria yang melakukan ini padanya, sejak dulu ia selalu di pandang kuat oleh siapapun.


Di dekat mereka ada Mark yang memperlihatkannya, "Kau akan mengerti cinta yang sebenarnya sekarang," setelah bicara itu Mark masuk ke mobilnya.


Pria tadi memasangkan staples bergambar hello kitty di luka itu membuat Gisel tersenyum.


"Ada apa?" tanya pria itu menatap Gisel.


"Tidak, hanya lucu aja."


"Tapi kau benar-benar tidak papah kan? Mau ku antarkan ke klinik terdekat?"


"Tidak usah."


"Sekali lagi minta maaf yah, tadi saya sedang buru-buru."


"Tak masalah."


"Bagaimana untuk menebus rasa bersalah saya, besok ku terakhir makan di restoran. Mau?"


"Hah? Gak usah ini gak papah kok."


"Sudah cepat aku minta nomor mu, besok ku kabari."


Gisel memberikan nomornya pada pria itu.


"Jadi siapa namamu?" tanya pria itu.


"Gisel."


"Aku Wisnu, sekarang aku sedang buru-buru jadi besok saja ku traktir makannya."


"Oke."


"Ya sudah kalau kau tidak papah saya pergi dulu yah, saya sedang buru-buru soalnya."


"Oke."


Wisnu kembali ke motornya lalu pergi dari sana, setelah Wisnu pergi Gisel kembali tersenyum.


"Pria aneh," ia memandang staples hello kitty tersebut sebelum akhirnya ia masuk ke mobilnya untuk pulang ke apartemen.

__ADS_1


__ADS_2