
Seminggu telah berlalu begitu saja, Ether dan Mark telah kembali ke indonesia dengan membawa banyak sekali mainan. Ether datang-datang langsung ke rumah Bella, karena ini hari minggu ia yakin Bella dan Daniel ada di rumahnya.
Setelah membunyikan Bel beberapa kali Daniel membukakan pintu untuk mereka, "Ayah," ucapnya dengan kegirangan sambil langsung memeluk Ether.
Ether berjongkok agar dapat memeluk anaknya, "Mama mu ada di rumah?" tanya Ether.
"Ada, Tapi....... Mama pasti masih marah sama ayah," balas Daniel melepas pelukannya.
"Coba kau panggilkan," titah Ether.
"Baik ayah," Daniel berlari masuk ke rumahnya lagi untuk memanggil kan Bella.
"Mama," teriak Daniel.
Bella sedang duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi, "Siapa yang datang?" tanyanya.
"Ayah, ayah bilang dia mau berteman sama Mama," jelas Daniel.
Kini perasaan Bella antara senang dan kesal, senang karena ternyata Ether kali ini benar-benar kembali dan kesal karena Ether tidak pernah memberikan alasan yang tepat kenapa ia meninggalkan dirinya.
"Suruh saja masuk," cuek Bella.
"Oke Mama," Daniel berlari lagi keluar.
"Ayah, kata Mama masuk aja," Daniel tersenyum pada Ether.
"Oke," mereka bertiga menemui Bella di ruang keluarga, Bella menatap Ether dengan tatapan dingin.
"Aku mengizinkan mu masuk karena Daniel yah, jadi tidak usah berpikiran ke mana-mana, sebelum kau mau menjelaskan mengapa kau selalu tiba-tiba pergi jangan harap aku dapat memaafkan mu," Bella masuk ke kamarnya meninggalkan mereka semua.
"Bella, aku datang ke sini juga ingin menemuimu. Jangan pergilah," ujar Ether menahan Bella pergi dengan berdiri di hadapan Bella.
"Minggir," Bella mendorong Ether agar tak menghalangi jalannya.
"Udahlah Yah, Mama lagi marah nanti juga baik lagi," Daniel menarik baju ayahnya.
"Ya sudah, sekarang kita buka oleh-olehmu saja," Ether membawa beberapa mainan dan juga oleh-oleh lainnya untuk Daniel juga Bella.
Sementara itu di tempat lain tanpa Ether ketahui ternyata Gisel ikut ke Indonesia untuk melihat bagaimana wajah Bella, wanita yang begitu di cintai Ether sampai-sampai Ether bahkan tidak peduli dengan Organisasinya.
__ADS_1
Gisel membeli salah satu apartemen untuk ia tinggal di sana beberapa hari, kebetulan Gisel memang sudah pernah ke Indonesia beberapa tahun yang lalu. Jadi ia sudah belajar bahasa Indonesia bahkan sudah tau dengan jalan-jalan yang ada di jakarta.
"Pokoknya aku akan menemukan dia," Gisel menatap foto Bella yang Mark berikan padanya.
"Aku hanya ingin memastikan apakah dia pantas untuk Ether atau tidak," tambahnya, hari ini Gisel hanya ingin istirahat terlebih dahulu ia akan mencari Bella di keesokan harinya.
Sementara itu di tempat lain Rose sedang kencan dengan Rendi, karena kejadian malam itu mereka berdua semakin dekat. Walaupun belum pacaran tapi mereka sudah sering jalan bareng.
"Kau mau pesan apa?" tanya Rendi.
"Mau topokki sama bibimbap aja," jelas Rose, mereka makan di restoran Korea.
"Minumnya?"
"Soju sama leci tea."
___________
Setelah makan-makannya selesai mereka berdua memutuskan untuk pergi ke taman, sebenarnya Rose sudah sangat lama menunggu Rendi mengajaknya pacaran. Tapi anehnya Rendi tidak pernah menyatakan cintanya pada Rose padahal selama ini mereka sudah sering bertemu.
Mereka duduk di kursi taman sembari memakan Es krim yang tadi mereka beli di supermarket.
Di depan mereka ternyata ada seseorang yang tengah menembak ceweknya dengan sangat romantis membuat Rose iri padanya, Rose menatap mereka dengan harapan ia juga ingin Rendi melakukannya.
Rose pun tanpa sadar mengangguk, setelah sadar ia langsung menatap Rendi, "Em maksudku, Em," Rose tak bisa berkata-kata, wajahnya memerah karena malu, ia takut Rendi berpikiran bahwa ia terlalu berharap pada Rendi yah yang walaupun pada kenyataannya memang berharap.
Rendi menarik tangan Rose untuk mendekat ke arah mereka, "Rendi Rendi mau ngapain kita ke sana?" Rose semakin bingung.
Seorang wanita yang di tembak tadi langsung memberikan buket bunganya pada Rendi, Rendi dan Rose kini ada di atas taburan bunga. Rose malah semakin kebingungan, "Maksudnya ini apa?" tanyanya.
Rendi berlutut di hadapan Rose, "Rose mau kah kau menjadi pacarku? Aku tau pertemuan kita memang singkat dan benar-benar tak sengaja, namun aku yakin ini adalah takdir kita. Walaupun kita baru kenal tapi entah mengapa aku begitu yakin dengan perasaan ku padamu," Rendi menyodorkan bunga itu ke hadapan Rose.
Orang-orang yang menonton mereka langsung bersorak secara berbarengan, "Terima-terima," sorak mereka sambil tepuk tangan.
Rose tanpa sadar menangis sangking terharunya, ia kemudian menerima bunga itu sambil mengangguk. Rendi tersenyum lalu berdiri lagi dan memeluk Rose dengan sangat erat, "Jadi kita hari ini resmi pacaran yah?" tanya Rendi.
"Iya."
Jadi sebenarnya adegan pasangan tadi adalah titahan dari Rendi, ia hanya ingin tau apakah Rose mau atau tidak di tembak seperti itu dan ternyata Rose mau jadilah ia menembak Rose hari ini juga.
__ADS_1
Sekarang mereka sudah dalam mobil, Rose terus saja menatap bunganya, "Jadi tadi itu suruhan kamu?" tanyanya sambil menatap Rendi sekilas.
Rendi tersenyum, "Iya, aku takut ku tidak mau di tembak di tempat yang sederhana. Makannya aku lakukan itu."
Rose tertawa kecil, "Hey mau kau menembak ku hanya di depan rumah ku saja aku pasti akan menerimanya kok, yang terpenting niatnya."
"Yah tapikan kebanyakan cewek sekarang ingin di tembak di restoran mewah atau di tempat mewah lainnya. Sedangkan menurut ku itu terlalu berlebihan."
"Yah kau benar, kita sudah bukan remaja yang membutuhkan itu lagi, terimakasih bunganya. Bagaimana kau tau kalau aku suka bunga tulip?"
"Aku tau semua hal tentang mu."
"Bisa aja."
"Nanti mau kan kau bertemu dengan sahabat ku?" tambah Rose yang ingin mempertemukan Rendi dengan Bella.
"Boleh, dia sahabatmu yang sering kau ceritakan itu kan?"
"Iya, nanti ku atur deh waktunya."
"Siap Sayang."
Rose tersenyum karena Rendi memanggilnya dengan kata sayang. Rasanya masih terdengar aneh untuknya, karena selama ini Rose terlalu sibuk kerja hingga tak punya waktu untuk bersama pria. Tapi entah mengapa dengan Rendi ia begitu nyaman dan mudah akrab.
Kembali pada Ether, pria itu dan Daniel sedang merakit robot besar yang ia beli.
"Wah keren Yah, nanti kita simpen di pojok sana tuh," Daniel menunjuk samping televisinya.
"Oke, Mark tolong pindahkan."
"Baik Tuan."
"Ayah aku lapar makan yuk," Daniel duduk di pangkuan ayahnya sambil memegang perut.
"Bella kita mau makan keluar kau ikut tidak?" teriak Ether.
"Tidak," tegas Bella dari kamarnya, tapi sayangnya perut Bella tak bisa bohong, perutnya berbunyi tanda kelaparan, mana di rumah tidak ada makanan lagi.
"Sial," terpaksa Bella keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Ether yang melihat Bella keluar tersenyum, "Sudah jangan malu-malu," Ether merangkul Bella.
"Tidak usah pegang-pegang."