Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 1 : Sebuah Perbedaan


__ADS_3

🍒


Mempunyai, orang tua yang memiliki beda keyakinan, membuat Arafah Valencia berada dalam tekanan. Bahkan di usianya yang memasuki sembilan belas tahun, ia belum bisa menentukan. Keyakinan Mama atau Papa yang harus ia ikuti.


Ara, begitulah orang-orang memanggilnya, gadis ceria penebar senyum dan selalu tampak bahagia tapi menyimpan sejuta kesedihan yang sulit untuk di ceritakan.


Ara, merasa jika ia selalu hidup dalam masalah dan ia tidak tahu cara untuk mengatasi masalah tersebut. Alhasil yang Ara lakukan adalah melakukan segalanya, ia akan Sholat jika ia berniat, bahkan akan ke Gereja pada hari Minggu. Ara paham, apa yang ia jalani saat ini bukan hal yang patut untuk di contoh, tapi yang selalu ia pikirkan, bahwa Tuhan akan paham maksud dan tujuannya, bahwa Tuhan tidak akan menghakiminya. Ara selalu yakin Tuhan maha baik dan suatu saat, ia akan di beri hidayah untuk bisa menentukan keyakinan.


Hampir dua tahun, sejak kedua orang tuanya mengajak pindah di komplek perumahan saat ini. hampir setiap hari juga, Ara selalu tidak ketinggalan untuk Sholat Magrib dan Subuh di sebuah Masjid tidak jauh dari rumahnya.


Tapi pagi ini ada yang berbeda, Ara melihat ada pria muda, menggunakan setelan celana dasar dan kaos putih sederhana, tampak sedang khusuk membaca Al-Qur'an di tangannya. Karena penasaran, ragu-ragu Ara mendekati pria itu.


"Emmmh, Hay, selamat pagi," sapa Ara dengan percaya diri.


"Wa'alaikumsalam," sahut pria itu di luar dugaan.


Ara menaikan alisnya sebelah, lalu memberanikan diri untuk bertanya. "Maaf, anda siapa? karena selama saya Sholat disini, belum sekalipun kita bertemu."


"Pertama, jika menyapa saya, harus ucapkan salam dengan benar. Kedua, saya tidak kenal kamu, ketiga, ini Masjid umum jadi siapa saja boleh Sholat disini, paham." ujar pria itu dengan lantang dan jelas, membuat wajah Ara mendadak pias.


"O-oke, saya salah," Ara jelas gugup, jika saja orang tau, saat ini jantungnya tengah berpacu hebat, ia belum pernah merasakan segugup ini sebelumnya. "Kalau begitu, mari berkenalan, namaku Ara."

__ADS_1


Melihat Ara mengulurkan tangan, pria itu justru tak mengindahkan. "Namaku Chicio, panggil saja Chio!" jawabnya tanpa menatap wajah Ara sedikit pun, yang lebih menyebalkan lagi, Chio benar-benar mengabaikan saat Ara mengajaknya bersalaman tanda perkenalan.


Meski Chio tampak sangat menyebalkan, justru membuat Ara semakin penasaran, ia akan memastikan, jika akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya dan benar saja, entah bagaimana ceritanya, Ara dan Chio benar-benar sering bertemu, bahkan mereka mendadak sangat akrab.


Chio mengajarkan Ara Sholat yang baik dan benar, dan juga mengajarkan Ara huruf-huruf Al-Qur'an. Singkat cerita, gadis itu akhirnya merasa sangat nyaman.


Chio adalah pria dewasa dengan usia memasuki dua puluh tahun tujuh tahun, wajahnya tampan, bahkan menatapnya saja, Ara seolah mendapat keteduhan. Chio anak pemilik Masjid dimana selama ini Ara melakukan Sholat setiap harinya. Pria itu, hampir tujuh tahun menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, jelas saja Ara tidak pernah melihatnya. Hal yang membuat Ara nyaman, Chio selalu sabar membimbingnya dalam banyak hal, terutama mendalami ilmu Agama.


"Jika menyukai seseorang, seharusnya segera kamu lamar, nanti dia di ambil orang."


Mendengar ucapan Ayah, membuat perasaan Chio tak karuan, kenyataannya dia memang sedang menyukai seorang gadis, siapa lagi jika bukan Arafah Valencia, gadis yang hampir setiap hari ia temui.


"Mengungkap perasaan, tidak semudah membalikkan telapak tangan, Yah," jawab Chio dengan batin berdebar.


Sesantai itu sang Ayah berucap, justru membuat Chio semakin pusing. Bagaimana bisa ia mengungkapkan perasaannya terhadap Ara, sementara mengenal gadis itu lebih dalam saja tidak pernah, yang Chio tahu, Ara gadis yang usianya saja belum dua puluh tahun, ia hanya mengenal Ara sebatas yang di ketahui, jadi Chio memutuskan untuk berusaha mendekati Ara dengan caranya.


* * *


Ara yang hampir setiap hari mendatangi Masjid milik keluarga Chio, hari ini di kejutkan oleh perjumpaan tanpa sengaja dengan cinta masa lalunya, seseorang yang pernah mengisi relung hati Ara hampir dua tahun lamanya saat sama-sama duduk di bangku SMA.


"Ara," mata cowok itu berkaca-kaca.

__ADS_1


Ara terdiam bahkan tidak sanggup membuka suara, di luar dugaannya, tidak ada kebencian yang di perlihatkan pria muda itu. Tatapannya tetap tulus, bahkan menyapa Ara dengan sangat halus, padahal seharusnya dia marah atau benci, sebab Ara pergi meninggalkannya tanpa permisi dua tahun yang lalu.


"Ke-kenan," tentu Ara mendadak gemetar. "Apa yang lo lakukan disini?"


Pria muda bernama Kenan Argantara tersebut, tidak membalas pertanyaan Ara, ia justru berbalik bertanya, karena banyak hal yang harus Ara jelaskan, mengapa ia dulu di tinggalkan tanpa berpamitan.


"Apa yang terjadi, kenapa lo ninggalin gue? Di saat gue benar-benar butuh penolong, di saat gue benar-benar hancur. Lo justru menambah daftar orang yang ikut hancurin gue,"


Mendengar ucapan Kenan baru saja, semua persendian Ara mendadak lemas, jika perlu dia akan menangis di hadapan Kenan, bahwa yang ia lakukan dua tahun yang lalu, adalah yang terbaik untuk mereka.


"Kita beda jalan, Ken, dan kita beda keyakinan, sementara orang tua lo, ga kasih izin atas hubungan kita, karena menurut mereka, gue orang yang ga memiliki Agama."


Kenan terdiam, lidahnya mendadak kelu tak ada jawab yang tepat untuk penjelasan Ara baru saja. Selain dulu mereka masih SMA, kondisi Ara yang belum menentukan Agama pun menjadi alasan, orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Singkat cerita, Ara pun memilih pergi. Tanpa Ara ketahui, selama dua tahun berpisah banyak hal yang berubah dari hidup Kenan, kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan dan saat Kenan butuh dukungan, Ara justru meninggalkan. Sungguh itu semua bukan salah Ara, tapi salah takdir yang tidak memahami mereka.


Pertemuan tak terduga pagi ini, tidak Kenan sia-siakan, ia meminta Ara memberikan no WhatsApp dan meminta Ara untuk memberi tahu alamat Rumah.


"Ini alamat Rumah gue, karena gue juga bakal menetap disini."


Setelah berucap demikian, Kenan segera berlalu dari hadapan Ara dan masuk ke halaman Masjid. Pertanyaan, apa yang di lakukan Kenan? Bukankah dia non Muslim? Begitulah pertanyaan yang sempat terbesit, tapi Ara mencoba untuk bersikap masa bodo dan tidak mau tahu.


Di pastikan, hari itu bukan hari terakhir Kenan dan Ara bertemu, faktanya pria ini masih sama, selalu bisa membuat Ara tersenyum dan tertawa, bahkan di saat seharusnya Kenan membenci, tapi ia tetap memberikan Ara perhatian lebih. Pria yang selalu ia panggil si anak pejabat tersebut, masih saja menunjukan cinta sepenuhnya untuk Ara.

__ADS_1


TBC


__ADS_2