
Hari ini dunia lebih tampak cerah, secerah wajah Kenan yang baru saja bangun dari tidurnya. Cowok itu tersenyum simpul kala mengingat apa yang terjadi tadi malam, Ara yang rela meluangkan waktu untuk membersihkan luka di kakinya, Chio yang mendadak perhatian dan rela menginap untuk menjaga Kenan hingga pagi menyapa.
"Abangku, tadi pergi jam berapa, Pak?" Kenan bertanya pada Pak Oki, sopir pribadinya.
"Sekitar jam setengah tujuh, Tuan."
"Oh, oke. Bapak ya, yang kasih tahu Chio kalau semalam aku jatuh dari kamar mandi?"
"Iya Tuan, bagaimana pun beliau adalah saudara kandung anda, jadi Mas Chio harus tau jika semalam anda terluka."
Mendengar penuturan Pak Oki, membuat Kenan kian melebarkan senyumnya. Meski ia sangat penasaran, kerena sikap sang Abang yang mendadak perhatian.
"Sudahlah, gue harusnya bahagia, tu manusia akhirnya terima gue sebagai saudaranya." ucap Kenan dalam hati
"Tuan Kenan, hari ini Pak Bastian meminta anda untuk pulang dan tinggal di rumahnya.,"
Pak Bastian adalah Adik kandung dari Almarhum Papa yang kini menggantikan posisi kedua orang tua Kenan mengurus perusahaan setelah Mama dan Papa meninggal dunia.
"Aku males kesana, mendingan bawa aku pulang ke rumah aja!"
"Tapi Tuan, saya takut Pak Bastian akan marah."
Kenan mendengus kesal, mau tidak mau akhirnya ia pun menuruti apa yang di katakan oleh Pak Oki, bagaimana pun Pak Bastian di anggap cukup berjasa. Jika tidak ada dia, siapa yang akan mengurus perusahaan, karena Kenan tentu saja belum tahu apapun tentang dunia pekerjaan.
"Ara,"
Beruntung, Kenan belum pergi, ia berjumpa dengan Ara tepat di parkiran hotel, gadis itu membawa satu kotak roti di tangannya.
"Lo, mau pulang?"
"Iya, Lo ikut gue, ayo masuk!"
"Males, gue ada mata kuliah jam satu nanti. Ini roti buat Lo,"
Saat Ara akan melangkahkan kaki, tiba-tiba saja dengan sangat erat Kenan menggenggam tangan gadis ini, mendadak membuat badan Ara panas dingin. Kenan tetap sama, selalu bisa membuat Ara senam jantung dalam waktu sekejap saja.
"Masuk,"
"Ta-tapi, gue bawa mobil sendiri," gugup Ara benar-benar gugup.
__ADS_1
"Biarin aja disini, ntar Pak Oki yang ambil, mobil Lo nggak akan ilang."
Tidak ada pilihan, kecuali menuruti keinginan Kenan, terlebih Ara juga memang penasaran kenapa semalam cowok ini bisa tiba-tiba jatuh dari kamar mandi hingga membuat kakinya hampir saja patah.
"Sampai, ayo turun!"
Kenan dan Ara, kini sudah tiba di halaman rumah mewah nan megah dengan corak dan warna yang sangat elegan. Nuansa putih yang sangat kental semakin membuat Ara merasa takjub. Ya, meski rumahnya sudah cukup mewah tapi rumah ini jauh lebih mewah dari rumahnya.
"Ini rumah lo?"
"Bukan, ini rumah om gue, setelah dari sini, baru gue ajak lo ke rumah gue."
"Oh, gue kira rumah lo."
Dengan di bantu kursi roda, Ara membantu Kenan masuk ke dalam rumah, setelah tiba keduanya bertemu dengan pria yang tampak masih gagah dan tampan meski jelas sekali usianya sudah tak lagi muda.
"Saya dengar, kamu terjatuh dari kamar mandi. Tapi kenapa kamu tidak memberi tahu saya?" tanya Bastian tanpa basa-basi.
"Maaf Om, karena sudah terlalu larut malam, jadi aku nggak mau, ganggu jam istirahat anda." jawab Kenan sedikit tertunduk.
"Kamu anggap saya siapa? Sampai kamu merasa sungkan, saya ini Om kamu, saudara kandung Papahmu, sudah seharusnya kamu menjadi tanggung jawab saya."
Tak ada jawaban, Kenan memilih diam dan tertunduk semakin dalam, sementara sorot mata Bastian menatap tajam ke arah sang keponakan.
Tetap saja, tidak ada pembelaan, Kenan tetap memilih diam dengan tangan terkepal.
"Vania, bagaimana pun, Kenan tetap saudara sepupumu, kamu tidak pantas berbicara begitu."
"Aku nggak pernah anggap dia saudara. Ogah, punya saudara berandalan, malu-maluin aja,"
Jika tahu kedatanganya kesini akan mendapat caci maki, Kenan akan memilih datang sendiri tanpa di dampingi Ara, tapi semua sudah terlanjur, Ara mendengar dengan jelas pembicaraan yang sungguh tidak mengenakan hati siang ini. Gadis itu menatap sendu, cowok yang selalu tampak ceria tapi menjadi seperti tidak berdaya di hadapan keluarga Om-nya sendiri.
"Ara, tolong bawa aku pulang!" pinta Kenan pelan.
"Ba-baik,"
"Ken, tunggu, kamu jangan dengarkan semua ucapan Vania tadi, dia masih anak-anak jadi tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar." Bastian menepuk pundak Kenan pelan
"Iya, aku paham."
__ADS_1
Setelah itu Kenan meminta Ara untuk segera membawanya keluar dari rumah neraka ini.
"Ken, Lo nggak apa, kan?" Ara memberanikan diri untuk bertanya setelah keduanya sudah masuk kedalam mobil.
"Gue nggak apa-apa, maaf ya, karena buat Lo nggak nyaman."
"Kenapa minta maaf, menurut gue, Lo memang butuh gue untuk selalu ada di samping Lo, setiap Lo mau main ke rumah Om Bastian,"
"Kenapa?"
"Gue yakin, ada alasan kenapa Lo, nggak mau lawan ucapan Vania tadi. Padahal yang seharusnya sadar diri itu dia, karena dia dan keluarganya punya harta itu karena perusahaan Bokap lo,"
"Ih, Lo sok tau banget sih, Ra, udah deh Lo mending diem aja, nggak usah ikut campur urusan gue dan urusan keluarga Om gue, oke."
Ara lebih memilih diam, ia yakin sekali ada beban yang Kenan simpan sendiri. Apapun itu, Ara akan pelan-pelan menyelidiki, entah kenapa Ara merasa kali ini harus ikut campur urusan Kenan.
"Udah sampai, ayo bantu gue turun. Ini rumah gue yang baru dan Lo orang pertama yang datang bertamu kesini."
"Massa sih, nggak percaya gue," jawab Ara dengan candaan.
Setelah pelan-pelan Ara membantu Kenan berjalan, meski kakinya sakit luar biasa, Kenan mati-matian untuk menahannya, sebab ia tidak mau tampak lemah di hadapan Ara.
"Lo yakin, ini rumah Lo?"
"Terus, menurut Lo, ini rumah siapa, Ara."
"Muhehehe, gede banget soalnya, ehh gue lupa, Lo kan anaknya pejabat jadi wajar kalau rumahnya kayak istana di Negeri Dongeng."
"Dih, lebay Lo, Ra."
"Coba Lo bayangin, serepot apa tinggal sendirian di rumah segede ini?"
"Gue nggak tinggal sendirian Ara, disini ada Pak Budi, Bu Lila dan kedua anaknya, Bagas dan Riri, jadi rumah ini tuh nggak sesepi yang Lo bayangin."
"Haah, serius, syukurlah." Ara menghela napas lega.
"Kenapa. Apa Lo aja, yang nemenin gue tinggal disini, biar gue nggak kesepian."
"Hiih, dasar setan, ya kali gue tinggal disini."
__ADS_1
Melihat Ara memasamkan wajah, spontan membuat Kenan tertawa sejadi-jadinya, ia tahu jika gadis ini perduli kepadanya karena itu membuat Ara jadi banyak tanya. Sebenarnya alasan Kenan membuat rumah sebesar ini, dengan harapan, jika suatu hari nanti Chio mau tinggal bersamanya. Semoga.
TBC