Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 11 : BERKUNJUNG


__ADS_3

Seminggu sejak malam Kenan terjatuh dari kamar mandi, Chio memang belum datang menjenguk Adiknya lagi. Bukan tidak perduli, tapi Chio takut jika perhatian yang ia berikan, akan membuat Kenan salah pengertian. Entah, apa yang ada dalam benak pria ini, ia hanya menyangkal fakta bahwa sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Chio berharap juga, suatu saat akan menjalani hidup sebagai saudara yang seharusnya. Tapi ia justru menyangkal keinginannya sendiri, berkali-kali lagi dan lagi, Chio sadar ia egois dan memiliki gengsi yang terlalu tinggi, bukan tanpa alasan, rasa sakit hati dimasa lalu, membentuknya menjadi orang yang keras kepala.


"Hem, baiklah, hari ini setelah dari rumah Ara, saya memutuskan untuk menjenguknya sebentar saja, memastikan jika kakinya sudah baik-baik saja."


Setelah melalui berbagai pertimbangan yang memusingkan kepala, pada akhirnya Chio memutuskan untuk bertamu ke rumah sang Adik. Ini kali pertama, ia datang ke rumah Kenan, tentu saja banyak hal yang perlu Chio pertimbangan.


"Ma-mas Chio," Bi Lila seketika saja gemetar setelah membuka pintu dan mendapati orang yang selalu Kenan harapan setiap hari, kini benar-benar datang menemuinya.


"Dimana, Kenan?" tidak ada basa-basi sama sekali tanpa di persilahkan masuk, Chio sudah berjalan mencari keberadaan kamar sang Adik.


"Tuan Kenan, ada di kamar atas, mari saya antar!" ajak Bi Lila sangat semangat.


"Tidak perlu, saya bisa cari sendiri,"


"Ba-baik, Mas."


Ini memang sangat luar biasa, Bi Lila pribadi baru pertama kali bertemu dengan Chio. Selama ini, ia hanya mendengar dari bibir Kenan yang selalu menceritakan betapa miripnya Chio dengan sang Papa. Dan benar saja, pria bernama Chio itu, bak pinang di belah dua, wajahnya sangat mirip dengan almarhum majikanya di waktu muda.


Meninggalkan Bi Lila yang masih terpana dengan kedatangan saudara kandung Kenan yang sungguh tampan dan menawan. Chio sendiri justru masih berjalan menyusuri setiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan sang Adik.


Dan, Chio bukan menemukan Kenan di kamar ataupun sedang bermain game seperti anak muda biasanya. Chio justru menemukan sang Adik tampak tengah termenung dan melamun di teras belakang rumah.


"Sepertinya, sedang banyak yang di pikirkan nih, sampai nggak sadar, kalau ada orang yang dari tadi berdiri, memperhatikan,"


"Haaah?"


Kenan yang sangat familiar dengan suara tersebut, bergegas membalik tubuh dan kini sama-sama berdiri berhadap-hadapan dengan seseorang yang selalu ia rindu dan harapkan.


"Bang, serius, ini Lo? Gue nggak mimpikan, coba cubit pipi gue, buruan!"


Secepat kilat, Chio menarik hidung Kenan dengan erat hingga membuat Adiknya berdecak kesakitan. Hasilnya hidung Kenan menjadi merah merona.


"Sakit, woy!" Kenan berdecak kesal.

__ADS_1


"Tadi minta cubit, kenapa sekarang berteriak sakit?"


"Kan, gue hanya memastikan Bang, kalau Lo datang kesini bukan khayalan gue aja."


Ucapan Kenan baru saja, sukses membuat suasana menjadi hening tak bersuara. Keduanya mendadak sama-sama kelu, terutama Chio. Tidak ada sepatah katapun, yang pantas untuk menjawab penuturan Kenan yang terdengar sangat jujur dan penuh dengan harapan.


"Saya datang kesini, untuk memastikan keadaan kamu. Apa kakimu sudah sembuh? Jika belum, saya akan membawamu ke Dokter." Chio memang manusia yang tidak bisa basa-basi sama sekali.


"Gue, baik-baik aja, Bang, bahkan kaki gue juga udah sembuh."


"Kamu yakin?" Chio tidak percaya.


"Yakinlah, coba aja periksa sendiri!"


Benar, tanpa pikir panjang Chio langsung berjongkok dan memastikan jika luka di kaki Kenan memang sudah sembuh.


"Sudah sembuhkan? Tenang aja, Bang, gue orang yang paling pandai menjaga kesehatan badan, apa lagi luka kecil begini."


Kenan hanya mengangguk-angguk seolah paham.


"Hem, baiklah saya pamit pulang dulu."


"Heeh, bisa-bisanya baru dateng terus pulang, kayak setan aja Lo. Makan disini, Bang sesekali, lagian Lo kan pertama kalinya, bertamu di rumah gue."


Chio diam sejenak sebelum semenit kemudian ia mengambil keputusan. "Oke,"


Betapa bahagianya Kenan hari ini, Chio bukan hanya sekedar menjenguknya saja, sang Abang bahkan bersedia makan bersama di rumahnya. Salah satu hal yang sangat Kenan harapkan, satu persatu, ia yakin pasti akan terwujud.


"Silahkan duduk, Bang!" dengan sangat sopan bahkan berhati-hati Kenan memperhatikan Chio, ia berusaha sebisanya agar tidak menyinggung perasaan pria ini.


"Di rumah sebesar ini, kamu tinggal sendirian? Apa kamu tidak kesepian?"


"Sepi sih, Bang, sedikit. Tapi sepi yang gue rasa sedikit terisi karena ada kedua anak Bu Lila dan Pak Budi yang tinggal disini,"

__ADS_1


"Oh, lalu sekarang mereka kemana?"


"Sekolah, paling kalau pulang sekitar jam dua." jawab Kenan bersemangat.


"Oh, syukurlah, saya lega mendengarnya." ucap Chio singkat seraya memasukan sesuap nasi kedalam mulut.


"Bang," sejak tadi suara Kenan sangat lembut, kini jauh lebih lembut lagi.


"Iya. Kenapa?"


"Lo, punya niat buat tinggal bareng gue, nggak?" sesungguhnya, Kenan sangat gemetar mempertanyakan hal ini.


Chio yang sejak tadi memakan suap demi suap, mendadak langsung menghentikan aktifitas makanya. Ia langsung menatap tajam ke arah sang Adik.


"Saya kasih kamu hati, tapi kamu minta jantung. Saya berusaha mati-matian menerima kamu dan masih dalam proses saling memahami. Tapi kamu justru menjadi pemaksa dan meminta saya tinggal bersama kamu."


Pertanyaan Kenan yang sepatah kata saja, di jawab Chio seluas samudera. Tampak kemarahan dan binar kecewa dari sorot matanya.


"Bang, Lo jangan salah paham dulu dong. Gue nggak maksud buat maksa Lo, gue hanya bertanya." Kenan menghela napas gundah. "Kalau Lo, nggak mau tinggal disini juga, nggak apa-apa," tambahnya sedih, Kenan berucap dengan mata berkaca-kaca.


Chio, bukan tidak tahu sebesar apa sang Adik menaruh harapan padanya. Tapi untuk seutuhnya menerima Kenan, benar-benar belum bisa ia lakukan, bukan karena tidak menyayangi, tapi Chio benar-benar harus menyembuhkan luka dalam hati terlebih dahulu, sebab ia takut, jika Kenan akan menjadi pelampiasan, kemarahan dan kebenciannya, karena ulah sang Papa di masa lalu.


"Bang, gue nggak maksa Lo, tolong jangan salah paham!" Kenan benar-benar memohon, ia tidak mau setelah ini, Chio menjauh lagi darinya.


"Oke, saya memutuskan, dalam satu bulan, akan ada dua hari untuk saya tinggal disini dan menemani kamu."


Ini adalah jawaban yang benar-benar tidak terduga. Siapa sangka jika Chio sendiri yang memutuskan untuk menginap di rumah Kenan, meski hanya dua hari dalam satu bulan, setidaknya Abang dan Adik ini, akan memiliki waktu untuk tinggal bersama.


"Terima kasih, Bang."


Jika tidak malu, sebenarnya Kenan ingin sekali menangis karena haru, tapi mati-matian ia menahannya, sebab tidak ingin berlinang air mata di hadapan sang Abang. Sementara Chio sudah melangkah pergi meninggalkan rumah Kenan tanpa permisi sama sekali.


TBC

__ADS_1


__ADS_2