Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 7 : Chicio Felix Antonio


__ADS_3

Pertengkaran yang terjadi antara ia dan Chio beberapa hari lalu, membuat kepala Kenan mendadak sakit setiap kali mengingatnya, ia tak habis pikir jika sang Abang ternyata memiliki sifat keras kepala sama seperti Almarhum Papa.


Kini, Kenan berada di salah satu Rumah Sakit untuk memeriksa diri, karena akhir-akhir ini, ia merasa mudah lelah dan kepalanya sering sakit tiba-tiba. Kenan, sepertinya membutuhkan vitamin untuk menjaga stamina tubuh.


"Ara,"


Tak di sangka, hari ini Kenan justru di pertemukan lagi dengan gadis yang selalu ia rindukan, Arafah Valencia, yang kini tampak cantik menggunakan baju berwarna putih dengan rok berwarna merah muda, sungguh sejak dulu hingga sekarang, sorot mata Ara selalu sukses membuat Kenan terhanyut seolah tidak mau berpaling kemanapun.


"Kenan, kok Lo ada disini. Ngapain?" Ara tentu penasaran.


"Gue butuh vitamin, jadi harus konsultasi dulu ke Dokter."


"Oh, gitu."


"Lo, sendiri, ngapain disini?" kini Kenan pun balik bertanya.


"Gue, temenin Mama, biasalah kalau orang sudah tua, bawaannya pasti darah tingg."


"Nyokap Lo pasti sering emosi, jadi mudah darah tinggi. Jangan-jangan, lo kalau di rumah nakal ya?" tanya Kenan spontan tapi lebih tepatnya Kenan sedang menggoda Ara.


"Dih, apaan, gue anak baik-baik tau,"


"Masa sih, gue ga percaya tuh."


"Terserah, Lo!"


Mendengar semua candaan Kenan, membuat Ara mendadak kesal, saat ini saja Ara memasang wajah cemberut dan tidak mau menatap Kenan sama sekali.


"Buhahaha," tawa Kenan seketika pecah.


"Gue lagi marah tau, bisa-bisanya Lo malah ketawa,"


"Maaf, soalnya Lo terlalu menggemaskan. Marah aja terus, cantiknya makin keliatan."


"Ihhhh,"


Mendadak wajah Ara berubah merah merona seperti udang rebus, entah kenapa ucapan Kenan baru saja bisa membuat hatinya berbunga-bunga. Mungkinkah ia masih memiliki rasa? Jawabannya hanya Ara sendiri yang mengetahui.


"Kamu siapa? Sepertinya Tante ga asing dan pernah ketemu kamu,"


Di tengah obrolan antara Kenan dan Ara, si Mamah pun tiba-tiba sudah berdiri di hadapan keduanya. Bahkan kini ia sedang bersusah payah mengingat nama anak muda yang kini ada di hadapannya.


"Aku Kenan Tante," Kenan tersenyum tulus saat bertemu wanita yang telah menghadirkan Ara ke dunia.


"Oh iya, kamu Kenan, sudah lama ya kita ga ketemu. Kamu apa kabar?"

__ADS_1


"Ba-baik Tante," Kenan jelas sangat gugup. "Tante apa kabar?"


"Tante baik. Kamu disini ngapain, mana orang tuamu? Apa mereka masih juga sedang konsultasi ke Dokter?"


"Mamah," spontan Ara mencubit tangan sang Mama. Sementara Kenan mendadak jadi beku dan membisu, ia seolah tak mampu menjawab pertanyaan baru saja.


"Maaf, Ken, jika pertanyaan Tante justru buat kamu sedih dan tidak nyaman,"


Kenan mengangguk pelan. "Tidak masalah Tante Andin, hmmm Mamah dan Papahku sudah meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan." pada akhirnya, Kenan tetap memberi tahu.


"Haah?" jelas saja wanita paruh baya yang memiliki nama Andin Pratiwi ini tampak syok. "Pantas, kamu langsung sedih saat Tante bertanya tadi, maaf ya!"


"Tidak masalah, kalau gitu, aku pamit dulu, ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan,"


Dalam waktu hitungan detik saja, Kenan sudah hilang dari hadapan Tante Andin dan Ara, ia berencana mengambil hasil laboratorium kesehatan di lain hari saja, yang pasti saat ini Kenan mendadak tidak mood sama sekali. Pernyataan sederhana bagi orang lain, tapi menimbulkan luka bagi Kenan pribadi.


"Mamah sih," Ara berdecak sebal.


"Ya maaf, Mamah kan ga tau,"


"Ya udah deh, ayo pulang."


Melihat sikap anaknya, sang Mama tersenyum datar, mungkin Ara masih memiliki secercah perasaan untuk cowok muda bernama Kenan tadi. Ya, Andin memang tahu, jika Kenan dan Ara pernah menjalin cinta sekitar dua tahun yang lalu.


* * *


"Saya kira, kamu tidak akan datang," celetuk Chio kala mendapati Ara yang kini sudah duduk di hadapannya dengan napas terengah-engah.


"Maaf saya telat, berapa menit?"


"Empat puluh lima menit,"


"Haah, serius?"


"Hm, kamu dari mana saja? Bisa-bisanya, membuat saya menunggu begitu lama,"


"Tadi, saya antar Mamah ke Rumah Sakit dulu, jadi telat,"


"Mamah, kamu sakit?"


"Anggap saja begitu."


"Haduh aneh, ya sudah, kali ini saya maafkan, jika besok-besok kamu telat lagi, akan saya hukum "


"Dih sadis,"

__ADS_1


"Ya, kalau sampai kamu telat lagi, kamu harus bersihkan semua WC yang ada di Masjid ini. Paham? Dan peraturan ini, berlaku untuk siapapun, bukan kamu saja."


Rasanya ingin sekali, Ara mengumpat panjang lebar tapi ia sadar, hal ini akan memperpanjang urusannya dengan Chio, jalan terbaik adalah mengiyakan semua ucapan pria yang kini ada di hadapannya ini. Tanpa Ara sadari, jika sebenarnya saat ini Chio sedang tersenyum lebar, diam-diam memperhatikan wajah Ara yang sangat menggemaskan.


"Ayo kita mulai,"


Ara pun mengangguk pelan seraya menggenggam erat jari jemarinya sendiri, jujur saja sebenarnya ia gugup setengah mati, setiap kali Chio melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara yang sangatlah merdu, ingin sekali Ara menikmati suara pria ini setiap detik, karena setiap ayat demi ayat yang di lantunkan membuat Ara merasa damai dan nyaman.


Setelah hampir dua puluh menit, semua rangkaian ajar mengajar sore ini pun usai. Ara sungguh bisa bernapas lega meski tadi ia mendapatkan banyak sekali kritik karena terlalu banyak salah dalam menghafal.


"Lain kali, kamu harus lebih fokus!"


"Ba-baik," Ara tersenyum canggung.


Saat ini, Ara dan Chio sudah berada di sebuah taman, keduanya memilih untuk menjauh sejenak untuk menghindar dari keramaian.


"Boleh tanya sesuatu, ga?" lagi-lagi Chio buka suara untuk mengikis keheningan karena sejak tadi keduanya diam saja.


"Boleh. Kamu, mau tanya apa?" Ara pun penasaran.


"Nama lengkap kamu siapa sih, kita sudah kenal hampir tujuh bulan lamanya, tapi aku belum tahu siapa nama panjangmu."


"Oh itu, nama lengkap saya, Arafah Valencia, Arafah pemberian nama dari keluarga Mamah sementara Valencia, dari keluarga Papah." dengan senyum penuh makna, Ara menjelaskan dengan seksama.


"Nama yang cantik, sepertinya orangnya."


"Haaah?" mendengar ucapan Chio baru saja, Ara langsung salah tingkah. "Kalau kamu sendiri, siapa nama panjangmu?"


"Chicio Felix Antonio," jawab Chio singkat padat dan jelas.


Ara benar-benar terkejut setelah mengetahui nama panjang pria ini. Entah dimana letak salahnya, menurut Ara, nama ini sangat kebarat-baratan, sementara Chio terkenal orang yang sangat religius.


"Kenapa, ada yang salah dengan nama saya?"


"Ti-tidak, nama yang bagus bahkan sangat cocok untuk porsi wajah anda yang tampannya sangat di luar nalar."


"Buhahahaha," bukanya tersanjung karena di puji Ara, Chio justru tertawa sejadi-jadinya bahkan sampai mata berkaca-kaca.


"Kok malah ketawa sih, om. Haah?"


"Nggak apa-apa, maaf kamu lucu sekali, terimakasih sudah memuji saya."


Ada yang aneh dari sikap Chio kini, Ara menangkap sinyal-sinyal kebohongan. Chio memang tampak tertawa tapi faktanya ekspresi wajah Chio terlihat sangat menyedihkan, sorot matanya bahkan sangat kosong.


Ara tidak tahu, jika Chio benci di sebut sangat tampan, karena menurut Kenan, wajahnya benar-benar mirip sang Papah, orang yang telah membuangnya bertahun-tahun yang lalu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2