Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 13 : Perusahaan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali setelah Sholat subuh, Chio memutuskan untuk keluar rumah sebentar, ia memiliki niat untuk mengunjungi perusahaan sang Adik, bukan tanpa alasan, melainkan ada hal yang ingin ia bicarakan.


Jam delapan lebih sepuluh menit, Chio sudah sampai di perusahaan, sebelumnya ia sudah menghubungi Kenan lebih dulu, jika ia menunggu kedatangan sang Adik sesegera mungkin.


Awalnya Kenan sendiri sangat terkejut. Kenapa Abangnya tiba-tiba ingin berkunjung ke perusahaan, sebab ini baru pertama kali karena dulu, Chio selalu menolak bahkan marah-marah jika Kenan memintanya untuk ikut mengurus perusahaan yang di tinggalkan oleh Papa.


Tak perlu menunggu lama, hanya sepuluh menit saja, untuk Kenan tiba di perusahaan, ia melihat sang Abang yang tengah menyandarkan kepala di kemudi mobil. Rupanya Chio memilih menunggu Kenan di halaman perusahaan saja.


"Bang, lo kok disini sih? Harusnya Lo tunggu gue di dalam," Kenan menyapa dengan sedikit ragu-ragu, ia takut sikapnya justru tidak di sukai oleh Chio.


"Saya malas menunggu di dalam, karena masuk ke dalam sana, harus kamu sendiri yang membawa saya," balas Chio seraya menatap ke arah gedung perusahaan yang menjulang tinggi seolah mencakar langit.


"Ya udah kalau gitu, ayo turun dari mobil, biar gue anter Lo masuk dan nanti gue bakal kenalin Lo ke semua karyawan."


"Oke," jawabnya sangat singkat padat dan jelas.


Selama berjalan untuk masuk ke dalam perusahaan, tak henti-hentinya Kenan terus memandangi sang Abang yang tampak sempurna tanpa cacat sedikitpun. Ia tidak menyangka jika memiliki saudara yang sempurna dari segala sisi, mulai dari wajah yang tampan, sikap yang sopan bahkan kelakuan baiknya sudah tidak di ragukan. Meski Kenan sadar, Abangnya memiliki sifat yang sangat keras kepala.


"Bang, pipi Lo kok merah sih?" Kenan mendadak penasaran.


"Gue di tampar Ayah." Chio menjawab seolah tanpa beban


"Kok bisa. Lo buat kesalahan apa, sampai di tampar Ayah?"


"Gue meluk cewek di halaman, Masjid,"


"Heeh, Lo serius?" Kenan membelalakkan matanya ia benar-benar tidak percaya.

__ADS_1


Sementara Chio tidak menjawab lagi, ia sudah melangkah masuk ke dalam Kantor, bahkan kedatangan ia dan Kenan pagi ini, spontan menjadi pusat perhatian. Sebagian karyawan sudah tahu siapa Kenan tapi semua karyawan tidak ada yang mengenal siapa, Chio.


"Om Bastian, sudah sampai Kantor belum?" Kenan bertanya pada Pak Satpam.


"Belum Tuan, mungkin sebentar lagi."


"Ciiih, bisa-bisanya jam segini belum sampai di Kantor," umpat Chio dengan melotot sempurna, ia menatap seluruh sudut ruangan dengan seksama.


"Ya udah sih, Bang, selagi nunggu Om Bastian datang, gue bakal ajak lo keliling, kantor."


Tanpa pikir panjang lagi, Kenan pun mengajak Chio berkeliling perusahaan, memperhatikan setiap sudut ruangan dan memperkenalkan karyawan yang mereka temui selama berjalan. Selama itu juga, Chio memilih untuk diam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia membayangkan betapa gagahnya sang Papa saat masih hidup, memimpin Perusahaan sebesar ini.


Dulu ketika Chio duduk di bangku SMA, ia beberapa kali diam-diam datang kesini hanya untuk melihat Papa Kandungnya meski dari kejauhan saja. Chio pernah ingin sekali berlari, memeluk pria yang telah membuangnya itu, tapi semakin Chio mendekat semakin sakit pula ia rasakan, alhasil Chio hanya memandangi Papa lewat kejauhan, meski begitu ia tahu jika Papa benar-benar tampan, wajahnya memang sangat mirip dengannya.


"Bang, ayo duduk!" ajak Kenan lalu membuyarkan semua lamunan Chio.


"Lo tunggu disini, gue buatin Lo teh hangat dulu."


"Disini, ada OB, Ken, kenapa harus kamu yang buat."


"Nggak, apa-apa, Bang, demi Lo, hehe."


Kenan segera berlalu dari hadapan sang Abang, sementara Chio memandang langkah sang Adik yang kian menjauh. Jujur saja, Chio sedikit merasa bersalah karena selama ini berpura-pura tidak tahu, seperti apa wajah Papa kandungnya, padahal dulu, ia sering memperhatikan Papa secara diam-diam. Lantas, air mata Chio mendadak menetes, mana kala melihat photo Papa yang terpasang rapih di ruangan tersebut.


"Pah, kenapa dulu Papah buang saya?Apa, saya sememalukan itu, sampai Papah tidak mau merawat saya?"


Andai Papa masih hidup, Kenan pasti akan mempertanyakan hal ini lagi. Karena sampai kini pun, Chio belum benar-benar tahu, kenapa Papa membuangnya dulu, jika alasannya hanya karena Papah akan menikah lagi, menurut Chio itu tidak masuk akal sama sekali.

__ADS_1


Karena Kenan terlalu lama, Chio pun hampir memejamkan mata, namun hal itu urung di lakukan, karena secara tiba-tiba, Chio mendengar suara seseorang yang tidak asing lagi di telinga.


"Chio," Ara sedikit gugup "Kok anda ada disini?" tanyanya lagi.


Rasanya canggung sekali, padahal mereka berdua sering bertemu, di Masjid bahkan kemarin saja Ara memeluk tubuh Chio dengan sangat erat.


"Ini bukan perusahaan Nenek Moyang kamu kan, jadi kamu ngga ada hak melarang saya."


"Ihh, kok sewot sih, Mas,. padahal saya hanya bertanya."


"Buhahaha, oke saya juga bercanda. Kamu sendiri, ngapain disini?"


"Aku, mau ketemu temen sebentar. Kamu bahkan belum jawab pertanyaanku."


"Saya, mau melamar pekerjaan disini." ujar Chio berbohong, ia tidak mungkin memberi tahu Ara jika ini perusahaan Almarhum Papa.


Mendengar penuturan Chio baru saja, membuat Ara sedikit ragu, ia tidak yakin jika pria ini sedang melamar pekerjaan. Bodo amat, begitu yang Ara pikirkan, karena Chio sudah sangat dewasa, jadi tidak mungkin akan tersesat atau salah dalam mengambil tindakan. Ya.... meski Ara sendiri paham, jika kedua orang tua Chio, sangat mampu menggaji anaknya, andai Chio mau mengajar di pesantren, rupanya pria ini memiliki pilihan hidup sendiri.


"Semangat, semoga anda di terima bekerja disini," gadis itu lalu memilih pergi dan hilang dari hadapan Chio dalam waktu sekejab saja.


"Ehh, ya ampun, kenapa saya lupa, menanyakan siapa nama teman Ara yang bekerja disini." Kenan menepuk pelan jidatnya sendiri. Tanpa Chio tahu, jika teman yang di maksud oleh Ara adalah Kenan, Adiknya sendiri.


Dunia memang sesempit itu, menyimpan banyak rahasia tentang apa saja, tapi harus siap jika suatu hari dunia akan memberi kejutan yang luar biasa. Sama halnya dengan kehidupan antara Chio, Ara dan Kenan, hanya tinggal menunggu prihal bom waktu yang menunjukkan kuasanya jika Abang dan Adik tersebut sama-sama jatuh cinta pada satu wanita, bahkan Ara sendiri tidak tahu, jika Chio dan Kenan adalah saudara.


Masih banyak lagi rahasia, yang mungkin akan menghancurkan atau justru memberi pelajaran hidup yang sangat berharga. Tentang Ara yang masih belum menentukan Agama, tentang Chio yang sangat jatuh cinta kepada Ara tanpa tahu lebih jelas latar belakang gadis itu. Ya sekali lagi, semua hanya tinggal menunggu waktu saja, pasti akan terbuka dengan sendirinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2