
Banyak hal yang sangat tidak Kenan sukai, terlebih lagi mengenal orang-orang baru di sekitar tempat tinggalnya saat ini. Karena bagi Kenan, hal yang sangat sulit di lakukan, adalah beradaptasi.
Hari ini, Kenan menyambangi tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya, hampir empat bulan rasanya seperti satu tahun tak datang mengunjungi Mama dan Papa. Banyak yang ingin Kenan ceritakan, terutama tentang pertemuan kembali antara ia dan Ara.
"Mah, Pah, Kenan rindu kalian, aku kesepian, aku tetap merasa kehilangan, aku bahkan sulit menentukan tujuan. Tapi, Mamah dan Papah tidak perlu khawatir, karena pelan-pelan aku akan belajar menjadi dewasa dan berusaha menyikapi masalah dengan bijaksana."
Kenan ingin sekali menangis, namun mati-matian ia menahannya, karena ia seakan paham, jika Mama dan Papa akan ikut sedih jika Kenan bersedih.
"Pah, maafin aku ya! Karena ga bisa tinggal di rumah pemberian Papah, terlalu banyak kenangan di dalam sana, terkadang aku ga sanggup, jadi aku memutuskan untuk pindah dan memulai hidup baru. Tapi Papah tenang aja, aku ga jual rumah kita, karena itu adalah harta yang paling berharga."
Sesekali Kenan menunduk, menahan rasa sesak dalam dada, nyatanya rindu untuk Mama Papa sangatlah besar, ia mengingat betapa indah hidupnya dulu, karena Mama dan Papa selalu ada saat Kenan butuh. Meski ia sering menjadi pemberontak, kedua orang tuanya tetap sabar menghadapi, salah satu hal yang membuat Kenan marah ialah, keputusan Mama yang menjauhkannya dari Ara, padahal Mama sangat paham, betapa Kenan sangat menyayangi gadis itu. Meski begitu tak lantas membuat Kenan membenci Mama, bagaimanapun sikap dan cara mereka tetap kedua orang tuanya yang selalu menginginkan yang terbaik.
"Sekarang, aku sedang berusaha mengurus semua peninggalan Papah, Do'akan ya, Pah aku jadi orang yang amanah. Oh ya, Pah sampai detik ini aku belum bisa mengambil hati Abang, tapi Kenan akan berusaha, aku yakin suatu hari nanti Abang pasti nerima aku dan terima kenyataan kalau kami bersaudara."
Sungguh, begitu banyak beban yang di tanggung Kenan sepeninggal kedua orang tuanya, banyak masalah dan rahasia yang harus Kenan hadapi, ia berjanji untuk tetap menjadi tanggung apapun hasilnya nanti.
"Mah, Pah, Kenan pulang dulu ya, kapan-kapan aku kesini lagi. Tolong restuin aku ya, karena aku ingin mendapatkan kembali hati dan perasaan Ara, aku tau Mama ga suka Ara, tapi Mama tenang aja, Ara gadis baik-baik Mah,"
Setelahnya Kenan melangkah menjauh dari Makam Mama dan Papa, ia tetap saja mati-matian menahan air mata, seraya menahan sesak yang tak tertahankan menghujam dada. Kematian kedua orang tuanya dua tahun yang lalu, masih terngiang jelas dalam ingatan, sampai kapanpun Kenan tidak akan bisa melupakan hari paling menyakitkan itu.
* * *
Tujuh tahun berada di Negara orang, menjadikan Chio canggung untuk menghadapi banyak hal di sekitar rumahnya, tapi ia tidak bisa menghindar sebab Ayah dan Umi menuntut Chio untuk mengamalkan ilmu yang di miliki.
"Ga perlu sekaligus, kamu pelan-pelan saja mengenal para santri-santri di Pesantren milik Ayah,"
__ADS_1
"Iya, Yah," jawab Chio pelan.
"Chio, Umi bukan tidak menyukai Ara, gadis itu anak baik-baik, Ayahmu dan Umi sudah mengenal dia jauh sebelum kamu mengenalnya. Tapi Chio harus bisa menempatkan diri, karena akhir-akhir ini banyak santri yang membicarakan kedekatan kalian, Umi khawatir hal itu akan membawa dampak buruk, jadi bersikap sewajarnya saja kepada Ara, ya!" kini Umi yang angkat bicara, ia menatap wajah anaknya penuh harap, banyak ke khawatiran yang tampak dari raut wajah wanita yang usianya tak lagi muda tersebut.
Sementara Chio hanya mengangguk-angguk antara paham dan tak paham, sedangkan sang Ayah memandangi sikap putranya dengan senyum, sebab Ayah tahu jika Chio menyukai gadis bernama Ara itu.
"Mangkanya, buruan di halalin," goda Ayah tiba-tiba.
"Apaan sih, Yah, mau menghalalkan anak gadis orang butuh proses," balas Chio spontan.
"Ya udah terserah kamu saja, Ayah selalu yakin kalau kamu pasti paham, antara baik dan buruk dalam bersikap."
"Yuupz." balas Chio lagi seraya mengacungkan kedua jempolnya, setelah itu benar-benar lenyap dari hadapan Umi dan Ayah.
Baru saja keluar dari rumah, Chio sudah melihat keberadaan gadis yang sejak tadi di bicarakan kedua orang tuanya. Ara tampak sedang asik berbincang-bincang dengan beberapa santri di halaman Masjid.
Semua mata tertuju ke arahnya, kala Chio tiba-tiba sudah berdiri di samping Ara, gadis itu mendadak kelu, entah mengapa pria ini selalu sukses membuat dadanya berdebar-debar.
"Ma-mau apa ya," Ara benar-benar gugup, ia ingin sekali mendadak menjadi udara agar bisa terbang tiba-tiba dari hadapan Chio.
Tanpa menjawab, Chio sudah menarik tangan Ara lebih dulu, nasehat Ayah dan Umi beberapa detik yang lalu seakan ia abaikan, kini ia sudah mengajak gadis yang sangat ia sukai berada di sebuah tempat.
"Ini taman kesukaan, Umi. Jika kami sedang bersedih atau banyak masalah, taman ini menjadi tempat yang tepat untuk berpikir sejenak, tidak ada yang di izinkan ke sini kecuali keluarga kecil kami."
"Terus, ngapain anda ajak saya kesini,?" Ara penasaran.
__ADS_1
"Suka."
"Haaah." tentu saja Ara terkejut mendengarnya.
"Hahaha, saya hanya bercanda."
"Massa, coba ulangi!" gadis itu justru balik menggoda.
"Apaan sih, kamu masih kecil bahkan belum genap dua puluh tahun. Harus belajar yang bener terus jadi kebanggaan orang tua kamu dulu!"
Ucapan Chio baru saja, spontan menghilangkan senyum yang sempat menghias wajah Ara, ia langsung tertunduk tanpa berkata-kata.
"Kenapa? Ada yang salah dengan ucapan saya,"
"Tidak."
"Terus kenapa, wajah kamu mendadak muram?"
"Hem, menurut anda, apakah orang tua saya akan bangga?"
"Tentu, saya melihat kamu bersungguh-sungguh mau belajar Agama dan menjadi anak baik-baik, orang tua mana yang tidak menginginkan anak perempuannya jadi anak Solehah,"
Ara langsung menarik napas dalam-dalam dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Tidak ada yang salah dari perkataan Chio baru saja, yang salah hanya kondisi dan keadaan hidup Ara sendiri. Melihat sikap Ara yang sangat aneh, Chio tak mau bertanya lebih, ia yakin sekali, gadis di hadapannya ini menyimpan banyak sekali masalah.
"Apapun yang sedang kamu pikirkan, semoga tak selamanya akan menjadi beban." bisik Chio pelan di telinga Ara, setelahnya ia pergi meninggalkan gadis itu sendiri.
__ADS_1
Ini baru permulaan, Chio harus lebih mengenal siapa Ara dan seperti apa hidupnya. Karena cinta bukan hanya menyukai apa yang terlihat saja, melainkan harus benar-benar memahami apa saja yang ada dalam kehidupan orang tersebut. Mencintai bukan hanya prihal paras cantik dan sikap baik tetapi menerima dalam keadaan apapun dan bagaimanapun.
TBC